
Jam yang bertengger di dinding Kokoh rumah itu berbunyi menunjukkan angka 11.00 pm. Acara makan bersama merayakan menikahnya Rara dan Bimo juga sudah selesai. Karena sudah larut malam. Ezra, Zahra dan Anin memilih tidur di rumah itu.
Semua orang sudah masuk ke kamarnya. Termasuk pengantin baru juga.
Bimo yang kesal terlihat menekuk wajahnya duduk di salah satu sofa di sudut kamar itu, mencoba meredam emosinya yang masih bergejolak hebat itu.
Sedangkan Rara kini terlihat keluar dari ruang ganti dengan rapinya mengenakan piyama motif abstrak. Wanita itu melirik Bimo dengan rasa takut sembari berjalan penuh kehati-hatian menuju meja riasnya. Wanita itu akan memakai cream malam, merapikan rambutnya, serta menggati perban di tangannya.
Dari cermin itu bisa ditangkap bayangan Bimo yang masih duduk tafakur di sofa dengan wajah setresnya. Hati Rara sesak melihat bayangan pria yang kini sudah jadi suaminya itu.
Bimo pasti kesal sekali padanya. Karena Bimo tak ingin menikahinya. Seandainya ia tak meminta Bimo pergi ke kampung wisata itu dan seandainya ia, tak meminta Bimo menghentikan laju mobil disaat mereka hendak pulang, karena ia ingin mandi hujan di jalan, ini semua tak akan terjadi.
Rara terlihat kesusahan mengganti perbannya. Gunting yang ada di tangannya terjatuh beberapa kali ke lantai. Itu pun tak mengusik Bimo yang duduk terdiam di salah satu sudut kamar itu. Pria itu terlihat berfikir keras, dengan wajah kusutnya.
Rara akhirnya sukses mengganti perbannya. Ia juga sudah minum obat. Ia yang ketakutan melihat Bimo, hanya bisa mengunci bibirnya agar tak bersuara. Karena bisa dipastikan jika ia bicara, Bimo tak akan menanggapinya.
Dengan berjalan pelan dengan ekor mata waspada melirik Bimo. Kini Rara sudah duduk di tepi ranjang empuknya. Yang anehnya ranjang itu di hias pula layaknya ranjang pengantin baru.
Aneka warna bunga mawar yang masih segar dan wangi tersusun rapi berbentuk hati di atas ranjang itu. Tentu saja Rara merasa geli melihat ranjang nya yang dihias itu. Sempat-sempatnya ranjang mereka dihias. Apa gunanya coba. Toh pernikahan ini tak tahu gimana kedepannya.
Rara kembali melirik Bimo yang sudah hampir satu jam seperti patung duduk di sofa itu. Wajah ditekuk.
"Eemmm A, aku.."
.Rara terlonjak kaget, ucapannya terhenti. Bimo dengan cepat bangkit dari posisinya. Berjalan cepat ke arah pintu kamar itu. Menekan kuat handle pintu. Keluar dari kamar dengan ekspresi wajah datarnya.
Sikap paman Bimo membuat hati Rara hancur sudah. Pernikahan ini semakin membuat jurang pemisah untuk mereka. Hubungan mereka sudah hampir lima tahun gak akrab lagi. Ditambah pernikahan ini, membuat paman Bimo akan menjauhinya.
Rasanya sakit sekali. Paman Bimo seperti nya membencinya. Rara menepuk-nepuk kuat dadanya yang nyut nyutan itu. Hatinya terluka tapi tak berdarah. Ia yang mengobrak -abrik tempat tidurnya yang bertabur bunga mawar wangi itu. Dia melampiaskan kekesalannya kini.
Tadi pagi, ia sudah punya semangat hidup. Dan gara-gara pernikahan ini. Semangat itu hancur sudah. Ia juga tak ingin menikah dengan Bimo.
Hahuahua...
Rara melorotkan tubuhnya ke lantai marmer itu. Menangis histeris dengan raungan yang menyedihkan.
"BIMO,...!" teriak Ezra, yang tentu saja gak didengar pria itu.
Ezra yang belum bisa tidur, setelah mantap-mantap ekspres dengan Zahra, memilih untuk menghirup udara segar sebentar di balkon kamarnya. Ia berjalan ke arah balkon kamarnya dengan segelas air hangat di tangannya. Baru juga menarik napas panjang. Ia melihat mobil Bimo melaju kencang ke luar dari pekarangan rumah.
Zahra yang hampir saja terlelap. Dikejutkan oleh teriakan Ezra. Wanita itu dengan cepat mendudukkan tubuhnya. Mengucek matanya yang berat sambil menguap. Zahra baru kali ini tidur di rumah itu, jadinya ia susah tertidur.
__ADS_1
"Hubby ada apa?" tanya Zahra, melihat sang suami mengganti pakaian nya. Melepas sarung dan memakai celana panjang santai. Ya tadi Ezra memakai sarung dan kaos dalam saja. Kebiasaan baru Ezra setelah menikah dengan Zahra. Ia jadi suka memakai sarung. Jadi saat tidur. Ia akan satu sarung dengan istrinya itu. Jadi Zahra gak bisa jauh darinya, lengket terus seperti perangko.
"Hubby ke kamar nya Rara dulu."
Ezra berjalan cepat ke kamarnya Rara. Ia sangat mengkhawatirkan anaknya itu. Bagaimana pun dulu, Rara anak yang sangat baik, cerdas. Ya, anak itu berubah setelah Bimo tak memanjakan nya lagi. Jadi, saat ini Ezra punya firasat bahwa Rara dan Bimo bertengkar hebat, makanya Bimo keluar dari rumah itu tengah malam begini.
"Rara..." Ucap Ezra panik, melihat sang putri terduduk lemah di lantai dengan air mata yang jatuh berderai-derai membasahi pipinya. Pintu kamar yang tak terkunci tentu membuat sebagian orang yang belum tidur mendengar tangisan dan suara kerasnya Ezra yang panik.
"Ada apa sayang?" Anin yang tak bisa tidur juga mendatangi kamar Rara. Dan di depan pintu kamar ia mendapati anaknya Zahra yang berdiri dengan tegang nya melihat sang suami sedang menenangkan Rara.
"Gak tahu Mak. Tiba-tiba saja Hubby teriak manggil Ibot Bimo, terus lari kesini dan aku menyusulnya." Ujar Rara, ia tak berani masuk ke dalam kamar itu. Karena ia memang masih kesal pada Rara.
Anin terdiam mendengar jawaban sang putri.
"Ayo kita ke dalam."
"Gak Mak, takut. Mak gak tahu saja, Rara itu rada aneh. Nanti kita diusir dan dibentak. Aku sedang tak mau sakit hati." Jawab Zahra dengan raut wajah masamnya.
"Gak boleh seperti itu sayang. Ayo kita masuk dulu. Kalau kita diusir, kita baru pergi." Anin menarik kuat tangan Zahra. Dengan setengah hati Zahra mau juga diajak masuk ke kamar itu.
Rara sedang menangis di dalam pelukan Ezra.
"Ayah, tak seharusnya kami menikah. Lihatlah paman Bimo jadi semakin membenciku. Dia gak suka samaku ayah."
"Pernikahan ini akan membuat hidup kami berdua hancur ayah. Lihatlah paman Bimo meninggalku."
Hiks
Hiks
Hiks
"Apa Kalian bertengkar tadi?" tanya Ezra dengan penasaran nya.
Rara menggeleng kuat
"Lalu?"
"Gak tahu ayah. Tiba-tiba saja paman meninggalkanku " Ucapnya masih terisak-isak.
"Dia bukan pamanmu lagi. Dia sudah jadi suamimu. Jangan sebut ia lagi dengan paman." Ujar Ezra lembut. Mengusap-usap punggung Rara yang ada dalam dekapannya. Berusaha menenangkan anak yang lahir labil itu.
__ADS_1
"Ayo kamu tidur saja ya sayang. Besok ayah akan bicara dengan Bimo. Jangan pikirkan yang macem-macem ya. Semuanya akan baik-baik saja. Bimo itu sayang padamu." Ezra membantu Rara untuk bangun, menuntunnya naik ke ranjang.
"Kamu tidurlah, ingat kamu belum sembuh betul. Sayangi dirimu sayang." Ujar Ezra lembut,.
"Iya ayah " Rara pun membaringkan tubuhnya yang lemah.
"Jangan mikir yang aneh-aneh. Semuanya akan baik -baik saja." Ezra terus saja memperingatkan putrinya itu.
Rara menganggukkan kepalanya lemah.
"Selamat tidur ya sayang!" Ezra mengecup kepala nya Rara. Kemudian ia menyelimuti Rara dengan senyum manisnya. Rara membalas senyum manis ayahnya itu.
Saat hendak berbalik badan.
"Astaghfirullah..!"
Ezra memegangi dadanya. Jantung nya rasanya mau copot. Ia tak menyadari lagi bahwa Istri dan ibu mertuanya ada di belakangnya.
"Buat kaget saja." Ujar Ezra masih dengan ekspresi wajah terkejut nya.
Anin yang tak mau disalahkan, dengan cepat meninggalkan kamar itu. Sedangkan Zahra dan Ezra yang sudah mengunci kamar nya Rara. Meninggalkan kamar itu dengan Ezra merangkul sang istri.
"Ide siapa menghias kamarnya Rara begitu?" tanya Ezra, mereka tengah melewati lorong menunju kamar mereka.
"Ide para ART By. Aku saja gak kepikiran kesitu. Maklumlah malam pertamanya gak ada hiasan bunga seperti itu." Ujar Zahra cemberut.
"Mau?"
Ezra menilik penuh maksud.
"Iyalah." Jawab Zahra cepat.
"Mulai besok dan seterusnya. Ranjang Nikita akan diramaikan oleh bunga-bunga yang indah."
"Apa? gak usah, ribet. Ganggu saja. Mending. bunga bank yang menghiasi dompetku." Ujar Zahra nyengir.
Hahhaha
"Dasar mata duitan." Ezra yang gemes pada Zahra langsung membopong sang istri. Setelah sampai di kamar ia memberi kode untuk mantap-mantap lagi.
"Malas mau tidur. Lagian anak kita butuh istirahat." Zahra menutup tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
Ezra cekikikan, masuk ke dalam selimut itu.
TBC