AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Makan pisang


__ADS_3

Waktu terasa cepat berlalu. Sore itu langit tampak semakin gelap. Dipenuhi dengan kepulan kabut hitam, menambah suasana semakin mencekam di gubuk itu. Bahkan tak jarang kilatan guntur nampak seperti ingin membelah langit. Disusul suara petir saling menyahut-nyahut dengan kerasnya. Yang hampir memecah gendang telinga pasangan suami istri itu. Hujan semakin deras saja mengguyur bumi. Sementara pasangan itu kini hanya bisa duduk dengan berserah diri pada Allah, semoga gubuk mereka tidak di sambar petir. Karena, tak jauh dari tempat mereka. Satu pokok kelapa sudah kena sambaran petir.


Zahra dan Ezra sedang mengistirahatkan tubuh lelahnya. Menikmati air hangat dalam cangkir plastik. Ya, air yang ditampung Ezra tadi telah masak.


"Sampai kapan kita di sini pak?" Zahra menoleh kepada sang suami yang tengah duduk di sebelahnya. Bersandar di dinding gubuk itu.


Ezra tersnyum manis pada sang istri. Dia tahu istrinya itu sedang ketakutan dengan suara petir.


"Tunggu air surut dan hujan reda." Jawab Ezra lembut, memperhatikan wajahnya sang istri yang begitu ayunya. Zahra terlihat begitu keibuan saat memakai mukena.


"Apa istri bapak gak cariin bapak? sudah dua hari bapak bersama saya " Ucapnya lirih, Zahra merasa begitu bersalah kepada wanita yang jadi istri sahnya Ezra


Ucapan Zahra, membuat Ezra jadi teringat janjinnya pada Anindya. Bagda magrib, mereka akan ke kampung.


"Jangan merusak suasana dengan membahas hal yang membuat pikiran kacau. Dinikmati saja prosesnya. Disyukuri, yang terpenting kamu tak mendzolimi seseorang." Ucap Ezra tegas, masih menatap sang istri yang kini terlihat murung.


"Jelas aku mendzolimi pak. Aku kini tengah hadir di rumah tangga kalian." Zahra berdecak kesal, memalingkan wajahnya dari sang suami. Menatap keluar gubuk. Ternyata hari sudah malam.


"Kamu gak mendzolimi siapapun. Sudah jalan takdir kita seperti ini. Tak perlu adek merasa menyesal begitu."


"Bapak sih gak mau melepaskan aku!"


Menarik bahu sang istri dan menatap lekat netranya Zahra yang terlihat bingung itu. "Apa permintaan itu benar dari dalam hatimu?" Zahra menundukkan kepalanya. Dia juga tak bisa memastikan ucapannya itu. Tapi, dia tak sanggup jadi madu seseorang.


"Kalau itu mau mu. Nanti akan ku pertimbangkan. Aku juga akan mengubah surat perjanjian itu. Mahar akan tetap jadi milikmu. Kalau itu bisa membuat hatimu tenang, bahagia dan tak dendam lagi pada Rara." Zahra terkejut mendengar ucapan sang suami. Dia jadi merasa bersalah, karena meminta pisah. Raut wajah tak rela dan sedih menyelimuti wajah bingung nya Ezra.


"Aku kangen ibu saya pak." Zahra merasa tak siap membahas masalah yang awalnya dia yang memulainya." Ezra meraih tubuh sang istri. Dengan canggungnya Zahra pasrah saja dalam dekapan sang suami.


Ezra ingin memberi ketenangan pada sang istri. Dia bisa merasakan penderitaan yang dialami Zahra, karena ulah sang anak.


"Kami sudah lama tak komunikasi. Sejak kejadian di hotel itu." Raut wajah Zahra terlihat semakin sedih. Saat hujan, memang bisa membuat suasana hati semakin galau.


"Wa, bagaimana kejadiannya. Kenapa kita gak jadi mantap-mantap waktu itu?" Zahra menjauhkan tubuhnya dari rangkulan Ezra.


"Pak tua.... !" Zahra geram dengan ucapan Ezra yang konyol. Ezra sih sengaja mengucap kan kalimat seperti itu, agar istrinya itu tidak terbawa suasana sedih.


"Jangan keras-keras bicaranya, nanti petirnya dengar. Mau kena sambar petir?" Bicara sarkasme dan mengangkat alis. Zahra kesal juga, seolah Ezra menyumpahinya kena sambar petir.

__ADS_1


Zahra menggeleng cepat. Dia tahu, suaminya itu bicara seperti itu pasti, karena kesal dikatain pak tua.


Puukk...


Tangan Zahra langsung ditangkap oleh Ezra. Saat wanita itu memukul gemes dada bidang sang suami.


"Sudah berani ini ya? kami itu minta pisah Mulu. Coba malam itu kita beneran mantap -mantap. Terus di sini langsung tumbuh Ezra junior." Dengan kesal Zahra kembali menepis tangan nak sang suami yang mengelus perutnya.


"Sepertinya kamu harus hamil Wa. Biar gak minta cerei terus." Ezra tersenyum menyeringai.


"Gak, gak mau ..!" Zahra panik, kedua tangannya melambai-lambai. Menolak keras ucapan sang suami.


"Gak mau, aku gak mau. Aku masih mau kuliah, mau kerja. Kalau bener tambang emas milikku seutuhnya. Aku ingin membuatnya jadi perusahaan raksasa.


"Itu perusahaan sudah besar Wa. Sudah selevel dengan Freeport. Itu perusahaan turun temurun. Ya, sepertinya itu harus ku lepas. Untuk istri yang matre." Mencubit hidung Zahra yang lagi bengong. Zahra dengan cepat menjauhkan tangan sang suami dari hidung nya yang mancung.


"Kembali pada kejadian di hotel. Koq bisa kita gak jadi mantan-mantap?"


"Ya gak jadilah, emang aku gadis lemah. Bapak saat itu habis aku smack down. Tepar, KO. Kalah telak." Zahra bicara sangat antusias. Kening Ezra mengerut tak percaya mendengar ucapan sang istri.


"Masak sih? koq bisa?"


"Tapi koq di video itu, kamu terlihat nafsu an Wa." Zahra mengerucutkan mulutnya. Ezra tak sebodoh pikirannya.


"Gara-gara lihat ekspresi wajah menikmatimu itulah Wa. Saya jadi pingin malam ini."


"Iihhh... Pak, jangan macem-macem ya, aku gak mau lakuinnya di gubuk menderita."


"Jadi kita boleh lakukannya kan? sepulang dari sini, kita bulan madu." Ezra terlihat semangat, dia tahu istrinya itu sudah mulai menyukainya. Terbukti dari jebakan konyolnya, mengulik perasaan Zahra padanya.


"Hanya boleh, kalau aku lah satu-satunya." Zahra menatap tajam Ezra yang terlihat sedang berfikir.


Hahahhaa ..


"Serius amat sih si pak tua. Aku becanda koq, aku gak akan minta bapak ceraikan istrinya yang lembut hatinya itu." Zahra tertawa tipis, dan memalingkan wajahnya. Ezra masih dengan ekspresi wajah bingungnya. Istrinya itu permintaan nya gak jelas.


"Pak aku lapar nih. Yang ku katakan jangan diambil hati." Menjentikkan jari di depan sah suami yang masih bengong.

__ADS_1


"Pak, lapar nih!"


"Ohh iya, kita makan apa ya?" mana hari sudah mulai gelap. Sepertinya waktu magrib sudah tiba.


Ezra beranjak dari duduknya. Memeriksa kembali semua gubuk itu. Berharap mendapatkan lampu teplok. Karena biasanya gubuk yang sering dibuat tempat bermalam. Pasti punya lampu teplok.


Benar saja, di sudut gubuk ukuran 2x3 itu, ada lampu teplok minyak tanahnya. Ezra menyalakan lampu itu. Kembali memeriksa, apakah ada yang bisa dimakan.


"Pak, itu ada pisang." Zahra menunjuk satu tanda pisang kepok. Tapi, kalau kita makan pisang itu. Kita sama saja mencuri pak. Itukan bukan milik kita." Ucap Zahra sedih.


"Nantikan kita bisa ganti Wa." Ezra meraih pisang itu. Memasukkannya ke dalam Periuk.


"Oohhh sebentar pak, seingatku uang yang bapak kasih tadi pagi. Aku masukkan satu ikat ke saku rok ku." Zahra bergerak dengan meringis kesakitan, karena dia terlalu cepat bergerak. Dia sampai lupa, kalau dia sedang terluka. Wanita itu dengan tergesa-gesa memeriksa rok nya yang sudah disimpan dalam ke adaan Basah itu di pojok gubuk itu.


"Alhamdulillah... uangnya masih utuh, walau sedikit basah." Zahra menunjukkan uang itu pada sang suami. Ezra tersenyum menanggapinya. Pria itu lagi sibuk, meniup api tungkunya yang telah padam.


***


Di rumahnya Ezra. Bimo sudah sangat panik. Dia baru saja dari lokasi tempat ditemukannya mobil Ezra terparkir. Karena cuaca sedang buruk. Pencarian Ezra tak bisa dilakukan hingga malam. Karena tempat pencarian mereka sedang banjir dan longsor. Bimo selain mengkhawatirkan sang bos, pria itu juga mengkhawatirkan Zahra.


Bimo mondar-mandir di ruang kerjanya Ezra. Memikirkan tindakan apa yang akan dibuatnya malam ini. Agar sang bos ditemukan.


"Bimo....!" Anindya masuk ke ruangan itu dan mengejutkan Bimo.


"Ya Nyonya!" memegangi dadanya yang berdebar-debar. Karena terkejut dengan kemunculan Anin yang tiba-tiba itu


"Ini sudah pukul delapan malam. Kenapa Abang belum pulang? dia janji padaku, akan menemaniku pulang kampung malam ini " Anin terlihat begitu resah, serta sedih. Sejak menikah suaminya itu sibuk sekali.


"Iya nyonya, bos juga sudah katakan itu padaku. Bos ada meeting di daerah Berastagi. Di sana longsor, jalan tertutup Nyonya. Makanya bos gak bisa pulang. Mungkin besok pagi, bos pasti pulang kalau jalannya sudah bis dilewati." Bimo pandai sekali berbohong. Hanya itu yang bisa dikatakannya, agar nyonya besar gak banyak tanya.


"Ponselnya juga gak bisa dihubungi Bom." Anindya, menundukkan bokongnya dengan pasrah dan bingung di sofa warna maroon itu.


"Kita doakan saja Nyonya, semoga Bos baik-baik saja." Ucap Bimo lembut. Entah kenapa dia jadi kasihan pada Anindya. Gimana ya reaksi wanita cantik di hadapannya, jika tahu sang suami punya istri lagi.


Anindya bangkit dari duduknya dengan lemasnya. Wanita itu menyeret kakinya lemas, sambil memegangi perutnya. Bimo menatap lekat punggung Anindya yang meninggalkan ruangan itu.


TBC.

__ADS_1


Like, coment positif dan vote. Raih hadiah pulsa 10 RB 🤭🤗


__ADS_2