
"Belum tentu anda bilang. Siapa yang menjebak Zahra di hotel? kekakuan apa itu? siapa yang mengkonsumsi nar Koba? siapa yang suka mab uk - ma.b ukan. Pak Ezra yang terhormat. Aku sudah berumur. Aku tak ada waktu lagi mengurus masalah yang akan ditimbulkannya nanti. Aku ingin punya istri, yang satu visi misi denganku. Aku tak mau mengurus bocah lagi. Cukup sudah empat hari hidupku setres karena mengurusnya."
Huuuuufff...
Bimo menghela napas panjang setelah mengeluarkan uneg-uneg di hatinya. Membayangkan Rara jadi istri nya membuatnya setres. Tengkuk nya langsung terasa panas.
"Kamu terlalu jauh mikirnya Bim." Ujar Ezra malas.
"Itu yang akan terjadi nantinya." Sahut Bimo tegas.
"Jangan permainkan pernikahan Bim. Kasihan Rara. Sejak kamu meninggalkannya tadi malam. Dia tak henti-hentinya menangis. Dia menyalahakan dirinya atas apa yang terjadi."
"Bagus, kalau dia sadar. Jadi akan lebih cepat prosesnya."
Ezra menatap tajam Bimo setelah mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya Bimo.
"Kamu gak da niat menceraikannya kan?" tanya Ezra penuh selidik.
Bimo dengan cepat memutus kontak matanya dengan Ezra, membuang pandangannya ke hamparan luas perkebunan. Malas dan kesal ia melihat Ezra. Mentang-mentang pria itu berjasa dalam hidupnya. Suka hatinya saja menikahkannya.
"Sepertinya itu ide bagus."
"Bimmm....!" Ezra mencengkeram bahunya Bimo kuat.
Bimo memutar lehernya. Menatap penuh amarah Ezra. "Turunkan tangan anda!" tatapan tajam seperti elang siap menerkam, membuat Ezra menurun kan tangannya. Baru kali ini dia melihat Bimo semarah ini.
"Please... Jangan lakukan itu Bimo. Rara baru saja memulai hidup baru. Lihatlah sejak kamu mengurus nya empat hari ini dia banyak berubah. Semalam dia gak temperamen lagi. Ia bahkan terlihat lemah. Buang jauh pikiran buruk tentang ia yang mewarisi sifat ibunya. Semoga gak seperti itu Bim?" ujar Ezra lembut, menawar kemarahan Bimo.
Cciiihhh
Bimo kembali membuang pandangannya. Tak sudih menatap mata Ezra yang memelas.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sayang Rara. Kulitnya masih memerah, kamu sudah menggendongnya. Mengajaknya bermain bercanda. Setiap hari kalian selalu bersama. Bahkan ia bisa membaca dan mengaji diumur empat tahun, ya karena kamu."
Bimo nampak berfikir mendengar ucapan Ezra. Ya memang, setiap hari ia selalu mengajak Rara bermain jikalau sudah selesai bekerja. Bahkan anak itu lebih sering memilih tidur dengan Bimo dibanding dengan orang tuanya. Saat itu Bimo masih tinggal di rumah nya Ezra.
"Ia berubah jadi jahat karena kamu!"
"Apa ..? jangan main tuduh bos!" elak Bimo dengan wajah merah padamnya.
"Ya itu benar, dia berubah sejak kamu bersikap dingin padanya. Kamu mengabaikannya, gak mau diajak diskusi lagi olehnya." Cecar Ezra, Bimo yang tak terima dengan ucapan Ezra. Memilih membuang muka.
Kenapa gara -gara aku?
Bimo membatin.
"Karena kamu dari sejak kecil memanjakannya. Memberinya banyak kasih sayang. Dan tiba-tiba kamu menjauhinya. Rara tak terima dengan perubahan itu. Apalagi sejak itu, kamu sudah memilih tinggal di rumah sendiri. Sejak itulah dia hancur Bimo."
"Anda orang tuanya, jangan buat aku kambing hitam." Jawab Bimo cepat.
"Ia butuh kasih sayangmu. Lihatlah ia menurut samamu. Makanya saat kamu menelponku tadi malam, menceritakan apa yang terjadi dengan kalian. Aku sangat bersyukur akan hal itu. Inilah jalannya kalian bersama lagi. Kamu bisa membimbing nya lagi seperti Rara yang manis dan baik seperti dulu." Ezra menepuk pelan bahu Bimo.
"Tapi, kalian pernah ada rasa."
"Heii... Aku tak pernah ada rasa dengan Rara!" tegas Bimo tertawa kecil kepada Ezra.
"Ok, kamu gak ada rasa. Tapi, Rara sejak kecil sudah ada rasa dan nyaman denganmu. Tinggal diarahin saja, ia akan baik seperti dulu."
"Ia sekarang mencintai pria yang bernama Ferdy." Tegas Bimo. "Semalam dia masih merengek, minta bantuan melalui perantara Zahra. Agar Ferdy mau menikah dengannya. Dasar masih bocah pingin nikah. Kan gatal...!"
Bimo tersenyum sinis, merasa Rara kegenitan.
"Ia hanya kagum saja pada Ferdy. Ia suka laki-laki baik. Ferdy yang baik pada Zahra. Membuatnya terobsesi pada anak itu. Bimmm... Rara itu lemah, ia hanya ingin dicintai. Mungkin itulah kelemahan nya." Ujar Ezra dengan penuh penghayatan, yang membuat Bimo terdiam. "Aku yakin, kamu bisa mengarahkan nya seperti wanita yang kamu mau. Soal ia akan seperti Rani, kamu. Jang jauh-jauh pemikiran itu. Belum tentu ia seperti ibunya kelak."
__ADS_1
"Ia akan seperti ibunya. Yang hanya mikirin cinta dan kesenangan." jawab Bimo cepat dengan ekspresi wajah kesal.
Huuufftt...
Ezra kembali menarik napas panjang, seperti nya tak ada hasil dari pembicaraan ini. Bimo kekeuh dengan argumennya tentang Rara yang akan jadi seperti Rani.
"Ya sudahlah, orang yang lagi emosi memang susah dinasehati. Terserah kamu, yang jelas aku tak akan tinggal diam. Kalau kamu ceraikan Rara. Aku bisa membuatmu kembali jadi pengemis di jalanan."
"Aku tak takut dengan ancamanmu itu. Kamu bukan tuhan!" tegas Bimo, semakin meradang karena ancaman Ezra.
Ia yang kesal, memilih bangkit dari duduknya.
"Tunggu.,.! Bimo ..!" Ezra mengejar Bimo dan menghadang langkah pria itu.
"Ucapan saya tadi jangan diambil hati. Aku mohon, jangan tinggalkan Rara." Ezra mengatupkan kedua tangannya di hadapan Bimo. Ezra orang yang bisa menghalalkan segala cara, kini memohon kepada pria seorang Bimo.
"Kamu sholat istikharah lah dulu. Please... Bimo, jangan permainkan pernikahan. Jangan hancur kan Rara untuk kedua kalinya."
Bimo terhenyak melihat sikap Ezra yang membuang gengsi itu.
"Aku bisa menilai, Rara bisa menerima pernikahan kalian. Karena ia terlihat tertekan, saat kamu meninggalkan nya semalam. Please Bimo..!" Kedua tangannya Ezra masih mengatup. Ya begitulah besarnya pengorbanan seorang ayah, demi kebahagiaan putrinya. Ia rela mengemis, merendahkan harga dirinya demi kebahagiaan sang putri.
"Pak Ezra, anda tak perlu lakukan ini. Buatku pernikahan bukan untuk main-main. Harus ada keihklasan di dalamnya. Menceraikan Rara, belum tentu membuat hidupnya hancur. Hidup denganku, siapa tahu bisa membuat hidup kami berdua yang jadi hancur." Ujar Bimo dengan tenang. Tidak seperti tadi meledak -ledak.
"Aku belum menyentuhnya. Jadi, aku tak mempermainkannya." Ujar Bimo tegas. Ia melanjutkan langkahnya, meniggalkan Ezra yang terbengong di batangan ladang itu.
"Kenapa dia sekeras kepala itu?" Ezra bicara sendiri sambil menggelengkan kepalanya.
"Besok, aku akan antarkan surat pengunduran diri." Ujar Bimo dengan kencang, melambaikan tangan dan tak mau berbalik menghadap Ezra.
Jelas Ucapannya yang keras itu masih bisa didengar Ezra. Karena jarak mereka saat ini hanya lima meter, Bimo ada di hadapannya Ezra.
__ADS_1
"Astaga... Aku akan kehilangan pria berkompeten seperti nya." Ujar Ezra dengan penuh penyesalan. Ternyata menikah kan Rara dengan Bimo, malah menambah masalah.
TBC