
"Tapi, gak harus melarikan diri. Kalau gak mau, ya ceraikan saja aku. Aku pun tak mau hidup di dunia ini lagi, gak ada yang menginginkanku."
"Rara, jangan bicara seperti itu " Zahra kembali meraih tubuh lemahnya Rara dalam dekapannya. Ternyata Rara begitu menderita.
Seketika Zahra jadi sangat iba pada Rara. Rasa benci dan dendam yang berkarat, luntur sudah digantikan dengan rasa kasihan.
"Sabar ya Rara. Berdoa saja, semoga semuanya baik-baik saja. Doa kan agar hatinya Ibot Bimo luluh dan pulang secepatnya. Memberi kepastian dalam hubungan kalian. Gak digantung begini." Ujar Zahra lembut, masih memeluk Rara.
Ibot kog gitu ya? ini bukan sifat aslinya. Ada apa dengan si ibot. Kenapa jadi pengecut begini?
Zahra membathin, ia jadi kesal pada Bimo. Kenapa jadi pengecut.
"Gak, aku gak mau lagi. Aku gak mau hidup dengan orang yang akan mengabaikanku lagi. Rasanya sesak banget Ra." Ujarnya masih terisak dalam dekapan Zahra.
"Iya sabar ya. Nanti kalau si Bimo datang, kita hajar sama-sama. Enak saja, mempermainkan wanita. Main kabur, kan kebalik, harusnya pihak wanita yang kabur. Ini, koq malah dia yang kabur. Dasar.... Manusia alien, aneh... rada korslet." Umpat Zahra yang membuat Rara tercengang mendengar omelan Zahra yang tak ada habisnya itu.
Rara mengurai pelukannya, memperhatikan ekspresi wajah kesalnya Zahra yang terlihat lucu.
"Jangan Zahra, nanti paman Bimo kabur lagi." Ujarnya lemah, melap air matanya dengan tisu yang diraihnya di atas nakas. Hanya Bimo harapannya saat ini. Ia tak mungkin selamanya bisa dalam pantauan Ezra. Toh, ia bukanlah anak kandungnya Ezra.
Ia juga tak mungkin kembali pada sang ibu, karena ibunya punya perilaku yang tak baik. Rara benar-benar sudah sadar. Karena nasehat dari guru mengaji, psikiater serta Bimo ternyata bisa membuka pintu hatinya menyadari bahwa semua yang pernah diperbuat nya salah besar.
Dan besar harapannya, ia tetap dapat bimbingan, karena ia masih gamang saat ini. Ia membutuhkan Bimo. Tapi, kalau Bimo bersikap dingin padanya. Akankah dia bisa bertahan? atau ia akan semakin hancur.
Rara sudah terlihat sedikit tenang, setelah menumpahkan semua isi hati nya. Rara yang penasaran akhirnya bertanya tentang banyaknya foto Bimo yang dirobek-robek Rara di kamar nya.
"Eemmm.... Rara, kenapa foto Ibot Bimo banyak yang kamu robek?" tanya Zahra penuh kehati-hatian. Ia kepo, karena ingin mengetahui semuanya. Jadi, kalau ia tahu gambarannya. Ia merasa lebih mudah masuk untuk mempengaruhi Bimo.
Rara menatap sedih Zahra. Rasanya sesak di dada, kalau mengingat Bimo.
"Paman Bimo jahat, gak punya perasaan. Tega, dia itu, tega banget orangnya. Sejak kecil ia sudah ku anggap sebagai orang tua pengantin dari ayah dan ibu. Ia baik dan terlihat begitu sayang padaku. Setiap hari kami pasti bermain walau sebentar. Mengajari mengaji, membaca, membantu mengerjakan PR." Menceritakan Bimo kembali membuat hatinya ngilu. Rara yang tak sanggup lagi bercerita, akhirnya menjeda ucapannya.
Huuffftt...
Ia menarik napas panjang dan dalam. Zahra sebagai pendengar Budiman, siap menunggu Rara melanjutkan ceritanya.
"Tapi, paman Bimo tiba-tiba saja meninggalkanku. Disaat aku tak punya sosok orang dewasa tempat berbagi dan mengharapkan kasih sayang. Ibu telah pergi, ayah juga sibuk bekerja saat itu. Hingga sekarang sudah lebih lima tahun, ia mendiamnkanku. Seminggu yang lalu, setelah aku keluar dari rehabilitasi. Ternyata ayah menugaskan ia kembali menjagaku. Saat itu aku bahagia sekali." Rara terlihat semangat membahas Bimo.
"Ternyata bukan kebahagiaan yang ku dapat. Ia bukan paman Bimo yang dulu. Paman yang mengerti apa yang kuinginkan, tanpa aku mengatakan. Paman yang penuh dengan kasih sayang. Tapi, nyatanya ia tak seperti itu. Ia jahat, ucapannya pedas. Ia malah menantang aku. Lihat ini Zahra...!" Rara menunjukkan pergelangan tangannya yang dijahit.
"Ia seneng aku mati. Ia bahkan mendoakanku agar masuk neraka. Ia, ia benar. Aku pasti akan masuk neraka. Karena aku jahat. Tapi, kan gak mesti ia menggas, agar aku mati saja. Karena, karena katanya aku gak berguna. Aku hanya buat susah orang. Kan nyesek dengarnya dikatakan gak berguna. Iya kan Zahra, kamu akan sakit hati kan jika dikatakan tak berguna?"
Zahra mengangguk pelan. Ia harus memahami perasaan Rara saat ini. Karena Rara dalam posisi ingin didengar. Gak mau dinasehati.
Emang gak berguna, buat susah.
Zahra masih sempat-sempatnya membatin. Ia setuju dengan ucapan Bimo.
Hihihi
Zahra tertawa dalam hati. Tapi, ekspresi wajah tetap serius, seperti tertarik mendengar cerita Rara. Lagian kan ia meminta Rara bercerita tentang hubungannya dengan Bimo.
"Sekarang dia malah meninggalkanku. Gak ada yang sayang samaku. Dulu ia menyanjungku tinggi. Mengatakan ia sangat sayang padaku. Aku gadis imut kecilnya. Tapi, sekarang ia menghempaskanku jauh ke dasar bumi. Kenapa harus menikah dengannya, kalau aku harus dicampakkan begini."
Hua... Hua.... Hua...
Tangis Rara kembali pecah.
Zahra bisa menyimpulkan bahwa Rara menyukai Bimo. Kalau gak suka, kenapa se setres ini. Tapi, bukannya kemarin, Bimo mengatakan bahwa Rara cinta mati sama Ferdy, dan ingin sekali menikah dengan Ferdy.
Aauuhhh Aakk
Bingung...
Zahra memijat pelipisnya. Ia jadi pusing. Rata ini suka Bimo atau Ferdy?
"Eemm... Ra, kamu sedih seperti ini, karena merasa gak ada yang menyayangimu?" Zahra perlu memperjelas apa maunya Rara.
Rara mengangguk pelan.
__ADS_1
"Kamu berharap Paman Bimo sikapnya kembali seperti dulu?"
Rara kembali mengangguk.
"Terus, permintaanmu kemarin. Yang ingin Kamu dan Ferdy menikah, apa itu beneran yang kamu inginkan?"
Rara kembali mengangguk.
"Kamu kenapa ingin menikah Ferdy? kamu kan tahu, ia gak mau denganmu." Ucapan Zahra kali ini membuat Rara kembali tersinggung.
"Emang ia gak ada yang suka denganku. Semua orang benci padaku. Aku ingin dicintai, disayangi. Makanya aku ingin Ferdy menikahiku. Agar dapat kasih sayang "
"Belum tentu Ra. Belum tentu jika kamu menikah dengan Ferdy, kamu akan disayanginya." Jelas Zahra, ia bingung juga dengan cara berfikir Rara. Seperti nya Rara hanya mikirkan kasih sayang di dunia ini.
Dia belum pernah . merasakan jadi orang miskin. Yg setiap hari mikir cari uang, agar isi perut yang sejengkal. Ini anak mikirnya cinta, ingin disayangi.
Hadeuhh ...
Ini nih kalau terlalu dimanja sejak kecil. Tiba gak ada tempat bermanja, jadi korslet.
Zahra tak henti-hentinya bermonolog, menyimpulkan keadaan psikologisnya Zahra.
Ini juga salah si Ibot. Dulu sayang banget sama Rara. Tapi, kenapa jadi berubah drastis?
"Setidaknya aku sudah punya pendamping. Siapa tahu ia bisa cinta denganku. Dia kan baik, samamu dia baik banget. Aku jadi iri, jadi pingin miliki pria seperti itu." Ujarnya dengan ekspresi wajah bodohnya.
Oouuhhh.. Begitu, berarti Rara gak cinta Ferdy dong. Hanya suka dan kagum saja. Terus terobsesi. Karena merasa orang kaya. Ia beranggapan uang bisa membeli Ferdy.
"Sudah, jangan sedih lagi. Kalau perempuan ngaku sayang samamu gimana?"
Rara menatap Zahra. Apa maksud ucapannya itu?
"Sebentar, sebentar," Zahra bingung, Rara seperti salah tanggap. "Aku sayang padamu Ra. Aku mau jadi temanmu. Gitu, apa harus teman pria?" tanya Zahra kembali dengan bingung nya.
"Gak mesti kasih sayang dari pria. Yang penting aku ada teman cerita. Selama ini, aku dapat teman yang gak baik." Jawabnya sedih.
"Iihh... Kamu apaan sih Zahra." Rara menolak pelan bahu Zahra. Ia meras kesal juga, bagian sensitif nya dibawa-bawa.
"Punyamu juga montok." Ujar Rara, kini raut wajah sedih berangsur hilang. Digantikam ekspresi wajah geli.
"Ia nih, ukurannya nambah." Zahra nyengir. Ucapan unfaedah, kadang buat happy.
"Ia lah, dipijat terus kali." Sindir Rara.
"Tahu kamu ya begituan?" Zahra memancing.
"Apa sih Zahra." Rara cemberut.
Hehehe..
Zahra mentoel hidung mancungnya Rara.
"Nanti juga kamu akan rasain. Atau sudah pernah?"
"Maksud kamu apa?"
"Gak apa-apa sih. Heran saja kalau Rara sigadis gaul, gak pernah. Soalnya menjebak aku saja kamu berani." Ujar Zahra, jujur kalau ia ingat kejadian itu. Ia tak akan memaafkan Rara.
"Maaf... Saat itu, aku sedang dirasuki setan. Gak mikir panjang lagi. Yang kuinginkan saat itu hanya kehancuranmu. karena aku iri padamu. Aku mikirnya kalau kamu hancur, aku bisa deketin Ferdy. Eehh... Gak tahunya aku yang hancur Zahra." Ucapnya kembali sedih.
"Kamu malah untung jadi menikah dengan ayah. Koq bisa ?" Rara penasaran betul koq ayahnya menikahi Zahra.
"Siapa bilang aku gak hancur, karena ulahmu Rara. Aku hancur sekali tahu. Gara-gara video itu, aku diusir dari kampung. Diberhentikan secara tak hormat dari sekolah. Dipaksa menikah dengan germo. Sakit tahu Ra! kamu itu memang jahat." Ujar Zahra dengan mata berkaca-kaca, memukul pelan lengan Rata, sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya.
Rara cukup terhenyak mendengarnya.
"Iyakah? maaf kan aku ya?!" kembali meraih tangan Zahra.
"Aku sudah dapat hasil dari kejahatan ku itu semua Zahra. Aku masuk kantor polisi. Tahu kebenaran kalau aku bukan anak kandung ayah. Itu fakta yang membuat hatiku sangat hancur." Rara bicara dengan tatapan kosongnya.
__ADS_1
"Ia, tapikan semuanya bisa kamu lewati. Kini, mari kita isi sama-sama lembaran baru kita. Yang lalu-lalu jangan diungkit lagi ya?? aku sudah maafkan kamu." Menatap lekat Rara yang masih terlihat bingung itu.
"Ia," Jawab Rara tak semangat.
"SEMANGAT... !" kamu harus tunjukkan pada Ibot Bimo, kalau kamu anak berguna."
Uuoppss...
"Salah.... istri yang berguna. Buat ia klepek-klepek dengan pesona mu itu. Ayo kembali hidup sehat. Jauhi d rugs, mi ras dan du gem." Ujar Zahra dengan semangatnya. Tangannya dikepal, memberi semangat pada Rara.
"Iya." Rara kembali menitikkan air mata. Ia terharu sudah. Ya benar, Zahra anak baik. Buktinya mereka saling dukung, padahal tadi ia sangat ketakutan untuk menemui Zahra, apalagi untuk berkomunikasi. Tali, lihatlah mereka sangat kompak.
"Begitu dong!' Zahra kembali meraih Rara dalam pelukannya.
Betul kata pepatah
Tak kenal makanya tak sayang .
Zahra dan Rara dulunya tak saling mengenal dengan dekat. Makanya sering bertengkar, dan kini sudah mengetahui sifat satu sama lain. Ternyata mereka bisa kompak.
Ceklek .
Pelukan keduanya terurai karena pintu kamar itu ada yang buka.
"Hubby..!' ujar Zahra.
"Ayah!" ujar Rara dengan wajah terkejut nya.
Melihat pemandangan yang mustahil di hadapannya, membuat kedua mata Ezra membeliak. Zahra dan Rara berpelukan?
Ezra menghampiri keduanya, tentu kini ia senang melihat Zahra dan Rara baikan.
Rara dan Zahra bangkit dari duduknya. Keduanya terlihat kikuk.
"Alhamdulillah wasyukurillah...!"
Ezra memeluk kedua wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
"Terimakasih Ya Allah..!" mencium kepala Zahra dengan penuh rasa syukur yang kemudian beralih mencium kepalanya Rara.
"Ayah seneng lihat kamu baikan dengan ibumu." Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu, jangan manggil ibu dong. Emang aku sudah ibu-ibu?" Zahra sewot, sedangkan Rara tertawa kecil.
"kan sebentar lagi mau jadi ibu." Ujar Ezra, menatap Zahra gemes. Ia masih memeluk kedua wanita itu.
"Apaa? aku akan punya adek?" tanya Rara dengan ekspresi tak percaya nya. Tenyata Zahra hamil.
"Pantes tadi Ibu Zahra muntah-muntah di taman."
"Apa..? muntah lagi." Ezra melepas rangkulannya pada kedua wanita itu. Ia mendudukkan Zahra dengan khawatir nya di atas ranjang.
Zahra mengangguk pelan.
"Ayo ke dokter obgyn sekarang...!"
Ezra kini menarik lembut tangan sang istri, agar kembali bangkit.
"Aku boleh ikut gak ayah?" Rara memelas, ia bidan di rumah. Ia sudah lenij dari seminggu melihat keadaan di luar. Semalam memang ia ke luar dengan Bimo. Tapi, apesnya mereka malah kena grebek.
"Eemm.. Kamu butuh istirahat nak." Ujar Ezra lembut.
"Aku pusing di rumah ayah. Pingin cari udara segar." Rara kembali merengek.
"Oouuhh.. Ok, kamu boleh ikut." Rara memeluk ayahnya itu. Sedangkan Ezra kembali memeluk istrinya.
Ezra merasa bahagia sekali. Penat bekerja di kantor hilang sudah.
TBC
__ADS_1