AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Dilabrak


__ADS_3

Astaga...Ini rumah mewah sekali. Zahra bergumam dalam hati. Dia benar-benar merasa takjub dengan desain interior rumahnya Ezra. Rumahnya sungguh sangat mewah dan sangat berkelas. Suasana rumahnya juga sangat hidup. Padahal saat ini malam hari. Bahkan beberapa bagian dari rumah itu dilapisi emas murni.


Walau terperangah melihat mewahnya rumah sang suami, dia tidak memperlihatkan sikap noraknya itu. Beda sekali dengan sang nenek, yang sangat excited setelah sampai di lantai satu rumah itu.


"Ada rumah seperti ini Nak Ezra?" ujar sang nenek, menjauhkan tangan Ezra dari bahunya, ya Ezra tetap setia merangkul sang nene. Kedua mata katarak Nek Ifah berbinar-binar memperhatikan setiap sudut dan furniture yang ada di rumahnya Ezra. Nenek Ifah benar-benar takjub, terpukau, tercengang melihat rumah itu. Sang nenek bahkan beberapa kali menggeleng dan berdecak kagum setelah mata tuanya dimanjakan dengan rumah mewah itu.


Nek Ifah, bukannya matre, tapi dia gak menyangka dipenghujung sisa umurnya, bisa menapakkan kaki di rumah semewah ini.


"Ini sekarang jadi rumahnya Nenek dan Zahra." Ezra bicara sambil menoleh ke arah Zahra yang berdiri dengan ekspresi jaimnya di balik sofa hitam yang besar, Zahra bersikap seolah tak mendengar ucapan sang suami.


Saat ini Jarinya Zahra asyik mencolek-colek sofa itu. Entahlah Zahra merasa bingung dengan dirinya. Sepertinya suaminya itu baik. Apa dia bisa balas dendam? Mau balas dendam apalagi. Dia sudah dihadiahi perusahaan tambang emas, diberi tinggal di rumah mewah. Kalau dia masih balas dendam. Itu namanya tidak bersyukur. Itu namanya air susu dibalas dengan air tuba. Tapi, gara-gara pria ini hidupnya hancur. Kenapa pula dia jadi mengubah tujuannya. Setelah melihat sikap sang suami yang begitu hormat pada neneknya. Dan kenapa pria yang jadi suaminya ini, ingin merenggut kesuciannya malam itu? kalau dia ingin dinikahi.


Huuffttt..


Zahra menghela napas kasar, dia tidak mau membiarkan semua kebingungan ini. Dia harus memastikan apa motif Ezra, mau kerjasama dengan sang putri untuk menodainya.


Lagian di mana istrinya? tadikan dia katakan dia baru saja menikah.


Ohh...

__ADS_1


Zahra pun menimpuk pelan jidatnya sambil berdecak kesal. Mana mungkin pak Tua itu membawanya ke rumah istri tuanya.


"Ok Nek, nenek istirahat dulu ya. Ini sudah sangat larut sekali." Ezra menuntun sang nenek berjalan ke sebuah kamar di lantai satu itu.


Zahra mengekori mereka masih dengan ekspresi wajah ketusnya. Disaat sang nenek masuk ke dalam kamar. Zahra pun ikut nyelenong, saat itu juga, Bimo pun menegur Zahra.


"Nona, kamar anda dan tuan ada di lantai dua." Kening Zahra langsung mengerut mendengar ucapan sang asisten. Bahkan keduanya alisnya saling bertautan, saking terkejutnya mendengar ucapan Bimo Siapa juga yang mau satu kamar dengan Pak tua itu.


Ezra tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Zahra yang kesal itu.


"Aku gak mau satu kamar dengan Pak Tua. Jangan coba-coba ambil kesempatan deh. Mending pak tua, balik sana ke rumah istri bapak." Ucap Zahra ketus, Zahra heran juga dengan dirinya kenapa dia bersikap tidak sopan gitu, pada pria yang baru saja menikahinya ini.


Sadar sang nenek menatapnya tajam. Zahra pun jadi merasa kesusahan menelan ludahnya. Dia menundukkan pandangan. Tak sanggup beradu pandang dengan sang nenek, yang terlihat marah padanya.


"Baiklah Nek, Selamat istirahat ya, Mimpi indah!" Ezra tidak menggubris ucapan Zahra. Tapi, pria itu memikirkan kalimat Zahra yang mengatakan cari kesempatan.


Ezra pun keluar dari kamar itu, yang diikuti Bimo. Setelah kedua pria itu meninggalkan kamar mewah itu. Zahra pun ikut mendudukkan bokongnya di tepi ranjang di sebelah sang nenek.


Sang nenek menatap lekat Zahra yang masih terlihat kesal. "Suatu musibah yang dihadapi dengan kesabaran akan mempunyai dua hasil. Pahalanya di akhirat nanti dan gantinya di dunia dengan yang lebih baik. Sekarang kamu sudah rasakan hasil dari kesabaranmu itu sayang. Entah angin apa yang meniupkan nak Ezra, hingga kesasar ke rumah kita. Dan akhirnya jadi suamimu."

__ADS_1


"Nek, Zahra mau tidur. Ceramahnya besok saja." Zahra langsung memotong ucapan sang nenek dan mendaratkan tubuhnya di spring bed empuk itu. Dia sedang malas membahas Ezra, yang menurutnya sangat misterius.


Seandainya sang nenek tahu, bahwa Ezra adalah pria yang ada di video itu, apakah sang nenek masih mengaggap Ezra pria yang baik? untuk itu, Zahra tidak akan mengatakannya pada sang nenek, sebelum dia mengetahui semuanya.


“Seorang istri itu harus sopan dan taat pada suami."


."Iya Nek, iya... Zahra tahu itu." Zahra langsung memotong ucapan sang nenek.


"Kalau tahu, kenapa kamu sikapnya kasar pada suamimu dan kamu malah tidur di sini."


Zahra yang tadi telungkup, kini membalik badannya. Menatap sang nenek yang juga menatapnya.


"Nenek gimana sih? apa nenek tega, lihat Zahra diobok-obok pak tua itu. Zahra masih mau sekolah dan Zahra tidak akan pernah mau disentuhnya."


"Tapi kamu istrinya Zahra."


"Nek kita tidur saja, sebelum tidur, sebaiknya kita berdoa, semoga istri sah nya gak datang melabrak kita besok." Seketika sang nenek terbatuk-batuk mendengar ocehan cucunya itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2