AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Awas kena fitnah


__ADS_3

Seorang pria terlihat bingung di atas ranjang, setelah dirinya terbangun dari tidurnya. Siapa lagi dia kalau bukan Ezra. Pria itu pun meraba CD nya yang basah.


"Huufftt.... Ternyata hanya mimpi " Ucapnya bermonolog, beranjak malas dari atas ranjangnya. Karena, saat ini kepalanya terasa pening.


Pria itu pun memijat-mijat pelipisnya dan keningnya, sembari berjalan lunglai ke kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, dia memperhatikan miliknya di bawah sana. Mengingat-ingat mimpinya yang seperti nyata.


"Sepertinya aku harus mengajaknya menikah,


Ini tidak bisa dibiarkan. Aku sudah terlalu lama tidak menggunakannya. Bisa karatan ini barang." Ucapnya dengan tertawa tipis, menyesalkan organ keperkasaannya, yang sudah lama nganggur, yang menyebabkan dia sering mimpi basah, setelah bercerai dengan sang istri. Lima tahun silam.


Setelah selesai mandi wajib. Ezra dengan cepat beberes. Dia akan chek out pagi ini. Urusannya sudah selesai di kota itu. Tapi, dia harus ke rumah sang ibu dulu. Karena, putrinya Rara ada di sana.


Saat menekan handle pintu. Entah kenapa peristiwa dalam mimpinya, melintas lagi dipikirannya. Untuk saat ini. Kejadian yang menimpa Ezra dan Zahra. Dianggapnya hanyalah sebuah mimpi. Tepatnya memimpikan seorang wanita cantik dan ayu, yang jadi koki di rumahnya.


Huffttt....


Ezra menghela napas dalam, guna menenangkan hatinya yang lagi galau, karena memikirkan sang koki yang sudah mengusik ketenangan hatinya sebulan terakhir ini.


Merasa sedikit rileks, Ezra membuka pintu kamar itu, dan dia kembali dikejutkan oleh sang asisten, yang sudah berdiri di ambang pintu. Ezra melotot pada sang asisten yang bernama Dika itu. Mengelus dadanya yang berdebar-debar. Karena kaget.


"Kamu ngagetin saja Dik." Menyerahkan tas kepada sang asisten. Dika dengan sopan meraih tas bos nya itu.


"Maaf Bos, bukan bos saja yang terkejut. Aku juga terkejut bos." Dika masih mencari pembelaan dengan tersenyum tipis pada sang majikan, yang selalu naik tensi kepadanya.


Ezra tidak mau menanggapi ucapan asistennya itu lagi. Dia pun melanjutkan langkahnya. Sedangkan Dika, akan mengunci kamar hotel itu. Tapi, saat dia hendak menutup pintu kamar hotel itu, dia melihat ponsel tergeletak di lantai sudut pintu kamar itu.


Tangan Dika terjulur meraihnya. Keningnya berkerut melihat ponsel jelek itu. Dia yakin itu punya orang miskin. Atau pelayan hotel. Tidak mau dibuat ribet dengan ponsel jelek itu. Dika pun meletakkan ponsel itu di atas nakas dekat tempat tidur. Setelah itu, dia mengunci pintu kamar itu, berlari mengejar sang Bos, yang sudah sampai di loby.


❤️❤️❤️


"Fer, Fer, Ferdy bangun...!" Zahra menggoyang kakinya Ferdy yang tidur dengan nyenyaknya di atas tikar yang digelar di lantai rumah mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.15 Wib. Tapi, tamu yang tak diinginkan itu tak kunjung bangun. Padahal Zahra dan sang Nenek harus berangkat ke pasar untuk berjualan.


"Fer...!" Zahra kali ini menggoyang tangannya Ferdy dengan lebih kuat. Ferdy pun mengguman dan menguap. Tapi, pria itu malah mengubah posisinya menjadi memeluk tubuhnya sendiri. Pria itu susah sekali bangunnya. Wajar sih dia susah terbangun. Karena, dia baru bisa tertidur, setelah pukul 03.40 Wib.

__ADS_1


"Fer....!" Zahra sudah mulai kesal, karena Ferdy yang tak mau bangun itu. Wanita itu pun kembali, membantu sang nenek mengangkat barang-barang perlengkapan mereka berjualan ke pasar ke luar rumah.


"Belum bangun juga kawanmu itu Ra?" tanya sang nenek, yang terlihat memegang gayung. Gayung itu adalah gayung yang akan digunakan untuk mengambil air untuk digunakan di pasar nanti.


"Belum Nek." Zahra merengut, jadi kesal juga pada Ferdy yang susah bangun itu.


"Biar nenek yang bangunkan." Sang Nenek mengambil air di dalam ember penampungan dengan gayung yang dipegangnya.


"Nek..!" Zahra mengejar sang nenek yang berjalan ke arah Ferdy. Tapi, Zahra kalah cepat.


Byurr....


Sang nenek sudah sukses menyiramkam air itu ke wajahnya Ferdy yang tidur dengan senyam senyum itu. Sontak Ferdy terbangun dengan gelagapan dan terkejut.


"Banjir... Banjir...!" ucapnya panik, sudah dalam keadaan berdiri, sembari mengusap wajahnya yang basah.


"Banjir... Banjir... Banjir apanya..?" ketus sang Nenek menatap tajam Ferdy yang terlihat masih linglung. Karena nyawanya masih beterbangan di awang-awang. Setelah nyawanya terkumpul semua. Dia pun tersadar, kalau tidak terjadi banjir.


"Anak pria bangunnya kesiangan. Mau jadi apa kamu? seorang pria itu akan jadi pemimpin." Sang nenek melongos pergi ke dapur setelah memarahi Ferdy. Sang nenek sengaja bersikap ketus seperti itu, agar Ferdy takut mendekati Zahra. Karena, sang nenek sudah mencium bau-bau tak sedap, kalau pria yang menginap di rumahnya, sedang mengincar sang cucu. Dia tidak mau cucunya itu pacaran, sebelum tamat sekolah.


"Ya Allah... Nenek cantik dan ayu, tapi, koq galak ya?" ucapnya polos, sembari mengusap-usap wajahnya dan kepalanya yang basah itu.


"Ya gak apa-apa Ra. Sudah resiko, lama bangun. Di rumah juga, aku sering tu dimarahi nenek, kalau bangunnya kelamaan." Ucapnya tersenyum tipis, kepada Zahra yang terlihat segan kepadanya.


"Oohh... Sekali lagi maaf ya! aku tu jadi merasa tidak enak sama kamu. Kamu sudah tolongin aku dan sekarang malah kena siram." Wajah cantiknya Zahra terlihat sedih, melirik-lirik Ferdy yang menatapnya terus


"Iya Ra, gak apa-apa koq. Ini handukmu, handukmu wangi banget sih?" Zahra akhirnya tertawa tipis mendengar ucapan konyolnya Ferdy. Masak handuk dikomentari segala.


"Ra... Ayo cepet bantuin nenek..!" suara kerasnya sang nenek, membuat Zahra terkejut. Begitu juga dengan Ferdy. Saat itu juga sang nenek melintas dihadapan mereka menenteng Jeriken bervolume lima liter.


Ferdy yang kocak dan baik hati, langsung turun tangan berjalan cepat ke dapur. Membantu Zahra dan sang nenek mengangkat barang-barang perlengkapan mereka untuk berjualan ke pasar.


"Zahra, kenapa Si Ridho gak datang?" Ridho adalah tukang becak, yang membawa barang-barang mereka ke pasar. Ridho sudah jadi pelanggan tetap mereka.


"Iya ya nek." Ucapnya heran dan bingung. Sudah hampir jam sembilan pagi, Bang Ridho tak kunjung datang menjemput mereka.

__ADS_1


"Coba telpon Ra." Zahra terdiam mendengar titah sang nenek. Zahra baru teringat kalau ponselnya hilang tadi malam. Dan dia belum cerita pada sang nenek, tentang apa yang menimpanya semalam. Zahra begitu terbuka pada sang nenek. Jadi, dia tidak akan menutupi kejadian yang dialami semalam.


"Ponsel Zahra hilang nek." Jawabnya lemah, menatap sendu sang nenek.


"Oalah .. Mana hape nenek gak da pulsanya." Nenek yang mulai kesal di pagi hari itu. Mendudukkan bokongnya. Di kursi yang ada di teras rumah mereka, menghela napas dalam, untuk merilekskan dirinya.


Masih pagi-pagi, suasana hatinya sudah buruk. Apalagi penyebabnya, kalau bukan Ferdy yang memaksa untuk menginap di rumah mereka.


"Nek, berapa nomor hapenya? aku saja yang menelpon." Ferdy dengan senyum manisnya. Menghampiri sang nenek, dengan hape mahal di tangannya. Dia harus bisa mengambil hati sang nenek. Karena, dia sudah merasa kalau neneknya Zahra tidak suka padanya.


Sang nenek mendongak menatap Ferdy yang berdiri menjulang tinggi dihadapannya. Senyum manisnya Ferdy, membuat hati sang nenek mendingin. Karena senyumnya Ferdy terlihat tulus.


Sang nenek pun menyebutkan nomor ponselnya Bang Ridho, si tukang becak langganan mereka. Ferdy mengedipkan sebelah matanya pada sang nenek, kemudian memalingkan wajahnya cepat melakukan panggilan pada Bang Ridho. Setelah terhubung, Ferdy memberikan ponselnya kepada sang nenek, yang kini tak cemberut lagi.


Saat neneknya Zahra menelpon, Ferdy mendudukkan bokongnya di sebelah Zahra. Mereka kini duduk di pembatas teras rumah mereka yang terbuat dari beton.


"Ra, aku ikut ya ke pasar bareng kalian?" Zahra langsung menoleh kepada Ferdy, yang dari tadi selalu tersenyum itu.


"Kamu gak pulang? kamu gak kerja emangnya?" kening Zahra mengernyit menatap pria yang disukainya itu.


"Aku gak kerja hari ini. Ini kan hari Minggu." Jawab Ferdy masih tersenyum pada Zahra.


"Terus mobil itu gak kamu pulangkan Fer?"


"Itu bisa diatur Ra." Zahra yang heran, masih menatap Ferdy dengan tidak percayanya. Begitu banyak hal yang mengganjal dibenak wanita itu.


"Ra, si Ridho sakit." Jawab sang nenek sedih. Terpaksa mereka mencari becak lain.


"Ya sudah Nek, aku saja yang antar nenek dan Zahra ke pasar." Ucap Ferdy dengan sumringah. Ini kesempatan bagus, dia bisa seharian bersama Zahra. Zahra dan neneknya menatap Ferdy dengan tercengang. Benar-benar ya pria itu tebal muka. Sang nenek sudah menunjukkan sikap tak senang nya. Tapi, lihatlah Ferdy masih santai saja. Benar-benar pria yang punya hati yang lapang. ikan pria sumbu pendek.


"Wahhh... Rumahnya Nenek Zahra kedatangan tamu rupanya?" dua orang ibu-ibu yang pulang belanja dari kedai sampah, berhenti di depan rumahnya Zahra.


Zahra tersenyum tipis." Iya Kak." Jawabnya pendek.


"Tamu cowok, sudah lapor Kepling belum? awas jadi fitnah." Zahra akhirnya merengut mendengar ucapan tetangganya itu.

__ADS_1


TBC


Tetap dukung novel ini say 👇


__ADS_2