
"Oohhh.. Jadi bangga ni ceritanya ya By, karena banyak yang ngejar-ngejar Hubbby. Asal Hubby tahu, aku juga banyak yang ngejar-ngejar."
Zahra yang sedang hamil gampang tersinggung. Ia yang sudah emosional, memilih duduk di sofa dengan memegangi dadanya yang berdebar-debar. Rasanya sesak banget, sehingga ia kesusahan menghela napas di ruang ber AC itu.
"Ya gak bangga sayang. Hubby hanya mengatakannya. Agar kamu gak marah-marah begini. Hubby gak mau dikatakan barang laris manis, seperti yang istriku bilang tadi. Asal kamu tahu sayang, Hubby ini limited edition. Bukan barang laris manis, yang tentu jadi rebutan. Seorang Pria eksklusif yang hanya ada satu di dunia ini, dan pemiliknya, adalah istriku yang cantik dan hebat ini." Ujar Ezra tersenyum dalam hati. Zahra kalau merajuk, jadi kelihatan lucu dan gemesin. Ezra pun mendudukkan bokongnya di sebelah sang istri dan merangkul nya gemes.
Kalau tiap hari istrinya itu ikut ke kantor. Seperti nya ia tak akan bisa bekerja dengan optimal. Karena pasti akan selalu ada masalah yang ditimbulkan sang istri.
"Jauh.. Jauh By... Ngap... Ngap... Belum bisa tenang aku..!" Mendorong pelan tubuh sang suami agar menjauh darinya. Ia sedang tak ingin dirangkul. Ia sedang berusaha untuk bisa bernapas. Rasanya capek banget yang cemburu itu.
Tenyata benar yang dikatakan Hubby nya itu, awalnya Zahra sih gak percaya. Tapi, setelah melihat faktanya, ia jadi takut juga kalau sang suami nantinya tergiur akan godaan wanita - wanita yang tak punya harga diri itu.
Ezra cukup pusing dengan masalah yang disebabkan oleh kedatangan Isabel. Isabel adalah putri dari rekan bisnisnya Ezra. Wanita itu terus saja mengejar - ngejar Ezra.
Zahra melirik sang suami dengan ekor matanya, yang kini sedang duduk bersandar dengan pasrah di sofa. Pria itu merentangkan kedua tangannya dan terdengar berulang kali menghela napas.
Ia sebenarnya tak ingin marah pada sang suami. Tapi, entahlah mood nya rusak sudah hari ini, gara - gara Isabel. Masak iya dikatakan anak magang di perusahaan suami sendiri.
"Emmm... Penampilanku norak ya By?" ucapnya lembut, kini ia memutar leher nya menatap sendu Ezra.
Ezra terkesiap mendengar pertanyaan sang istri. Ia pun dengan cepat mengubah posisi duduknya menghadap sang istri.
"Norak?" Ezra mengulangi pertanyaannya Zahra. Ia sebenarnya tahu tujuan pembicaraan sang istri.
"Iya, aku norak kan By? gak seperti cewek tadi." Ujarnya Minder, ya pada umumnya pria suka wanita yang pakaian terbuka. Apalagi memperlihatkan belahan gunung kembar.
"Gak sayang, kamu itu Kren. Apapun yang kamu kenakan terlihat bagus. Mau pakai rok bagus, gamis juga mantap, pakai daster lebih mantap, apalagi pakai lingerie lebih aduhai."
__ADS_1
"Sekalian saja gak pakai baju By." Zahra memotong cepat ucapan Ezra dan tersenyum kecut.
"Eemmm....Jangan mancing - mancing sayang, setengah jam lagi Hubby mau meeting ini." Menatap Zahra dengan muka mesum. Ezra menggoda Zahra dengan memainkan lidahnya di bibir nya sendiri dan kedipan mata penuh damba.
Kekwkwjkk
Tingkah Ezra sangat lucu menurut Zahra. Ia pun tak henti-hentinya tertawa terbahak-bahak. Karena kelakuan sang suami, yang seperti gi golo itu. Pria bayaran pemuas para wanita.
"Iihh... Sudah dong, mukanya jangan dibuat seperti itu." Zahra yang tak sopan, malah menutup seluruh wajah sang suami dengan tangannya, mendorong wajah suaminya itu kuat karena gemes dengan tingkah Ezra.
"Gitu dong sayang, tertawalah sepuas-puasnya." Ezra yang juga merasa lucu dengan tingkahnya, akhirnya menarik Zahra dalam pelukannya. Zahra masih tertawa, mereka berpelukan dengan tubuh bergoyang.
"Besok adek ikut lagi ya ke kantor?" ujar Ezra menatap lekat Zahra.
"Besok, besok kan nenek pulang berhaji By."
"Iyakah, sudah pulang ya? waahh... kita harus adakan syukuran esok lusanya ya sayang." Ujar Ezra. Ia teringat saat ia kembali dari tanah suci. Esoknya ia langsung membuat acara d rumah nya. Terus bagi - bagi ole -ole kekerabatan, tetangga dan tentunya semua karyawannya juga mendapat, minimal sebungkus kurma seberat 1 kg.
"Iya sayangku." Mencium keningnya Zahra dengan lembut.
Ucapan Ezra seketika membuat suasana hati wanita itu membaik, ia pun refleks mendaratkan kecupan di bibir nya Ezra. Kemudian wanita itu tersipu malu, membuang wajahnya kesamping. Karena salah tingkah.
"Ya ampun, kalau gini tiap hari. Seperti nya Hubby harus pensiun dini." Ujar Ezra menatap Zahra yang kini bingung mendengar ucapannya.
Koq pensiun dini.?
"Habisnya, Hubby gak bisa kerja, asyik bermesraan mulu dengan kamu istriku!" tegas Ezra lagi, memberikan jawaban dari kebingungan sang istri.
__ADS_1
"Gak gitu juga kali By. Mana mungkin tiap hari adek ke sini." Zahra mengapit hidung mancung nya Ezra dengan gemas.
Emmm...
Eemmm...
Eemmmm...
Tiga kali Dika berdehem, akhirnya pasangan suami istri itu menyadari keberadaan Dika.
Zahra yang terkejut dengan keberadaan Dika di ruangan itu, dengan cepat menjauh dari sang suami.
"Bos saatnya meeting." Ujar Dika dengan hormat.
Ezra bangkit dari duduknya, begitu juga dengan Zahra.
"Hubby meeting dulu ya, gak lama koq sayang. Hanya satu jam. Nanti kita makan di luar. Istriku duduk manis disini menunggu Hubby selesai meeting. Ok!" Ujar Ezra, mengusap lembut pipi sang istri yang kini merona, karena malu pada Dika. Bagaimana pun Zahra bukan wanita yang seneng mengumbar kemesraan di hadapan orang lain.
"Iya By." Jawabnya masih tersipu malu. Akhirnya ketegangan yang tercipta tadi selesai dengan mesra.
Ezra dan Dika pun keluar dari ruangan itu menuju ruang meeting. Sangat banyak yang harus dibahas dalam rapat kali ini. Terkait, mencari pengganti Bimo.
Zahra yang bosanan itu, akhirnya memilih jalan-jalan di gedung perkantoran suaminya itu. Iya bahkan pergi ke Lobby. Ia duduk dengan tenang memerhatikan pegawai sang suami yang bekerja dengan profesional.
Dan lagi-lagi ia dikejutkan dengan tamu wanita sexy, yang minta izin untuk bertemu dengan Ezra.
"Ya ampun.... Hubby, kamu harus kuat Hubby. Godaan terus datang tiada henti." Ujarnya berjalan dengan Elegan menuju meja receptionis.
__ADS_1
TBC
Like, comen vote say