
"TIDAK.......!" Rara teriak dengan histerisnya. Menghempaskan barang-barang yang bisa dijangkaunya di kamarnya itu. Dia tak bisa menerima kenyataan yang dikatakan oleh Bimo terkait siapa dirinya dan status Zahra saat ini.
"TIDAK.... TIDAK..... Itu tidak mungkin, kamu pasti bohong. Bimo .... kamu pasti sedang mengarang cerita kan?" Rara yang mengamuk, mendekati Bimo yang sedang duduk dengan tegangnya di sofa yang ada di kamar itu. Dia sedang mengawasi wanita yang menggila itu.
Rara mencengkeram kerah baju yang dikenakan Bimo. "Yang kamu katakan bohong kan? kamu bohongkan Bimo..?" ujarnya dengan berderai air mata. Rara merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Kenyataan yang baru didengarnya sangat pahit. Lebih pahit dari empedu.
"Itu benar!" tegas Bimo, mencoba melepas tangan Rara yang mencengkram kerah bajunya.
"TIDAK....!" Rara mendorong kuat dada bidangnya Bimo, pria itu terduduk lagi di sofa. Padahal tadi dia sempat berdiri karena kerah bajunya di cengkram Rara.
"Tidak mungkin, ayah.... aku ini anakmu, putrimu..!" Rara berjalan dengan sempoyongan ke arah bingkai foto keluarga yang ada dirinya, ibunya dan Ezra bertengger di dinding kamar itu. Dia meraih foto itu, mengusap lembut foto itu dengan tangan yang bergetar.
"Bagaimana mungkin aku ini bukan anakmu ayah?" ucapnya masih dengan berderai air mata. Air matanya yang mengucur deras, kini menetes ke bingkai kaca foto itu.
Tubuhnya Rara semakin bergetar hebat saat memandangi foto keluarga itu. Dia teringat semua kenangan masa kecilnya. Di mana Ezra begitu sangat menyayanginya. Dia tak mau kehilangan kasih sayang itu.
"Zahra, oouuhh.... tidak..!" teriaknya, dia kembali histeris. Disaat mengingat Zahra yang kini jadi ibu sambungnya. Kenapa seperti itu?
Rara ketakutan membayangkan jika Zahra benar jadi ibu sambungnya. Belum jadi ibu sambung saja, wanita itu selalu melawannya. Apalagi sekarang Zahra sudah jadi ibu sambungnya. Bisa habis dia di tangan ibu tirinya itu.
"Dia, dia kenapa jadi ibu tiriku? pantas saja tadi dia berani sekali padaku." Ujarnya dengan Isak tangis yang menyedihkan. Wanita itu terduduk dengan bodohnya di hadapan Bimo.
"Eemmm... Sadarlah Ra. Itu karena ulahmu sendiri. Ini namanya senjata makan tuan. Bukannya kamu yang menjebaknya di hotel? niat jahatmu gak diridhoi Allah. Zahra itu orang baik, Allah pasti akan melindungi orang baik. Makanya kamu cepat taubat. Sebelum semuanya hancur. Kelakuanmu tadi di mall itu sangat keterlaluan. Siap-siap saja kamu ditendang Bos dari rumah ini, karena kamu memang bukan anaknya." Ujar Bimo penuh kebencian. Dia memang tak suka Rara. Dia mau muntah melihat Rara.
"Tidak.... Tidak.,.!" Rara bangkit dari duduknya. Melemparkam foto keluarga yang dipegangnya ke dinding kamar itu.
PRangggg
Pang....
__ADS_1
Prang...
Suara benturan bingkai foto terdengar kuat. Kacanya hancur sudah. Rara kembali melemparkan barang-barang yang ada di kamar itu. Semua vas bunga pecah lebur. Kaca lemari pecah dan retak. Laptop hancur sudah.
Ia mengekspresikan kekecewaannya dan kekesalannya. Bimo sama sekali gak mau menenangkan Rara. Dia menonton aksi gila Rara yang menghancurkan segala isi kamarnya. Bahkan Bimo selalu menghindar disaat benda yang dilempar hampir mengenainya.
"Hancur kan... Dasar edan....!" umpat Bimo dengan wajah kesalnya. "Kalau sudah hancur, apa kamu masih ada uang membelinya. Berdoa saja kamu malam ini, semoga bos mau memaafkanmu. Kamu itu sudah jahat sama istrinya. " Bimo malah memanas-manasi Rara. Ya anak ini gak bisa dibilangin dengan kalimat yang baik. Harus disindir keras. Biar mikir otaknya.
Huhuhuhu.,..
Rara mematung mendengar ucapan Bimo yang pedas seperti cabe setan itu. Dia pun akhirnya ambruk di lantai kamar yang berantakan itu. Bahkan ada kaca yang ditimpa oleh tubuhnya. Bimo membiarkan saja wanita itu terkapar di lantai kamar itu.
"Gak ada yang sayang samaku, gak ada yang mencintaiku." Ujarnya lirih dengan berderai air mata.
"Ya jelaslah gak ada yang mencintaimu. Kamu saja gak cinta diri sendiri. Lagian, gak ada untungnya mencintai kamu."
Rara berteriak dengan kencang. Dia mendudukkan tubuhnya dan menatap tajam Bimo yang dari tadi terus saja menyudutkan. Ucapan Bimo seperti pedang tajam yang menusuk tepat di jantung hatinya. Sakit dan rasanya ingin mati saja mendengar ucapan pedasnya Bimo.
"Sialan.... Brengsek kamu Bimo..!' Rara melempar bantal yang ada di hadapannya ke arah Bimo. Bimo terperanjat dan dengan cepat menangkap bantal itu.
"Tidak kenak, tidak kenak..!" ledek Bimo sambil berjoget. Sungguh kesedihan yang dialami oleh Rara sedikit pun gak membuatnya kasihan. Dia malah merasa lucu dengan kelakuan Rara yang mengamuk-amuk itu.
"Brengsek kamu Bimo... Awas kamu, aku laporin a,. Huhu.....!" Rara kembali menangis, dia tak punya kekuasaan lagi. Dia bukan anaknya Ezra Assegaf. "Aku sedang sedih dan kamu meledek aku terus.... Keluar..... Keluar kamu...!"
Rara akhirnya bangkit dari kedudukannya, berjalan dengan penuh emosi ke arah Bimo. Dia menarik kuat tangan Bimo agar keluar dari kamarnya. Tentu saja Bimo tak mau keluar. Dia tak mau meninggalkan Rara malam ini. Karena dia sangat mengkhawatirkan anak yang dari kecil sudah sering digendongnya itu.
"Banyak yang sayang sama mu Ra. Bos sangat sayang padamu. Walau dia tahu kamu bukan anak kandungnya. Dia tetap menganggapmu sebagai anaknya. Aku juga sayang samamu."
"Gak, gak... Kalau ayah sayang samaku, gak mungkin ayah bercerai dari ibu." Rara menghempaskan tangan Bimo dengan kasar.
__ADS_1
"Eemmm Ibumu gak pantas untuk bos. Ngapain punya istri Dajjal. Makanya bos melarang kamu berjumpa dengan Rani Mukherjee itu, ya agar kamu gak makin eror. Ini saja kamu masih eror."
"Bimo..!" teriak Rara, dari tadi Bimo bicara menyepelekan nya dan sang ibu. Mana dia mengatakan ibunya Rani Mukherjee.
"Kamu ini, dibilangin gak mau dengar. Kalau kamu masih ingin dianggap Bos sebagai anak, mending kamu cepat - cepat minta maaf sama Zahra."
"Gak, gak mau..!" Rara berbalik badan dengan kesalnya. Sungguh suasana hatinya sangat buruk. Dan dia masih merasa tak ada salah pada Zahra.
"Ya sudah, tamatlah riwayat mu. Siap-siap saja kamu besok jadi gembel!"
"Bimo ... Kamu," Rara menatap kesal Bimo. Kenapa pria yang sudah dianggap nya sebagai pamannya itu, tak bicara manis padanya. Dari tadi ngegas dan menyudut kan ya terus.
"Dibilangin ngeyel!"
"Aku gak mau minta maaf padanya. Daripada minta maaf, lebih baik aku mati!" Rara dengan cepat meraih pecahan kaca meja riasnya yang kebetulan ada di dekat kakinya. "Aku mau mati saja!" Pecahan kaca sudah ada di pergelangan tangan.
"Main ancam segala. Mau mati bunuh diri? siap-siap saja kamu gak bakal masuk surga. Di kuburan juga kamu akan disiksa mungkar nangkir. Tahu kamu di kubur? kamu itu dimasukkan ke dalam liang, ke dalam tanah. Siap kamu?" Ancam Bimo, yang membuat Rara ketar ketir mendengarnya.
"Buang itu, gak usah mau bunuh diri segala. Ia kalau cepat mati. Kalau megap-megap kayak ikan koi yang terdampar kan sakit. Mati gak bisa, hidup jadi menyusahkan."
"Di.....ammmmm!"
Seeeet ..
Rara yang frustasi memotong pergelangan tangannya. Dia lebih memilih mati dan masuk neraka daripada harus minta maaf pada Zahra.
TBC
Like coment, vote dan hadiah say
__ADS_1