AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Tugas berat


__ADS_3

"Rara....!" Bimo yang terperanjat dengan aksi gilanya Rara, dengan cepat meraih anak gadis labil itu. Pergelangan tangan kirinyasudah banyak mengeluarkan darah. Bimo semakin panik dibuatnya. Dia tidak menyangka Rara akan melakukan hal senekat itu. Memotong urat nadi sendiri.


"Ra," Bimo berusaha menghentikan darah yang terus mengucur deras dari urat nadi yang terpotong itu. Bimo tak tahu seberapa dalam nadinya yang terpotong. Yang jelas darah sangat sulit dihentikan agar tak mengucur.


"Tolong... Tolong... Cepat kalian ke sini?" teriak Bimo, kepada para ART yang dari tadi memang ada di luar kamar, karena mendengar keributan dari kamarnya Rara.


"Iya, iya tuan Bimo..!" seorang ART wanita yang diikuti dua ART lainnya, dibuat ketar-ketir melihat darah yang mengucur deras.


"Ambilkan kain atau selendang atau sapu tangan, atau.... Cepat...!" teriak Bimo, tangannya masih terus menekan dengan kuat bagian nadi yang terpotong agar perdarahan dapat dihentikan untuk sementara. Tapi, tetap saja tak bisa berhenti.


"Iki tuan."


Bimo mengikat kuat kain yang menyerap itu ke pergelangan tangannya Rara yang terluka. Rara masih sadarkan diri. Tapi wanita itu tak berdaya lagi. Matanya terlihat sayu.


"Ayo cepat!, cepat siapkan mobil!" titah Bimo pada para ART. Dia membopong tubuh lemahnya Rara menuju mobil terparkir. Mereka akan membawa Rara ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Rara masih sadarkan diri saat sudah sampai di rumah sakit. Dia langsung dilarikan ke IGD. Bimo yang panik itu menghubungi Ezra, setelah Rara di pindahkan ke ruang rawat inap.


Saat Bimo menghubungi nomor ponselnya Ezra. Pria itu sedang berbincang-bincang dengan sang istri di atas ranjang. Tentu saja keduanya berbincang sekalian bermesraan.


"Ada apa dengan Rara Hubby?" tanya Zahra kepada Ezra yang terlihat sedih. Zahra mendengar percakapan Bimo dan Ezra. Tapi, kurang jelas.


Ezra menatap sang istri dengan sendu. "Rara masuk rumah sakit. Hubby harus ke sana." Ujarnya masih menatap lekat Ezra. Pria itu juga merapikan lingerie nya sang istri yang sedikit berantakan.


"Iya By." Jawabnya singkat. Dia tak mau tahu, apa penyebab, Rara masuk rumah sakit. Mood nya langsung rusak jika membahas wanita itu.


***


Sesampainya di rumah sakit. Ezra langsung mengecek keadaan Rara. Saat dia sampai di rumah sakit, Rara sedang tertidur.


"Apa yang terjadi, kenapa sampai seperti ini? apa kamu memarahinya atas kejadian di mall?" tanya Ezra penuh selidik pada Bimo yang terlihat lelah berdiri di sebelahnya. Mereka masih memperhatikan Rara yang terbaring di bed.

__ADS_1


Ezra sebenarnya tahu kejadian di mall. Ditambah Zahra juga menceritakannya. Ezra terlihat tak terlalu mempermasalahkan hal itu, karena Zahra sang istri terlihat baik-baik saja. Jadi, Ezra bukan tipe orang yang suka membesar-besarkan masalah.


"Gak bos, aku hanya menasehatinya dan mengatakan fakta tentang status dirinya." Ujar Bimo tegas. Keduanya kini sudah duduk di sofa yang ada di ruang rawat itu. "Rara sangat terpukul mengetahui fakta itu. Ditambah Zahra yang kini jadi ibu sambungnya." Pungkas Bimo lagi.


"Daftarkan lagi ke pihak rumah sakit. Rara harus diperiksa kejiwaannya. Kalau bisa besok pagi, dia harus ditangani Dokter atau psikiater" Ujar Ezra, dia tak mau Rara larut dalam tekanan mental.


"Iya Bos." Jawab Bimo cepat.


"Sekarang tugasmu mengawasi Rara. Dia harus kembali jadi anak yang baik seperti 12 tahun yang lalu. Kalau kamu gagal dalam tugas kali ini. Kita putus hubungan kerja." Tegas Ezra, yang membuat Bimo mengerutkan keningnya.


Bimo juga sedang galau terkait masalah asmara. Dia malah harus menangani Rara yang menyebalkan. Kalau gak mengingat kebaikan Ezra. Bimo lebih memilih putus hubungan kerja saja, dibanding pusing menangani Rara. Toh dia sudah punya usaha


TBC


Dukung novel ini dong 🙂

__ADS_1


__ADS_2