
"Abang yang akan jadi tutormu.. Hahhaha... abang akan ajari kamu, cara bikin anak yang ok!"
"APA.... Home schooling, dan bahasannya itu saja pak?" Zahra membulatkan matanya dengan mulut menganga. Bisa tepar dia kalau kerjaan mereka itu saja. Emang enak, tapi setelah habis yang enak, badan jadi rasanya remuk.
"Iya sayang. Kata wali kelasmu kepada Dika. Kamu itu lemah di mata pelajaran Biologi." Jelas Ezra dengan senyum menyeringainya.
"Tahu dari mana pak Rizal nilai Biologi ku rendah. Aku kan murid baru, dan baru belajar dua hari. Dan selama dua hari itu, kami belum belajar mata pelajaran Biologi." Ujar Zahra tegas, dia tak mau dibodoh-bodohi sang suami.
"Eemmm... Kan ada foto copy raportmu sayang. " Zahra pun menunduk, dia malu dikatain sang suami lemah dalam ilmu Biologi. Memang benar sih, dia gak terlalu mahir dalam mata pelajaran itu. Tapi, nilainya gak jelek amat. Bahkan dia juara olimpiade sains.
"Nah, nanti kita akan bahas materi Sistem Reproduksi Manusia. Sekalian kita praktekkan lagi. Hahahaha...!" Ezra kembali tertawa, kenapa ya bahas begitu an bawaanya senang gitu.
Zahra menggeleng kuat. Dasar pak tua, lagi puber. Gak malu apa, ucapan nya didengar supir. Akhirnya dia memilih diam, malas menanggapi ucapan unfaedah sang suami. Nanti gak ada ujungnya.
"Tu kan ketahuan gak jago materi dalam sistem reproduksi manusia." Ledek Ezra, mencolek dagu sang istri. Zahra memalingkan wajahnya. Kenapa pak tua, jadi lebai begini. Tapi, lucu sih. Dari pada tegang dan cuek.
"Adek ini jago bang. Lihat saja nanti, Abang yang akan kalah." Zahra akhirnya terpancing.
"Masak sih?" Ezra mengedipkan matanya.
"Ho oh..!" Zahra mengibaskan rambutnya, mendongak dan membusung dada, sehingga dadanya menonjol, terlihat menantang. Ezra dibuat gelagapan dengan kelakuan menggoda sang istri. Mengingat Zahra saja, rudalnya sudah on. Apalagi kalau istrinya itu bertingkah menggoda seperti itu.
"Awas nanti, kalau Abang sampai minum obat kuat ." Ancam Zahra, yang membuat Ezra tidak percaya dengan ucapan sang istri.
"Yang ada kamu nanti yang gak kuat sayang." Ujar Ezra tersipu malu, koq istrinya ini gampang dipanas-panasi. Ezra jadi merasa terhibur.
"Eemmm... Jangan Abang kira adek ini gak tahu apa-apa. Adek tahu semua, tapi adek gak perlu terlalu mendalami dan memikirkan arah ke situ. Karena adek kan memang gak ada niat mau nikah muda."
"Tapi, semalam adek gak pandai."
"Ya iyalah pak tua, gak lihat kaki saya masih luka." Zahra berdecak kesal, dia malas juga terlalu lama bahas begituan. Dia kan jadi pingin.
"Gak suka dipanggil dengan nama itu." Ezra bicara datar, dia ingin sang istri lebih sopan. Memanggilnya dengan nama yang pantas. Kalau memang mau manggil bapak, ya bapak saja. Jangan pak tua.
"Mulai sekarang panggil saya dengan 'Hubby'." Zahra tersentak dengan ucapan sang suami. Cara bicara suaminya itu juga penuh penekanan dan keseriusan, tak ada lagi gurauan di dalamnya.
"Ayo bilang Hubby!" membuat kode tangan, agar Zahra melaksanakan perintahnya.
__ADS_1
"Hubby..!"
"Ya sayang." Zahra pun ingin tertawa dibuat kelakuan Ezra. Tapi, dia menahanya. Jadilah dia senyam senyum sendiri.
Tak terasa mereka pun sudah sampai di Vila. Ternyata ngobrol saat diperjalanan asyik juga. Gak terasa sudah sampai.
"Akan ada tiga pelayan yang bantuin adek mandi. Abang ke ruang kerja sebentar." Ezra dengan cepat mengecup kening sang istri. Padahal istrinya itu belum menjawab.
Zahra hanya menatap kepergian sang suami menuju ruang kerja. Dan dia pun langsung dihampiri tiga pelayan dan mengajaknya ke ruang spa.
Satu jam berlalu, acara ritual mandi itu pun selesai. Ya, Zahra gak mau terlalu lama di dalam spa itu. Karena kakinya sebenarnya masih sakit. Kini Zahra merasa lebih bugar dan fresh. Tubuhnya sangat wangi. Dia saja suka dengan aroma tubuhnya, apalagi suaminya itu. Dia yang bau terasi saja, habis dilahap sang suami. Apalagi dengan kondisinya yang sekarang. Baju dinas malam warna gold melekat di tubuh indahnya. Terlihat begitu menggoda. Dia saja sadar dirinya sangat menggoda di siang bolong menjelang sore ini. Kenapa harus pakai lingerie di siang bolong.
Zahra menarik napas panjang, sebelum membuka pintu yang menghubungkan ruang spa dan kamar mereka. Dia harus bisa jadi istri yang baik. Lebih dewasa, sopan pada suami. Dia sudah bertekad, jadi istri simpanan yang Istiqomah. Karena, jikalau pun bercerai dengan Ezra, toh tak akan membuat hidupnya baik. Siapa juga yang mau nikah sama janda miskin. Saat ini Zahra sudah menguatkan niatnya. Tetap bersama Ezra. Dan berharap suatu saat dia jadi istri yang sah di mata agama dan hukum.
"A--pa, apa-apa an ini?" baru juga kaki wanita itu memijak di lantai marmer kamar itu, dia sudah dikejutkan oleh layar proyektor di hadapan ranjang mereka. Sepertinya suaminya itu memang serius untuk mengajarinya.
Suara Zahra yang terkejut itu, membuat Ezra menoleh pada sang isteri. Yang diam mematung memperhatikan layar proyektor itu.
Ezra lagi-lagi terpana melihat penampilan sang istri yang begitu menggoda. Zahra itu daya tarik nya sangat kuat. Wanita yang langkah.
"Ada baiknya sebelum belajar adek berdoa dulu." Zahra tidak percaya dengan kelakuan suaminya itu. Ada-ada saja, pikirnya. Dia pun tetap nurut pada perintah sang guru. Membaca doa dengan semangatnya dan kedua tangannya menengadah.
Zahra membaca tiga suroh yaitu Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, Surat An-Naas. Beserta ayat kursi. Ezra dibuat tercengang dengan doa belajar sang istri.
"Koq baca suroh itu?" tanya Ezra bingung, mendekat ke meja Zahra. Tapi, matanya melotot ke belahan dada sang istri.
"Iya pak, aku gak mau nanti habis belajar. Jadi kena hasutan setan. Itu materi yang dibahas rawan pak." Zahra cekikikan, koq dia merasa mereka sedang ngelawak. Di layar sudah terpampang materi pelajaran. Sistem Reproduksi Manusia.
"Dasar kamu murid banyak ngeles. Ada saja jawabnya. Jangan piktor, suamimu ini menyampaikan materi sesuai dengan jurusanmu. Adek jurusan IPA kan?" Zahra masih menatap lekat belahan dada Zahra. Dia tahu suaminya itu menatap bagian itu. Tapi, Zara pura-pura tidak tahu.
"Kenapa harus bahas materi itu pak, materi lain banyak. Bukan itu saja materi dalam pelajaran biologi. Kita bisa bahas fisika dan kimia juga."
"Nanti di prakteknya juga akan terbersit ilmu fisikanya. Yaitu mengenai gaya, gesekan dan tekanan. Haihaihai....!" Ezra sudah tidak tahan lagi, dia merasa lucu dengan dirinya yang benar-benar puber seperti anak SMA.
Hahahaha....
Ezra mengangkat tubuh sang istri, dia duduk cepat di bangku istrinya itu dan memangku Zahra. Pria itu pun langsung membenamkan wajahnya di dada sang istri., yang montok itu. Ezra merasa bahagia sekali. Hidup nya terasa berwarna. Sudah lima tahun dia seperti mayat hidup. Dan sekarang dia sudah seperti orang gila. Ingin rasanya dia lonjat-lonjat ,. jingkrak-jingkrak
__ADS_1
"Iihhh Hubby.... apaaan sih? jadi gak belajar nya? Zahra mendorong kuat kepala sang suami yang terus saja diuyel-uyel kan ke dadanya.
"Kita langsung praktek saja sayang. Bahas materi buat bosan." Jawab Ezra gemes menatap Zahra.
"Gak mau, adek sudah serius ini mau belajar." Zahra pura -pura ngambek. Dia mau mengukur waktu. Entah kenapa dia jadi takut untuk mantap-mantap dengan Ezra. Walau sebenarnya dia memang pingin juga.
"Baiklah, tapi ini semua tak gratis. Addek harus bayar nanti."
"Loh, aku kan gak minta dijari. Koq memalak sih?" Zahra merengut, Ezra tertawa kecil. Bangkit dari duduknya dan kembali mendarat bokong sang istri di bangku itu.
"Baiklah istriku yang cantik dan sexy Kita mulai saja belajarnya ya." Zahra tersenyum manis, sambil memberi anjungan jempol pada sang suami, sebagai tanda setuju.
Zahra merasa bahagia sekali. Sosok Ezra ternyata begitu lucu, bersahaja. Dia gampang dekat dengan suaminya itu. Padahal, disaat malam pernikahan mereka, Ezra terlihat cool. Sangat berbeda dengan sekarang. Zahra juga menemukan sisi kebapak an pada suaminya itu. Ezra selain sebagai suami, juga bersikap seperti orang tua. Rasa sedihnya juga berkurang saat ini, apalagi saat mengingat sang ibu. Karena kehadiran Ezra.
"Sistem reproduksi berfungsi dan bertujuan untuk mencetak anak."
Hahhahaa
Zahra tertawa kencang, sambil menepuk - nepuk meja. Kenapa mereka jadi kurang kerjaan. Ya, sebenarnya untuk bahagia itu gampang. Bahagia itu tak perlu modal banyak. Tinggal kita saja bisa bersyukur, hati pasti bahagia.
"Olaah.... Pak Guru mesum. Tujuan bereproduksi itu untuk melestarikan makhluk hidup pak. Agar makhluk hidup di dunia gak punah. Cetak anak, cetak anak terus. Kalau cetakannya gak bagus gimana pak?"
Ezra terdiam dengan ucapan sang istri. Ternyata istrinya itu pintar juga.
"Ehhmmm iya, iya betul. Seratus untuk Halwa. Eehh salah Wawa.!"
Zahra memoyongkan bibirnya kesal dengan sebutan nama itu.
"Perhatikan baik-baik anatomi dari alat-alat reproduksi manusia. Di layar sudah ada gambar reproduksi wanita dan pria lengkap dengan nama-nama ilmiahnya.
Zahra mau tertawa disaat Ezra menyebutkan nama setiap bagian alat reproduksi itu dan fungsinya. Apalagi saat Ezra membahas gambar untuk reproduksi pria.
Saat itu juga Zahra terdiam. Melihat gambar itu dia jadi pengen.
"Ya Allah, ini si bapak sepertinya sengaja memancing-mancing." Gumam Zahra, dia memang tertarik dengan penjelasan suaminya itu. Fungsi dari semua alat-alat reproduksi pada pria.
TBC
__ADS_1