
"Wajah orang bisa mirip, bahkan kita katanya punya tujuh kembaran." Ujar Bu Jamilah.
Polisi yang bernama Sushi itu hanya tersenyum, menanggapi ucapan Ibu Jamilah. Dia merasa bersalah juga tadi karena menghina wajahnya Zahra.
"Terima kasih kami ucapkan atas kerja sama bapak/ibu. Semoga selamat sampai tujuan." Ujar Sushi ramah. Para polisi itu pun turun dari mini bus itu.
"Lanjut Pak supir, Maju...!" Ujar para penumpang serentak.
Huuueeeekk..
Zahra langsung muntah, disaat mobil itu mulai melaju. Gigi palsu milik Ibu Jamilah sudah tergeletak di lantai Bus itu.
"Nak, ini... ini plastik, muntahnya di sini saja." Ibu Jamilah menyodorkan kresek warna hitam. Dengan ragu Zahra meraihnya. Dia juga tak mungkin mengeluarkan muntahannya di mobil itu. Dan menyuruh pak supir untuk berhenti, itu tak mungkin lagi.
Huueekkk....
Huuueekkk...
__ADS_1
Zahra sampai mengeluarkan air mata saat mengeluarkan isi perutnya itu. Perutnya rasanya seperti diaduk-aduk. Membayangkan bahwa itu gigi palsu sang nenek sungguh membuatnya sangat mual.
"Nak, minum dulu!" Zahra meraih botol minum yang diserahkan oleh ibu jamilah. Dia gak memperdulikan lagi, air dalam kemasan itu steril atau tidak. Karena ia memang sedang membutuhkannya saat ini. Dia gak punya air minum.
"Sini, biar ibu aja yang yang buang." Satu tangan Zahra masih memegang kresesk berisi muntahannya. Dia sudah merasa sangat lemas sekali. Rasanya sangat sakit saat mengeluarkan isi perutnya yang dipaksa itu.
Ibu Jamilah malah dengan ikhlas meraih kresek yang berisi muntahan itu dari tangan Zahra. Melempar kresek hitam itu keluar kaca mobil ke hutan yang ada di pinggir jalan yang mereka lintasi.
Zahra yang lemas, hanya bisa duduk bersandar lemah. Keringat sebiji jagung sudah memenuhi dahi dan hidung wanita itu. Dia keringat dingin saat ini.
"Terima kasih banyak ya bu!" Zahra akhirnya menangis tersedu-sedu. Air mata tak terbendung lagi. Sikap ibu Jamilah yang baik, membuatnya jadi teringat pada ibunya Anindya. Ibunya itu akan sangat mengkhawatirkannya jika dia sedang sakit.
"Iya nak."
Zahra menelusupkan tangannya ke balik gamis yang dikenakannya, mengoleskan minyak kayu putih itu ke perutnya, memijat pelan perutnya yang terasa kram, karena baru selesai muntah.
"Kamu amsuk angin nak." Ujar Ibu Jamilah pelan, merasa kasihan pada Zahra
__ADS_1
"Iya bu," Ucapnya dengan ramah. Sebenarnya faktor yang membuatnya muntah bukanlah karena masuk angin, tapi faktor terbesar nya adalah, karena gigi palsu yang dipakainya. "Terima kasih ya bu, ibu baik banget." Ucap Zahra lemah, dia memang merasa lemas saat ini. Bahkan dia tak ada tenaga untuk bicara.
"Iya nak, kita sebagai manusia harus saling tolong menolong." Zahra melirik ibu Jamilah dengan tersenyum, dia sungguh tak ada tenaga saat ini. Kepalanya saja sudah pasrah bersandar di kursinya. Zahra Sani bersyukur, ternyata masih ada orang yang berbaik hati padanya. Mungkin inilah hasil yang dituai dari sikap baiknya Zahra selama ini.
"Kamu tidur saja, nanti kalau sudah berhenti di rumah makan, ibu banguin kamu." Ujar ibu Jamilah.
"Iya bu, makasih banyak bu." Zahra tak bosan-bosannya mengucapkaan terima kasih, dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang baik disebelahnya.
Zahra yang lemas itu, mulai mencoba mengistirahatkan tubuhnya, menutup matanya dan konsentrasi untuk tidur. Dia tak mau memikirkan masalahnya saat ini. Karena, kalau dia memikirkannya, dia tak akan bisa istirahat. DIa perlu mencharger tubuhnya, agar punya tenaga esok hari. Perjalanan masih panjang, hidup yang dijalaninya penuh dengan cobaan, Fisik dan mental harus kuat.
***
Sudah pukul dua dini hari, Ezra belum mendapat laporan dari Bimo, tentang keberadaan Zahra. Pria itu pun akhirnya memilih pulang ke rumah. Dia perlu istirahat, karena besok dia harus punya energi yang banyak untuk menyelesaikan semua masalah. Ezra sangat menjaga kesehatan tubuhnya, dia selalu membiasakan hidup sehat. Tidak mau begadang, di malam hari tubuh perlu istirahat.
Sesampainya di rumah, pria yang berniat tidur itu, nyatanya gak bisa juga memejamkan matanya. Dia gak bisa mengajak dirinya untuk tenang, masalah rumah tangga yang dialaminya saat ini benar-benar menguras pikirannya. Ibu dan anak membuatnya pusing tujuh keliling. Masalah yang dihadapinya saat berumah tangga dengan Rani dulu, tak membuatnya jadi pusing seperti ini.
TBC 🙂
__ADS_1