AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Rakus


__ADS_3

"Ayo, ganti bajunya." Zahra menatap lekat Ezra, dan tatapannya itu, kini beralih ke piyama yang ada di tangan sang suami. Dengan ragu, Zahra meraihnya. Berlari cepat ke dalam kamar mandi. Ya karena dia memang sesak sepi.


Sesampainya di kamar mandi, Zahra tergesa-gesa mengeluarkan urinenya. Rasanya begitu legah setelah cairan itu keluar dari kandung kemihnya. Wanita itu menarik napas panjang. Rasanya begitu menegangkan satu kamar bersama pak tua.


"Apa sih maksudnya meminta aku ganti baju? bukannya dia mau menerkamku? Dasar aneh!" Zahra mengumpat habis Ezra. Dia buru-buru mengganti bajunya, takut suami mesumnya itu, masuk ke kamar mandi.


Zahra memperhatikan penampilannya di cermin besar yang ada di dalam kamar mandi itu. Baju yang dikenakannya sangat sopan. Lengan panjang menutup bokong dan celana panjang.


"Ya ampun ... Enak banget ya jadi orang kaya. Kamar mandinya saja sudah seluas rumah kami di kampung." Ucapnya terkagum-kagum dengan noraknya. Memperhatikan interior kamar mandi itu. "Sepertinya semua rumahnya pak tua, kamar mandinya luas dan mewah. Enak banget ya jadi istrinya itu." Zahra menggeleng dengan tak percayanya. kenapa dia terjebak di keluarganya Rara.


"Aku gak munafik sih, siapa sih yang tak ingin punya suami kaya. Tapi, kalau jadi istri simpanan. Itu bukan tipeku. Lebih baik hidup sederhana, jadi istri satu-satunya." Zahra yang duduk di tepi bathtub bicara sendiri, sambil memperhatikan dirinya di cermin." Oalahh.... koq aku jadi mikirin kawin sih. Dari dulu, aku gak pernah mikirin untuk pacaran, apalagi kawin. Lah sekarang aku sudah jadi istri si pak tua." Gerutunya kesal, tak henti-hentinya berdecak penuh dengan frustasinya. Wanita itu bahkan mengacak-acak rambutnya yang panjang dan hitam legam itu.


"Aku ingin kaya, kaya dari hasil kerja kerasku. Bukan kaya, karena jadi istri simpanan. Hadeuhh.... Gimana sih caranya bujuk si pak tua, agar mau ceraikan aku. Terus tambang emasnya tetap milikku." Zahra kini mengusap wajahnya kasar. Sepertinya dia akan membatalkan niatnya untuk balas dendam pada Ezra dan Rara. Zahra kasihan juga pada istri sah nya Ezra.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


"HALWA... kamu gak ada rencana untuk tidur di dalam kamar mandikan?" suara lembutnya Ezra membuatnya terlonjak kaget.


"Halwa? dia memanggil aku dengan nama itu. Dasar pak tua, suka-suka hatinya saja membuat nama panggilan orang. Dari kecil, aku tu dipanggil Zahra." Ucapnya kesal, tak ada niat untuk beranjak dari tempatnya saat ini duduk.


Zahra sengaja berlama-lama di kamar mandi. Dia ingin menghindari suaminya itu.


"Halwa.... Abang masuk ya?"


"Abang..... Abang.... Emang kita satu persusuan apa?" ucapnya pelan, yang hanya bisa didengar olehnya. Dia semakin kesal saja pada pak tua itu. Mana dia dipanggil dengan nama Halwa. Dia tak suka nama panggilan itu.


"Wawa.....! kami masih hidupkan?"


"Sudah mati kali...!" akhirnya Zahra membuka suara juga. Dia semakin kesal pada suaminya itu. "Wawa, Wawa.... apa susahnya sih manggil Zahra."


"Ngapain saja di kamar mandi, lama betul Halwa?" Zahra menatap jengah Ezra yang ada di hadapannya.


"Lagi miting!" ucapnya ketus, melewati suaminya dengan santainya. (Miting\= Buang air besar dalam bahasa Batak).


"Meeting? kamu meeting dengan siapa?" Ezra bingung, masak istrinya Meeting di dalam kamar mandi. Meeting dengan siapa? di kamar itu hanya ada mereka berdua.

__ADS_1


Zahra menghentikan langkahnya, merasa takjub dengan hidangan di hadapannya. Ada banyak makanan lezat di atas meja yang dihias jadi terlihat romantis itu. Mereka seperti makan malam romantis saja.


"Ayo kita makan dulu. Abang lapar!" menarik lembut lengan sang istri. Zahra yang masih bingung itu, menurut saja pada sang suami.


Sebenarnya Zahra itu takut sekaligus merasa enggan pada Ezra. Zahra tipe cewek yang selalu menjaga jarak dengan pria. Bahkan pada Ferdy saja dia gak mau pecicilan. Sikap bar bar nya Zahra itu muncul, sebagai cara dirinya untuk melindungi diri. Kalau dia bersikap terlihat lemah. Orang akan menyepelekannya. Termasuk sikapnya saat ini pada Ezra.


Zahra membasahi bibirnya sendiri saat melihat makanan yang terhidang. Tentu saja semua makanan yang ada di di atas meja itu adalah makanannya orag kaya.


Zahra terlihat sangat berselerah. Gadis itu beberapa kali kedapatan Ezra, menelan ludahnya sendiri. Karena dia memang sangat lapar. Tenaganya habis saat berduel dengan Ezra.


"Mau coba ini?" Ezra menyodorkan stik daging. Zahra mengangguk pelan. Ya dia sudah lapar. Jadi dia malas berdebat. Yang terpenting kenyang dulu, siapkan tenaga untuk berdebat dengan pak tua. Agar pak tua mau menceraikannya.


Ezra senyam-senyum melihat Zahra yang makan dengan rakusnya. Istrinya itu sudah menghabiskan empat potong stok daging. Pizza satu loyang. Makan lobster lagi. Dan cara makannya sungguh jauh dari kata lembut. Sangat berbeda dengan wanita, pada umumnya yang terlihat malu-malu saat makan di hadapan pria.


"Pelan-pelan makannya Halwa. Jangan buru-buru, nanti kamu tersedak."


Zahra terperangah mendengar ucapan sang suami. Zahra pikir suaminya itu akan ilfell padanya. Eehh... Nyatanya suaminya itu terlihat senang.


Zahra memang sengaja makan seperti tak punya etika itu, agar Ezra gak sreg lagi padanya.

__ADS_1


TBC


Lagi sibuk banget say, up-nya dikit. Yuk kencengin like, komentar positif dan vote. Agar author lebih semi lagi update ny


__ADS_2