AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Mencoba tegar


__ADS_3

Pukul sembilan pagi Dokter Alvian melakukan visit ke ruangan Anin. Kondisi kesehatan wanita itu memang sudah membaik dan sudah boleh pulang, melanjutkan perawatan di rumah saja, misal mengganti perban setiap hari.


Dokter Alvian yang sudah selesai memeriksa Anin, meminta perawat keluar, beserta Bimo. Dengan alasan, Bimo disuruh Dokter tampan itu mengurus administrasi, kalau memang ingin Anin ingin pulang pagi ini.


Awalnya Bimo tak mau, karena dia heran. Kenapa jadi Dokter itu dan Anin yang berada di ruangan itu berduaan. Tapi, karena Anin juga meminta Bimo mengurus administrasi dengan cepat. Akhirnya Bimo mengikuti kemauan wanita yang sedang ditaksirnya itu.


"Mas minta nomor hape mu ya dek?" ujar Alvian dengan wajah memelasnya.


Anin cukup terkejut dengan permintaan Dokter itu. Dokter Alvian meminta nomor ponselnya. Apakah Dokter Alvian masih ingin tetap menjalin silaturahmi dengannya? untuk apa?


Hal itu membuatnya takut, dia jadi teringat kejadian 19 tahun silam. Disaat Pak Subroto ayahnya Dokter Alvian mengancamnya. Agar menjauhi putranya. Padahal dulu, Anin sama sekali tak menjalin hubungan dengan pria di hadapannya ini. Karena, mana mungkin anak pembantu dengan anak majikan.


"Eemmmm..... Aku gak hapal nomorku Mas." Sahutnya memberi alasan yang sebenarnya. Dia memang belum hapal nomor ponselnya.


Alvian tersenyum, dia tahu Anin sedang mengelak secara halus. Lihat lah betapa gelisahnya wanita itu, karena permintaannya.


"Mana ponselmu?" masih menatap lekat Anin penuh harap.


"Ponsel? di mana ya?" Anin yang tak mau ditatap terus Dokter Alvian, memilih turun dari bed. Perutnya sudah tak sakit lagi, jika berjalan. Sepertinya memang dia diberi obat paling bagus.


"Eemmmm.. Ponsel sendiri pun gak tahu di mana letaknya." Ujar Dokter Alvian, meraih ponsel yang ada di atas ranjang itu. "Ini Dek!" Alvian menyerahkan ponsel itu kepada Anin.


"Oohh.. Di situ rupanya." Anin terlihat tak tenang.


"Ketik nomor Mas, dan miscall!" titah Alvian dengan penuh kewibawaan yang membuat Anin seperti bawahan yang patuh pada atasan.


Dan ponsel yang ada di saku celana dokter tampan itu pun bergetar. Itu tandanya panggilan dari nomornya Anin sudah masuk. Pria itu dengan senyum mengembangnya menyimpan nomor kontaknya Anin.


"Kalau ada waktu luang, aku akan menghubungimu." Ujar Dokter Alvian, menatap lekat Anin.


"Untuk apa?" Anin masih was-was.

__ADS_1


Hhahaha ..


"Ya untuk menjalin silaturahmi. Banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu. Mas harap, kamu jangan ganti nomor ya? kalau kamu tak ingin, mas mencari tahu tentangmu pada Pak Ezra."


Raut wajah Anin, langsung muram disaat wanita itu mendengar nama Ezra disebut pria di hadapannya. Bagaimanapun dia ikhlasnya menerima kenyataan pahit yang menimpanya. Rasa sedih, kecewa dan merasa dipermainkan masih tersisa.


Seandainya bukan Zahra wanita lain yang hadir dalam rumah tangganya. Dia akan memberi ultimatum pada madunya itu. Tapi, ini putrinya sendiri yang jadi madunya. Dia bisa apa? tak mungkin dia membenci anaknya sendiri. Anak yang membuatnya semangat bertahan hidup di dunia yang pana ini. Selama ini dia bekerja keras, agar bisa membahagiakan sang putri. Jika harus memberi sang suami pada sang putri, adalah kebaikan untuk semuanya. Dia bisa apa. Wanita itu harus mencoba untuk ikhlas. Apalagi, sudah jelas. Seorang pria pasti memilih yang mudah.


Anin yang sedih itu, memalingkan wajahnya dari Dokter Alvian. Dia malu karena tak bisa menahan dirinya itu.


"Maaf, Mas tak ada maksud apa-apa. Ya Mas hanya ingin tetap komunikasi saja denganmu. Siapa tahu kamu nanti kamu perlu bantuan. Jangan sungkan hubungi Mas." Ujar Bimo penuh kehati-hatian.


"Iya Mas " Jawab Anin pelan. Dia mendongak, agar air mata yang mendesak untuk keluar tetap di tempatnya.


Krekk...


Suara pintu dibuka, membuat keduanya terkejut. Anin yang lagi risau itu, langsung mengusap wajahnya dan mencoba tersenyum. Setelah merasa siap, wanita itu menoleh ke arah pintu.


Saat itu juga jantung Anin berdebar sangat kencang, saat melihat sang putri kesayangan, harta paling berharga yang dimilikinya, berdiri dengan raut wajah sedihnya di ambang pintu. Tentu saja ada sang mantan suami, berdiri dengan ekspresi datar di sebelah putrinya itu.


Anindya yang dari tadi berusaha menahan cairan bening yang mendesak keluar dari matanya tak bisa dibendung lagi.


Tes


Tes


Cairan itu jatuh membasahi pipinya, perasaan tak karuan di rongga dada semakin menjadi saja. Ia sedih sekaligus bahagia. Perasaannya campur aduk saat ini. Ia terisak dan merentangkan kedua tangannya. Dia harus tegar, Wanita itu mengangguk pelan, bersiap menyambut sang putri yang akan berhambur memeluknya. Keduanya berpelukan dengan perasaan yang sama-sama merasa bersalah.


Ezra yang paling merasa bersalah atas semua kejadian ini. Pria itu tak tahan melihat kesedihan di wajah Anindya. Pria itu menundukkan kepalanya. Bagaimana pun semua masalah ini bersumber darinya dan sang putri. Dia yang mendesak Anindya agar mau menikah dengannya. Setelah dia menikahinya, pria itu tak pernah menyentuhnya. Dan malah menikah lagi dengan putri dari mantan istrinya.


Ezra sungguh sangat merasa bersalah. Tapi, tak mungkin dia memilih Anindya. Karena, dia telah menggauli Zahra.

__ADS_1


"Mak... Maafkan Zahra Mak!" Zahra mengurai pelukan erat ibunya nya. Melorotkan tubuhnya di hadapan sang ibu, bersimpuh dan memohon maaf dengan mengatupkan kedua tangannya. Zahra sudah tenggelam dengan air mata saat ini.


Anindya tak tahan melihat sikap putrinya itu. Dadanya semakin sesak saja terasa, karena terbawa suasana yang mengharu biru. Wanita itu dengan cepat meraih tubuh sang putri, memeluk erat putrinya itu. Isak tangis keduanya pecah, terdengar sangat memilukan di ruangan itu.


Alvin dibuat tercengang menyaksikan tontonan dramatis di hadapannya. Dia merasa tak pantas berada di ruangan itu. Pria itu pun meninggalkan ruangan itu, setelah melirik Ezra dengan tatapan datarnya.


"Mak, maaf kan Zahra Mak?!" Masih memeluk sang ibu dengan eratnya.


"Iya sayang, kamu gak salah. Umak yang salah sayang. Umak, gak apa-apa koq sayang. Kamu jangan bersikap seperti ini, umak jadi semakin sedih. Kalau kamu bahagia, umak juga akan bahagia." Anindya mencoba bersikap tegar. Dia yang memeluk sang putri sedang menatap menatap Ezra yang tak berani menatapnya. Pria itu hanya melirik, karena merasa diperhatikan.


Disaat Ezra melirik ke arahnya. Wanita itu pun menutup kedua matanya. Air mata menetes dengan derasnya. Bagaimana pun, dia pernah hidup bersama dengan pria itu, walau terbilang hanya seumur toge dan setelahnya sang suami menghilang.


Sakit, sakit memang tapi, untuk apa lagi dipikirkan. Toh nasi sudah jadi bubur. Disesali tak ada gunanya. Tak mungkin juga dia mengakhiri hidup, karena punya madu putri sendiri.


Semua orang yang bernyawa pasti mengalami masalah dan beban-beban hidup yang di tanggung di pundaknya. Sangat mustahil jikalau hidup seseorang berjalan lancar-lancar saja dan tidak ada rintangan atau halangan untuk menguji hidupnya itu, pasti hidup semua orang itu mempunyai masalah masing-masing.


Dan masalah yang menguras emosi yang menimpa Ibu dan anak itu telah selesai. Hendaknya mereka harus bisa mengambil hikmah dari masalah ini.


Kalau ingin menikahi seseorang kenali dulu dengan baik. Karena pernikahan itu adalah hal yang sangat sakral. Kamu harus mengetahui seluk beluk pasangan sebelum menikah. Bahkan perihal kesehatan hingga utang piutang. Jangan sampai menikah malah akan membuatmu menerima banyak beban karena kondisi pasangan.


TBC.


Like, coment vote say.


Dukung novel ini say, berikan vote yang jumlahnya 1 dan ada yang 2 untuk VIP, yang kita miliki setiap minggunya. Kumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Karena Pak tua dan Zahra akan adakan give away memperebutkan pulsa 20 ribu untuk tiga pemberi hadiah terbanyak pada periode yang jatuh pada tanggal 25 April hingga 1 Mei. Dengan ketentuan, jumlah hadiah yang disumbangkan ke Novel ini tak boleh kurang dari 3000.


Seumpama reader tidak ada yang mencapai hadiah minimal 3000 pada Minggu itu, maka give away batal. 🙂😀😜🤭🤗


Hanya dukungan dukungan itu yang dibutuhkan novel ini.


__ADS_1


Beri dukungan sebanyak-banyaknya ditanggal 25 April hingga 1 Mei. Minimal 3000 dukungan ya say 🙏🙂😘


__ADS_2