
Tiga hari pun telah berlalu. Nek Ifah yang pengertian akan penderitaan Ezra. Akhirnya memilih tinggal di rumahnya Anin. Karena, Zahra selalu minta tidur bareng neneknya. Hal itu membuat Nek Ifah jadi merasa enggan pada Ezra. Nek Ifah takut, Ezra salah paham. Nanti Ezra mikirnya Nek Ifah yang minta Zahra tidur di kamarnya.
"Sepi, gak ada nenek." Keluh Zahra saat mengantar sang suami ke beranda rumah. Ezra akan berangkat kerja.
"Ya sudah, ikut ke kantor saja sayang." Ujar Ezra menatap istrinya itu dengan penuh cinta. Ezra masih memeluk istrinya itu. Tatapan Ezra selalu sukses membuat Zahra baper. Ia jadi tersipu malu, ditatap terus. Seperti gak jumpa setahun saja. Padahal serumah.
"Gak, gak... Kapok...! aku bisa kena serangan jantung di sana. Banyak ulat keket. Yang buat tangan aku jadi gatal ingin menghajar wanita - wanita itu." Cicit Zahra dengan ekspresi wajah geram. Koq banyak ya wanita gak punya harga diri. Ngejar - ngejar cowok.
Hihihi
Ezra tertawa melihat ekspresi wajah sang istri yang gemesin. "Tinggal tiga hari lagi, dan wanita - wanita itu gak akan gangguan Hubby lagi. Acara resepsi pernikahan kita akan ditayangkan di channel tv swasta." Ujar Ezra dengan penuh kepercayaan diri. Baru kali ini ia melihat suaminya itu narsis.
"Masak sih By? yang biasanya masuk tv kan, artis atau pengusaha yang istrinya artis. Kita kan, gak artis By." Ujar Zahra tak percaya. Tiba-tiba saja ia jadi gak Percaya diri. Ia malu lah, karena ia kan orang biasa. Nanti pasti profilnya akan dibahas orang.
"Iya sayang, kita itu lebih dari artis."
"Hadeuhhh By, aku jadi takut." Zahra menampilkan ekspresi penuh kekhawatiran.
"Takut? takut kenapa sayang?' Ezra dibuat penasaran, apa sih yang ditakutkan Zahra.
__ADS_1
Merasa topik pembicaraan mereka menarik. Ezra kini menuntun sang istri duduk di kursi teras rumah mereka.
"Gak usah kita masuk tv By." Zahra yang sudah memegangi lengan nya Zahra menggoyang nya pelan. Tak setuju acara mereka akan diliput.
"Emang kita bisa masuk ke dalam Tv. Rusak dong tv nya."
"Gak lucu!" desis Zahra berdecak kesal. Guyonan sang suaminya terasa garing. Gak lucu sama sekali.
"Kenapa gak mau diliput para wartawan dan jadi salah satu acara di tv swasta?" kini Ezra bertanya dengan serius.
Zahra menatap lekat sang suami. Kegundahan tercetak jelas di wajahnya. "Aku takut, nanti saingan ku jadi banyak By. Apalagi kalau sudah masuk stasiun TV.. Tentu seantero jagat raya ini, akan melihat dan mengenal Hubby. Tentu itu suatu ancaman buatku By "Ada raut wajah takut kehilangan, serta cemburu di wajah nya Zahra.
"Apa Hubby hanya baik dan Sholeh. Gak ada kelebihan lainnya?" Ezra belum puas dengan penjelasan sang istri. Kenapa Zahra tak mengatakan bahwa ia tampan dan kaya. Ezra ingin juga dipuji tampan.
"Eemmm... Masih banyak sih kelebihan lainnya. Tapi, untuk seorang suami sudah bisa dikatakan sempurna, Jika sudah baik dan sholeh." Jelas Zahra menirukan gaya mama Dedeh.
"Sholeh? Sholeh saja cukup?" Ezra kurang Sepaham dengan Zahra. setahu dia seorang suami itu harus mapan.
"Iya By, kan kalau sudah jadi suami Sholeh. Tentu ia tahu kewajiban nya sebagai suami. Tentunya ia sudah memenuhi nafkah lahir dan batin. Kan itu poin pentingnya By dalam berumah tangga. Terpenuhi nafkah lahir dan Bathin." Jelas Zahra lagi penuh penekanan.
__ADS_1
"Oooww.... Begitu, baik lah Bu Ustazah. Ceramahnya lumayan juga." Ezra bangkit dari duduknya, memperhatikan jam yang melingkar di tangannya. "Kultum (Kuliah tujuh menit) sudah usai. Saatnya cari cuan." Ia menuntun sang istri agar ikut bangkit. "Temani Hubby kerja di kantor." Tanpa menunggu persetujuan dari sang istri. Ezra menarik lengan Zahra. Meminta Zahra masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
"Gak mau ikut ke kantor. Mau jalan-jalan By.'" Rengek Zahra mobil sudah melaju. Tangannya sibuk menggoyang lengan ya Zahra. Dengan tatapan memelas
"Nanti setelah makan siang. Kita jalan-jalan ke perkebunannya Bimo. Sekalian melihat keadaan Rara. Mereka gak pernah sekalipun kasih kabar. Sombong sekali Bimo itu." Ujar Ezra dengan nada datar. Ia menyayangkan sikap Bimo, yang seolah memutuskan hubungan silaturahmi.
"Perkebunan, Bimo punya perkebunan apa? perkebunan sawit atau karet? kalau perkebunan sawit atau karet, gak usah deh By. Aku sudah bosan melihat kebun karet dan sawit." Keluh Zahra.
"Gak ingin jumpa Rara? katanya ingin jumpa Rara?"
"Ingin sih, tapi kalau harus ke kebun sawit atau karet aku gak mau deh By."
Ezra melirik Zahra dengan senyum manisnya. "Pokoknya tempat nya bagus. Kamu pasti suka sayang." Menjawir gemes dagu Zahra yang lancip.
Zahra tersipu malu. Ia pun bergelayut manja di lengan sang suami. Dengan tatapan lurus ke badan jalan.
TBC
Like, coment dan vote
__ADS_1
.