AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Jangan saling menyalahkan ya


__ADS_3

Warning...!


Pada bab ini ada adegan ki -- ssing nya. Yang tak ingin puasnya makhruh atau batal, boleh di skip dan dibaca entar malam. Author lagi gak puasa soalnyaπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜œ. Alur di Bab ini juga banyak yang diubah, karena lagi bulan puasa 😜🀭


Zahra yang merasa pusing itu pun masuk ke kamar mewah itu, sembari memegangi kepalanya yang sakit itu. Rasa sakit di kepalanya sontak hilang, saat melihat pria yang dikenal nya menatap tajam siap menerkamnya.


"Pa--k, Pak tua...." ucapnya lirih, menutup mulutnya yang menganga dengan tangan kanannya. Benar dugaannya, suaminya itu berhasil juga menangkapnya.


Zahra memundurkan langkah nya, ketakutan melihat sang suami yang berjalan ke arahnya dengan santai, tapi tatapan suaminya itu penuh dengan kekesalan. Terlihat suaminya itu ingin memakannya hidup-hidup.


"Pak, bapak... jangan..!" Zahra menyilangkan tangannya, menutupi wajahnya agar tidak dijamah bibir suaminya. Menutup mata cepat, karena tak sanggup melihat sang suami yang terlihat kesal padanya. Dia tahu, apa yang diinginkan suaminya itu saat ini. Karena tadi malam suaminya itu mengatakan akan membuatnya tak bisa jalan. Tatapan matanya Ezra sangat mendamba saat ini. Dan itu tak boleh dilakukan, hubungan mereka haram, ini dosa besar. Dia tak mau melakukan dosa lagi.


Taaarrppp...


Terdengar suara pintu ditutup, saat itu juga Zahra membuka sebelah matanya. Mengintip apa yang dilakukan sang suami. Ternyata wanita itu berada dalam kungkungan tubuh tegap besar suaminya itu. Satu tangan suaminya itu menyentuh daun pintu, dan satu tangan lagi berkacak pinggang.


Zahra yang hanya punya tinggi badan 155 cm itu, harus menengadah untuk melihat wajah sang suami di hadapannya. Ezra punya bodi yang sangat bagus. Otot-ototnya liat dan keras, mana tinggi badan suaminya 180 cm. Auto dia tenggelam sudah dibuat suaminya itu.


"Mau lari ke mana lagi? mau lari ke mana lagi, haaaaaahhh....?" Ezra mendominasi saat ini, Zahra menundukkan kepalanya. Tak sanggup menatap mata tajam sang suami yang penuh dengan kekecewaan itu. "Apa harus melarikan diri, menyelesaikan masalah?" kini cara bicaranya sang suami sudah sedikit lembut. Ezra yang melihat wajah sedih sang istri, membuatnya merasa bersalah. Dia pun menurunkan satu oktaf suaranya.


Entah kenapa Zahra merasa gampang sedih saat ini. Dia seolah tak punya tenaga untuk berantem dengan suaminya itu. Perasaannya saat ini sedang sedih.


"Kita bicarakan baik-baik. Sayang, kamu perlu dengar semua fakta yang terjadi. Jangan menyimpulkan sendiri dan main kabur seperti ini. Apa kamu gak tahu, suamimu ini sangat mengkhawatirkanmu. Semalaman Hubby memikirkanmu, melakukan segala cara agar kamu ketemu. Sayang.... please...


jangan pergi lagi...!"

__ADS_1


Ezra sudah menurunkan tangannya yang menekan daun pintu. Beralih meraih dagu sang istri dan mengangkat dagu lancip istrinya itu. Sehingga kini, terpampang lah wajah istrinya yang cantik, tapi pucat dan kusam. Maklum hampir semalaman Zahra diperjalanan.


Zahra yang jadi perasa dan gampang sedih itu, seolah tak ingin membantah. Dia juga merasa lemah sekali, kepala juga Kembali terasa sakit. Hingga kini bibir kenyal dan hangat milik sang suami menyentuh bibirnya lembut. Dia pun tersadar, mendorong kuat dada sang suami, agar menjauh darinya dan menghentikan ciu --man yang kini tak lembut lagi.


"Iihhh... Bapak..... Bapak.... Jangan...!" Zahra berontak, agar bibirnya tak bisa dinikmati boleh suaminya itu. Ezra yang tak bisa menahan rindunya pada sang istri. Mencengkeram kuat tengkuk istrinya itu, menahan kepala Zahra agar tetap di posisi uenak untuknya. Dan satu tangannya langsung meraih satu gundukan kenyal milik sang istri.


"Bapak...!" Zahra kesal, dia menendang miliknya Ezra dengan lututnya. Ezra yang jago bela diri, tentu bisa mengelak, saat melihat sang lawan menyerang. Pinggulnya bergerak menjauh disaat Zahra melancarkan aksinya. Sedangkan bibirnya masih menikmati bibir sang istri yang selalu berontak untuk dike - cup.


Zahra menepuk kuat bahu sang suami. Memberi tanda kalau dia tak bisa napas. Ezra melepaskan pangutannnya, dan bergerak cepat menggendong sang istri ke ranjang empuk.


"Pak, jangan. Ini dosa besar pak, jangan pak..!" Zahra berusaha menjauh dari sergapan Ezra, kini suaminya itu merangkak pelan di atas ranjang.


"Kalau bapak memaksa seperti ini, aku akan membenci bapak seumur hidupku!" teriak Zahra, eehh sialnya Ezra tak mengindahkannya. Dia malah menindih tubuh sang istri. Zahra kesal, bukan main. Dia tak mau berbuat dosa.


"Pak, aku mau pipis..!" ulangnya lagi dengan wajah memelas. Ya memang Zahra kebelet pipis.


Ezra menjauh dari tubuh sang istri. Memposisikan dirinya siap untuk membopong sang istri ke toilet. Dia harus memastikan, istrinya itu beneran mau pipi-s atau tidak.


"Pak, bapak keluar, ngapain disini?" tanya Zahra bingung, merapatkan kedua pa - ha, agar kran urine bisa ditahannya. Kandung kemihnya sudah terasa full. Mulai dari tadi malam dia gak pipis.


"Ya pipis lah Wa, Hubby di sini mau bantuin kamu pipis." Ujar Ezra menyiapkan kran air untuk membasuh milik sang istri.


"Iihh si bapak, aku bukan balita, yang kencing saja gak tahu caranya. Bapak keluarlah..!" Zahra mendesis kesal, suaminya itu membuatnya geram. Dia sudah tak bisa menahannya lagi. Zahra akhirnya mengeluarkan urine yang berwarna kuning pekat itu. Tentu saja, aromanya Pesing dan terlihat berasap.


"Ken - cingmu seperti air belerang saja, bau, mengeluarkan asap lagi. Deras pula itu keluarnya sudah pas seperti pancuran air soda Hahahaha...!" Ezra merasa terhibur dengan kekakuan Zahra pagi ini. Memang benar istrinya itu sesak pipis.

__ADS_1


Rindu yang membuncah kepada sang istri kini berubah jadi gemes.


"Sebaiknya istriku ini mandi dulu. Ini hijabmu entah bau apa? mau tengik!" Ezra melepas hijab syar i sang istri. Zahra benar-benar seperti anak kecil dibawah kendali pria itu. Entah kenapa Zahra malas berdebat, mungkin karena dia sedang lemah.


"Pak, keluarlah, aku bisa sendiri." Ujar Zahra datar, dia tak mau suaminya itu menyentuhnya lagi. Dia tak mau berdosa. Hubungan mereka terlarang.


"Pak.... Bapak....!" Teriak Zahra. Dia dari tadi sudah berusaha bersikap lembut. Tapi, lihatlah suaminya itu tak bisa dibilangin.


"Baikah, cepat mandinya. Kita perlu bicara!" tegas Ezra beranjak dari ka - mar man - di dengan menghela napas berat. Dia sangat ingin mandi bareng dengan istrinya itu. Karena, dia juga belum mandi. Dia saja, baru sampai di vila itu.


Ezra yang tak mau pencariannya gagal, terus berupaya menemukan Zahra, setiap diperbatasan kota yang dilalui Jalinsum (Jalur lintas Sumatera) diadakan Razia. Dan Zahra ditemukan setelah di perbatasan masuk ke kota Tarutung. Tentu saja mendengar kabar itu, Ezra langsung lepas landas ke kota Sibolga. Karena, ke kota itu lebih dan gampang dijangkaunya, dari pada harus muter balik ke kota Medan. Dan kebetulan sekali di kota itu, Ezra memiliki Villa mewah.


Zahra mencari kain salin di dalam ka mar mandi itu, dan tak di temukan. Dia pun tak ada pilihan lain selain mandi dengan **********. Saat itu juga dia merasa bagian bawahnya basah dan lengket. Zahra pun memeriksanya, keningnya berkerut melihat bercak darah dan lendir putih di ********** itu


"Aku datang bulan?" ucapnya tak percaya, koq cepat sekali. Kalau dia benar datang bulan, berarti haid nya maju satu minggu. Seingatnya dia jadwal, halangannya minggu depan. Zahra punya siklus menstruasinya tetap 30-31 hari. Jarang sekali maju, seringan telat 2-5 hari kalau dia lagi banyak pikiran.


Zahra tak mau terlalu memikirkannya, dia jadi senang mengetahui ada bercak darah ditemukan di dalam - annya. Kalau pak tua memaksanya, dia akan menunjukkan cela na dalamnya yang bau terasi itu.


Wanita itu sempat-sempatnya mencium cela na kotornya.


"Bau acem." ucapnya dengan bergidik geli.


TBC


Like, coment vote, hadiah.

__ADS_1


__ADS_2