
Ezra menangkup salah satu sisi pipih Zahra, mengusapnya lembut dengan jempolnya, membawa Zahra untuk menatapnya, "Abang akan melakukannya dengan pelan dan lembut, abang janji." Ujar Ezra penuh harap menatap Zahra dengan sungguh-sungguh. Sebenarnya, Ezra benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Juniornya sudah sangat tegang di balim celananya. Tapi, melihat keadaan Zahra yang terlihat sedih dan luka di pahanya. Bukankah dia harus bersabar?
Zahra terus menatap mata Ezra yang juga menatapnya dengan tatapan mengharap, memelas dan seperti ada ketulusan di sana. Wanita itu tidak kuat, ia lemah dengan tatapan yang Ezra berikan. Perlahan dengan tangan yang bergetar memberanikan dirinya untuk menangkup kedua pipi sang suami lalu menge-cup bibir sang suami dengan lembut, sebagai tanda bahwa wanita itu memberi izin untuk Ezra melanjutkan semuanya.
Air mata jatuh dengan sendirinya, membasahi bibir keduanya. Zahra sebenarnya belum yakin dengan dirinya yang memberikan mahkotanya pada sang suami. Karena dia tidak siap jadi istri simpanan, dan tak mungkin dia meminta Ezra untuk menceraikan istrinya. Tapi, jujur saja, dalam hatinya ia juga sangat menikmati apa yang sejak tadi Ezra lakukan. Suaminya itu sangat memujanya.
Ezra sangat terharu, akhirnya istrinya itu mau juga disentuhnya, padahal dari awal, kebencian untuknya sangat besar dari sang istri. Tangan Ezra perlahan mulai bekerja, mer-- emas, dan memainkan dada sang istri lagi. Zahra kembali melenguh. Pria itu harus meran--gsang istrinya itu kembali. Karea tadi sempat terjadi situasi tegang dan mengharukan. Istrinya itu menangis terisak.
"Eeeggghhh akkhhh" desa--h Zahra, di sela-sela ciuman mereka. Tangannya mer---emas pundak Ezra melampiaskan rasa nikmatnya.
__ADS_1
Ezra melepaskan ciumannya lalu mengecupi leher lalu turun ke dada, perut, sampai kebagian sensitif Zahra. Dan Zahra hanya bisa dibuat mendesah oleh perlakuan lembutnya sang suami.
"A-bang akan melakukannya sayang. Mungkin ini akan sedikit sakit di awal, jadi abang mohon bertahanlah." ucap Ezra lembut mengecup dahi Zahra dengan sayangnya. Sambil memposisikan miliknya yang tegang itu ke miliknya Zahra yang sudah basah.
Zahra sangat gugup dan sangat malu. wanita itu bahkan tidak bisa berkata-kata saat tadi melihat benda tegak yang menggantung di tengah-tengah paha Ezra. Ini pertama kalinya ia melihat aset milik pria dewasa secara sadar. Zahra mulai khawatir jika benda itu tidak masuk ke miliknya karena ukurannya yang sangat besar dan panjang.
Mak... Anakmu sudah jadi wanita Mak. MAk, setelah ini, putrimu ini akan disebut jadi pelakor. zahra membathin, air matanya kembali keluar dengan derasnya. Dia sangat sedih, dia menikah dengan pria yang sudah beristri. Jikalau sang ibu nantinya tahu dia jadi istri simpanan. Tentu sang ibu akan kecewa ladanya.
Zahra terus menangis saat Junior sang suami yang mencoba menerobos gua pertahanannya sangat sakit, perih, nyeri.
__ADS_1
Zahra hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan rasa perih yang perlahan ia rasakan. Ia memeluk tubuh sang suami melampiaskan sakit yang luar biasa yang ia rasakan dengan mencakar punggung dan pundak lebar sang suami.
"Aaaakkhhh------ SAKIT------!" pekik Zahra saat junior sang suami mencoba meerobos gua miliknya. Dari tadi Junior kerasnya Ezra berhasil masuk.
"SAKIT-----!" Ezra pun akhirnya menghentikan aksinya. Dia sungguh tidak tega untuk memaksa masuk miliknya.
Ezra kasihan sekaligus frustasi, dia merasa heran dengan miliknya, Apakah tingkat kekerasan miliknya sudah berkurang? kenapa susah sekali menjebol gua miliknya sang istri. PAdahal saat dia pertama kali melakukan dengan istri ya terdahulu, yaitu Rani. Tak sesusah ini, hanya dua kali dorongan sudah amblas masuk semua. Tapi, kenapa miliknya Zahra begitu susah.
"SAKIT.... Gak mau lagi, gak mau...!" Zahra mendorong kuat dada sang suami. Ezra pun terjungkal ke belakang. Saat ini Zahra merasakan sakit di dua tempat. Di bagian intinya. Dan pahanya yang terluka.
__ADS_1