
Bel pun berbunyi dengan kerasnya. Sehingga pembicaraan keduanya harus tertunda. Tanpa banyak bicara lagi Ferdy menarik lembut tangan Zahra, kini mereka berjalan bergandengan menuju kelas.
Perasaan keduanya sedang kacau. Pikirannya juga tidak tenang. Mereka tidak menyadari lagi, apa yang mereka perbuat. Saat ini semua mata sedang tertuju pada mereka. Saling bisik, heran melihat keromantisan yang ditunjukkan oleh Zahra dan Ezra. Padahal keduanya hanya berjalan bergandengan dengan raut wajah penuh tanda tanya dan Zahra bahkan berjalan dalam keadaan tertunduk. Karena, otaknya sibuk memikirkan masalah yang menimpanya.
"Waaawww..... Baru juga masuk sekolah, sudah dapat gandengan. Hebat......!" ujar seorang siswi dengan terperangahnya. Merasa takjub sekaligus kesal pada Zahra. Siswi itu juga sedang mengincar Ferdy. Makanya dia kesal kepada Zahra.
Tentu saja Ferdy banyak yang incar, walau dia baru dua hari jadi siswa baru di sekolah itu. Ferdy tampan dan anak orang kaya.
Zahra pun tersadar, bahwa dari taman belakang sampai ke kelas, dia dan Ferdy berjalan bergandengan. Dengan cepat dia melepas genggaman tangan Ferdy. Dia syok melihat teman sekelasnya yang mempelototinnya.
Zahra yang tak mau ribut, akhirnya memilih duduk di kursinya. Tak mau melihat ke arah Ferdy lagi. Wajahnya sudah pucat, dia malu juga dengan apa yang dilakukannya. Tak seharusnya dia bergandengan tangan dengan Ferdy. Ferdy pun melanjutkan langkahnya menuju tempat duduknya.
Bagu juga dia duduk di kursinya. "Aouuww..!" Zahra mengaduh kesakitan ketika tulang keringnya di tendang dari depan. Dia sangat terkejut mendapat serangan mendadak itu. Koq bisa wanita itu malah menendangnya dari depan.
"Kamu jangan sok kecantikan, ingat kamu di sini murid baru." Siswi yang menendang tulang keringnya Zahra, berbisik memberi peringatan dan berlalu cepat, ngacir ke tempat duduknya. Karena, guru sudah berada di kelas.
Zahra tidak terima dengan perlakuan teman sekelasnya itu. Dia mengusap tulang keringnya yang terasa sangat sakit itu. Mana sepatu cewek yang menendangnya ternyata lancip dan keras.
Zahra kesal dalam hati, dia sedang tidak baik-baik saja sekarang, dan ada yang cari perkara dengannya. Kalau gak ingat, di mana dia berada saat ini, mungkin dia akan mematahkan kakinya yang menendangnya. Tapi, dia harus bisa sabar. Lihat saja, kalau cewek itu cari masalah lagi nanti Dia tidak akan tinggal diam.
"Apa kau tengok-tengok?" ujar siswi yang menendang kaki Zahra dengan pelan, saat Zahra menatap kepada cewek itu. Kedua mata cewek itu melotot penuh, Zahra yang kesal menatap sinis kepada siswi yang namanya saja dia tak tahu. Melihat siswi itu tak terima ditatap sinis, Zahra dengan cepat membuang muka. Menyiapkan peralatannya untuk belajar dengan khidmat.
***
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya Bimo?" tanya Ezra serius pada Bimo. Kini kedua pria itu sedang duduk di sofa warna hitam di ruang kerjanya Ezra. Ezra baru selesai menandatangani berkas yang dibawakan oleh Ezra.
"Baik Bos, tak ada masalah."
"Jangan menutup-nutupi, tak biasanya kamu menyimpan sesuatu dari saya. Aku yakin pasti ada yang tak beres." Ujar Ezra penuh keyakinan menatap Bimo yang tak berani menatapnya.
"Non Zahra ingin cerai."
"Sudah ku duga, dia memang wanita yang berbeda." Jawab Ezra tersenyum tipis. "Dia itu menarik dan tak membosankan." Lanjutnya lagi, menghela napas dalam dan menyadarkan tubuhnya di sofa. Ezra sebenarnya merasa lelah sekali. Satu Minggu ini tidurnya tidak nyenyak, hidupnya tidak tenang. Masalah datang beruntun Mana dia belum pernah olah raga malam, meraih kenikmatan surga dunia. Padahal dia punya dua istri.
"Aku tak akan melepaskan dia." Ucapnya lagi dengan tatapan mata menerawang.
"Kasihan dia Bos, masa depannya masih panjang. Menjadi istri simpanan membuatnya tertekan." Ujar Bimo serius. Dia kepikiran ucapan Zahra semalam.
"Ini sudah takdirnya, kenapa saat aku menawarkan diri menikahinya. Dia tidak menolak." Jawab Ezra tegas. Kini raut wajah Ezra berubah jadi mendung dan terlihat tertekan.
"Aku tak akan melepaskannya. Dia bisa meraih mimpinya. Aku tidak akan memaksanya melakukan kewajibannya sebagai istri. Tapi, aku tak ingin dia didekati oleh pria manapun. Dia akan jadi milikku kelak. Bukankah dia sudah jadi milikku saat kejadian itu?"
Bimo memalingkan wajahnya, tertawa, karena merasa lucu dengan pernyataan Bosnya itu.Mana dia tahu, kronologis kejadian malam itu. Bimo saja gak mau lihat video mesum Bosnya itu.
"Soal itu aku gak tahu Bos. Yang merasakannya kan Bos. Koq malah nanya aku sih Bos?" ujar Bimo, menanggapi pertanyaan skeptis bosnya itu dengan tersenyum tipis
"Entahlah Bimo, aku juga bingung dengan kejadian malam itu. Awalnya aku mikirnya itu mimpi. Karena saat aku bangun, aku memang basah, dan aku hanya seorang diri di kamar itu. Tapi, video itu mengatakan lain." Ezra kembali menghela napas dalam, dua hari yang lalu, dia ingin membahas itu dengan Zahra. Tapi saat keduanya berkomunikasi, malah yang terjadi kesalahpahaman.
__ADS_1
"Apa karena Zahra tidak suci lagi Bos, makanya dia mau menikah dengan Bos? mungkin dia punya prinsip, pria yang pertama kali melihat dan menyentuh tubuhnya lah yang akan jadi suaminya."
"Tapi, tadi kamu bilang dia ingin cerai. Kamu gimana sih Bim." Ketus Ezra, menodong Bimo dengan telunjuknya.
Ezra menggaruk kepalanya yang memang jadi gatal, gara-gara memikirkan kisah asmara bos nya itu.
"Berarti Non Zahra masih suci Bos. Kenapa dia ingin pisah."
"Iya juga ya?" Ezra nampak berfikir, dia bahkan mengusap-usap dagunya.
"Oalah Bos, ngapain kita asyik menduga-duga. Mainkan saja Bos. Nantikan Bos tahu sendiri jawabannya." Ujar Bimo, memperhatikan Bosnya yang terlihat ketakutan. "Dia kan istrinya Bos. Istri sah Bos." Jelas Bimo lagi.
Ezra melirik Bimo sambil berfikir. Ya, tak dipungkiri, Ezra mau menikahi Zahra, karena dia tertarik juga pada gadis itu. Tapi kan Zahra masih anak sekolah. Kalau dia menuntut haknya pada istri kecilnya itu, dia merasa bersalah gitu. Karena, Zahra terlihat seperti anaknya. Mereka terpaut usia 24 tahun. Rasanya terlalu sadis, memaksakan dirinya untuk menikmati surga dunia dengan gadis kecil itu, kecuali tadi Zahra, memang ikhlas mau melakukannya.
Ezra punya nafsu yang kuat, tapi nafsunya yang kuat itu, bisa dibentenginya dengan imannya yang kuat. Ezra bisa meredam nafsunya dengan banyak beribadah dan mengalihkannya pada pekerjaan. Dia bahkan tidak suka main sendiri. Karena dia tahu efek buruk dari perbuatan itu. Dan Ezra tipe pria yang tidak mau memaksa pasangannya dalam bercinta. Dia akan merasa puas, jika pasangannya ikhlas mau melayaninya.
"Itu bukan solusi Bimo, aku tak mau membuatnya semakin membenciku dan Rara." Ujar Ezra, masih menatap serius Bimo. "Ku perintahkan kamu menyelidiki dengan detail apa yang terjadi pada malam itu, pada temannya Rara. Pria yang memeras kita." Bimo menggeleng cepat, kurang setuju dengan ucapan Ezra.
"Bos, menurutku akan lebih baik. Bos tanyakan langsung apa yang sebenarnya terjadi malam itu pada Non Zahra." Jelas Bimo, untuk apa menanyakan pada orang lain.
TBC.
Tiga orang yang mendapatkan pulsa 10 RB. Untuk kak Karmila, follow akun ku ya. Karena aku gak tahu nomor hp kakak.🙏❤️
__ADS_1