
"Sayang... Hempaskan wanita ini!" menunjuk ke arah Zahra yang dadanya sudah naik turun, karena emosi.
Kini mata para karyawan sudah tertuju pada mereka. Ezra memberi kode dengan tatapannya. Dan semua pegawainya kembali ke tempat masing-masing.
"Mas Ezra.." Rengek wanita itu manja, masih berusaha mendekati Ezra, yang kini sudah menggenggam tangannya Zahra. Ia sengaja menahan tangan istrinya yang lagi emosi itu, agar tak terjadi lagi perkelahian. Karena ia tahu, kalau ia tak menenangkan sang istri. Bisa patah tulang wanita sexy yang ada di hadapan mereka. Zahra kan jago silat. Kalau sudah seperti itu, bisa panjang urusannya. Ezra tak mau orang-orang menilai istrinya bar bar.
"Mas Ezra, mas Ezra..., Pergi kamu, atau ku benturkan lagi tubuh mu ke dinding gedung ini." Ujar Zahra kesal, menghempaskan tangan Ezra yang memegang tangannya erat.
Zahra dengan cepat menggapai tubuh wanita yang gemulai itu. Menarik kembali dres wanita itu bagian dadanya. Tentu saja wanita itu memukul tangannya Zahra.
"Pergi kamu, jangan pernah muncul lagi di sini.!" Zahra memberi kode dengan tangan nya mengusir wanita itu.
Sang wanita itu kesal sekali. Ia telah dipermalukan wanita magang, dihadapan pria impiannya. Tapi, ia heran. Kenapa Ezra, seperti tak berkutik dihadapan wanita magang itu. Isabel terus saja menganggap Zahra adalah anak SMK yang sedang praktek di kantor nya Ezra. Secara kan wajah Zahra masih imut seperti anak SMA.
"Awas kamu, aku akan buat perhitungan." Ancam wanita itu, menunjuk-nunjuk wajah Zahra.
"Apa.. apa... Kita selesaikan sekarang, gak usah nunggu-nunggu besok." Tantang Zahra bergerak cepat ingin menonjok wanita yang bernama Isabel.
__ADS_1
Tentu saja, Ezra menahan tangan sang istri. Agar tak berbuat kasar pada Isabel. Karena, Isabel kan tamu di kantornya.
Zahra menatap tajam Ezra, karena menahan tangannya. Ia beranggapan Ezra membela wanita yang bernama Isabel itu.
"Sebaiknya kamu keluar Isabel. Saya kan sudah katakan dari dulu-dulu, kalau saya tak tertarik denganmu. Dan saya beritahu kamu untuk terakhir kalinya. Kamu jangan ganggu saya lagi, karena saya sudah menikah dan ini istri saya."
Syuuur....
Pengakuan Ezra membuat hatinya Zahra adem ayem seketika. Ia tersenyum sinis, kepada Isabel.
Dan
Isabel pingsan di tempat.
Hahhaha...
Zahra tertawa kuat, "Belum di apa-apain dan pingsan. Syok, syok loe kan? Makanya jadi wanita itu jangan jual murah. Jangan mengejar -ngejar suami orang. Dasar gak laku loe..!"
__ADS_1
"Sudah, sudah sayang. Ia sudah pingsan. Mana dengar diajak bicara." Ezra memberikan kode pada keamanan untuk mengurus wanita yang bernama Isabel.
Setelah Isabel dievakuasi, Ezra pun merangkul sang istri untuk masuk ke dalam ruangannya.
Saat sampai di dalam ruangan nya Ezra. Zahra menghempaskan kuat tangan sang suami yang membelit bahunya.
"Pantes ya, Hubby seminggu ini gak pulang makan siang dan makan malam pun di luar. Ternyata setiap hari Hubby dibawain bekal sama cewek-cewek itu." Ujar Zahra dengan kesalnya menatap Ezra. Karena Isabel membawa kotak makanan dalam paperbagnya.
Kening Ezra mengerut mendengar ucapan sang istri. "Bicara apa sih sayang? jangan diperbesar -besarkan lagi. Hubby emang sibuk seminggu ini. Bukan sibuk dengan cewek-cewek. Hubby bukan kurang kerjaan buang waktu dengan wanita tak berkarakter seperti itu." Meraih Zahra kembali dalam pelukan nya. Tapi, Zahra berontak kecil.
Ia cemburu, cemburu banget.
"Kan dari kemarin - kemarin Hubby sudah bilang. Banyak yang ngejer-ngejer Hubby, dan istriku ini gak percaya. Sudah lihatkan, Hubby saja dibuat pusing jadi nya."
"Oohhh.. Jadi bangga ni ceritanya ya By, karena banyak yang ngejar-ngejar Hubbby. Asal Hubby tahu, aku juga banyak yang ngejar-ngejar."
Zahra yang sedang hamil gampang tersinggung. Ia yang sudah emosional, memilih duduk di sofa dengan memegangi dadanya yang berdebar-debar.
__ADS_1
TBC