AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Panggilan sayang tetap pak tua


__ADS_3

Ezra tidak menggubris ocehan memelasnya Bimo. Dia pun memilih menghubungi sang istri. Dan Bimo pun menutup mulutnya, karena dia tahu bos nya itu sedang menelpon.


Ezra mengatakan kepada Anin, agar bersiap-siap. Bagda magrib, mereka akan meluncur ke kampungnya sang istri. Dan satu harian ini Ezra tidak pulang. Karena menyiapkan semua kerjaan. Dan dia akan menginap di rumah sang isteri selama tiga hari, sekalian bulan madu di kampung itu. Dia juga akan mengenalkan Anin, pada keluarga besarnya yang ada di kampung itu juga. Ya Ezra berasal satu kabupaten dengan Anin. Tapi beda kecamatan. Tentu saja dia tidak akan membawa Zahra, seperti usulnya Bimo.


"Bimo, kamu belikan lagi ponsel untuk Halwa ya!"


"Halwa? siapa itu bos?" tanya Bimo bingung. Kini keduanya sedang berada di dalam lift. Mereka akan menuju ruangannya Ezra.


Ezra berdecak kesal. Menatap jengah Bimo.


"Halwatuzahra." Ucapnya tegas penuh penekanan menatap Bimo.


"Oohh... iya bos. Baik bos!" menundukkan kepala, dia gak mau kena omelin lagi, karena lelet. Dia lupa nama lengkapnya Zahra. Maklum dia keseringan manggil Zahra, ibot.


Ponselnya barunya Zahra sudah hilang, tenggelam ke dasar sungai. Saat Dia dan sang suami nyemplung ke sungai. Tas Zahra bahkan basah, beserta buku-bukunya. Makanya hari ini dia pakai tas baru ke sekolah. Mana di tas itu, ada dua ikat uang pecahan seratus ribu.


"Oh ya Bos, apa tadi malam gak ada acara mantap-mantap?" Bimo masih penasaran sekali.


Pukkkk...


"Lain kali kamu buat trik yang bisa buat Halwa tunduk. Kamu pikir dia itu kucing anggora. Yang suka meminta perhatianmu, mengelus-elus tubuhnya ke tubuhmu untuk menunjukkan kasih sayangnya. Zahra sangat sukoi ditaklukkan. Dia seperti kucing hutan yang baru melahirkan saja. Kena senggol dikit, langsung diterkam. Iihhhh...." Ezra bergidik ngeri, dia teringat pertempurannya dengan Zahra. Di mana buah duku kembarnya dan terong ungunya kena tendang.


Ezra pun refleks memegangi terongnya yang lagi lemes itu. Tubuhnya bergetar, karena merasa takut, apabila barang istri, kembali menendang terongnya itu.


Bimo tertawa tipis dan membuang muka. Dia tak tahan lagi, untuk tidak menertawakan sang bos. Dia yakin, bos nya itu gak dapet jatah tadi malam.


"Apa? bos payah, masak anak kecil saja gak bisa dijinakkin. Hihihi.....!" Bimo sudah lewat batas. Bos sendiri diremehkan dan ditertawai.


"Keluar... Keluar ..!" Ezra pun jadi kesal pada Bimo yang meremehkannya. Mau tak mau Bimo memundurkan langkahnya.

__ADS_1


"Semua pekerjaan harus selesai sebelum istirahat. Nanti, aku yang akan jemput Zahra ke sekolah. Infokan pada Dika juga. Kalau ada berkas mau ditanda tangani, batasnya pukul 12.00 Wib.


"Oohh iya bos. Siap!" Bimo memberi hormat pada Ezra. Tingkah Bimo semakin membuat Ezra kesal. Asistennya itu sedang mengolok-oloknya. Ezra melayangkan satu tendangan pada bokong asistennya itu. Bimo pun ngacir dari ruangan itu.


Sepeninggalannya Bimo. Ezra langsung mendaratkan bokongnya di kursi kekuasaannya. Pria itu berulang kali menarik napas panjang. Dia merasa deg deg an, karena ingin membaca balasan suratnya Zahra.


"Istriku itu tulis apa ya?" ucapnya dengan semangatnya. Rasa deg deg an masih menguasai.


"Aku kenapa sih? koq jadi seperti anak ABG begini?" Ezra Kembali menghela napas dalam, menghembuskannya berat. Dadanya terus saja berdegup kencang. Pria itu menutup kedua bola matanya. Dia ingin menenangkan diri. Saat itu juga, tubuh sexynya Zahra melintas di pikirannya.


"Ini gak benar, gak mungkin secepat itu aku jatuh cinta pada anak ingusan. Aku punya istri sah, yang manis, ayu dan lembut. Tapi, kenapa memikirkan Zahra membuat suasana hatiku jadi tak menentu begini. Rasanya ingin terus dekat dengannya. Beradu argument dan menjahilinya." Ezra bicara sendiri, sambil senyam-senyum tak jelas. Dan tangan kirinya sudah meluncur ke bawah sana. Memeriksa keadaan si terong ungu yang sudah mengeras.


Hadeuh .. ini kenapa lagi bangun. Umpatnya dalam hati kesal.


"Kuat sekali daya tariknya. Sedangkan mengingat Dyah, reaksi tubuhku biasa saja. Tapi dia, huuff....!" Ezra terus saja berusaha menenangkan dirinya. Sepertinya Zahra punya feromon yang kuat dan Ezra menyukai wangi alami tubuh istri kecilnya itu.


Ezra yang tak tenang itu akhirnya membuka kedua matanya, sejenak dan Kembali menutupnya, dan saat itu juga. Pikiran Ezra dipenuhi oleh Zahra kembali. Pak tua itu sudah mabuk cabe-cabean.


Menghela napas lagi dan kembali fokus, kembali membuka kedua matanya. Dia gak akan mau lagi menutup mata. Karena dia akan tersiksa. Sebab, Zahra pasti hadir lagi di pikirannya disaat pria itu memejamkan kedua matanya.


"Bismillah....!" Ezra mulai membaca isi balasan suratnya.


Dear Pak Tua....😜


Maaf, sampai kapanpun. Aku akan memanggilmu dengan sebutan itu. Anda boleh protes dan tak suka. Tapi, aku suka nama itu.


Untuk saat ini aku punya dua permintaan.


> Bantu aku ya Pak tua, cari ibuku di kota ini. 😇

__ADS_1


> Beri aku kenyamanan pak. Status kita masih ku anggap abu-abu. Walau pernikahan kita sah secara agama. Jadi ku mohon, untuk kewarasan otakku. Jangan pernah lagi pak, buka celana di hadapanku. Takutnya aku khilaf pak. 🤭🤗😜


Hahahaha......


Ezra tertawa terbahak-bahak membaca balasan surat dari istrinya itu. Kelakuan konyolnya Zahra terekam lagi di otaknya. Dia malu dengan kelakuan mesumnya tadi malam


Dia bertingkah seperti anak juga.


Hahahaha....


Pria itu lagi-lagi tertawa lepas, seolah Zahra adalah kebahagiaan yang selama ini dia cari. Gadis itu benar-benar membuat suasana hatinya penuh warna.


"Zahra.... kenapa gak dari dulu aku bertemu kamu." Ucapnya dengan antusiasnya. Kembali membaca ulang balasan suratnya itu.


"Kehadirannu dalam hidupku, benar-benar membuatku bisa gila. Gimana gak gila, mengingat dirimu saja. Aku sudah senyum-senyum tak jelas." Ucapnya sendiri dengan wajah ceriah dan bahagianya. Menciumi kertas HVS itu berulang kali.


"Aku akan mengabadikan ini. Ku arsipkan dan dilaminating." Pria yang lagi kasmaran itu, beranjak dari duduknya dia akan melaminating surat cinta mereka itu. Dasar Ezra norak. Seperti gak pernah dapat surat cinta saja, saat remaja.


"Baiklah Istriku, aku akan wujudkan keinginanmu yang dua itu." Ucapnya tersenyum puas, memperhatikan surat cintanya yang sudah dipres dengan rapi. Bahkan surat cinta itu sudah di bingkai.


Puas memandangi surat cinta itu, Ezra akhirnya menyimpannya di lemari berkasnya. Surat cinta mereka terlihat sangat ekslusif. Karena tulisan Zahra ternyata begitu rapi dan bagus. Begitu juga dengan tulisan tangan Ezra, tak kalah bagusnya.


Hari ini Ezra merasa punya semangat seribu kali lipat dari sebelumnya. Setiap mengingat Zahra, membuatnya senang, auto imun tubuh meningkat. Semua pertemuan berjalan dengan lancar. Itu semua berkat suasana hatinya yang lagi kasmaran.


"Bimo, kamu suruh supir kantor jemput kamu. Aku akan bawa mobil, untuk jemput Zahra ke sekolah. Kami akan pulang ke rumah. Tidak ke vila lagi. Aku tahu Zahra pasti sudah kangen sama neneknya dan ingat, siang ini kamu harus beli handphone bagus untuknya."


"Iya bos." Bimo terlihat kesal dengan ucapan sang bos. Kenapa gak dari tadi, bos nya itu beri tahu dia. Kalau mau jemput Zahra sendirian. Tahu gitu, dia kan. Dia bisa kabari supir di kantor, agar stay menjemputnya dari pertemuan.


"Kamu juga harus pergi ke rumah. Lihat kondisi Anin. Katakan padanya aku pulang magrib dan sesampainya aku di rumah. Kita OTW ke kampung." Ucap Ezra tegas. Langsung masuk ke dalam mobil dan tancap gas. Dia pun gak sadar kalau dompet dan ponselnya masih dipegang oleh Bimo.

__ADS_1


Bimo hanya mematung di parkiran, menatap kepergian mobil mewah itu dari tempat itu. "Oalah Bos, semua barang-barangnya masih sama saya."


TBC


__ADS_2