
"Kita harus bicara, ikuti saya." Ujar Ezra dengan serius menatap Zahra yang masih terkejut itu.
Eehhmm...
Zahra malah berdehem menanggapi ocehan sang suami. Entahlah, dia yang masih kesal pada Ezra. Merasa sangat susah bersikap baik. Entah kenapa dia ingin sekali melihat suaminya itu marah. Terus mereka adu jotos. Karena Zahra sudah lama sekali tidak meluapkan kekesalan, kekecewaan di hatinya selama Rara membulinya.
Ezra menghela napas berat, menggeleng dengan keputusasaan, melihat sikap Zahra yang sama persis dengan putrinya.
Ezra pun menyeret kakinya dengan langkah yang lebar, menuju sebuah taman yang di depannya ada danau buatan dan lapangan golf.
Keduanya berjalan beriringan tanpa ada percakapan, dengan keadaan langit diisi oleh cahaya kemerah-merahan menjelang matahari terbit di sisi timur. Jalan setapak yang mereka lalui sangat terang, karena, banyaknya lampu yang bertengger di setiap tiang yang ada di jalan setapak itu.
Zahra kembali dibuat takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Sungguh pekarangan rumah yang dia tempati sangat indah. Banyak sekali macam bunga yang ditanam dan dibentuk indah. Seumur hidup, Zahra baru pertama kali melihat pekarangan rumah seperti ini. Bahkan di televisi pun dia tidak pernah melihat rumah semewah ini.
Suasana hati Zahra yang masih dongkol, seketika sirnah, karena pemandangan yang ada di depan matanya sangat indah. Hawanya sangat sejuk. Yang membuat perasaan jadi tentram dan damai. Apalagi bunga-bunga di taman itu terlihat segar, karena adanya embun.
Bruugghhkk....
Zahra yang tidak melihat jalan, akhirnya menubruk punggungnya Ezra. Gadis itu tidak tahu, jikalau Ezra menghentikan langkahnya. Sehingga insiden tabrakan itupun tak terelakkan.
"Aduuhhh....!" Zahra terkejut dan bahkan sempat hendak terjatuh. Tapi, dia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Ezra pun memutar tubuhnya, karena dia juga kaget. Saat Zahra menubruknya dari belakang.
"Ma... Maaf Pak Tua, sa-- saya gak sengaja." Ucapnya gagap, saat Ezra menatapnya jengah.
__ADS_1
Zahra yang merasa bersalah itu, akhirnya menundukkan pandangannya. Dia tidak boleh lagi, bersikap kasar atau tak sopan pada orang tua di hadapannya. Lagian kalau dia terus melawan dan bersikap kasar pada suaminya itu. Bisa-bisa dia akan diawasi. Dan itu akan membuatnya sangat sulit untuk balas dendam.
"Kita duduk di sana." Ezra menunjuk sebuah gazebo yang menghadap ke danau.
Zahra menganggukkan kepalanya, dan ekor matanya melirik tempat yang ditunjuk sang suami. Zahra pun kembali mengikuti langkah sang suami.
Sesampainya di gazebo itu. Ezra langsung mendaratkan bokongnya di sebuah kursi kayu dengan kaki yang bertumpang tindih. Sedangkan Zahra duduk sopannya dengan merempetkan kedua kakinya.
" Udara pagi ini sangat sejuk, sesejuk hatiku saat ini." Ujar Ezra, memandang lurus ke arah danau di hadapannya. Ekspresi wajah pria itu terlihat tenang dan damai. Benar-benar berkharisma.
Zahra pun akhirnya melirik Ezra. Dalam hati dia memuji kalimat pembuka yang diucapkan pria itu, cukup mensugestinya.
Ezra melepas lobenya dan mengusap-usap Lobe itu. "Saya meminta maaf, atas kejadian di hotel itu." Kedua bola mata Zahra membulat penuh mendengar kalimat yang terucap dari mulut pria di hadapannya. Seorang suami tidak malu meminta maaf pada sang istri. Ini langkah sekali.
"Mana Rara?" Zahra memotong ucapan Ezra. "Bapak dan dia harus ada di sini. Dia yang harus meminta maaf pada saya. Dia setiap hari membuliku di sekolah. Cari gara-gara padaku. Dasar anak dan ayah sama bejatnya."
Ezra menatap tajam Zahra, dia terkejut mendengar ucapan Zahra yang pedas dan tajam itu. Dia dikatakan bejat.
"Napa Pak Tua? gak terima saya katakan bejat? kalau anda tidak bejat. Kenapa pula putri anda itu bejat seperti itu. Anda itu bejat, hasil didikan anda, ya anak anda gak ada akhlak itu. Benar kata pepatah Buah Jatuh Tidak Jauh dari Pohonnya."
"Iya, tapi kali ini pohonnya itu berada di tepi sungai dan disaat buah itu jatuh. Buah itu hanyut dibawa arus. Buah itu hancur saat terbentur ke batu."
Ezra langsung memotong ucapan Zahra. Pria itu pun bangkit dari duduknya.
"Sepertinya hari ini bukan waktu yang tepat untuk kita membicarakan masalah ini. Adek tenangkan dulu pikiran dan hatinya. Kapan-kapan kita akan bahas masalah ini lagi." Menatap Zahra dengan tatapan datar dan serius. "Hari ini kamu akan masuk sekolah baru. Asisten Bimo akan mengurus segalanya."
__ADS_1
Zahra terhenyak mendengar ucapan suaminya itu. Ternyata pria ini masih memikirkan pendidikannya.
"Saya tidak sebejat penilaian adek. Ya saya maklumi penilaian adek itu, terkait video itu. Dan sikapmu yang tak sopan ini, masih saya maklumi. Karena adek merasa akan ku rugikan. Aku tidak akan merugikan adek. Malah aku yang sudah keluar banyak, atas perbuatan tak senonoh itu. Tambang emasku sudah jadi milikmu. Kamu memang wanita pintar, disitu saya salut padamu. Pandai sekali memanfaatkan situasi.
"Bapak, kamu memanggil saya bapak, tepatnya Pak Tua. Ya memang saya ini cocoknya jadi bapak kamu. Jadi, kamu tidak usah khawatir. Kalau kamu ingin perpisahan dari saya, kamu bisa ajukan. Tapi, dengan syarat. Tambang emas itu kembali pada saya. Kamu sudah bacakan semua point-point di surat perjanjian." Tegas Ezra, beranjak dari duduknya.
"Eehhh.. Pak Tua, kamu pikir saya matre. Saya gak ingin hartamu, saya ingin putrimu yang kurang ajar itu sekarang. Dia harus membayar harga diri saya yang hancur, karena ulahnya. Iihh... dasar orang kaya. Ngomong sesuka hatinya saja." Zahra ngegas dan menunjuk Ezra. Ucapan Ezra membuat Zahra tersinggung.
"Saya tidak meminta anda pak tua datang ke rumah dan menikahi saya." Masih berdiri dengan tatapan tajam di hadapan Ezra yang terlihat merasa bersalah.
"Yang saya inginkan adalah nama baik saya bersih. Saya tidak pernah melakukan seperti apa yang ditudukan warga. Tapi, video itu telah jadi bukti. Video itu akan terus membayangi saya pak tua. Mengingat kejadian itu, disini sakit dan nyeri pak tua." Zahra yang emosional, mengelus dadanya. "Mana putri anda, bawa dia kemari. Atau saya bapak bawa ke rumah anda. Biar saya ceritakan kelakuan anda dan anak anda kepada istri anda. Atau, jangan-jangan istri baru anda itu, kelakuannya kek bapak juga, yaitu suka mesum dan mabuk-mabukan."
"Kamu..!" Ezra terlihat kesal dengan ucapan Zahra yang pedas itu. Pria itupun akhirnya pergi dari tempat itu dengan berdecak kesal.
Zahra sangat emosional, harga dirinya kembali diinjak-injak oleh orang kaya. Dia menyimpulkan ucapan Ezra memponisnya cewek matre. Karena dia meminta mahar perusahaan tambang emas.
Zahra sengaja mengatakan mahar seperti itu. Agar Ezra tidak jadi menikahinya. Tapi, lihatlah setelah diberikan, pria itu mengungkitnya lagi.
"Mak... Umak...!" Zahra yang sedih itu, akhirnya melorotkan tubuhnya. Terduduk lemah di lantai gazebo.
Cairan bening yang dari tadi ditahannya, kini keluar juga dengan derasnya, menganak sungai, membasahi pipi putihnya yang pucat.
Ya sudah seharusnya orang miskin tak boleh sombong dan angkuh. Karena, kesombongan cocoknya buat orang kaya. Lihatlah dirinya sudah dihina orang kaya.
TBC
__ADS_1