AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Hidup penuh Lika liku


__ADS_3

"Ibu, ibu kenapa? ada yang sakit Bu?" tanya perawat dengan paniknya. Karena melihat keadaan Anindya yang memprihatinkan itu. Tubuh wanita itu masih bergetar hebat. Karena menahan Isak tangisnya. Air matanya bercucuran dengan derasnya. Perawat dibuat semakin bingung. Ditanyain ada yang sakit, diam saja. Tapi, air mata mengucur deras.


Anin sangat syok, mendapati sang suami punya wanita lain. Saat ini, Anin belum memperhatikan detail wanita yang dicium suaminya itu. Karena, dia keburu terpukul melihat foto sang suami yang mencium seorang wanita.


Dia baru saja dinikahi pria itu, tapi sudah ketahuan punya wanita lain. Kalau untuk diselingkuhi, untuk apa dia mau menerima ajakan menikah dari Ezra. Harusnya dia tak langsung menerimanya. Harus nya dia selidiki dulu seperti apa sebenarnya suaminya itu. Dia tertipu, selama jadi majikannya, pria itu terlihat baik. Dan dia menyimpulkan bahwa Ezra memang baik. Tapi, nyatanya suaminya itu berlaku curang, Ezra telah mengkhianatinya.


"Aarrrfggghhhh..... Hiks..... Hiks.... Hiks....!"


Anindya berteriak, dia tak bisa menahan rasa sakit dan sesak yang bercokol di dadanya dari tadi. Rasanya sangat sakit, nyeri dan perih. Dia menyesal telah menikah dengan Ezra.


"Aaarrrgggghhh....!


Teriaknya lagi, tatapan mata kosong. Air mata semakin mengucur deras. Bisa-bisanya Anin menangis dala keadaan mata melotot.


"Bu, Ibu Anin, ibu kenapa?" perawat kali ini menggoyang tubuh Anin dengan lembut. Anin yang tadi terpaku seperti Maneken itu, akhirnya menoleh kepada perawat.


Dia pun akhirnya tersadar dari meratapi nasib malangnya. Suaminya selingkuh. Kalau memang ingin punya istri lagi. Kenapa gak minta izin padanya. Kenapa harus berlaku curang.


"Handpone saya mana dek?" ujarnya, dia seperti orang linglung saat ini. Handphone yang jatuh di sebelahnya saja gak dilihatnya. Anin ingin melihat lebih jelas foto suami dan madunya itu.


"Ini Bu." Perawat menyodorkan ponsel kepada Anin. Dengan tangan gemetar Anin meraihnya. Dia takut untuk melihat foto sang suami yang sedang berciuman itu. Tapi, dia penasaran on juga, untuk melihat lebih jelas foto itu. Karena wanita yang menelponnya mengatakan perhatikan baik-baik wanita yang dicium suaminya itu.


Anin membuka kunci layar ponselnya dengan perasaan yang hancur. Air mata masih mengenang, yang membuat pandangannya kabur.


Kreekk...


Pintu terbuka, perawat langsung siap siaga menyambut Dokter Alvian yang akan melakukan visit pagi ini. Anindya pun dengan cepat menyeka air matanya dengan jemarinya. Sudut bibir tertarik, sehingga membentuk senyuman yang terpaksa. Mana mungkin dia menunjukkan wajah menyedihkan di hadapan Dokter dan dua perawat yang datang bersama Dokter Alvian. Cukup hanya satu perawat saja yang melihatnya dalam keadaan terpuruk. Anin dengan cepat membaringkan tubuhnya dan membuang muka


"Bagaimana keadaanmu dek?" tanya Dokter tampan itu tersenyum manis kepada Anin yang memungkinkan wajah, karena malu. Ya, sudah seharusnya seorang dokter ramah. Agar pasien semangat saat diperiksa.


Anindya yang lagi patah hati itu, tak semangat lagi berbasa-basi kepada Dokter Alvian. Wanita itu hanya diam, dan masih memalingkan wajahnya. Dia malu juga kepada Dokter dan perawat yang kini menatapnya dengan penuh tanda tanya. Karena wajahnya yang sembab. Bisa ditebak kalau dia habis menangis.

__ADS_1


Dokter Alvian tetap bersikap biasa, bura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Padahal dari ekspresi wajahnya Anin saat ini. Dokter Alvian bisa pastikan. Wanita yang ada di hadapannya sudah mengetahui kelakuan suaminya.


"Bagaimana luka bekas jahitan operasinya?" tanya Dokter Alvian, yang baru selesai memeriksa perut Anin yang dioperasi.


"Bagus Dok, tidak ada infeksi." Jawab perawat.


"Ooohh bagus sekali." Ujar Dokter Alvian dengan suara ramah dan cerianya. Dia sedang memancing Anin, agar merespon dirinya.


"Ini ruangan terakhir yang saya kunjungi pagi ini kan?" tanya Dokter Alvian pada perawat yang datang bersamanya.


"Iya dok "


"Baiklah, kalian keluar terlebih dahulu." Ucap Dokter Alvian dengan tegas. Ketiga perawat itupun bergegas meninggalkan ruangan itu, dan hanya menyisakan Anin dan Alvian.


Anin kembali teringat dengan isi pesan serta foto yang masuk ke WA nya. Tubuhnya kembali bergetar, karena menangis. Dia belum juga berani menatap Dokter Alvian. Dia juga heran, kenapa diki Alvian tetap di ruangannya.


Dokter Alvian tidak tahu, harus memulai darimana pembicaraan. Tak mungkin dia bertanya langsung tentang suami wanita yang dihadapannya. Akhirnya lebih dari lima menit, tak ada interaksi di ruangan itu. Anin yang ingin sendiri, akhirnya buka suara.


"Ooohh iya, eeemmmhhhmm.... Bukannya semalam kamu ingin keluar dari rumah sakit? kalau mau keluar sudah bisa pagi ini." Ujar Dokter Alvian dengan ramah.


Anin pun akhirnya menatap Dokter Alvian dengan wajah sembabnya. Semalam dia semangat sekali ingin pulang, apalagi dia sempat dikunjungi sang putri. Tapi, setelah mengetahui sang suami selingkuh. Dia jadi tak ingin pulang. Dia jadi merasa asing di rumahnya Ezra.


"Adek boleh hubungi sang suami, agar datang menjemput."


Suurrr


Air matanya Anin, keluar mengucur deras, disaat pria dihadapannya mengatakan Ezra. Mengingat pria itu, membuat hatinya sakit.


Anindya pun akhirnya teringat dengan ponsel yang ingin diperiksanya tadi. Wanita itu pun berusaha untuk duduk, dan Alvian membantunya. Meletakkan bantal sebagai penyangga punggung pasiennya itu. Mendapatkan perhatian lebih, membaut Anin Merassa tidak enak hati.


"Dokter kenapa masih di sini? " Anin sungguh ingin Dokter Alvian keluar saja dari ruangan itu. Karena Anin, ingin menenangkan dirinya.

__ADS_1


"Ya gak apa-apa kan saya di sini. Saya itu mengkhawatirkanmu." Ucapan Dokter Alvian, kembali membuatnya hatinya sakit. Kenapa malah pria lain yang ingin memperhatikannya. Sedangkan suaminya sibuk dengan istri mudanya.


Anin berusaha tersenyum. Ia tak mau menunjukkan sisi lemahnya pada Dokter Alvian. Dia juga akan merasa sangat malu sekali, jika Dokter Alvian tahu fakta tentang dirinya yang diselingkuhi. Karena, saat pertama kali jumpa di rumah sakit. Anin sempat bercerita pada Alvian. Kalau dia menikah dengan pria baik dan sangat mencintainya.


"Terserah dokter, yang jelas saya mau istirahat dok." Jawab Anin, kembali menyalakan ponselnya. Dia akan memperhatikan detail foto yang dikirim Nomor yang tak dikenal itu.


Kedua alisnya Anin yang lebat itu, kini menyatu. Merasa familiar dengan wanita yang dicium suaminya itu. Bahkan baju dan hijab yang dikenakan wanita dalam foto itu dikenalnya. Ini kan putrinya Halwatuzahra.


Seketika Anik ambruk ke sebelah nya Alvian. Setelah melihat jelas foto Ezra dan Zahra yang terlihat seperti menikmati adegan ciu man itu.


"Dek, Dek, Anindya...!" Dokter Alvian yang menahan tubuh Anindya, berusaha menyadarkan wanita yang pingsan itu. Gimana tidak pingsan, wanita itu belum sembuh jasmaninya. Dan sekarang rohaninya sedang diserang.


"Dek, Anin....!" Dokter Alvian sudah membaringkan Anindya, berusaha menyadarkan Anindya dengan menggoyangkan tubuhnya. Memeriksa denyut nadinya, juga memeriksa dada dan perut, apa masih ada pergerakan. Ternyata wanita itu masih hidup. Buktinya Anin, masih bernafas.


"Dek, Dek Anin....!" Dokter Alvian memanggil wanita itu dengan suara keras. Memberi rangsangan di kulit dengan menepuk-nepuk pipi pucatnya wanita itu. Tapi, tanda-tanda sadar belum terlihat juga. Dokter Alvian, mencari sesuatu di dalam laci nakas. Dan dia pun menemukan yang dia butuhkan saat ini. Yaitu minyak kayu putih. Pria itu pun memberikan minyak kayu putih itu ke ke arah hidungnya Anin. Sembari terus memanggil nama wanita itu dengan keras. Dokter Alvian seorang Dokter, tentu mudah baginya untuk menyadarkan orang yang pingsan.


Anin membuka kedua matanya yang terasa berat, sangat berat ditambah kepalanya juga sangat sakit saat ini. Dia tidak bisa membayangkan anak dan suaminya adalah suami istri. Lalu dia siapa?


Huaaaua..... Huaa... Huua....


Wanita itu pun menangis histeris. Membalikkan badannya membelakangi dokter Alvian. Dia malu pada pria itu.


"Ya Allah..... Dosa apa yang telah ku perbuat hingga aku harus dihukum seperti ini. Ya Allah.... Aku tak sanggup ya Allah...!" ucap wanita itu dengan menangis tersedu-sedu. Dokter Alvian yang penasaran, akhirnya memberanikan diri, memeriksa ponsel yang belum terkunci itu. Sekali tekan, terpampanglah foto Ezra dan seorang wanita yang sedang diciumnya.


Dokter Alvian menggeleng pelan, menyesalkan kejadian seperti ini. Foto yang dilihatnya itu, adalah foto yang diambil saat Zahra dan Ezra bertengkar di taman rumah sakit.


"Zahra.... Putriku. Kenapa seperti ini Nang..! kenapa kemarin kamu bersandiwara kepada ibumu ini Nang... ya Allah... Kenapa harus putriku ya Allah...!" ucapnya dengan tersengal-sengal, saat ini Anindya terlihat kesusahan bernafas. Jangan sempat dia kena serangan jantung. Karena panik, suplai oksigen berkurang ke otak,. Isa mengakibatkan gagal jantung. Anin pun kembali pingsan.


Dokter Alvian menekan bel. Walau dia seorang dokter dia perlu bantuan perawat saat ini. Dan diwaktu bersamaan Bimo masuk ke ruangan itu. Terkejut melihat keadaan sang nyonya besar yang pingsan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2