AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Rumah baru


__ADS_3

Bimo sudah selesai mengurus administrasi, untuk Anin bisa pulang dari rumah sakit hari ini. Sebelum dia keluar dari kamar inap itu, dia meminta Bimo tinggal sebentar bersamanya di kamar itu. Karena ada hal yang ingin dibicarakannya. Zahra dan Ezra dimintanya menunggu mereka di parkiran.


Zahra sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Ibu dan Ibotonya itu. Tapi, dia tak ada hak untuk tetap di ruangan itu. Karena Anin meminta privacy.


"By, kenapa Umak dan Bimo belum keluar juga?" tanya Zahra dengan tidak tenangnya, menatap intens ke luar, tepatnya ke gerbang gedung tempat Anin dirawat.


Kini keduanya memilih menunggu Anin dan Bimo di dalam mobil. Ezra terlihat sibuk dengan benda pipih canggih di tangannya. Pria itu merasa canggung pada Anin. Jadi sejak di ruang rawat inapnya Anin, Ezra tak banyak bicara. Hanya sekali keluar kalimat dari mulutnya,basa-basi tanyakan kabar Anin.


"Eeemmmm pasti ada hal penting yang dibicarakan mungkin Wa. Mungkin masalah pembatalan pernikahan." Ujar Ezra, melirik sekilas istrinya, kemudian sibuk dengan benda pipih di tangannya. Dia sedang memeriksa banyak laporan yang dikirim ke emailnya.


Zahra jadi terdiam. Masalah yang menimpa mereka tentu menyisakan rasa tidak nyaman


Walau semuanya sudah berlapang dada dan saling memaafkan. Tapi, bagaimana pun mereka masih kepikiran.


"Kasihan ibu ya By. Ini semua karena Hubby?" Zahra malah memukul manja bahu sang suami. Yang membuat Ezra terkejut dengan serangan mendadak itu. Walau tak sakit, tapi sukses membuat ponselnya jatuh ke lantai mobil.


Ezra memungut ponselnya yang jatuh. Mendesah dengan frustasinya. Kalau dibahas lagi, dia jadi pusing. Bener ini semua karenanya. Tapi, kan dia gak tahu.


"Sayang, kita gak perlu membahasnya lagi. Masalahnya kan sudah selesai." Ujar Ezra menatap lekat Zahra yang kembali ngambek itu.


Kening Ezra mengerut, kenapa istrinya itu kembali suka-suka marah. Apa karena Zahra hamil? Ezra banyak tahu tentang kewanitaan. Bisa saja karena hormon istrinya itu lagi menaik drastis, sehingga sangat mempengaruhi suasana hatinya.


Huhuhuhu....


Zahra menangis, "Kita jahat pada ibu. Kenapa kita harus menikah?" ujarnya sambil terisak seperti anak kecil.


Ezra tadinya kasihan pada Zahra, karena menangisi ibunya. Tapi, Ekspresi wajah nya yang menangis sangat lucu, yang membuat Ezra tak tahan ingin memeluknya.


Entah kenapa Ezra malah merasa semakin sayang pada Zahra. Padahal sikapnya selalu buat kesal. Benar-benar seperti anak kecil. Yang ngeselin tapi, gemesin.


Cup


Cup

__ADS_1


Cup


.


"Sayang..... Ini sudah takdir yang harus kita lalui. Kita ambil saja hikmahnya. Kelak, kalau ank kita mau menikah, kita harus telusuri seluk beluk keluarganya secara mendetail. gak ada tuh namanya menikah mendadak, atau terpaksa menikah. Dan kita harus didik anak kita dengan baik sesuai ajaran agama kita. Semoga tak ada yang mengikuti jejak kakaknya nanti, yaitu Rara." Ujar Ezra, menarik Zahra kepelukannya.


Huhu....HuHu....


"Iya, kalau aku bisa mendidik." Sahut Zahra masih menangis di pelukan sang suami.


"Bisa sayang," Ezra mencium kening Zahra, yang membuat Zahra merengut. Entah kenapa, dia masu kesal sendiri pada Ezra. jikalau pria itu mencuri kecupan darinya.


"Aku kan belum pengen punya anak. Masih mau sekolah...!"


HUaaa


Huuaa


"Iya, gak mau punya anak dulu gak apa-apa? Eeessttt.... Sudah ya itu mereka sudah keluar." Ujar Ezra menatap ke arah luar.


Zahra melap air matanya dengan jemarinya dengan cepat. Mengikuti pergerakan tangan sang suami yang menunjuk ke arah ibu dan Bimo. Ia meraih tisu, melap kembali air matanya yang masih tersisa di wajah cantiknya. Dan seketika dia terheran, melihat sang ibu, malah masuk ke mobil lain. Tidak menghampiri mereka. Padahal Zahra sudah ingin turun dari mobil, menyambut sang ibu.


Dan hanya Bimo yang kini berjalan ke arah mereka.


"Ibot, ibu gak naik di sini?" tanya Zahra, disaat kaca mobil sudah dibukakan oleh Ezra.


"Gak Ra!" Sahut Bimo dengan ekspresi wajah datarnya.


"Bos, ada hal penting yang ingin saya sampaikan!' ujar Bimo tegas.


"Iya bicaralah!" sahut Ezra. Dia tidak mau ada rahasia antara dirinya dan Zahra. Kalau ada hal yang mau dikatakan, biarkan Zahra ikut mendengarkannya.


"Ibu Anin, inginnya langsung ke rumah yang diberikan Bos."

__ADS_1


Ezra melirik Zahra yang duduk di sampingnya. Seketika wajah Zahra jadi murung. Ibunya itu tak ingin pulang ke rumah bersamanya.


"Ini bagus untuk semuanya bos. Walau Ibu Anin, ikhlas menerima kenyataan ini. Mungkin dia merasa tak nyaman, jika harus satu rumah dengan Bos dan Zahra. Lagian, mana baik satu rumah dengan mertua. Mana ibu mertua mantan istri lagi."


Pukk


Satu tinju mendarat tepat di dada Bimo. Kenapa asistennya itu, malah meledeknya.


Ezra kesal juga mendengar ucapan Asistennya itu. Dia sedang tak ingin bercanda. Jangan kesalahan yang dibuatnya jadi bahan olok-olok an.


Iihhhsskkk


"Sakit Bos!" aduh Bimo, memegang dadanya yang terasa sakit itu. Sepertinya Ezra meninjunya dengan kuat. Padahal saat meninjau Bimo, pergerakan tangan Ezra terbatas. Karena pintu mobil terkunci. Hanya kaca mobil yang terbuka.


"Sakit, sakitkan.....Asal kamu tahu Bimo, sakit yang kamu rasakan sekarang, belum sebanding dengan sakit yang kami alami bertiga. Lihat Anin, dia menghindari putrinya, karena masalah ini. Dia bilang ikhlas, mencoba menerima takdir ini dengan lapang dada. Tapi, lihat. Pada kenyataannya dia tak sanggup." Jelas Ezra dengan tatapan tajamnya pada Bimo. Tangannya ikut menunjuk-nunjuk pria itu. " Ku harap kamu bisa bicara soal ini dengannya. Jangan buat hubungan kami ini sebagai lelucon."


"Iihh... si bos apaan sih? koq jadi sensitif?" ujar Bimo dengan wajah pucatnya. " Maaf Bos, bercanda!" Ujar Bimo dengan mengatupkan kedua tangannya.


Ezra menutup pintu mobilnya. Meminta sang supir melajukan mobil itu. Tadinya kalau Anin satu mobil dengan mereka. Maka, ia akan duduk di sebelah supir. Tapi, karena Anin berada di mobil Bimo. Jadilah Ezra tetap duduk di tempatnya.


Zahra yang melihat kemarahan Ezra, hanya bisa diam. Dia tak mau juga kena semprot. Kalau salah bicara.


Mobil yang dikendarai Bimo pun melaju. Yang diikuti oleh mobil yang ditumpangi oleh Zahra dan Ezra.


Karena ucapan Bimo tadi, membuat suasana hati Ezra dan Zahra rusak. Sehingga keduanya memilih untuk diam sepanjang perjalanan.


Mobil yang dikendarai oleh Bimo kini masuk ke area perumahan elit. Ezra merasa sedikit legah. Karena, rumah yang diberikan untuk Anin, berada di kompleks perumahan yang dihuni oleh Bimo.


"Kenapa ya Hubby, umak gak mau tinggal bareng kita?" ujar Zahra dengan sedih, menatap sang suami lekat. Merasa tak mendapatkan jawaban. Wanita itu akhirnya menatap ke arah rumah di hadapan mereka. Rumah mewah yang berlantai dua.


TBC


Beri like, vote, hadiah dan komen positif say

__ADS_1


__ADS_2