AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Membobol


__ADS_3

"Wawa... Kamu mancing -mancing, kita pulang ke rumah. Lihat saja, apa yang akan ku perbuat untukmu malam ini. Ku pastikan kamu besok gak bisa jalan dan menemui ibumu ke rumah sakit." Zahra ketakutan Mendengar ucapan suaminya itu. Dia pun melarikan diri, tapi langkah nya kalah cepat dari Ezra.


Pria itu berhasil meraih tangan sang istri. Menarik kuat tangan itu, hingga Zahra jatuh dalam pelukannya. Ezra menatap gemas istrinya itu, walau sudah kena tamparan, ia sama sekali tidak benci pada istrinya itu. Dia malah merasa tertantang.


Zahra sengaja bersikap kasar pada Ezra, agar suaminya itu membencinya. Dia ingin Ezra pergi dari hidupnya. Makanya seenak jidatnya saja menampar suaminya itu, padahal dia tak ingin melakukan hal seperti itu.


"Iihhh lepas.... Lepaskan aku pak tua bangkai... Dasar tua-tua keladi. Lepas...!" Zahra berontak dengan sekuat tenaganya, agar Ezra melepas rengkuhan tangannya di pinggang rampingnya. Lagi-lagi dia sengaja mencaci maki suaminya itu. Berharap Ezra terpengaruh dengan ucapannya yang kasar itu dan melepaskan nya.


"Tidak akan, ini bibir perlu dihukum, agar bisa mengeluarkan kata-kata yang manis." Ezra berusaha mencium bibir Zahra di taman yang memang sudah sepi itu, karena sekarang sudah pukul 10 malam.


Zahra menggerakkan-gerakkan wajahnya ke kanan dan kekiri, berusaha menghindari ciuman itu. Kesal tak kunjung bisa menyambar bibir sang istri. Pria itu pun melepas belitan tangannya di pinggang nya Zahra dan tangan itu beralih memegang kedua sisi wajahnya Zahra kuat, agar tidak bergerak.


Puk....


Zahra menendang perut Ezra dengan lututnya. Wanita itu akhirnya mengeluarkan ilmu bela dirinya. Ezra tentu saja terkejut, dia pun melepas tangannya dari wajah sang istri. Zahra tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia akan melarikan diri. Tapi, dia malah di sandung oleh kakinya Ezra.


Wanita itu pun salto, untuk menghindari dirinya terjatuh ke aspal taman itu.


Zahra geram dalam hati, suaminya ini mau ajak berantem.


"Sialan kau pak tua, jahat kamu....!" menyerang Ezra secara membabi buta dengan beberapa kali tendangan, tentu saja Ezra menangkis semua tendangan wanita itu.


"Kamu benar-benar merusak hidupku, mimpiku, aku gak pernah punya mimpi dinikahi pria tua..!" Zahra emosi, dia kembali mengeluarkan kata-kata kasar, mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Ya memang Zahra mana kepikiran akan dinikahi oleh pria yang sudah berumur. Dia sukanya seusianya. Walau di pandangan pertama, dia sudah respect pada Ezra. Tapi, dia sama sekali gak kepikiran jadi istri pria itu.

__ADS_1


Ezra gak mau berlama-lama dalam pertengkaran itu lagi. Dia harus membawa pulang istrinya itu. Sudah tiga malam dia gak tidur bareng Zahra. Dia juga rindu sekali dengan istri liarnya itu. Dia sungguh ketagihan dengan tubuh molek mulus sang istri.


Ezra menangkap satu kaki Zahra. Mematikan pergerakan wanita yang sok jago itu. Dan dalam satu gerakan, Zahra sudah berhasil dala kendalinya. Dia sukses membopong Zahra di bahunya. Zahra yang tak mau pulang dengan Ezra, berontak kuat menendang-nendang suaminya itu.


"Heiii... Lepaskan dia..!"


"Ferdy, Ferdy... Tolong....!" Zahra berteriak, Ferdy berlari cepat ke arah Zahra yang masih dalam gendongan Ezra.


Ezra berdecak kesal, kenapa pula anak ingusan ini, ikut-ikutan dan ngapain bocah ini, masih di rumah sakit padahal sudah pukul sepuluh malam.


Ezra gak mau membuang waktu melayani bocah ingusan di hadapannya. Dia berbalik badan, mengambil kunci mobil dari sakunya.


Puukkk...


Ezra kesal bukan main, kedua tangannya mengepal kuat. Berbalik badan dan


Puk.....


Satu tinju yang sangat kuat mendarat di pipinya Ferdy. Saking kuatnya, darah keluar dari sudut bibir anak itu.


"Ikut campur urusan orang kau, mau cari mati."


Puk

__ADS_1


Puk


Puk


Tiga tinju mendarat di Pipi dan perut Ferdy. Zahra yang takut melihat pertengkaran itu memilih melarikan diri saja. Ini kesempatan, untuk lari.


Tadi, setelah keluar dari ruangan Anin. Zahra memilih menenangkan diri duduk di taman. Eehhh.... Gak tahunya Ferdy menyamperinnya. Ferdy dan Zahra pun bercerita banyak. Ferdy meminta maaf pada Zahra, terkait Zahra yang pernah diculik oleh anak buah kakeknya. Ferdy dari keluarga kaya, tapi dia ada dalam kendali sang kakek. Karena, ayahnya memilih pindah haluan dari keluarga besar mereka.


Mereka bahkan sempat bertukar nomor ponsel. Saat asyik bercerita tentang keadaan masing-masing, serta membahas sekolah. Saat sedang semangatnya bercerita, Ezra sibuk menelponnya, bahkan mengancamnya melalui chat. Saat itulah, Zahra minta pamit pada Ferdy. Dan sempat-sempatnya Ferdy mengungkapkan isi hatinya, yang mengatakan masih cinta padanya. Zahra jelas menolaknya karena dia tak pantas lagi, untuk pria itu.


Zahra sudah berlari jauh dari area rumah sakit. Dia benar-benar bingung dan kalut saat ini. Ucapan Ezra membuatnya semakin takut untuk berjumpa dengan pria itu. Mana mungkin dia mau lagi digauli laki-laki itu, padahal sudah jelas, istri pak tua adalah ibunya.


Hua....Hua.... Hua...


Dia menangis histeris di trotoar jalan menumpahkan kesedihannya. Sedangkan Ezra dan Ferdy sudah dilerai satpam rumah sakit, karena keduanya bertarung sengit. Satu satpam, tak bisa melerai pertengkaran itu. Hingga datang lagi dua satpam, beberapa perawat dan Dokter Alvin. Pertempuran itu pun bisa dilerai.


Sedangkan Zahra yang sedang kalut di tepi jalan, memberhentikan sebuah mobil Bus mini. Dia tahu tujuan dari bus itu. Dia kenal Bus itu Dalam keadaan terdesak, Zahra tak berfikir panjang lagi. Saat ini, yang ada di dalam otaknya adalah melihat kebahagiaan sang ibu, dan menghindar dari Ezra. Dia yakin, kalau dia pergi dari kehidupan pria itu, maka Ezra pasti akan mempertahankan ibunya jadi istrinya. Toh, diawal, pria itu memilih ibunya jadi istri pria itu.


Zahra menghela napas panjang dan berat, setelah mendudukkan bokongnya di kursi angkutan itu. Dia memindahkan ranselnya yang tadi di punggungnya, menjadi dalam dekapannya. Masih menarik napas panjang berulang kali, agar bisa tenang. Mencatat nomor ponsel sang ibu, nenek Ifah dan Ferdy ke dalam sebuah catatan. Mentransfer semua uang yang diberikan Ezra padanya pada nomor rekening lamanya menggunakan mbanking di ponsel itu. Hingga saldo yang ada di rekening yang diberikan oleh Ezra, hanya tinggal biaya administrasi. Dan wanita itu melempar ponsel itu ke got yang ada di jalan yang sedang dilintasi oleh Bus itu.


Setelah melakukan itu semua. Zahra mengusap wajahnya kasar, mengucek matanya yang berair dan mengusap-usap dadanya yang terasa sesak itu. Permainan telah berakhir. Dia sudah bertemu sang ibu, sudah tahu kondisi ibu. Dia yakin ibunya itu akan bahagia bersama Ezra.


TBC

__ADS_1


Like, coment positif dan vote


__ADS_2