
Seminggu telah berlalu, Ezra belum pulang juga dari Negara Australia. Zahra jadi nelangsa dibuatnya. Apalagi selama seminggu itu, dia tak pernah komunikasi dengan suaminya itu. Zahra jadi kesal pada Ezra. Kenapa suaminya itu tidak pernah menghubunginya. Apa kesalahannya begitu besar, sehingga Ezra tak mau komunikasi dengannya? Apa salah jika tidur di rumah orang tua sendiri?
Tiga hari setelah kepergian Ezra ke Australia. Zahra belum merasakan kehilangan. Dia masih melalui hari-harinya seperti biasa. Ceriah dan semangat belajar. Tapi, empat hari belakangan ini dia kepikiran terus suaminya itu. Dia rindu suaminya itu. Rindu serindu- rindunya. Bahkan dia jadi susah tidur.
Ingin rasanya dia menghubungi suaminya itu. Tapi, entah kenapa dia merasa enggan melakukannya. Dia gengsi, dia juga jadi kesal pada Ezra. Kenapa pergi gak pamit. Emang sih, dia ada kirim chat pada Zahra. Saat ponsel wanita itu mati. Tapi kan Zahra gak tahu. Apa salahnya dia ditemui ke kamar ibunya, toh Ezra nginap di rumah itu.
"By.... kamu koq gak pernah nelpon aku sih..? padahal kamu terlihat gak sibuk di sana. Kamu sempat-sempatnya ganti frofil WA dan FB mu. Tapi, kenapa gak menerima pertemanan aku di FB." Sungut Zahra di kamarnya, dengan sedihnya. Dari tadi malam, hingga siang ini dia terus saja memantau sosial medianya Ezra. Wanita itu sudah kembali ke rumah mereka. Lagi pula sang ibu sudah sehat betul. Dan ibunya Anindya juga mengusirnya dari rumah. Habis Zahra gak mau pulang. Anindya tak mau dianggap jadi mertua yang ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya.
Zahra yang sangat merindukan suaminya itu kepo betul terhadap Ezra. Kalau dia bertemu dengan Bimo, dia terus saja bertanya banyak hal tentang Ezra. Ya Bimo tak ikut ke Australia. Zahra menanyakan akun-akun sosmednya Ezra. Hobby dan makanan kesukaan. Intinya dia jadi ingin lebih tahu semua tentang suaminya itu.
Saking keponya Zahra telah membuat akun aplikasi biru itu. Ya sebelumnya dia tak punya sosial media, kecuali WA.
"Itu kan, dia ganti profil lagi. Ganti profil dia sempat. Nelpon aku gak sempat. Hiks....Hiks... Hiks ..." wanita itu kembali menangis di kamarnya. Menenggelamkan wajahnya di bantal empuk, sambil memukul-mukul ranjang itu dengan kesalnya. Ini hari kedelapan suaminya itu pergi. Kata Bimo, suaminya itu paling lama satu Minggu di sana.
"Apa si pak tua sibuk dengan cewek bule di sana? seperti nya ia.. Hua..... Hua.... Hua.....!"
Wanita itu pusing dan sedih dengan pikiran negatif yang terus saja menyerang di benaknya. Ini semua karena Ezra tidak ada kabar. Sehingga dia sibuk menduga-duga dengan berubahnya sikap sang suami.
"Aku telepon aja ya? dari pada aku gila sendiri di sini?" ujarnya semangat. "Persetan dengan gengsi." Pungkasnya lagi, bangkit dari tidurnya, meraih ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Wanita itu berulang kali menghela napas. Karena merasa gugup saat ingin menghubungi suaminya.
"Aaakkhhh..... Kenapa seperti ini?" Zahra kembali ambruk di atas ranjang. Dia tak berani menghubungi Ezra. Padahal dia sudah memanggil kontak suaminya itu, tapi dengan cepat diakhiri sebelum tersambung.
"Ada apa denganku? kenapa aku jadi gengsi menelpon suami sendiri?" ujarnya lagi, otaknya berfikir keras. Melawan gengsi yang timbul di hati. "Dia juga kenapa gak nelpon aku."Hua.... Hua.... Hua..!
Zahra menangis histeris lagi. Bantal empuknya kini sudah dibanjiri oleh air matanya. Kenapa dia jadi melow begini? Dia jadi benci Ezra. Berarti Ezra tak mencintainya. Kalau suaminya itu beneran cinta padanya. Mana mungkin tahan satu Minggu tidak komunikasi.
Huhuhuhu....
"Dasar pembohong, katanya cinta, sayang. Tapi, lihatlah dia gak pernah telepon aku!" Zahra Kembali meratapi nasibnya yang dicuekin oleh sang suami. "Apa aku kirim pesan aja? tapi, kalau gak dibalas, bagaimana? aduhhh..... Begini Yoh rasanya diabaikan? apa pak tua balas dendam, karena aku menonaktifkan ponsel ku waktu itu?" Zahra tak henti-hentinya bermonolog. Dia sungguh tak bisa tenang.
Air mata semakin deras saja keluar dari mata indahnya. Disaat mengingat moment romantis yang mereka lalui. Yaitu selama satu Minggu lebih di Berastagi.
"Hubbby...... Cepat pulang, aku kangen...!" ucapnya pelan, rasanya lelah sekali memikirkan suami nya itu. Akhirnya wanita itu tertidur, karena energi nya sudah habis terkuras yang menangis itu.
***
__ADS_1
Zahra terbangun karena mendengar suara pesawat yang akan landing. Ya di area rumah mereka ada landasan pacu.
Dug
Jantung nya berdebar sangat kuat, saat mendengar suara pesawat yang landing itu. Kedua matanya langsung membeliak, menatap ke arah jam besar yang bertengger di dinding kamarnya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 Wib. Itu artinya dia tidur selama 3,5 jam.
"Hubby..... Itu pasti Hubby..!" ujarnya semangat, melap Iler nya dengan punggung tangannya. Dia terlalu nyenyak tidur. Wanita itu sampai tak sadar kalau ileran. "Iiihhh.... koq aku ileran sih? jorok...!" teriaknya, berlari dengan terbirit-birit ke kamar mandi.
Wanita itu dengan cepat mencuci mukanya. Dia mengendus ketiak dan pakaian yang dikenakannya. "Kurang wangi, aduhhh.... gimana ini?" ucapnya heboh, menyemprot parfum ke pakaiannya, leher dan punggung tangannnya. Tadinya Zahra ingin berganti pakaian. Tapi, gak keburu lagi. Dia mau menyambut Ezra. Pria yang sangat dirindukannya itu. Ditinggal selama seminggu, membuatnya menyadari bahwa dia ketergantungan pada suaminya itu.
"Ya Allah.... Koq deg deg an gini?" ucapnya heboh, mengipas-ngipaskan tangannya ke tubuhnya. Sungguh Zahra merasa sangat gugup, karena ingin bertemu suaminya itu.
Wanita itu berulang kali menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan sebelum dirinya keluar dari kamarnya. Sepanjang menapaki lorong rumah menuju landasan pacu yang memang sedikit jauh dari rumah itu membuat Zahra semakin tidak tenang.
Ada rasa rindu, kesal, geram dan gemes untuk suaminya itu. Sungguh sikap suaminya membuatnya sangat penasaran. Yang mana sebenarnya karakter suaminya itu. Yang hangat kah? atau yang dingin dan cuek, seperti sikapnya seminggu ini.
"Hubby....!" ujarnya dengan perasaan yang campur aduk. Kini Zahra bisa melihat sang suami yang berjalan ke arah rumah mereka. Hatinya ingin memeluk suaminya itu. Tapi, entah kenapa sangat berat rasanya untuk melakukannya. Ego masih melambung tinggi.
Ezra tak mendengar teriakan Zahra. Karena mesin pesawat sangat bising. Dia juga gak tahu, kalau Zahra sudah kembali ke rumah mereka. Dari laporan Bimo. Istrinya itu masih di rumahnya Anin.
Zahra mempercepat langkahnya menyusul sang suami yang kini sudah dekat ke pekarangan rumah. Penampilan Ezra yang begitu tampan dengan outfitnya yang keren. Kemeja warna hijau mint, dipadu celana jeans regular dan sepatu kets warna hijau mint mix abu. Penampilan suaminya yang keren itu semakin membuatnya menggila karena rindu yang membuncah. Apalagi Ezra mengubah gaya rambut rambut nya jadi cepak ala TNI. Zahra sangat suka rambut cepak TNI.
"HuBbyy....... !" teriak Zahra, berlari kencang menghampiri Ezra, yang mematung melihat sang istri berlari ke arahnya. Setahu dia Zahra sedang tak di rumah.
"Hubby.....!"
Bruugkkk...
Zahra tersungkur ke belakang Ezra. Wajahnya kini sukses mencium rumput taman. Ezra juga terjatuh, tapi tak sedahsyat jatuhnya Zahra. Wanita itu terlalu semangat melompat ke pelukan sang suami padahal suaminya itu sedang tak siap dan tak menyangka Zahra akan berhambur kepelukannya.
"Wa wa... Istriku," Ezra bangkit, pria itu dengan cepat mengangkat sang istri yang masih telungkup di taman itu. Syukur wanita itu terjatuh di atas rumput taman. Gimana jadinya jikalau Zahra terpelanting jauh ke aspal landasan pacu pesawat. Bisa hancur wajah nya di makan aspal.
"Ya Allah sayang...!" kini Zahra sudah berdiri di depan sang suami dengan wajah sedih, sekaligus malu. Bisa-bisanya dia terjatuh, saat ingin berhambur kepelukan Ezra.
"Ya Allah sayang!" Ezra mengangkat tubuh sang istri. Dengan cepat Zahra membelitkan kedua kakinya ke pinggang sang suami dan kedua tangannya melingkar di lehernya Ezra. Wanita itu pun menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya Ezra, sambil menangis sesenggukan. Ezra jadi merasa bersalah. Dia sebagai suami telah menyebabkan istrinya itu jumping melampaui tubuhnya.
__ADS_1
"Maaf ya sayang, Hubby gak tahu, kalau adek mau peluk Hubby." Ujar Ezra lembut. Pria itu masih menggendong Zahra.
Istrinya itu hanya terisak dan menyembunyikan wajah di ceruk leher sang suami. Dia sangat malu saat ini. Kenapa dia harus terjatuh dan mencium rumput taman.
"Sini Hubby lihat mana yang sakit sayang?" Ezra berusaha menilik wajah Zahra. Tapi wanita itu tetap saja menolak menunjukkan wajahnya yang kini sudah merah merona bak tomat matang.
"Wa, sini Hubby lihat dulu." Masih berjalan menuju ruang keluarga dengan menggendong depan Zahra.
"Gak mau!" ujar Zahra dengan suara terisak-isak. Ezra jadi kasihan dan merasa bersalah.
"Sakit? apa sakit sekali?" Ujar Ezra, kini mereka sudah sampai di ruang keluarga.
Pria itu mendudukkan sang istri di sofa, dan langsung memeriksa wajah sang istri yang tak terluka itu.
"Gak sakit By, tapi Aku malu. Sakitnya itu tak seberapa. Tapi, malunya itu sampai ke ubun-ubun."
Hua.....
Hua....
Zahra menangis seperti anak kecil. "Aku kesal sama Hubby, kenapa gak menangkapku!" memukul manja dada sang suami yang ada dihadapannya.
"Maaf sayang, hubby tadi sedang tercengang dan terhipnotis karena ada wanita cantik yang berlari di hadapan Hubby." Ezra masih sempat-sempatnya menggoda Zahra yang masih kesal. "Habis tenaga Adek kuat sekali. Ya lewatlah sampai kebelakang!"
Hua .,
Hua ...
"Hubby jahat, jahat....!"
Ezra menangkap kedua tangannya Zahra.
Mencium lembut tangan sang istri dengan penuh penghayatan. Yang membuat Zahra merinding. Apalagi tatapan mata mata Ezra sangat menghanyutkan.
TBC
__ADS_1
Like komentar positif, vote dan hadiah dong. Agar Author semangat nih🙂ðŸ¤