
"Iya dia harus masuk ke sarangnya. Adek harus tanggung jawab." Setelah memastikan miliknya baik-baik saja. Ezra pun melepas semua pakaiannya. Zahra bingung harus apa? dia mondar-mandir di ruangan itu, tak tau harus lari ke mana. Dan kini Ezra sudah berdiri di hadapannya tanpa sehelai kain. Pria itu punya batas kesabaran.
Sepasang bola mata bulatnya Ezra menyala bagai bola api. Menatap Zahra seperti seekor mangsa, yang harus diterkam. Birahi yang tersulut harus diredam.
Zahra yang merasa dirinya seperti makhluk aneh mengerikan, karena penampilannya yang sexy itu terpaku tegak, dan matanya membeliak lebar dengan mulut menganga. Merasa terancam malam ini. Dia akan dimangsa predator si pak tua, yang terlihat seperti hewan kelaparan. Jantung wanita itu berdebar begitu cepat, saking takutnya, hingga dia tidak bisa berfikir jernih lagi.
Dia tidak mau Ezra merenggut kesuciannya. Walau dia adalah istri sah pria itu. Dia belum yakin dengan pernikahan mereka ini. Dia tidak mau jadi istri simpanan. Dia tidak mau menyakiti hati istrinya Ezra, walau dia ingin menghancurkan keluarga Ezra. Tapi, kan istrinya itu tidak tahu apa - apa.
"Jangan...!" Kedua tangannya Zahra menutup wajahnya yang ketakutan itu, tak sanggup menatap tubuh atletisnya Ezra yang polos tanpa sehelai benang itu. Wanita yang meras terancam itu berbalik membelakangi Ezra dengan cepat.
"Jangan, jangan ditunda lagi. Adem itu benar-benar buat aku spaneng!" Dalam satu gerakan Ezra menggotong tubuh sexy nya Zahra di bahunya.
"Pak, pak tua.... lepaskan!" wanita itu berontak dalam gendongan pria itu. Memukul keras punggung sang suami, kakinya pun tak mau diam menendang-nendang tubuhnya Ezra. Tentu saja pria itu semakin terpancing dengan kelakuan istrinya itu.
Bruuggghhhh
Zahra sudah terlempar dia tas ranjang empuk itu. Belahan dadanya Zahra begitu menggoda di mata kelaparannya Ezra. Sedangkan paha putih mulus itu, semakin terlihat menantang, karena Zahra berusaha menjauh dari Ezra yang menghampirinya dengan merangkak dan langsung menerkam sang istri. ******* habis bibirnya Zahra tanpa anpum. Pria itu pun menghentikan aksinya, karena melihat sang istri kehabisan napas. Zahra benar-benar dalam kendalinya.
__ADS_1
Ezra belum ada niat untuk menggauli istrinya ini. Tapi, sejak melihat Zahra berpakaian haram itu, dia jadi terpancing. Apalagi dia sudah lama tak melakukan hubungan badan, sejak bercerai dengan sang istri. Dan sudah selayaknya memang dia memberi nafkah batin pada istrinya itu. Apalagi dia merasa sudah pernah melakukannya dengan Zahra saat di hotel.
"Lepas..... Lepas..... kenapa kalian hancurkan hidupku!" Zahra baru bisa bersuara, setelah Ezra menyudahi menyedot habis bibir dan lidahnya Zahra. Dia seorang duda, dia tahu betul gimana memuaskan wanitanya. Tapi, itu hanya dipikirannya. Zahra jelas tak menikmati permainan itu, walau dia merasa geli dengan ciuman yang dilatihkan Ezra ke bibirnya.
Ezra yang tersulut birahinya tidak menggubris ucapan Zahra. pria yang lagi tersulut birahinya itu, terus saja mengeksplor leher putih jenjang nya Zahra. Lidahnya menyusuri daun telinga bahkan ke rongga daun telinga istrinya itu, yang membuat Zahra tak tahan dengan gelinya. Ditambah tangan nakal sang suami sibuk memainkan gundukan kembar dengan lembut, memilin pucuk gunung itu, yang membuat Zahra tak tahan dengan sensasi yang dihasilkan oleh sentuhan Ezra.
"Aa---yah.... tolong.... ! Zahra sudah pasrah, walau dia bisa ilmu bela diri. Dia kalah kuat dari Ezra" Mak.... UMak....!" ucap Zahra lirih dengan sedihnya. Air mata pun tak bisa dibendung lagi.
Ezra menghentikan aksinya menyedot habis leher Zahra. Entahlah dia merasa sangat tertarik untuk bercinta dengan istri kecilnya itu. Karena dia merasa Zahra sangat menantang. Memberi sensasi yang berbeda dan membuatnya sangat penasaran. Ezra tadinya beranggapan Zahra hanya berpura-pura saja tak menginginkan sentuhan darinya. Ya biasalah wanita sering sok jual mahal. Tapi, mendengar istrinya itu memanggil ayah dan ibunya, membuat Ezra sadar, bahwa istrinya itu tak lagi bercanda. Istrinya itu memang tak ingin disentuh olehnya. Suara menyedihkan sang istri yang memanggil-manggil nama orang tuanya, membuatnya bingung dan sedih.
Ezra sudah menghentikan aksinya. Kedua tangannya bertumpu dia tas ranjang. Memperhatikan lekat wajah sang istri yang ada dibawah tubuhnya. Istrinya itu sudah pasrah, diam dengan tatapan sedih dan kedua matanya mengeluarkan cairan bening dari sudut matanya yang tak berkesudahan.
Pria itu pun menggulingkan tubuhnya ke sebelah kanan sang istri, menarik napas panjang dan berat. Mengusap wajahnya kasar dan memijat dahinya yang terasa pening.
Tangannya bergerak ke bagian intinya yang masih menegang keras itu yang sekarang sudah seperti rudal yang menancap tegak. Ezra tak henti-hentinya menarik napas panjang guna memenangkan dirinya yang masih dikuasai birahi itu.
Dia pun melirik ke arah Zahra, yang masih dalam posisi yang sama dan ekspresi wajah yang sama. Wajah sedih dan keputusasaan mendominasi, matanya yang mengeluarkan cairan bening itu, menatap lurus ke langit-langit kamar. Sejak pria itu menyudahi aksinya. Istrinya itu tak ada melakukan pergerakan sedikit pun, Ezra jadi merasa bersalah dan kasihan sekali melihat sang istri.
__ADS_1
Ezra mengubah posisi tubuhnya hingga duduk bersandar di headbord tempat tidur. Menarik selimut guna menutupi auratnya. Menatap ke arah sang istri yang masih seperti mayat tapi hidup, karena tak melakukan pergerakan. Bahkan istrinya itu tak membenahi satu buah dadanya yang tak ditutupi sehelai kain. Karena Ezra sempat menarik kuat lingerienya pada bagian itu.
Gundukan itu masih terlihat menggoda, apalagi pucuknya yang berwarna pink cream itu sudah mengeras, terlihat memangil-manggil untuk dihisap dan disedot.
Ezra menggelengkan kuat kepalanya berulang kali. Dia bingung dengan semuanya ini.
"MAAF...!" ucap pria itu lembut. Menarik selimut untuk menutupi tubuh Zahra yang terlihat menggoda itu. Apalagi bagian perut datarnya Zahra terlihat indah. Dengan lekukan pinggang bah gitar spanyol.
Zahra tak menanggapi permintaan maaf sang suami. Kini malah air matanya keluar semakin deras dari mata sembabnya.
"Maaf, jika suamimu ini membuatmu takut." Ezra sungguh terenyuh melihat air mata sang istri yang terus saja keluar itu, dia pun mengusapnya dengan jemarinya. Kali ini Zahra menutup kedua bola matanya. Tak sudih menatap sang suami yang tengah memperhatikannya.
"Malam ini kita harus bicara, ada banyak hal yang perlu diluruskan. Ya saya tahu, semua sumber masalah datangnya dari saya dan Rara. Tapi, saya sudah berusaha mencari jalan terbaik."
"AKU TIDAK MAU JADI ISTRI SIMPANAN..!" ucapan Zahra yang tegas, membuat Ezra menghentikan aksinya mengusap-usap kepala sang istri.
TBc
__ADS_1
like, coment vote say. Akhir pekan kita adakan give away pulsa 10 ribu, untuk 3 pemenang pemberi hadiah terbanyak ke novel ini 🙏🙂