
Sepanjang perjalanan air matanya Zahra mengalir berderai-derai tiada henti. Hingga ibu-ibu yang duduk bercadar di sebelahnya dibuat heran. Tapi, ibu itu takut memulai percakapan dengan Zahra, karena Zahra terlihat menutup diri. Zahra duduk tepat di dekat pintu mobil. Ia yang lagi sedih itu, hanya menatap ke luar jendela mobil.
"Ada apa pak supir, koq kita berhenti?" tanya penumpang pria yang duduk tepat di belakang supir. Para penumpang heran, dengan supir yang berhenti, padahal bekum saatnya bus mini itu berhenti.
"Ada razia Vaksin mungkin di depan sana." Ujar pak supir dengan tertawa kecil. Menertawakan kejadian yang lagi trend di negeri tercinta.
"Mana mungkin ada razia vaksin, ini sudah pukul dua belas malam lewat pak supir. Siapa lagi yang mau menyuntik dan disuntik malam-malam begini." Ujar penumpang lainnya yang berjenis kelamin wanita sekitar berumur 40 tahun, yang duduk di depan Zahra.
Mobil mini bus itu, berisi muatan 12 orang. Dan seharusnya muatan mobil mini bus itu 15 orang. Zahra adalah sewa terakhir, yang dapat dijakan. Bukan sewa dari stasiun. Zahra dapat tempat duduk di bangku paling belakang dan dipojokan.
"Kalau sudah larut begini, paling acara suntik menyuntik di dalam kamar lah." Seorang pria paruh baya, mulai membuat lelucon dengan mesumnya.
Sebagian penumpang ada yang tertawa dan sebagian lainnya malah kesal mendengar celoteh pria yang bercanda ke arah ngeres itu.
"Ada apa di depan sana pak?" tanya pak supir, pada mobil yang melaju dari arah berlawanannya.
"Ada razia pak, cari orang hilang katanya. Cewek." Ujar supir yang ditanyakan oleh supir, yang mobilnya di tumpangi Zahra.
Auto Zahra yang mendengarnya dibuat panik. Dia yakin, orang yang dimaksud itu adalah dirinya. Apa yang harus dilakukannya? Zahra mulai tidak tenang, dadanya berdebar kuat, karena takut akan ketangkap. Dia mulai grasak grusuk do tempat duduknya. Tak mungkin dia turun dari mobil ini. Dan melarikan diri, karena mereka sekarang berada di sebuah hutan.
Zahra yang gugup itu, terlihat berulang kali mer emas -r emas jemarinya. Dia pun akhirnya celingak celinguk, melihat sekitar. Siapa tahu masih ada kemungkinan untuk lari atau sembunyi. Tapi, sepertinya tak ada jalan untuk melarikan diri. Tak mungkin juga, dia masuk ke dalam hutan.
"Dek, kamu kenapa? mau BAB?" tanya ibu yang bercadar di sebelahnya ramah. Zahra yang dari tadi takut itu, akhirnya menatap memelas pada ibu itu. Dia pun langsung berbisik pada sang ibu. Yang membuat Kening ibu itu mengerut mendengarnya.
"Ya Allah.... Kasihan sekali kamu." Ujar sang ibu, entah apa yang dikatakan Zahra pada ibu itu, author pun tak tahu 😀😀😀 yang jelas sang ibu jadi simpatik dan kasihan pada Zahra.
"Semoga kamu selamat ya nak. Pakai ini," Ibu itu mengeluarkan cadar dari tas yang ada di atas pahanya dan memberikannya pada Zahra. Zahra menurut dan langsung memakainya. Saat ini hanya ada mereka di bangku barisan paling belakang. "Ini juga kamu pakai." Zahra terkejut melihat gigi palsu tonggos yang ada di tangan sang ibu. Dia mana mungkin mau memakai itu. Jangan-jangan itu gigi palsu sang ibu. Zahra jadi sedikit jijik membayangkannya. Itu terlihat dari ekspresi wajahnya. Walau pencahayaan di dalam mobil itu minim, cahaya bulan yang lagi purnama, membuat keadaaan di dalam mobil jadi terang. Karena cahaya masuk dari kaca mobil.
"Pakai saja, ini bukan milikku. Aku pun tak tahu itu milik siapa, koq ada gigi Boneng di sini." Ujar sang ibu tersenyum tipis, bisa dibayangkan jika Zahra memakai itu pasti lucu sekali.
Zahra tahu maksud dari si ibu, dia pun memasang gigi palsu Boneng itu ke dalam mulutnya. Sungguh susunan gigi yang rapi, tapi gusi menonjol dan ukuran gigi yang besar-besar. Bibir Zahra sampai tidak bisa menutup gigi barunya itu.
__ADS_1
"Nanti siapa tahu, cadarmu dipaksa dibuka, biar mereka gak kenal." Ujar sang ibu dengan suara pelan Zahra hanya mengangguk lemah. Sungguh dia sangat takut saat ini. Dia takut ketahuan, dibawa pulang ke rumahnya Ezra. Dan Ezra pasti akan menghukumnya. Dia tak mau berbuat dosa lagi. Walau Ezra mengatakan ingin melakukan pembatalan pernikahan dengan ibunya. Tapi, pernikahan mereka adalah haram dan tidak sah. Jadi dosa cukup sampai di sini saja.
"I--ya Bu, terima kasih atas bantuannya Bu." Ujar Zahra dengan kesusahan saat bicara, karena gigi palsu membuat bibirnya yang susah mingkem.
"Permisi bapak ibu, kami menyita waktu bapak ibu sebentar. Kami sedang mencari keberadaan seorang wanita yang bernama Halwatuzahra, yang wajahnya seperti foto ini." Ujar pak petugas, suasana di dalam mobil jadi tegang. Lampu di dalam mobil itu pun dinyalakan.
Zahra terus saja berdoa dalam hati, agar dia tidak tertangkap. Wanita itu berusaha tenang dengan menghela napas dalam dan panjang. Dia tak boleh gugup, saat diinterogasi nantinya. Apalagi saat ini, para petugas itu sudah menuju ke bangku duduk mereka.
"Maaf ibu, tolong tunjukkan tanda pengenalnya?" tanya pak petugas, pada ibu yang bercadar di sebelah Zahra.
Ibu itu mengambil KTP, dari dompetnya. Menyerahkannya pada pak polisi itu. Zahra sudah jantungan. Kakinya sudah bergetar di bawah sana. Dia sungguh ketakutan saat ini.
"Maaf Bu, bukan ada niat melecehkan. Kami mohon, ibu untuk membuka cadar ibu dulu " Ujar seorang polisi wanita. Ya, setiap pemeriksaan mobil ada polisi wanita yang ikut bertugas.
"Bu, mohon kerjasamanya." Desak polisi wanita itu, yang di name tag nya ada tulisan Sushiani. Dan polisi pria yang tadi ikut memeriksa semua orang di dalam bus mini itu sudah turun dari mobil.
"Bu Jamilah..!" Seru polisi Sushi itu.
"Maaf ya Bu, terimakasih." Ujar polisi Sushi ramah. Dan kini giliran Zahra yang diinterogasi, tentu saja Zahra dibuat jantungan saat ini. Tangannya terasa semakin dingin. Apalagi dai gak pakai jaket. Dia hanya pakai gamis dan hijab syar i. Mana cuaca sedang dingin.
"Iya ibu, tolong tunjukkan kartu identitas anda." Ujar Polisi wanita itu, yang membuat Zahra ketakutan. Dia belum punya KTP, tapi dia punya kartu pelajar.
"Dia putriku, umurnya masih enam belas tahun, mana ada KTP nya."
Syur ....
Rasanya sedikit legah, ibu Jamilah membantunya.
"Oohh... Kalau begitu, bisa kami lihat kartu pelajarnya dek?" Polisi wanita itu, memang bekerja dengan sungguh-sungguh. Semua ditanyakan dengan detail.
"Kar-- tu pe--lajar saya keting--galan di rumah Bu." Jawab Zahra gelagapan, bagaimana pun dia beraninya, untuk saat ini nyali ciut.
__ADS_1
"Dia putriku, lagian kalian cari siapa sih? *******? atau narapidana yang melarikan diri?" tanya Ibu Jamilah, mencoba mengecoh Bu polisi wanita itu.
Sang polisi tersenyum tipis, tidak merespon ocehan ibu Jamilah.
"Adek, maaf. Buka cadarnya dulu." titah Polisi Sushi dengan ramahnya.
Zahra menunduk, bagaimana pun dia sangat takut saat ini. Dia gak mau mengindahkan ucapan polisi wanita itu
"Dek, tolong kerjasamanya. Kalian ingin cepat melanjutkan perjalanan kan?"
"Iya, iya buka saja, kita mau cepat sampai ini." Para penumpang mulai terprovokasi. Zahra semakin ketakutan. Dadanya bergemuruh hebat.
"Dek..!" desak Polisi wanita itu.
Dengan tangan gemetar, sambil berdoa dalam hati, Zahra melepas cadarnya, hingga tampaklah wajah barunya.
Saat itu juga polisi dibuat tersenyum tipis melihat wajah Zahra. Merasa sedikit lucu dengan wajah Zahra yang unik. Mata yang indah, hidung kecil dan mancung. Tapi, gigi tonggos.
"Ibunya ompong, anaknya kelebihan gigi " Ujar polisi wanita itu spontan.
"Jadi menghina, anda bisa saya laporkan dengan kasus Body shaming." Ujar Ibu Jamilah tegas, yang membuat polisi wanita itu terdiam.
Polisi itu memperhatikan lekat wajah wanita bergigi tonggos di hadapannya. Membandingkan dengan yang ada di foto. Lama polisi itu mengamati wajah Zahra, karena menurutnya sangat mirip pada bagian mata dan hidung.
"Apa? mau menghina anak saya lagi?" Ketus Ibu Jamilah, yang membuat polisi itu, berhenti mengamati wajah Zahra. Memang ada sedikit kemiripan, tapi, gigi Zahra yang sangat tonggos, membuat bentuk wajah Zahra sedikit berubah. Apalagi dia dalam keadaan berhijab, sedangkan foto yang ada di tangan pihak berwajib, Zahra tidak mengenakan hijab
"Gak Bu, aku merasa anak ibu ini, mirip dengan orang yang kami cari. Jadi, kami perlu amati dengan detail." Ujar Polisi wanita itu, yang membuat Zahra merasa terancam.
TBC
Like, coment vote say
__ADS_1