AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Tauladan


__ADS_3

"Terima kasih Ya Allah...!" Ezra yang kepo, kembali memeriksa semua isi aplikasi di hapenya Zahra. Hingga ia menemukan sebuah catatan.


Aku membuatmu kesal, aku tidak pernah melakukan yang kamu mau, aku tidak mendengarkanmu, tapi kamu tidak pernah membuatku merasa kurang tentang diriku. Aku bersyukur punya suami sepertimu, dan aku menyesal telah melakukan semua kesalahan itu.


kalimat yang dibacanya itu seperti sebuah pujian yang membangkitkan rasa bahagia pada dirinya, selain itu ia juga merasa dihargai dan merasa diperhatikan oleh Zahra.


"Kenapa harus ditulis di sebuah catatan. Kenapa gak diungkapkan langsung tadi sebelum tidur." Ucapnya dengan senyum mengembang. Ternyata Zahra tipe wanita yang gengsi an memberikan pujian pada suaminya itu.


Ezra yang lagi merasakan kebahagiaan yang membuncah itu langsung menciumi setiap inchi wajahnya Zahra. Yang membuat tidur nya Zahra terganggu.


Wanita itu menggeliat, menggerak-gerakkan wajahnya karena aksi Ezra sangat mengganggunya. Dia baru saja bermimpi indah bernyanyi dan berjoget di sebuah taman bunga yang indah. Dan mimpi indah itu harus terhenti karena kelakuan mesum Ezra.


"Hubby... Apaan sih?" Zahra mendorong kuat wajah Ezra yang kini terus saja menciuminya. Bahkan bibirnya Zahra jadi serangan utama.


Ezra yang gemes pada Istrinya itu tak menggubris ocehan Zahra dan penolakan Zahra untuk disentuh. Dia malah semakin nakal. Tangannya sudah merayap masuk kebalik daster yang dibeli Zahra di mall.


"Iijhh... Hubby... Ganggu saja deh. Jangan ganggu ahhkk... Aku mau tidur." Zahra masih saja sok tidak mau disentuh, padahal dia sudah ter - angsang karena tangan nakalnya Ezra sudah menyentuh bagian sensitifnya.


"Ya ampun sayang, nikmati saja Napa. Seperti orang diper kosa saja. Gak mau diam." Ujar Ezra dengan suara beratnya karena pria itu memang sudah sangat bergairah. Seperti nya kalimat pujian dicurahkan Zahra di catatan ponselnya cukup membuat pria itu bergairah.


"Habis, Hubby ganggu. Ini sudah pukul berapa. Bukannya tadi mau tidur minta jatah." Keluh Zahra, yang sejak mau tidur tadi pingin juga mantap - mantap. Tapi, karena melihat raut wajah Ezra bete, jadilah dia pura-pura sibuk main hape.


"Sekali-kali adek yang minta Napa? ini Hubby terus!" Ezra sudah berhasil melucuti pakaian sang istrinya itu, hingga kini istrinya itu polos tanpa sehelai kain. Cahaya yang temaram di kamar itu, membuat tubuh putih mulus nya Zahra terlihat semakin menggoda. Dengan tidak sabaran nya Ezra melepas semua pakaiannya.


Zahra pun tak bisa menolak keinginan sang suami untuk menggaulinya. Permainan itu pun tetap dinikmatinya, walau diawal dirinya menolak. Bagaimana tak menikmati, suaminya itu pandai sekali menyulut bira hi nya.


***


"Sinar matahari pagi memang begitu cantik, tetapi sinar matahari akan kalah cantik bila dibandingkan dengan senyum indahmu sayang."


Cup


cup


cup

__ADS_1


Cup


Empat kecupan dilancarkan Ezra dengan cepat di wajah cantiknya Zahra dan kecupan terakhir tentu saja berlabuh di bibir manisnya Zahra.


Sikap romantis nya Ezra pagi ini tentu saja membuat Zahra tersipu malu.


"Terima kasih atas sarapannya."


Kali ini ucapan sang suami, cukup membuat Zahra terkejut. Suaminya itu tak perlu berterima kasih, hanya karena dia membuatkan sarapan pisang goreng dengan ketan yang ditaburi parutan kelapa pagi ini. Entah kenapa Zahra ingin sekali makan itu. Dia yang sering memasak itu untuk dijual di pasar, tentu saja merasa tak kesusahan memasaknya. Gak tahu nya itu juga makanan favorit Ezra.


"Iya By, selamat bekerja ya!" Zahra meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangan itu. Karena gemes, Ezra kembali mendaratkan kecupan di pipinya Zahra. Pipinya Zahra sangat kenyal dan lembut. Pria itu merasa seperti mencium anak bayi saja.


"Hadeuuhh... Kapan berangkat nya ini By " Keluh Zahra, suaminya itu kini mengelus-elus perut datarnya Zahra setelah puas menciumi pipinya sang istri.


"Iya nih, jadi males ke kantor. Coba gak ada meeting pagi ini. Hubby memilih kerja dari rumah saja, WFH " Ujarnya terkekeh, berumah tangga dengan Zahra dipenuhi banyak warna. Jadi setiap harinya terasa berbeda.


"Eemmm... Biasalah baru-baru. Nanti Juga gak seperti ini "


"Yang ada makin parah Sayang!" tegas Ezra kembali mengecup sang istri. "Baiklah Hubby pergi dulu. Cari rezeky untuk membahagiakan istriku."


"Ya ampun... sayang.... Hubby diusir nih?"


.


"Iya!" Zahra menampilkan wajah sangar. Tentu saja ekspresi wajahnya Zahra jadi terlihat lucu. Wanita itu gak bisa marah.


"Baiklah .. Hati-hati di rumah. Jangan lakukan hal-hal aneh sayang." Ujar Ezra kembali menatap lekat Zahra yang berdiri di sisi mobil.


"Aneh, apaan sih By. Aku beribadah saja, agar kelak anakku jadi anak Soleh/a."


Ezra seneng sekali mendengar ucapannya Zahra. Emang istrinya itu punya karakter yang baik. Tinggal diarahkan dengan lembut dan benar. Ezra yakin, Zahra akan jadi ibu yang baik untuk anaknya kelak. Wanita yang akan memberikan contoh yang baik untuk keturunannya


Seorang wanita Adalah Madrasah Pertama Bagi Anaknya, Maka Suami Adalah Madrasah Pertama Bagi Istrinya. Dan. Ezra sudah melakukan itu, mendidik dan mengajarkan ajaran agama kepada Zahra dengan cara yang lembut dan penuh kesabaran.


Zahra terus saja melambaikan tangannya hingga mobil yang ditumpangi sang suami hilang dari pandangannya.

__ADS_1


Huufftt


"Ada ya pria seperti mu Hubby." Ujarnya menggeleng penuh takjub. Ternyata masih ada orang kaya yang punya hati yang sangat sederhana dan sangat mulia. Dermawan dan sangat sabar. Rara yang bukan darah dagingnya saja, tetap dianggapnya sebagai anak.


Zahra pun akhirnya memilih berjalan di taman rumahnya yang luas. Tepatnya ke arah danau. Suasana pagi ini sangat cerah, yang membuat setiap orang jadi bersemangat.


"Nak, semoga gen kamu lebih condong ke ayahmu. Ibu gak punya hal yang menonjol yang bisa diwariskan padamu. Pandai-pandai mengambil sifat ya nak." Ujarnya mengelus lembut perutnya yang datar.


Zahra merasa terharu sekali. Setiap keinginannya selalu dituruti Ezra. Hanya ingin bertemu dengan Ferdy saja yang tak diwujudkan suaminya itu.


"Feeling mama mengatakan kamu pasti baby boy." Ujarnya dengan perasaan yang bahagia sekali. Hatinya mengatakan bahwa dia sedang mengandung anak cowok.


Zahra yang kini duduk di sebuah bangku beton dengan view danau, terus saja mengusap perutnya. Dan dia pun dikejutkan oleh tepukan lembut di bahunya.


"Astaghfirullah,...!"


Zahra yang terkejut memegangi dadanya yang berdebar-debar itu.


"Ibot, apaan sih?" Zahra yang sudah berdiri, mendorong kuat dadanya Bimo yang berdiri dibelakangnya. Sungguh Zahra dibuat sangat terkejut dengan kelakuan Bimo yang menepuk bahunya itu.


"Bos sudah pergi kerja?" tanya nya ngos ngosan. Bimo sudah lelah berlari-lari mencari Ezra di kamar dan ruang kerja. Ia yang panik tak sempat lagi menanyakan pelayanan apakah Ezra masih di rumah atau tidak.


"Sudah, baru saja." Jawab Zahra Heran menatap Bimo yang panik itu


"Kenapa hape bos gak aktif -aktif, dari tadi aku menghubunginya terus." Ujar Bimo, menatap lekat Zahra.


"Kamu kenapa sih bot?"


Zahra penasaran juga dengan Bimo yang terlihat panik itu.


Huuffttt..


"Si Rara kumat lagi. Dia mencoba bunuh diri lagi. Karena kamu dan si bos gak datang ke rumah sakit semalam."


TBC

__ADS_1


__ADS_2