
Bimo membuka pintu mobil sebelah Rara. Ia mengambil barang bawaan Rara. Ternyata istrinya itu hanya membawa koper ukuran sedang.
Bimo kembali menutup pintu mobil itu, masuk ke dalam rumahnya dengan menyeret kopernya Rara. Sedangkan Rara masih dibiarkannya tidur di dalam mobil.
Rumahnya Bimo model minimalis bermaterial kayu dan memiliki dua lantai. Rumahnya didesain sangat simpel dengan konsep sedikit terbuka. Maksudnya, rumahnya Bimo, memiliki keterbukaan yang dapat dilihat dari luar rumah. Keterbukaan ini dapat dilihat dibeberapa ruangan, seperti ruang tamu dan balkon lantai dua.
Cakep ya rumah Bimo, suasananya romantis. Seperti orangnya yang romantis abis.... ðŸ¤
Bimo membuka pintu utama rumahnya Membawa kopernya Rara ke lantai dua. Karena kamar utama rumah itu ada di lantai dua. Bimo yang rajin bersih-bersih, karena dengan bersih-bersih dianggapnya sudah sebagai olahraga. Maka tak ada pembantu di rumah itu. Lagian ia jarang datang ke rumahnya ini. Karena ia lebih sibuk bekerja dengan Ezra. Hanya seminggu sekali atau lagi cuti, ia akan menginap lama di rumah sederhananya ini.
Tak ada rencana sama sekali untuk membawa Rara ke perkebunan ini. Tadinya ia akan tinggal di rumahnya yang diperumahan elit itu. Tapi, setelah melihat video yang dikirim Ezra, atas marahnya ibu mertuanya alias Rani. Terpikirlah diotaknya untuk membawa Rara ke perkebunan ini. Karena, tak ada orang yang tahu, kalau Bimo punya lahan di kota Berastagi. Kecuali Ezra, Ezra saja baru tahu dua bulan terakhir ini. Padahal Bimo sudah memulai membuka usaha perkebunannya lima tahun yang lalu.
Bimo meletakkan koper Rara di sudut kamar itu. Ia mulai mengganti seprei ranjangnya. Karena ia tahu Rara itu pembersih. Ia tak mau Rara tak nyaman tidurnya. Karena bekas seprey yang ia pakai. Hanya sepuluh menit, ia sudah selesai merapikan kamar nya itu. Dengan langkah gontai dan kantuk yang mendera. Ia kembali turun ke bawah. Ia akan memindahkan Rara yang tidur di mobil ke dalam kamarnya.
Tapi, betapa terkejutnya ia, saat sampai di lantai bawah, dari dalam rumah nya ia melihat Rara sudah menangis histeris. Di dekat mobilnya. Celingak-celinguk dan mawas diri, memperhatikan sekitar. Istrinya itu terlihat ketakutan. Jelas saja ketakutan, karena suara kungkungan an -Jing yang mendayu membuat bulu kuduk meremang mendengarnya. Melihat sang istri yang ketakutan seperti itu, Bimo mempercepat langkahnya untuk menghampiri sang istri, yang kini sudah Berjongkok dan membenamkan wajahnya di antara lututnya dan menutup kedua telinganya dengan tangannya.
"Ibu.... Ibu...!"
Tangisan Rara terdengar menyedihkan. Sungguh Rara ketakutan sekali.
Mendengar suara pintu terbuka. Rara pun berdiri dengan cepat. Saat itu juga ia melihat Bimo berjalan cepat ke arahnya dengan ekspresi tak terbaca. Rara jadi naik pitam.
Rara benci dengan Bimo. Kenapa ia ditinggalkan di dalam mobil. Kenapa ia tak dibangunkan. Apa pria itu akan mati, jika bicara saat membangunkannya.
Darahnya Rara mendidih sudah melihat Bimo yang kini sudah berdiri dengan ekspresi wajah tak terbacanya itu. Dadanya naik turun, karena menahan emosi. Sedangkan tubuhnya bergetar hebat karena Isak tangis.
Rara tak tahan lagi atas perlakuan tak manusiawi ini. Ia dibiarkan tidur di dalam mobil. Sungguh terlalu pria di hadapannya. Yang kaya ayahnya pria ini, seorang pria yang penuh tanggung jawab.
"Sialan.,. Apa sih mau mu paman.?" Rara yang emosi, mendekati Bimo yang mematung di hadapannya. "Tega paman meninggalkanku di dalam mobil, di tengah perkebunan yang sunyi ini." Kini tangannya Rara sudah memukul-mukul dada bidangnya Bimo, yang masih terdiam di tempat dengan ekspresi wajah yang tak terbaca.
"Apa salahku padamu paman, kenapa kau jahat sekali padaku?" Menatap tajam Bimo yang masih terdiam, tapi mata pria itu kini memerah.
Pukkk
Satu pukulan kembali mendarat di dada bidang nya Bimo.
__ADS_1
"Jahat.. Jahat... Semuanya jahat..!" teriak Rara di depan wajahnya Bimo dengan derai air mata yang menggenang. Bimo masih terdiam. Sikap diamnya Bimo, membuat Rara semakin frustasi. Ia memutar tubuhnya, berlari ke luar dari pekarangan rumah menuju jalan. Ia tak mau lagi jadi istrinya Bimo. Lebih baik dia pulang ke Medan, hidup bersama ibu nya. Kalau hidupnya akan hancur dengan ibunya, biarlah yang penting ia merasa disayangi dan diharapkan.
Bimo pun akhirnya mengejar Rara yang melarikan diri itu. "Rara.... Kamu mau ke mana? ini sudah pukul dua pagi...!" teriak Bimo, berlari kencang mengejar Rara. Rara memang sangat jago lari. Makanya Bimo sulit menjangkaunya. Apalagi Rara berlari dengan keadaan marah, tentu adrenalinnya semakin terpacu.
Kung ...
Kung .
Ngingg..
Hewan liar bernama An Jing, selalu gentayangan di tengah malam. Apalagi di sebuah perkebunan.
Rara sangat takut pada binatang yang satu itu, karena ia pernah dikejar-kejar an Jing gila, saat berumur 10 tahun, dan ia ingat betul kejadian itu. Dan saat itu kembali Bimo yang jadi penolongnya.
"Oohh... Tidak...!" Rara memutar tubuhnya, berbalik haluan. Karena anjing di hadapannya sedang berlari kencang ke arahnya. Bahkan jumlahnya ada tiga.
"Tolong... Tolong aku paman..!"
Puukk..
Kung
Kung
Kung
Rara semakin memperdalam menyembunyikan wajahnya di perpotongan lehernya Bimo. Begitu juga dengan belitan Kakinya di pinggang nya Bimo terasa semakin ketat ditekan, syukur Bimo kuat, sehingga ia tak tumbang saat menggendong depan Rara yang sangat heboh karena ketakutan itu. Wanita itu memang sangat ketakutan. Karena anjing-anjing itu sudah mengepung mereka. Anjing-anjing itu adalah anjing liar. Bukan anjing peliharaan.
Sebenarnya Bimo tak takut sama sekali pada ketiga anjing yang mengepung mereka. Tapi, Rara yang histeris mempengaruhi emosinya. Jadilah pria itu tak tenang.
"Diam... Bisa diam kamu!" Ujar Bimo kesal, menggoyang tubuh Rara yang memeluknya erat. "Kalau gak bisa diam, kamu akan ku lempar ke anjing-anjing itu. Diam...!" teriak Bimo lagi.
Seketika Rara terdiam. Begitu juga dengan ketiga anjing itu ikut terdiam. Suasana diperkebunan itu mendadak jadi sunyi. Hanya semilir angin malam, yang terasa dingin dan menusuk ke tulang dan suara jangkrik dan kodok yang kini mendominasi.
Rara yang sudah diam, cukup membuat Bimo rileks. Ia kini menatap tajam ketiga hewan liar itu. Mulutnya komat Kamit seperti membaca sesuatu. Dan ketiga anjing itu pun meninggalkan mereka dengan bersungut-sungut.
Rara sudah tak mendengar Kungkungan anjing itu lagi. Tapi, ia takut untuk membuka matanya. Yang ia rasakan saat ini, Bimo tetap menggendongnya sambil berjalan. Bahkan ia tahu, saat Bimo menutup pagar rumah itu. Kemudian melangkah lagi dengan sedikit kesusahan. Mungkin karena ia tetap memeluk erat Bimo.
__ADS_1
"Turun...! Turun...! mau sampai kapan kamu memeluk ku terus." Ucapan Bimo menyadarkan Rara. Ia membuka kedua matanya. Masih membenamkan wajah di perpotongan lehernya Bimo.
Sadar akan kelakuannya, mendadak Rara kena serangan jantung. Denyutan sangat kuat. Tentu saja Bimo merasakan denyutan jantung nya itu.
Eeehh...
Tunggu..
Kenapa dadanya Paman berdebar-debar juga? apa karena kelelahan menggendongku?
Rara membatin, berusaha rileks dan turun dari tubuh sang suami. Ia malu, menunduk tanpa merasa bersalah. Karena, ia tak salah, suaminya itu yang salah, meninggalkan nya sendirian tidur di dalam mobil.
"Masuk... Ayo masuk....!" titah Bimo dengan intonasi tinggi. Sungguh suaminya itu menyebalkan sekali. Ia menatap sekilas Bimo, menghentakkan kakinya kuat dan melangkah masuk ke dalam rumah itu.
"Kamarmu di lantai dua. Sana naik..!" Ujar Bimo dengan tatapan mata tajam.
Dengan bingung nya Rara, menaiki tangga kayu itu menuju lantai dua. Sedangkan Bimo terlihat mengunci rumahnya. Dan kemudian masuk ke sebuah kamar di lantai satu.
Rara yang sudah sampai di lantai dua, dibuat bingung. karena ia tak tahu yang mana kamarnya, sebab di lantai dua ternyata ada dua pintu seperti untuk kamar. Ingin rasanya ia turun ke bawah dan menanyakan nya pada Bimo. Tapi, niatnya itu diurungkan nya. Karena pamannya itu, pasti akan marah lagi padanya.
Akhirnya ia memeriksa satu persatu kamar itu. Dan ia pun yakin, setelah memeriksa kamar kedua yang ukurannya lebih luas dan di dalamnya ada koper milik nya. Berarti itulah kamar untuk nya. Sedangkan kamar yang pertama di periksa nya terlihat seperti ruang kerja. Tapi, ada tempat tidur ukuran empat kaki di kamar itu.
"Ini Vila atau rumah? apa ini rumahnya paman? apa ia punya perkebunan?" ucapnya sambil memperhatikan interior kamar nya Bimo yang dekorasinya lebih ke feminim. Pasal nya cat bagian dalam kamar itu, dominan ke pink dan Lilac. Tapi cat bagian luar warna coklat. Apalagi tiraninya seperti tirai motif kamar cewek. Ada motif bunga-bunganya.
"Ini kamar siapa sih? kamar paman?" ia pun memeriksa dua lemari yang ada di kamar itu. Ya isi lemari itu pakaian pria. Itu artinya ini kamarnya Bimo.
"Astaga... kenapa interior kamarnya selera aku banget...!" Ujarnya menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. "Ranjang nya juga empuk nyaman. Seperti ranjang ku di rumah ayah." Ujarnya sambil mengayun-ayunkan tubuh nya di atas ranjang itu. "Akhh... Ini namanya sudah seperti di kamar sendiri." Ucapnya lagi menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran kayu itu.
"Ya ampun... dingin sekali...!" Rara yang tak tahan dingin itu akhirnya mengurung kan niatnya untuk mencuci muka dan gosok gigi, walau itu sudah keharusan buatnya saat hendak tidur. Tapi, karena cuaca dingin yang mendera dan kantuk sekali, akhirnya ia memutuskan menggulung tubuh nya dibalik selimut tebal yang ada di atas ranjang itu.
TBC
Ini part terakhir membahas Rara dan Bimo. Sampai ketemu dengan mereka di bulan Juni.
Esok kita fokus, bahas Ezra, Zahra, Anin dan Nek Ifah. Tentu saja ada Alvian, Ferdy dan Dika.
Like coment vote ya say
__ADS_1