AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Good looking


__ADS_3

"PISAH... Mau pisah....?" suara bariton dengan intonasi tinggi, membuat ibu dan anak itu terkejut. Keduanya pun menoleh ke asal suara. Siapa lagi dia kalau bukan Ezra. Yang kini berjalan menghampiri Keduanya dengan ekspresi wajah datar.


"Jangan menangis lagi. Umak keluar dulu." Ujar Anin lembut, sebelum Ezra menghampiri mereka. Ia harus keluar dari kamar itu. Ia tak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga putrinya.


Ezra menatap sekilas Anin yang keluar dari kamar itu, sebelum ia mendudukkan bokongnya di tepi tempat tidur.


Saat Ezra mendudukkan bokongnya di tepi tempat tidur. Zahra dengan cepat membuang wajahnya. Ia tak mau menunjukkan wajah sembabnya.


Zahra masih tak mau menatap sang suami. Yang ia dengar saat ini, suaminya itu berulang kali menghela napas, dan ia pun terkejut disaat Ezra memegang tangan nya.


"Jangan pernah katakan itu lagi ya Halwa...!" disaat Ezra bicara menyebutkan namanya. Itu tandanya suaminya itu kecewa padanya. "Jangan pernah ada niat untuk pergi dari Hubby. Karena itu tak akan pernah terjadi. Hubby tahu, ini semua tak mudah untukmu. Tapi, yakinlah kita akan bisa lalui ini semua. Hubby akan terus berusaha jadi suami yang kami idamkan." Ujar Ezra lembut. Pria itu pun akhirnya meraih bahu sang istri, agar menghadapnya.


Zahra masih menundukkan kepalanya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ucapan suaminya yang lembut dan penuh pengakuan kelemahan itu, membuatnya tersentuh.


"Kamu mau tinggal di kampung? baiklah, setelah nenek pulang berhaji kita akan menetap di kampung." Sontak ucapan Ezra membuatnya terperangah. Jadi, suaminya itu dengar semua pembicaraannya dengan sang ibu.


Zahra yang terkejut itu, kini menatap Ezra dengan mata yang berkaca-kaca. Benarkah suaminya itu begitu mencintainya. Sehingga ia rela untuk menetap di kampung. Walau sebenarnya Ezra punya usaha tambang emas juga di kampung itu.


"Jangan menangis lagi." Ezra mendaratkan ciuman lembut di kedua matanya Zahra yang sembab. Perlakuan suaminya yang cukup menghayati itu, membuatnya semakin sedih. Ia terharu sekali.


Mereka pun akhirnya berpelukan dengan erat. Seolah baru bertemu, setelah berpisah dalam jangka waktu lama.


"Kamu harus kuat ya sayang, begitulah resiko jadi istrinya Hubby. Mulai dari sekarang, kamu harus siap mental. Karena, masih banyak Rani, Rani lain yang menginginkan suamimu ini. Apalagi kini Bimo sudah resign dari perusahaan."


Kening Zahra mengerut mendengar ucapan sang suami. Ia kesal sekaligus penasaran, dengan maksud ucapan suaminya itu. Ia pun mengurai pelukannya.


"Maksud Hubby, banyak wanita yang ngejar-ngejar Hubby?" Tanya Zahra dengan lekat. Ezra mengangguk kuat.


Zahra merengut, ia cemburu.


"Wajar sih, Hubby tajir. Good looking lagi." Zahra menjauhkan tubuhnya dari Ezra.


Ezra jadi gemes dengan sikap merajuknya Zahra.


"Entah kenapa mau menikah denganku. Kan bisa saja waktu itu Hubby gak menikahiku." Masih merengut dan membahas masa lalu. Ya begitulah wanita, suka mengungkit masa lalu, yang membuat hatinya kesal sendiri.


"Emang kamu mau punya suami ger mo."

__ADS_1


Zahra menggeleng cepat.


Ezra kembali menarik tubuh Zahra ke pelukannya. "Ikhlas sajalah sayang, berjodoh nya dengan Hubby. Walau Lucinta Luna datang menggoda dengan menari perut di hadapan Hubby. Hubby tak akan tergoda. Hubby bukan pria yang mau membuang waktu dengan mencari kesenangan bermain wanita. Hubby gak mau hancur. Masih banyak karyawan yang harus Hubby tanggung jawab i. Kalau Hubby hancur, karena salah pilih wanita. Maka pengangguran akan semakin banyak." Zahra terdiam mendengar penuturan sang suami. Ia menikmati usapan lembut di kepalanya yang kini tak ditutupi hijab lagi. Suaminya itu benar-benar punya karakter yang baik.


"Ya jelaslah Hubby gak sor dengan Mas Lucinta Luna."


Hehehehe .. Ezra nyengir.


"Jangan menangis lagi ya? harus kuat, apapun yang terjadi, kita harus tetap bersama. Demi anak kita ini." Kini Ezra sudah menciumi perut datarnya Zahra. "Sore ini kita periksakan kandunganmu ya sayang. Sudah satu Minggu kita gak lihat perkembangannya." Ujar Ezra, kini ia menyingkap blouse yang dikenakan Zahra. Agar ia bisa merasakan lembutnya kulit perut sang istri.


"Emaknya Rara, cakep banget ya By."


"Gak... Jauh cakepan kamulah sayang." Jawab Ezra cepat, masih membelai perutnya Zahra. Sedangkan Zahra kini membelai kepalanya Ezra.


"Eemmm... Hubby emang pandai bicara. Dihadapanku bilangnya gitu." Zahra pura-pura cemberut.


"Emang iya, jauh cakep an kamulah sayang." Ujar Ezra melirik Zahra tersenyum hangat.


"Mata Hubby buta kali. Gak Hubby lihat apa, begitu mulusnya Mbak Rani itu."


"Adek itu sudah cantik dari Sononya alami. Kulit putih cerah, mulut wangi. Padahal hanya gosk gigi."


"Iihh... apaansih.. Ngombal." Zahra tersipu malu, karena dapat pujian.


"Gak ngombak sayang. Fakta!"


Ezra menguap. "Koq jadi kantuk, bobo aja yuk!" Ezra yang sudah berbaring, menarik tubuh sang istri dalam rengkuhannya.


"Sudah jam 12 siang By, gak baik tidur." Ujar Zahra, tapi seneng di rangkul sang suami.


"Sebentar saja sayang." Ezra sudah menutup kedua matanya.


"Kenapa Bimo resign Hubby?" Zahra teringat ucapan Ezra yang mengatakan Bimo resign.


"Mungki ia ingin mengembangkan usahanya


Kan ia sudah berumah tangga." Jawab Ezra, kembali menguap.

__ADS_1


"Oohh... Bimo sekarang di mana By? kenapa ia meninggalkan Rara?" mentoel-mentoel pipinya Ezra, agar tidak tertidur. Sebentar lagi dapat Dzuhur.


"Ia lagi tafakur. Syok.. Karena menikah dengan Rara." Kedua sudut bibirnya Ezra tertarik. Ia jadi merasa lucu, kalau mengingat Bimo. Pasti hidupnya, akan penuh warna dibuat Rara.


"Oohh kasihan Rara. Tadi ia nangis terus."


Eemm... Ezra berdehem. Ia sudah tak bisa menahan kantuknya.


"Oh ya by, kenapa Hubby bilang Bimo yang resign, malah akan buat ribet Hubby nantinya?" memperhatikan lekat wajah Ezra.


"Ya karena gak ada lagi, yang menghandle wanita-wanuta yang ngejar-ngejar hubby." Jawab Ezra setengah sadar.


Zahra mengerucutkan bibirnya. Sebegitu larisnya suaminya itu.


"Kan, bisa ganti petugas By."


Eehmmm...


"By....!"


Eehmmm...


"Sudah tidur ya?"


Gak ada lagi sahutan.


"Ya, sudah tidur. Makanya, jangan ajak begadang terus." Ujar Zahra tersenyum tipis. Merapatkan dekapan suaminya. Ia tiba-tiba saja merasa bersyukur, karena jadi istrinya Ezra.


Dengan perasaan yang membuncah. Ia mencium gemes, kening, hidung, pipi kanan dan kiri dan bibirnya Ezra. Tentu saja, saat ia mencium bibirnya Ezra. Pria itu membuka matanya.


"Mancing-mancing di siang bolong ya?" dalam satu gerakan tubuh sang istri sudah berada dalam kungkungannya. "Adek harus tanggung jawab." Ujar Ezra, ia pun mulai melakukan aksinya. Gak dipancing saja, ia berga irah melihat Zahra. Apalagi dipancing.


Ya begitulah pasangan suami istri. Sensasi yang dihasilkan saat bercinta setelah perselisihan, itu dahsyat sekali. Dan sering pertengkaran berakhir di atas ran Jang.


TBC.


Like, coment dan vote say.

__ADS_1


__ADS_2