AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Materialistis


__ADS_3

"SAH ...!" Zahra yang larut dalam pikirannya, tidak menyadari kalau ijab kabul telah selesai. Dia pun terkejut dengan kata Sah yang diucapkan dengan lantang oleh kedua saksi.


Wanita yang lagi kalut itu pun hanya bisa memejamkan kedua mata sembabnya. Menarik napas dalam, mengelus lembut dadanya yang bergemuruh, karena kesal pada pria di hadapannya. Gara-gara pria ini hidupnya hancur. Zahra yang sedang memejamkan mata itu sedang menahan cairan bening yang dari tadi mendesak untuk keluar dari mata indahnya. Dia tidak akan menangisi perjalanan pahit dan menyakitkan yang tergores di takdir hidupnya ini. Karena tak ada gunanya.


Pernikahan merupakan momen sakral, setiap wanita berharap melakukannya sekali seumur hidup. Tak terkecuali Zahra. Walau dia tidak pernah bercita-cita menikah muda. Tapi, dia selalu memimpikan menikah dengan pria yang dicintainya dan hanya sekali seumur hidup. Tapi, kini itu tidak akan pernah dirasakannya, mana mungkin dia akan mau jadi istri kedua untuk selamanya. Setelah melakukan balas dendam, tentu saja dia akan minta cerai pada pria yang tiba-tiba datang menikahinya ini.


Atau jangan-jangan Rara meminta sang ayah untuk menikahinya? itu tidak mungkin, tapi kenapa pria ini mau menikahinya? dan tak keberatan memberikannya mahar tambang emas.


Zahra pun menepis jauh-jauh praduga buruk itu, dia sudah masuk dalam kehidupan Ezra. Dia akan ikutin alur dari permainan ayah dan anak itu. Tentu saja dia akan balas dendam secara halus


Menjalani pernikahan siri dengan terpaksa seperti ini, sudah pasti hidupnya tidak akan merasakan kebahagiaan nantinya. Apalagi dia menikah tanpa restu dari orang tua. Bahkan orang tuanya tidak tahu, kalau dia sudah menikah.


"Nak Zahra, silahkan ditandatangani." Pak penghulu menyodorkan berkas pernikahan siri mereka. Ternyata di dalamnya sangat banyak ketentuan yang ditorehkan Pak KUA, agar Zahra tidak dirugikan dalam pernikahan ini. Bahkan Zahra juga menandatangani surat pemindahan kepemilikan perusahaan tambang emas miliknya Ezra, beralih kepadanya.


Setelah penandatanganan berkas, tidak ada ritual cium kening atau takzim kepada sang suami. Karena Zahra tak mau melakukannya. Bahkan Zahra menolak, saat Bimo meminta kedua mempelai berfoto.


Pak penghulu, pak kepala lingkungan, Bu Rose, para saksi dan beberapa tokoh masyarakat, sudah meninggalkan rumahnya Zahra tak lama setelah acara ijab kabul selesai. Dan kini hanya menyisakan Ezra, Bimo, nenek di ruang tamu. Duduk dengan hening cipta. Sedangkan Zahra sedang berkemas di kamarnya. Ezra akan membawa mereka ke kota.


Ezra yang duduk di atas tikar plastik itu menyoroti ruang tamu sempit dan sangat sederhana itu. Di ruang tamu itu, bertengger jam dinding yang berlogo bank daerah. Kaligrafi ayat kursi, lafaz Allah dan Muhammad. Satupun Ezra tidak menemukan foto keluarga di ruangan itu. Padahal Ezra penasaran bagaimana wajah kedua orang tua gadis yang baru saja dinikahinya.


Ingin rasanya Ezra bertanya banyak pada sang nenek, yang duduk lemah tak jauh darinya. Tapi, dia mengurungkan niatnya itu. Karena melihat bahasa tubuh sang nenek sedang tidak ingin bicara. Karena sang nenek memang lagi sakit.

__ADS_1


Saat ini, sang nenek tidak tahu bahwa Ezra lah pria yang ada dalam video tak senonoh itu. Karena memang video yang tersebar di group sekolah, wajahnya Ezra diblur. Dan sang nenek pun tak tahu, kalau pria yang baru menikah dengan cucunya itu adalah ayahnya Rara.


Zahra keluar dari kamar, dengan menyeret koper ukuran sedang. Dia pun berdiri di ambang pintu kamar dengan menatap sang nenek dengan sedih. Mereka akan meninggalkan rumah ini. Karena, warga tak sudih lagi melihat mereka tinggal di kampung itu.


Perasaan Zahra sangat hancur saat ini. Inilah puncak masalah itu dan dia ternyata dapat melaluinya. Orang-orang hanya bisa menilai kita dari luar. Cukuplah kita sendiri yang tahu tentang diri kita. Jadi untuk apa memusingkan ujaran kebencian orang-orang. Toh mereka tidak kasih kita makan.


Bimo membawakan kopernya Zahra menuju mobil yang terparkir di halaman. Langkah Bimo disusul oleh Ezra, Zahra dan sang nenek. Sebelum masuk ke dalam mobil mewah itu. Zahra kembali memutar tubuhnya. Dia menatap rumah mereka untuk terakhir kalinya. Di rumah sederhana itu, dia dibesarkan. Sangat banyak kenangan indah di dalamnya bersama ayah dan ibunya. Dia tidak menyangka akan meninggalkan rumah itu dengan adaya kejadian seperti ini.


Suasana di dalam mobil sangat hening. Tak ada seorang pun yang membuka suara. Zahra yang duduk di sebelah kiri sang nenek, terus saja menggenggam tangan neneknya itu. Dia juga selalu mencek suhu tubuh sang nenek, apakah suhu tubuh sang nenek naik atau tidak.


"Nenek sudah mendingan sayang. Kamu jangan terlalu khawatir seperti itu. Lagian nenek sudah tua, sebentar lagi juga akan menghadap yang kuasa."


"Bimo, kita ke klinik dulu. Kita harus periksa keadaan nenek." Ucapan Ezra membuat Zahra sedikit terkejut. Ternyata suaminya itu perhatian juga.


Zahra jadi bingung. Apasih tujuan pria ini mau menikahinya. Apa karena video itu. Tapi, kenapa dia mau bertanggung jawab. Bukannya ayah dan anak itu, ingin menghancurkannya Tapi, untuk apa juga pria matang ini, ingin menghancurkan hidupnya.


Aakkhh.... Zahra berteriak dalam hati, pusing memikirkan pria matang yang duduk santai di hadapannya.


Mereka pun akhirnya berhenti di sebuah klinik. Sang nenek langsung diperiksa keadaannya.


"Bagaimana kondisi nenekku Dok?" Saat Zahra ingin bertanya, malah keduluan oleh Ezra.

__ADS_1


"Dari pemeriksaan kami, nenek ini sehat. Suhu tubuh normal, tekanan darah normal, gula normal. Hanya saja ada sedikit asam urat." Jelas Dokter, yang membuat Zahra legah mendengar penuturan sang Dokter.


"Oohh syukurlah, berarti nenek bisa naik pesawat dong Dok?" Tanya Ezra serius. Ya malam ini mereka akan ke kota Medan, dengan menaiki Jet pribadinya Ezra.


"Harusnya gak ada masalah. Yang penting sang nenek, gak takut naik pesawat."


"Naik pesawat, kita akan naik pesawat? mau, mau, nenek mau naik pesawat. Dari kecil itu impian nenek." Ujar sang nenek dengan riang gembiranya. Zahra dibuat tercengang dengan ucapan neneknya itu. Dia baru tahu, kalau sang nenek sangat ingin naik pesawat. Ya mereka mana pernah naik pesawat.


Berbeda dengan Zahra, walau dia pemberani. Dia fobia ketinggian. Membayangkan naik pesawat, dia sudah pucat pasi.


Sudut bibirnya Ezra melengkung sempurna, sehingga menciptakan senyum yang begitu manis dan tulus. Dari tadi wajah nya begitu tegang. Tapi, setelah mendengar ucapan polos sang nenek dia jadi terhibur.


"Syukurlah kalau nenek gak takut naik pesawat. Kita akan pulang naik pesawat saja ya Nek." Ezra membantu sang nenek turun dari bed pemeriksaan. Lagi-lagi Zahra dibuat heran dengan sikap Ezra yang terlihat tulus itu.


Sepanjang perjalanan menuju landasan, tepatnya di rumah orang tuannya Ezra. Sang nenek dan Ezra tak henti-hentinya bercengkrama. Bahkan neneknya Zahra sudah merasa pulih seratus persen. Sedangkan Zahra diam seribu bahasa. Sibuk menduga-duga, siapa dan bagaimana sebenarnya karakter dari ayah musuh bebuyutan itu.


Sesampainya di landasan rumah orang tuanya Ezra. Mereka tidak singgah lagi di rumah orang tuanya itu. Karena, ibunya Ezra sudah tertidur. Ezra pun merasa belum siap mengenalkan Zahra pada ibunya. Karena, istri sah nya saja, ibunya itu belum kenal.


"Waaaww.. ini beneran pesawat?" ujar nenek dengan mata berkaca-kaca. Interior pesawat pribadi itu sangat mewah. Dalam hati Zahra berdecak kesal, dia baru tahu, kalau sang nenek matre juga.


TBC

__ADS_1


__ADS_2