
"Tidak...!" Zahra menyikut wajah Ezra dengan lututnya, Ezra duduk tersungkur dengan kesalnya. Zahra terlonjak kaget melihat kekesalan di wajah pria yang tadi pagi sempat dikaguminya. Dan sekarang berubah drastis jadi benci.
Zahra semakin takut dan bingung, membuatnya semakin kalut. Dia berteriak minta tolong dan menangis dengan suara yang bergetar dengan sedihnya. Mencoba meminta pertolongan di ruangan kedap suara itu.
"Ya Allah... Jauhkan aku dari marabahaya ini. Aku, aku salah, terlalu percaya pada Rara." Dia terus saja mengoceh, mencoba membuyarkan hasrat birahi yang semakin menggila yang dirasakannya di sekujur tubuhnya yang bermuara di bawah pusatnya. Tepat di bagian intinya yang berdenyut-denyut itu. Dia harus melawannya.
Melihat Ezra mencoba untuk bangkit. Wanita yang panik itu, dengan cepat melompat dan berlari menjauh dari Ezra ke atas ranjang. Ezra yang mabuk dan dipengaruhi obat perangsang itu, merasa kesusahan untuk bisa berdiri tegak. Lagi-lagi usahanya untuk bangkit tidak berhasil, dia malah kembali duduk tersungkur dengan kesalnya.
"SIALAN....!" umpat pria itu dengan menatap tajam Zahra yang kini sudah berada disebrangnya yang dihalangi oleh ranjang king size itu. Ezra yang diselimuti oleh hawa nafsu membara itu terlihat sangat menakutkan di mata Zahra. Apalagi senyum menyirangainya itu, membuatnya muak.
Zahra yang waspada di sisi tempat tidur, menarik kuat seprei tebal ranjang itu. Membalut tubuhnya dengan seprei berat itu. Walau akhirnya seprei itu malah membuatnya kesusahan dalam bergerak, menuju pintu. Ya dia akan melarikan diri. Walau dia terangsang. Kepanikannya membuatnya jadi lupa dengan hasrat birahi yang menggerogoti sekujur tubuhnya.
"Tolong..... Tolong....!" teriaknya dengan sekuat-kuatnya. Sesampainya di pintu kamar itu dengan terus saja menekan handle pintu kamar itu dengan frustasinya, karena tak kunjung terbuka. Dia pun tidak melihat kunci kamar itu di tempat slotnya. Pintu terkunci, dan dia tidak tahu dimana letak kuncinya, sepertinya Rara sudah mengunci kamar itu dari luar.
Zahra yang panik, hanya bisa berteriak minta tolong dan dengan sekuat tenaganya, kembali menekan handle pintu, berulang kali menggedor pintu itu, berharap ada orang yang mendengar teriakannya.
Terus berteriak minta tolong, dan sesekali melirik Ezra yang berjalan santai ke arahnya, dengan keadaan tubuh polos. Organ mengerikan tanpa tulang yang ada di bawah pusat pria itu. Sudah mengacung sempurna. Zahra semakin takut dibuatnya. Baru kali ini dia melihat barang antik jelek seperti itu. Ya, walau dia lagi hor*ny, dipenilaian dia saat ini, miliknya Ezra yang sudah on fire itu, sangat lah tidak menarik, tapi sukses buat dia penasaran juga.
__ADS_1
"Aakhhhkkk.... ." Dia merasa dirinya sangat aneh. Otak dan tubuhnya sangat bertentangan.
Walau otak dan tubuhnya bertentangan, dia masih berfikir walau dalam keadaan panik. Otaknya masih beranggapan bahwa Rara dan sang ayah telah mengatur siasat untuk menjebaknya. Anak jahat seperti Rara tentulah punya ayah yang jahat pula. Dia benci, kenapa sempat terkesima dengan pria menjijikkan di hadapannya yang berjalan dengan santai tapi, tatapan siap menerkam.
"Dyah....!" ucap Ezra dengan suara serak karena menahan nafsu yang membara. "Dyah... Kemarilah.... !" Ezra berjalan pelan dengan senyum manis menyeringai. "Aku tahu kamu juga suka samaku. Aku juga sama, kamu inginkan ini semuakan?" Memegang miliknya yang mengacung sempurna. Memamerkannya pada Zahra, yang geli dan takut melihat belut sawah itu. sehingga wanita itu menjerit hebat, melihat kelakuanku pria iblis dihadapannya.
Sungguh menjijikkan!
Pria yang lagi disulut birahi itu, terus saja memegang miliknya yang tegak dan besar itu. Sambil berjalan santai ke arah Zahra yang berusaha membuka pintu.
"Tolong... Buka ..!" ucapnya dengan frustasinya. Disaat dalam keadaan tertekan seperti saat ini. Pikiran tidak bisa berfungsi dengan baik lagi. Apa gunanya dia teriak-teriak agar ada orang yang membuka pintu itu. Sudah jelas ruangan itu kedap suara. Dan pintu terkunci dari luar. Karena, dia tidak melihat kunci kamar itu di box.
"Tolong... Tolong....!" Menjauh dari pintu yang tak berguna itu. Karena Ezra akan menerkamnya. Seprei tebal yang membalut tubuhnya, malah membuatnya kesusahan bergerak. Tapi, tidak mungkin dia melepas seprei itu.
"Dyah, tolong bantu saya." Ezra sudah berhasil menggapai tubuhnya Zahra. Memeluknya dari belakang. Pria yang lagi ho*rny itu, bahkan langsung memeras kuat buah kembar kenyal padat miliknya Zahra yang ditutupi selimut itu.
Zahra terus saja berontak, memberi perlawanan agar tangan Ezra bisa lepas dari tubuhnya. bisa merasakan remasan itu, dia merasa geli. Tapi, dia tidak boleh menuruti keinginan tubuhnya. Akal sehat harus tetap berjalan.
__ADS_1
Sekuat tenaga Zahra berusaha lepas dari dekapan Ezra. Tapi, usahanya sia-sia sudah. Pria yang punya tenaga berkali lipat darinya itu membopong tubuhnya di bahu pria yang kehilangan akal itu. Melempar kiat tubuh Zahra ke atas ranjang dan langsung menerkamnya.
Zahra terus berontak. Memukul kepala, punggung. Semua bagian tubuh Ezra yang bisa di jangkaunya. Tapi, usahanya itu tak memberi efek apapun pada Ezra yang berusaha keras melumpuhkan Zahra.
Zahra wanita yang kuat, dia biasa kerja keras. Dia yakin bisa melawan Ezra. Karena Ezra tidak berlaku kasar padanya. Pria itu tidak menganiayanya. Pria itu hanya ingin miliknya bisa masuk ke sarang yang ada di hadapannya.
Disaat pria itu hendak memposisikan miliknya. Dia sedikit lengah, Zahra pun menggunakan kesempatan itu. Menendang kuat miliknya Ezra.
"Aawww.... Ahkkkk...!' Ezra tersungkur ke belakang dan jungkir balik ke lantai. Zahra yang panik, mengambil botol minum yang ada di atas nakas yang bervolume dua liter. Menimpukkannya ke kepala Ezra berulang kali dengan kuat. Seketika Ezra terkapar, karena merasa kepalanya sangat sakit.
Zahra ketakutan melihat apa yang dilakukannya. Pria yang ditumpuknya itu sudah terlentang di lantai dalam keadaan polos. Dia ketakutan, sangat ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat. Air mata bercucuran deras
"Ma, Mama..!" ucapnya dengan sedih dan tubuh bergetar. Air mata terus saja bercucuran. Dia menutup mulutnya dengan jemarinya dengan gemetaran. Kalau pria yang ada dihadapannya meninggal bagaimana?
Zahra yang ketakutan itu, tidak mau tahu lagi keadaan Ezra. Dia pun berlari ke dalam kamar mandi. Dia akan memakai bajunya. Hawa nafs*unya yang memuncak tadi, kini menguap sudah. Karena ketakutannya saat ini. Melihat Ezra terbaring di lantai dalam keadaan tak sadar diri.
Wanita itu dengan cepat memakai pakaiannya. Membasuh wajahnya dengan terburu-buru dan dengan napas yang tersengal-sengal, seperti habis lari maraton saja. Karena wanita itu begitu ketakutannya.
__ADS_1
TBC.
Like, coment dan vote. Bantu promo in novel ini say.🙂❤️