AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Bersaing


__ADS_3

Krek..


Pintu terbuka, nampak sosok dokter tampan Alvian masuk dengan senyum mengembang, membawa tiga kantongan plastik


Hadeuhh...Mengganggu saja. Gumam Bimo dan berdecak kesal. Menatap jengah Dokter Alvian yang menghampiri mereka. Dia pasti jadi nyamuk malam ini.


Dokter Alvian meletakkan makanan yang dibawanya di atas nakas, tentu saja senyum mengembang terus saja menghiasi wajah tampan pria itu.


"Pak Bimo masih di sini?" Dokter Alvian menghampiri keduanya. Ikut berdiri di sisi bed.


"Iya pak!" jawab Bimo malas. Kenapa sih Dokter ini ke ruangan Anin terus. Bimo memperhatikan lekat Dokter Alvian yang kini menyiapkan makanan. Bahkan pria itu menggeser meja yang ada di depan sofa ke dekat bed Anin. Agar mereka bertiga bisa makan bersama.


"Aku belikan semua makanan kesukaanmu loh dek!"


Preeet....


Bimo mau muntah mendengar Dokter Alvian yang mengatakan adek kepada Anin.


"Ada lobster panggang bertabur bumbu, aku gak tahu apa saja bumbu nya ini. Pokoknya enak. Ini juga ada daging asap. Terus nugget, ada bakwan jagung juga, ada sayur capcai." Semua yang disebutkan Dokter Alvian sudah mendarat di atas piring yang disodorkan pada Anin. Pria itu bicara seperti pedagang saja.


Tentu saja Anin bengong melihat makanan yang bertumpuk di piring yang ada di hadapannya. Porsi jumbo.


"Dokter gak lupa kan, kalau Dek Anin baru operasi, yang dioperasi itu Sakurai pencernaannya, usus nya dok! Koq di kasih makan banyak gitu?" ujar Bimo, mengambil alih cepat, piring yang masih di tangan Dokter Alvian. "Ini baru porsi untukku dok!" Bimo malah langsung menyantapnya beberapa sendok. Kemudian pria itu menyimpan makanannya di atas nakas.


Dokter Alvian dan Anin bengong dibuat kelakuan Bimo yang terlihat tak ada akhlak. Bisa-bisa pria itu, mengambil makanan orang.


Bimo kembali menyiapkan makanan untuk Anin. Saat ini Dokter Alvian Dan Anin masih terpelongok melihat sikap Bimo yang seperti tak tahu malu itu.


"Dek Anin, makan ini saja." Bimo meletakkan satu potong daging sapi panggang dilumuri keju. Pria itu menyodorkan piring makanan yang disiapkan nya pada Anin, dengan ragu Anin meraihnya.


Saat ini Anin sedang bingung dan heran. Kenapa dua pria di hadapannya seperti tebar pesona dan cari perhatian?


"Makanan tadi juga aku mau!" ujar Anin, melirik piring berisi makanan yang disiapkan Dokter Alvian, dan sudah di makan si Bimo.

__ADS_1


"Kamu pak Bimo gak punya perasaan , menyabotase makanan orang." Ujar Alvian dengan kesal. Dari sikap Bimo, dia bisa menyimpulkan bahwa Bimo tidak suka dengan kehadirannya.


"Oouuww... Kalau dek Anin mau, ini!" Bimo kembali menyodorkan makanan yang sudah dilahapnya. "Kita sepiring berdua." Ujarnya dengan penuh semangat.


"Siapa juga yang mau bekas kamu pak Bimo." Cibir Alvian, mulai menyantap makanannya sendiri. Sepertinya dia tak bisa kasih perhatian pada Anin saat ini. Karena ada perusuh yaitu Bimo.


"Iya, aku makan ini saja." Ucap Anin pelan.


Akhirnya ketiganya pun makan dalam hening. Walau ketiganya saat ini, sedang berperang dalam hati masing-masing


Anin wanita dewasa, dia bisa menebak apa maksud kedua pria yang menemaninya kini. Pasti kedua pria ini ada maunya.


Sedangkan Bimo dan Alvian sama-sama merasa punya saingan.


Kejadian lucu dan memalukan pun terjadi disaat Anin tersedak. Keduanya malah berebut menyodorkan air minum pada Anin. Yang menyebabkan gelas di tangannya Bimo terjatuh. Karena mereka berdua sama-sama menyodorkan gelas berisi air ke mulut Anindiya.


Wanita yang terkejut dengan kelakuan dua pria itu, tanpa sadar menepis gelas yang ada di hadapannya. Dan gelas yang dipegang Bimo terjatuh, tepat di paha Anin, yang membuat pakaian wanita itu basah.


"Oowww ..!" keluh wanita itu, mana air yang tumpah itu hangat. Makanya wanita itu terkejut dibuatnya.


Anin terlihat waspada.


"Maaf..!" ucap keduanya berbarengan. Alvian dan Bimo pun akhirnya memilih duduk kembali di kursinya. Dan Anin terlihat melap pakaiannya yang basah.


"Ayo, mas bantu ke kamar mandi?" tawar Alvian, tak mungkin kan Anin, tetap memakai Pakaian yang basah itu. Bahkan kini airnya sudah merembes membasahi dalam an wanita itu.


"Saya bisa sendiri Mas!" Anin turun dari ranjang dengan hati-hati. Lagi-lagi keduanya berebut ingin memapah wanita itu. Padahal Anin sudah menolak tawaran bantuan Alvian. Dan Bimo malah ingin membantu Anin, sehingga Alvian tak mau kalah.


Anin tercengang menatap keduanya secara bergantian. Ada apa dengan kedua pria ini? kedua tangan Anin sudah dipegang oleh kedua pria itu.


"Kalian kenapa jadi berebut begini?" tanya Anin heran dan mulai kesal, dengan tingkah kedua pria itu. Anin pun berontak, agar kedua tangan nya dilepas. Dengan berat hati Bimo dan Alvian melepas tangan Anin.


Huufftt...

__ADS_1


Wanita itu menghela napas berat. Dia jadi merasa tidak nyaman, karena ulah kedua pria ini.


Kreekkk...


Perawat masuk, Anin akhirnya merasa legah. Wanita itu pun meminta bantuan pada perawat wanita itu, agar membantu nya berganti pakaian.


Saat Anin berada di dalam kamar mandi, keduanya saling melirik dengan tatapan tidak sukanya. Dan keduanya pun mengakhiri acara makannya. Rasanya tak ada selerah lagi.


"Eeemmm... Langsung saja ni ya dok. Apa Dokter, ada niat mau deketin Adek Anin?" Tanya Bimo dengan PD nya, yang membuat Dokter Alvian tercengang dengan ucapan pria itu.


Dokter Alvian menyirik Bimo dengan sinisnya. Dia kesal juga lihat si Bimo, yang sok ikut campur itu. Apa maksudnya dia menanyakan itu.


"Pak Bimo kepo banget orangnya. Gak usah urusi orang lain." Jawab Alvian datar. Meraih tisu dan melap bibirnya.


"Dek Anin itu urusan saya, dia itu nyonya besar di rumah tuan saya "


"Itu kemarin, hari ini dan seterusnya kan tidak lagi." Potong Alvian cepat. "Aku sudah tahu, apa yang terjadi dalam keluarga bos mu itu. Gak usah lagi lah kamu sok-sok ingin mengawal dan bertanggung jawab." Jelas Dokter Alvian lagi.


"Ooohh tidak bisa, walau hubungan Bos dengan Dek Anin berakhir. Maka akan berlanjut ke hubungan baru, yaitu hubungan mertua dan menantu. Jadi, sudah tugas saya mengawasi Dek Anin." Jelas Bimo, memberi batasan pada Alvian.


Hahahaha.....


.Alvian tertawa dengan lucunya. "Kamu suka Anin, ayo bersaing dengan sehat!" tantang Alvian dengan senyum devilnya. Kedua Alis mata naik turun memanas-manasi Bimo.


Ya Bimo tentulah tak ada apa-apanya dibandingkan Dokter Alvian.


"Siapa takut!" tantang Bimo dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Takut..! apa yang kalian takuti?" Ujar Anin di belakang mereka yang membuat keduanya terlonjak kaget.


TBC


Tetap dukung

__ADS_1


Like, coment dan vote.


__ADS_2