
Zahra melewati lorong sekolah menuju kelasnya dengan bingung dan terheran-heran. Karena semua mata Kini sedang menilik tajam dan menampilkan ekspresi wajah benci dan jijik padanya. Para siswa/i berbisik-bisik satu sama lain, dengan tatapan penuh penghakiman.
"Kalian kenapa sih? kenapa menatapku seperti itu?" Zahra yang penasaran, akhirnya bertanya juga pada teman sekolahnya itu.
Siswi yang ditanya, malah menaikkan bibirnya sebelah kiri, dan meludah di hadapannya.
"Dasar cewek murahan loe Ra. Nampaknya aja loe baik dan polos gitu. Ternyata cewek B.O." Ketus teman satu kelasnya Zahra. Yaitu Dina teman karibnya Rara.
"Cuiihhh..." Zahra yang tidak terima di rendahkan. Menarik kerah bajunya cewek yang bernama Dina itu.
"Apa maksud kamu Dina?" Dina berontak, agar kerah bajunya dilepas oleh Zahra.
"Dasar cewek binal kamu." Menghentakkan kuat lengan Zahra. Sehingga tangannya Zahra kini tergantung lemah.
Suasana hatinya langsung memburuk, mendengar ujaran kebencian dari mulut Dina itu. Apalagi semua mata menatapnya penuh kebencian.
"Dina... Tunggu jelasin ke gua. Ada apa ini?" Menahan lengan Dina yang hendak masuk ke kelas.
"Makanya punya uang haram, beli ponsel yang mahal. Agar kamu tahu apa yang terjadi " Menghentakkan tangan Zahra dengan keras.
"Mawar...!" Zahra berlari kecil, menghampiri Mawar yang berjalan, melewatinya begitu saja. Mawar adalah teman akrabnya di kelas. Zahra banyak teman, tapi Mawar lah yang paling dekat pada nya.
__ADS_1
"Ada apa ini?" Zahra bingung dan sedih. Apalagi saat ini, para siswi masih menatapnya sinis.
Bel pun berbunyi. Semua siswa berhamburan menuju lapangan untuk apel pagi. Lagi-lagi semua mata melirik-liriknya dengan tatapan sinis.
"Ya Allah, apa yang terjadi " Zahra bermonolog, bingung serta penasaran dengan apa yang terjadi pagi ini. Bahkan mawar sang teman akrab, sikapnya berubah jadi dingin dan cuek padanya.
Zahra pun akhirnya berlari kecil menuju lapangan untuk ikut apel pagi, dengan menundukkan pandangan. Rasanya dunia sedang menghukumnya saat ini. Atas kejahatan yang tidak diketahuinya. Dia tidak sanggup lagi menatap sekeliling. Karena, tatapan para siswa padanya penuh kebencian.
Apel pagi masih berlangsung. Saat guru piket memberi pengarahan. Zahra mencari-cari sosok Ferdy dibarisan. Tapi, dia tidak melihat pria yang disukainya di barisan kelasnya. Mata indah wanita itu pun bergerak, ke arah para siswa yang terlambat. Ternyata Ferdy masuk dalam barisan siswa terlambat.
Setelah selesai apel pagi. Para siswa/i berhambur memasuki ruang kelas masing-masing. Dan tetap banyak mata yang menyorotnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Zahra, kamu harus ikut ibu ke ruang BK." Sang wali kelas, langsung memanggil Zahra. Padahal dia baru saja duduk di bangkunya. Dan pelajaran akan segera dimulai.
Sesampainya di ruang BK. Tentu saja, Zahra diintrogasi oleh Pak BK dan wali kelas.
"Pak, Bu, yang ibu katakan itu semua tidak benar. Aku tidak melakukan hal seperti itu Pak, Bu." Zahra sudah tidak bisa menahan emosi nya lagi. Air mata pun bercucuran dengan derasnya membasahi pipi pucatnya saat ini. Dia sungguh terpukul dengan fitnah itu. Dia pun membela dirinya.
"Zahra, kamu terpaksa kami keluarkan dari sekolah ini. Kami tidak mau punya siswa yang tidak bermoral seperti kamu. Sekolah ini adalah sekolah Model untuk kabupaten kita. Kelakuanmu, telah mencoreng citra sekolah kita." Pak Naga selaku guru BK, terlihat kesal dan kecewa pada Zahra. Masak siswa yang terkenal baik, sopan, pintar itu dan berprestasi itu. Malah yang menghancurkan nama baik sekolah. Tenyata kelakuan Zahra, sangat buruk dan menjijikkan.
"Pak, Bu. Aku tidak melakukan apapun. Aku dijebak pak, bu." Kini Zahra sudah bersimpuh di hadapan Pak Naga, dia yang panik dan bingung itu, tidak tahu harus melakukan apapun lagi. Hanya merendah, dan memohon kearifan yang bisa dilakukannya saat ini
__ADS_1
"Bukti sudah ada Zahra. Coba lihat ini." Bu Ros sebagai wali kelas, meletakkan ponselnya di atas meja. Zahra pun bangkit dengan lemahnya. Berdiri dengan derai air mata yang tak kunjung berhenti keluar dari matanya yang kini sudah sembab. Dadanya terasa sesak dan nyeri, kenapa masalahnya jadi serius begini?
"Ini kamu tonton sendiri. Ibu saja gak sanggup lihat video itu Zahra." Ibu Rose, memijat keningnya yang terasa panas dan sakit, padahal masih pagi. Sungguh dia sampai spot jantung melihat video syur itu. Di mana video itu, menampilkan Zahra yang terlihat menikmati sentuhan dari Ezra dibagian inti bawahnya. Ya, saat itu, Zahra sempat terlena dan menikmati sentuhan Ezra. Karena obat perangsang, lagi bekerja optimal.
"Bu, aku dijebak dan difitnah." Zahra tidak mau melihat videonya. Ponsel itu tetap tergeletak di atas meja itu. Air mata terus saja jatuh dengan deras, membasahi pipinya.
"Di video itu, terlihat kamu, tidak seperti dijebak. Ada banyak cara untuk mendapatkan uang Zahra. Tak seharusnya kamu menjual diri kamu." Ibu Rose, yang pusing itu. Meneguk habis air minum dalam gelas yang ada di hadapannya. Dia juga berulang kali, mengusap dadanya yang tak hentinya berdebar. Karena syok melihat adegan Zahra dengan pria di video itu.
Zahra pun terdiam, dengan derai air mata yang tak kunjung berhenti. Jantung nya berdebar cepat dan tak karuan, karena merasa takut. Hidupnya telah hancur. Rara begitu tega padanya. Hanya karena dia tidak mau jadi kacungnya si Rara. Dia jadi musuh bebuyutannya. Ditambah, Ferdy yang suka sama Zahra. Juga disukai oleh Rara. Dan Ferdy menolak cinta Rara, gara-gara si Zahra.
"Lihat, lihat Zahra. Astaghfirullah.... Videomu telah tersebar Zahra. Citra sekolah kita ini akan buruk." Bu Rose terlihat kesal dengan Zahra, menunjukkan video yang diputar di ponsel itu, kepada Zahra dengan ber- api-api.
Zahra sungguh terkejut melihat video syur nya itu. Ya Benar di video pendek itu, dia terlihat seperti menikmati permainan. Apalagi, dikuatkan dengan foto kolase dirinya yang juga terlihat Hot.
"Bu, aku dijebak. Itu video terpotong bu." Bicara lemah, terduduk lunglai di atas lantai. Hancur sudah masa depannya. Karena Rara dan sang ayah. Teganya sagu keluarga itu menghancurkan hidupnya.
"Mau dijebak atau tidak. Videomu itu, sudah merusak citra sekolah. Mulai Hari ini, kamu kami DO." Zahra melotot kan kedua bola matanya. Dia syok dengan ucapan guru BK, yaitu pak Sinaga.
"Pak, Bu. Izinkan saya untuk membuktikan. Kalau saya tidak salah." Memohon dengan meraih tangan sang wali kelas dengan berurai air mata. Berharap, dia diberi kesempatan untuk membersihkan nama baiknya.
TBC.
__ADS_1
Adakah yang bisa menebak. Kenapa Zahra bisa menikah dengan Ayah tirinya?