
"Oohh... iya ya!" Ezra menepuk jidatnya. Dia menyeret kakinya ke meja. Meraih ponselnya yang tak ada hentinya berdering. Dan saat dia melihat nama yang menelpon. Ezra pun mematung. Raut wajah yang sumringah, kini tegang sudah.
Ezra memilih mengangkat telepon itu di balkon ruang rawat inap itu. Mata Zahra penuh selidik memperhatikan sang suami yang terlihat sedang serius menerima panggilan itu. Cukup lama, suaminya itu bertelepon. Ada sepuluh menit. Saat sang suami masuk lagi ke dalam. Zahra pura-pura tertidur.
Ezra meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Dia menghampiri sang istri yang pura-pura tidur. Mengecup kening Zahra dan wanita itu pun membuka matanya dan tersenyum lebar. Suaminya itu kembali bersikap hangat, padahal tadi saat bertelepon, raut wajah sang suami kusut. Zahra masih saja tersenyum manis pada sang suami. Dia tak mau membebani pikiran sang suami. Dengan dirinya dijadikan istri simpanan, sudah jelas menambah beban mental suaminya itu.
"Mau makan apa siang ini istriku?" menjepit gemes hidung mancungnya Zahra dengan jempol dan telunjuknya. Auto Zahra, menjauh kan tangan kekar sang suami dari hidungnya.
"Makan soup daging." Jawab Zahra dengan cerianya. Ezra dengan cepat menempelkan punggung tangannya di dahi sang istri.
"Kamu gak demam lagi sayang?" mengecek semua semua suhu tubuh sang istri. Termasuk ketiak sang istri. Zahra dibuat kesal sekaligus heran dengan sikap nya Ezra. Koq suaminya itu lebay sekali. Padahal sebelumnya terlihat cool.
"Waahhh... Itu Dokter sialan. Kamu dikasih obat dosis tinggi. Bisa bahaya untuk organ tubuhmu sayang. Bisa-bisa kamu jadi ketergantungan nanti." Ezra terlihat sangat khawatir.
Zahra menggeleng Pelan, heran dengan sang suami. Tadi pagi, dia minta obat paling bagus. Tiba reaksinya cepat dia gak terima.
"Emang Abang gak mau lihat adek cepat sembuh."
"Ya maulah sayang. Biar kita cepat pulang."
Dert
Dert
Dert
Suara ponsel kembali bergetar di atas meja. Ezra dibuat terkejut. Wajahnya langsung pucat. Zahra menilik sang suami. Dia tahu, apa yang ditakutkan suaminya itu. Pasti yang menelpon istri kedua suaminya itu. Zahra kan istri ketiga sekarang.
"Angkat bang, dari tadi bunyi terus tuh." Ucap Zahra tersenyum mengejek. Ezra melirik sang istri dengan tatapan wajah datarnya.
__ADS_1
"Itu pasti istri bapak kan yang nelpon? angkat saja, aku gak apa-apa koq. Wajar sih istri sah mengkhawatirkan sang suami. Mana sudah dua malam gak pulang. Kalau aku jadi dia, aku juga akan nelpon tiap detik." Ucap Zahra lembut, tapi matanya berkaca-kaca. Dia sedih, kenapa nasib nya jadi istri simpanan.
"Sana angkat pak!" Ezra gak suka, Zahra memanggilnya bapak.
Pria itu pun akhirnya mengangkat telepon itu, dan memang si Anin yang menelpon.
"Assalamualaikum.....Halo.,.!"
"Hiks..... Hiks.... Hiks...." Wanita itu menangis sedih.
"Ya dek, Abang akan usahakan pulang. Seperti janji Abang tadi. Kalau gak besok, ya Lusa, dan kita akan ke kampung." Ezra mengira Anin akan membahas keinginannya pulang ke kampung. Pria itu langsung memberikan janji, padi sang istri tidak ingin membahas itu.
"Aa--ku, aku butuh teman cerita. Kenapa setelah menikah dengan Abang, hidupku jadi menderita." Ezra merasa sedih dan sangat bersalah pada Anin. Tapi, mau gimana lagi, dia terlanjur kepincut pada Zahra saat ini. Dia juga akan bicarakan semuanya suatu saat nanti pada Anin. Dan berharap Anin mau menerima keberadaan Zahra nantinya.
"Adek merasa ada yang tak beres. Adek merasa Abang menyembunyikan sesuatu dariku " Anin masih menangis. Bagaimana pun feeling seorang wanita itu kuat.
Zahra cemberut mendengar ucapan Ezra kepada istrinya yang lain. Pandai juga suaminya itu bersilat lidah. Bilang sibuklah, ya iyalah sibuk denganku. Minta terus dia mah.
Kalau sama istrinya itu, pak tua nafsuan juga gak sih? Iihhh... Enak banget jadi pak tua ya, bosan samaku, nanti dia pasti minta sama istrinya itu. Ya nasib....! Zahra membatin, kesal sendiri dengan dirinya. Koq dia jadi cemburu.
Ezra melirik Zahra dan tersenyum lebar pada sang istri. Sebelum pria itu menjauh lagi dari Zahra, saat Ezra masih bertelepon.
"Takut dikuping, eehh si pak tua malah menjauh." Ucap Zahra pelan, memilih tidak memusingkan apa yang dibicarakan sang suami dengan istrinya itu. Dia tak tamu punya penyakit hati. Sudah resiko jadi istri simpanan.
Esra kembali menghampiri Zahra. "Sudah selesai nelponnya bang?"
"Lah kamu lihat sendiri gimana dek?'
"Sudah " Jawab Zahra cepat.
__ADS_1
"Ya sudah koq nanya lagi sih istriku? cemburu niii ye...?" ledek Ezra, yang membuat Zahra mengangkat bibirnya sebelah. Koq suaminya itu, tingkahnya seperti AbG
"Iiiihh.. apaan sih." Zahra menjauhkan tangan sang suami, dari kepalanya. Suaminya itu terus saja memainkan rambut Zahra.
"Kita pulang saja hari ini ya sayang?"
Zahra yang memang ingin pulang dan ingin bertemu dengan sang nenek, sangat senang pulangnya dipercepat. Dia memang sudah merasa sehat. Dia tidak demam lagi, badannya yang terasa remuk redam pun hilang sudah. Kakinya yang terluka juga tidak sakit lagi. Walau masih sedikit bengkak dan kemerahan. Bagian intinya juga gak nyeri. Bahkan saat ini Zahra ingin melakukannya lagi dengan suaminya itu. Atau ingin bermesraan, entahlah rasa penasaran Zahra masih tinggi. Maklum anak baru gede.
"Iya Bang " Ucapnya lembut. Ezra yang dari tadi memegang tangan nya. Kini menciumi tangan itu dengan gemes.
"Adel kan sudah sembuh, sebaiknya Abang pulang ke rumah Abang saja. Kasihan dia pak, dari tadi nelpon bapak terus."
"Bapak, bapak lagi. Gak mau dipanggil itu " Ezra merengut. Sejak kapan dia menikah dengan ibunya Zahra. Kenapa manggil bapak terus.
"Sekali lagi, Abang dengar. Adek manggil Abang ini dengan sebutan pak tua. Abang pastikan, selama satu bulan, adek jalannya ngangkang."
"Hihihi.... Jangan ngimpi, bisa - bisa, pak tu.... Eehhh Abang yang gak bisa jalan ku buat " Zahra tak mau kalah. Ezra pun akhirnya meraih kepala Zahra, mendekat wajah sang istri ke ketiaknya.
"Iihhh bau ." Zahra protes, ekspresi wajahnya sangat serius. Ezra yang tak percaya akhirnya mencium ketiak sendiri.
"Wangi gini, kalau adek baru bau acem!" Ezra menggoda sang istri.
"Enak saja, kalau beneran bau, kenapa Abang betah memainkannya." Zahra sudah mulai akrab dengan sang suami. Rasa malu dan enggan sedikit berkurang. Sejak mereka melakukan manta -mantap itu.
"Ya bau nya itu yang buat ketagihan. Sudah aakkh sayang, jangan bahas itu lagi. Gak kasihan kamu dek lihat punya Abang ini. Ezra dengan cepat meraih tangan sang istri. Menempelkannya di juniornya yang tegak dan keras itu.
.TBC
Like coment vote say
__ADS_1