AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Aku ingin bertemu ibu


__ADS_3

"Aku mau ke rumah sakit sekarang. Aku gak mau jadi istri simpanan selamanya. Aku ingin bertemu dengan istri pria itu." Ucap Zahra dingin, yang membuat Bimo syok mendengar nya.


"Ka--mu bicara apa sih Ra?" Bimo gelagapan, gak mungkin juga dia mengizinkan Zahra ke rumah sakit. Bisa hancur masa depannya, kena depak dari Assegaf Gruop.


"Aku sudah tahu semuanya. Dan aku tak ingin membahas ini denganmu. Karena ini semua tak ada urusannya denganmu."


Ucapan Zahra kembali membuat Bimo terdiam, kalimat yang keluar dari mulut wanita yang duduk di sebelahnya pedes pool.


Bimo membuang pandangannya, mencari alasan yang tepat agar Zahra tidak memaksanya lagi.


"Kalian iblis...! orang kaya memang suka sekali menghancurkan hidup orang miskin. Aku benci kalian semua...!" teriak Zahra melemparkan botol minum pada Bimo dan mengenai pelipis pria yang sudah dianggapnya saudara itu. Bimo memegangi pelipisnya, yang seperti nya sudah benjol. Rasanya sakit sekali.


"Aku ingin ke rumah sakit sekarang!" teriaknya tak jelas, mencak-mencak di dalam mobil itu. Sifat kekanak-kanakan nya keluar sudah. Dia gak tahu lagi, gimana cara mengekspresikan rasa sakit yang dirasakannya saat ini.


"Aku ingin bertemu dengan ibuku Ibot...!" meraih kerah bajunya Bimo dengan derai air mata yang siap menenggelamkan mereka di dalam mobil itu. Tatapan matanya Zahra penuh dengan kesedihan dan keputusasaan. Dia jadi kasihan melihat keadaan Zahra saat ini.


"Aku sudah tahu semaunya. Kenapa kamu membiarkan dosa ini ibot." Menangis sedih, tangan yang memegang kerah bajunya Bimo, kini lepas sudah. Zahra menunduk dengan isakan tangis menyayat hati di hadapan Bimo.


"Ra, dari mana kamu tahu?" ujar Bimo lembut, meraih bahunya Zahra, membantu wanita itu duduk kembali dengan tenang.


"Kamu gak perlu tahu, dari mana aku tahu kebusukan kalian semua? yang ku inginkan sekarang, hanyalah bertemu dengan ibu Ibot. Aku kangen ibu, kalian apakan ibuku, kenapa jadi masuk rumah sakit?" Mendorong kuat tubuh Bimo, yang dari tadi berusaha menenangkannya.


"Kita bahas di rumah. Kalau kamu sudah tenang. Aku akan ceritakan semuanya dan kita ke rumah sakit." Bujuk Bimo, pria itu ikut larut dalam kesedihan Zahra.


"Aku sudah tahu semua dan aku tak perlu penjelasan lagi. Aku hanya ingin bertemu dengan ibu." Zahra menatap Bimo dengan memelas kali ini. Dadanya masih berdebar-debar, karena kenyataannya ini begitu menyakitkan.


"Kamu harus tenang Ra. Gak mungkin kamu bertemu dengan beliau dengan keadaan kacau seperti ini. Apa kamu ingin melihatnya sedih?" ujar Bimo tegas, yang membuat Zahra terdiam.


"Kita bahas di rumah, kalau kamu sudah tenang. Kita ke rumah sakit. Dan nyonya besar, batu sampai di kota ini. Kemarin tuan dan nyonya pulang ke kampung, kondisi nya nyonya drop dan akhirnya masuk rumah sakit. Dan harus dioperasi di sana. Dan hari ini, nyonya akan dipindahkan ke rumah sakit di kota ini." Penjelasan panjang lebarnya Bimo, semakin membuat Zahra penasaran.

__ADS_1


"Ibu sakit apa?" tanyanya dengan berlinang air mata. Dia teringat dengan kebersamaan nya dengan Ezra di Berastagi selama lebih dari seminggu. Dia benci moment itu. Tak seharusnya dia memberikan dirinya pada pak tua mesum itu.


"Nyonya kena penyakit radang usus."


Hiks..hiks.. hiks.." Maa... Ma...!" ucapnya dengan terisak, dia memukuli dirinya sendiri. Membenci dirinya, apalagi saat ini kejadian panas nya dengan Ezra terus saja berputar di otaknya.


Zahra merasa sebagai wanita ja --lang. Dia benci dirinya.


"Gua...Hua.... Hua.... Ma... Umak....!" Zahra pun pingsan.


"Ra, Zahra...!" Bimo meraih Zahra yang terhuyung ke depan. Saat Zahra pingsan, pak supir mendadak ngerem.


"Ra . Ra...!" Bimo menepuk pelan wajah Zahra agar tersadar. Tapi, Zahra tak memberikan respon. Dia mencek denyut nadi Wanita itu dan rongga hidungnya. Dia sempat berpikir Zahra mati, siapa tahu Zahra kena serangan jantung. Tentu saja Bimo dibuat panik dan deg deg an juga. Masalah besar telah datang.


"Cepat pak!" titah Bimo pada supir. Jalanan macet pool.


Karena pukul sembilan pagi, Ezra dan Anin sudah bertolak dari kampung menuju kota Medan. Naik pesawat memerlukan waktu sekitar lima puluh menit. Menyambung naik mobil dari landasan ke rumah sakit. Memakan' waktu tiga puluh menit, kalau tidak macet. Tentu di rumah sakit banyak administrasi yang harus dipenuhi, sampai Anin dapat ruangan. Dan tak mungkin Ezra langsung meninggalkan Anin dan pulang ke rumah. Walau dia sudah sangat rindu Zahra.


"Ini lagi dijalan mau pulang ke rumah." Jawab Ezra dengan tersenyum lebar. Pria itu bahagia sekali, karena akan bertemu dengan istri yang sangat dirindukannya. Dia sudah dua malam tak seranjang dengan istri hot nya itu.


"Oohh iya bos, kami juga lagi di jalan." Lapor Bimo.


"Kalian dari mana? itu, itu Zahra kan?" di layar terlihat Zahra tertidur di jok yang sudah di miringkan. Ezra senang, bisa melihat wajah istrinya, walau tidak jelas. Karena fokus kamera pada Bimo.


"Iya bos." Jawab Bimo.


"Baiklah sampai bertemu di rumah." Ezra mematikan panggilan video itu dengan wajah yang kesemsem. Akhirnya dia akan buka puasa.


Bimo menghela napas berat. Dia hanya bisa berdoa, agar masalah ini menemukan solusi yang baik untuk semuanya. Melihat kemarahan dari Zahra, seperti nya wanita itu tak mempedulikan Ezra lagi.

__ADS_1


"Bos.... kasihan sekali nasibmu!" lirih Bimo, turut prihatin dengan sang bos, yang tak pernah mulus dengan asmara. Mana masalah Rara juga gak selesai. Anak itu gak berubah selama direhabilitasi. Bimo yang diberi tanggung jawab, ikut pusing memikirkan nasib Rara.


Kemarin saat dia menjenguk Rara. Gadis itu minta dikeluarkan. Dia akan berubah, tapi dengan syarat, harus dinikahkan dengan seorang pria yang dicintainya. Bimo tanya siapa pria itu, Rara malah tertawa seperti orang gila. Ya obat-obat terlarang memang bis buat otak rusak. Ini nih contohnya si Rara.


Mobil yang ditumpangi Bimo sudah sampai di halaman rumahnya Ezra. Berhenti tepat di depan pintu masuk. Dan ternyata Ezra sudah menunggu istrinya itu di luar. Dia yang duluan sampai rumah tak sabar untuk menyambut Zahra. Berharap dapat pelukan hangat dan ciuman panas saat bertemu. Karena, semalam istrinya itu menantangnya. Kalau kangen ya datanglah. Dan dia kini sudah datang.


"Kenapa dengan Zahra Bim?" tanya Ezra bingung. Melihat sang istri yang masih seperti tertidur di jok mobil itu.


Bimo terdiam, nampak berusaha mengangkat Zahra yang terbaring di jok yang sudah di stel itu.


"Biar aku saja." Menepis tangan Bimo dari tubuh sang istri. Dia kesal juga dicueki, ditanya malah diam. Dan berani sekali menyentuh istrinya itu.


Bimo yang takut salah bicara, malah salah bersikap yang membuat Ezra salah paham.


Kini Zahra sudah berada dalam gendongan Ezra. Wanita itu belum sadar juga. Ezra yang sangat merindukan Zahra, menatap terus istrinya itu sambil berjalan. Dia melihat wajah istrinya sembab. Dia beranggapan istrinya itu sedih, karena merindukannya.


"Bukan kamu saja yang rindu sayang. Hubby juga!" Bimo yang mengekori Ezra, merinding mendengar ucapan sang bos. Bosnya itu gak tahu, kiamat akan datang di rumah itu.


"Ngapain ikuti saya? gak mau masuk ke kamar ini juga kan?" tanya Ezra bingung. Kenapa pula asistennya itu dari tadi mengekor. Dia kan ingin bermesraan dengan Zahra.


"Itu bos, itu!" Bimo mengekori bos nya itu, karena ingin membahas masalah. Zahra sudah tahu semuanya.


"Kalau ada yang ingin kamu bicarakan nanti saja. Saat ini saya tak ingin diganggu." Menutup pintu dengan satu kakinya, sebelum Bimo masuk ke kamar itu.


Bimo menggaruk kepalanya yang sakit itu, pening sudah dia saat ini.


"Terserah bos deh, selamat menikmati pertempuran lah!" ucapnya pelan dan beranjak dari tempat itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2