AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Terbongkar


__ADS_3

Zahra terdiam mendengar penjelasan sang suami yang panjang lebar itu, untuk saat ini dia tak yakin, kalau dia hamil. Dia belum mau hamil. Tak pernah ada diangan-angannya jadi ibu muda. Dia yang dari kecil hidup susah, selalu bercita-cita jadi orang sukses. Kalau dia hamil, maka dia tak mungkin lagi bisa mengejar impiannya.


Huuffftt...


Zahra menghela napas berat. Ya begitulah hidup, apa yang kita inginkan tak selalu jadi kenyataan. Selalu yang terjadi tak sesuai ekspektasi.


"Ayo sayang, kita periksakan kandunganmu!" Ezra yang tak sabar itu, menarik lembut tangan sang istri. Dia tak sabar lagi untuk mengetahui, apa benar istrinya itu hamil. Perlu diperiksakan ke dokter, agar tidak menebak-nebak.


"Iihh.... Bapak, aku itu belum tentu hamil. Lagian aku malas ke luar. Aku capek, badanku sakit semua, perutku lapar. Bukannya diajak makan, malah diajak periksa kandungan." Pungkas Zahra berjalan lemas ke arah ranjang. Dia yang sudah rapi dengan piyama warna mouve bahan satin silk itu, mendudukkan bokongnya di tepi ranjang. Melirik Ezra yang menghampirinya yang mengenakan kaos polo warna senada dengan bajunya, serta celana pendek bahan cotton combat.


Zahra memperhatikan dirinya dan penampilan sang suami. Mereka memakai baju seperti mau tidur saja.


"Makanan sudah ada dari tadi sayang, di sana." Ezra menunjuk ke arah balkon. Zahra mengikuti arah gerakan tangan suaminya itu. Zahra tersenyum tipis. Dia senang, akhirnya dia bisa makan juga. Dia memang sudah sangat kelaparan. Mukai dari tadi malam dia tak makan.


"Eeehh..... Pak, pak tua mau apa? iihhh.. lepas...!" Zahra tentu saja terkaget-kaget disaat Ezra sudah mengangkat tubuhnya ala bridal style.


"Sekali lagi saya dengar sebutan pak tua, keluar dari mulut ini, jangan menyesal nantinya atas apa hukuman yang akan suamimu berikan." Ezra sudah mendudukkan bokong Zahra di kursi. Zahra terdiam mendengar ancaman suaminya itu. Iya, dia tahu dia tak sopan. Tapi, kan kelakuan suaminya itu buat gemas. Mesti kali dia digendong. Dia masih bisa jalan.


"Hubby gak ingin kamu capek, tadi katanya capek. Makanya Hubby gendong." Ujar Ezra memenuhi piring Zahra dengan lauk. Ada ayam goreng, ikan, telur, udang.


Kening Zahra merengut melihat banyaknya makan di piringnya.


"Aku tu sadar, aku tu orang miskin jarang makan enak. Tapi, gak gini juga kali Pa, eehh Hubby..!" Zahra cengir, dia hampir saja salah sebut lagi. Tatapan Ezra membuatnya tersadar cepat. Suka sekali sekarang suaminya itu melotot.


"Kamu lagi hamil, harus banyak makan, terutama yang mengandung protein." Ujar Ezra, kini menyodorkan satu suapan nasi kepada istri kecilnya itu.


"Pak, Eehh..Eeh... Hubby aku bisa makan sendiri." Zahra meraih sendok dari tangannya Ezra. Dia masih merasa enggan diperlakukan romantis seperti itu. Masak makan disuapi segala. Kalau ayahnya tadi yang suapi, dia pasti akan sangat senang. Ini si pak tua yang nyiapin, rasanya aneh saja, dan sangat mendebarkan.

__ADS_1


"Makannya pelan-pelan sayang, dikunyah dengan benar. Agar pencernaannya gak bermasalah." Ujar Ezra, melap saos yang ada di sudut kiri bibir istrinya itu. Dan menjilat saos sisanya Zahra.


Iihhhh... Zahra bergidik geli. Saos yang menempel di bibirnya diembat juga.


Tentu saja Zahra dibuat tercengang dengan perhatian Ezra yang super extra perhatian itu. Wanita itu jadi takut dibuatnya. Makan saja diperhatikan betul. Awas saja ya, kalau sikapnya hanya manis diawal.


"Laki-laki mah begitu, diawal-awal menggebu-gebu, perhatiannya melebihi batas ambang, lebay. Istri yang bisa jalan sendiri di gendong lah. Yang bisa makan sendiri disuapi lah. Nanti sudah bosan, istrinya nyemplung ke got, gak ditolongin. Istrinya kesandung batu, dimarahin. Dibilang lah gak punya mata. Gak lihat ada batu besar." Ujar Zahra sinis, melirik Ezra yang tersenyum tipis menanggapi ucapannya.


"Eehhmmm... Semuanya lihat sikon lah sayang. Hari ini kita punya banyak waktu luang. Apa salahnya kita menunjukkan rasa sayang itu. Yang adek bilang itu benar. Ya memang, namanya awal-awal pasti masih hanget. Ya karena masih semangat. Kalau adek sudah sadar akan hal itu. Maka jika kelak kita mulai merasa jenuh, bosan dengan pasangan kita. Ingat lagi hal-hal romantis itu, dan jangan gengsi untuk melakukannya. Adek gak perlu ragu pada suamimu ini. Hubby tidak akan berubah jadi dingin, gak perduli, gak romantis lagi. Yang ada Hubby akan terus menunjukkan kasih sayang itu. Takutnya adek nanti yang bosan sama Hubby." Jelas Ezra dengan lembut, fokus menatap Zahra yang terlihat mendengar penjelasan suaminya itu.


"Kamu masih muda sayang, takutnya kamu yang akan bersikap seperti itu pada Hubby." Kali ini cara bicara Ezra terdengar memilukan. Pria dewasa itu sepertinya minder.


Zahra terpaku mendengar curahan hati suaminya itu. Dia gak bisa berkata manis saat ini. Karena dia juga belum yakin dengan pria di hadapannya. Dia saja belum yakin kalau sudah menikah beneran.


"Hubby harap, rumah tangga kita akan menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah." Masih menetap lekat Zahra yang bingung.


Di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda. Seorang wanita yang sudah selesai makan dan minum obat, nampak gelisah. Siapa lagi dia, kalau bukan Anindya.


Sejak wanita itu terbangun dan sekarang sudah pukul sembilan pagi. Dia tak menemukan putrinya Zahra atau sang suami tercinta di ruangan itu. Hanya ada perawat yang setia menemaninya, melayaninya, merawatnya dengan baik. Kemana putrinya itu? padahal putrinya itu sudah berjanji akan bermalam, menjaganya. Anindya sangat tidur pulas semalam. Dia begitu bahagia, karena dia bisa bertemu anaknya. Saking bahagianya dia tidur nyenyak sekali dan di waktu dapat shubuh wanita itu baru terbangun.


Ia juga sudah beberapa kali menghubungi nomor ponsel putrinya itu, tapi tidak tersambung. Begitu juga disaat dia menghubungi nomor sang suami, panggilan dialihkan. Akhirnya dia menghubungi Bimo. Dan Bimo mengatakan akan datang ke rumah sakit sekitar pukul sembilan. Dan sekarang sudah pukul sembilan. Batang hidung Bimo tak kunjung dilihatnya.


Tiba - tiba saja Anindya merasa sedih, entahlah dia gak tahu apa penyebab kesedihan yang mendadak menyerang perasaannya itu. Mungkin karena putri dan suaminya tak bisa dihubungi. Anindya menyeka air matanya yang jatuh tanpa permisi membasahi pipi putihnya seputih susu itu. Menatap terus ke arah pintu dengan tangan tetap setia memegang ponselnya.


Air matanya semakin deras saja mengucur. Sikap Ezra yang berubah drastis membuatnya kembali menduga-duga. Apakah suaminya itu punya wanita lain. Dan sekarang suaminya itu sedang bersama istri lainnya itu? karena, Anindya ingat betul, setiap suaminya tidak pulang. Maka ponselnya tidak bisa dihubungi.


Aaakkhh....

__ADS_1


Wanita itu meluapkan kegundahan di hatinya. Ia tak boleh memikirkan itu. Dia gak boleh setres. Karena, kondisinya masih lemah.


Anindya terlonjak kaget, disaat ponsel yang sedari tadi dipegangnya bergetar. Itu tandanya ada yang menelponnya. Dengan tidak sabarannya Anindya menerima panggilan itu, tanpa melihat siapa yang menelpon. Dia mikirnya yang menelpon putrinya atau suaminya.


"Menyedihkan sekali ya nasibmu. Lagi sakit gak ada yang jagain. Anak dan suami malah bersenang-senang."


Teett.


Panggilan itu terputus.


Anindya dibuat bingung dan panik, karena mendapat telpon itu. Wanita yang bicara di telepon itu, kenapa mengatakan suami dan putrinya sedang bersenang-senang.


Notip pesan WA kembali masuk. Dengan tak sabarannya Anindya membuka pesan WA itu. Seketika kedua matanya membulat melihat isi pesan dan foto di ponselnya itu. Tangannya bergetar hebat, hingga ponsel itu hendak jatuh dari tangannya.


Di layar terlihat foto Ezra dengan jelas, seperti sedang mencium seorang wanita berhijab. Foto yang dikirimkan pada Anindya, adalah foto saat Ezra berusaha mencium Zahra di taman.


Kenali wanita yang dicium suamimu itu. Sebaiknya kamu mati saja, ngapain hidup kalau diselingkuhi.


Ponsel itu pun terjatuh di atas ranjangnya. Tubuhnya membeku, perasaan di dalam hatinya hancur lebur ketika mengetahui fakta bahwa suaminya ternyata punya wanita lain. Berarti firasatnya benar. Wanita itu sudah tenggelam dengan air mata. Perawat yang berjaga, menghampiri Anindya yang menangis dalam diam itu. Tubuh Anindya masih bergetar hebat. Sepertinya wanita itu syok hebat.


"Ibu, ibu kenapa? ada yang sakit Bu?" tanya perawat dengan paniknya. Karena melihat keadaan Anindya yang memprihatinkan itu. Tubuh wanita itu masih bergetar hebat. Karena menahan Isak tangisnya.


TBC.


Like, coment, vote, beri hadiah say😆


Banyak vote dan hadiah, kita grazy up

__ADS_1


__ADS_2