
"Nyonya Anin...!" Bimo mempercepat langkahnya menghampiri Anin yang sudah pingsan itu.
"Kenapa dengan Nyonya Anin Dok? koq pingsan, bukannya sudah baikan Dok?" tanya Bimo panik, memperhatikan Dokter yang berusaha menyadarkan wanita yang lagi tertekan bathin itu.
"Entahlah, saat saya datang memeriksa, kondisinya sudah lemah. Anin, seperti baru menangis dan setelah melihat ponselnya, dia malah histeris dan pingsan." Jelas Dokter Alvian dengan tidak tenangnya. Memeriksa denyut nadi Anindya, beserta dadanya dengan stetoskop.
Bimo meraih ponsel Anindya yang ada di atas bed itu. Menekan layar ponsel yang tak terkunci itu, dan kedua matanya langsung disuguhkan oleh foto Ezra dan Zahra yang terlihat romantis.
"Astaga... Siapa lagi yang ikut campur ini?" Bimo memeriksa nomor yang mengirimkan pesan itu. Dia menyimpannya, mengirimkan kontak itu langsung pada anak buahnya. Dia harus melacak nomor yang mengirim pesan itu. Dia harus bergerak cepat.
Setelah memerintahkan anak buahnya melacak nomor yang meneror Anin. Bimo kembali menghampiri Dokter Alvian, yang tengah berusaha menyadarkan Anindya. Wajah penuh kesedihan jelas tercetak di wajah wanita yang pingsan itu.
"Ambilkan air itu?" titah Dokter Alvian kepada Bimo. Dengan cepat Bimo meraih botol air mineral yang ada di atas nakas. Memberikannya pada Dokter Alvian.
Dokter Alvian memercikkan air itu ke wajahnya Anindya. Itu usaha terakhir yang bisa dilakukannya. Karena, mendekatkan minyak kayu putih ke lubang hidung Anindya tak membuahkan hasil. Sepertinya usaha Dokter Alvian berhasil. Bola mata wanita itu terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri.
Mengetahui hal itu, Dokter Alvian kembali memanggil-manggil nama pasiennya itu dengan keras.
"Anin.... Anin.... Bangun....!"
Bimo terpelongok melihat sikap dokter Alvian yang terlihat berlebihan. Sikap yang ditunjukkan Dokter Alvian, bukan lagi sikap seorang Dokter kepada pasiennya. Tapi, lebih dari itu. Dokter Alvian terlihat begitu mencemaskan Anindya.
Anindya yang sudah sadar itu, terlihat sangat kesusahan saat ingin membuka kedua matanya. Dia merasa kedua matanya itu berat, seperti ditimpa batu besar saja. Dia seperti itu, karena wanita itu memang dalam keadaan lemah saat ini.
Setelah sukses membuka kedua matanya. Anindya menatap satu persatu orang yang mengerumuninya. Ada dua perawat, dokter Alvian dan Bimo. Saat itu juga, tangis Anin kembali pecah. Apalagi setelah melihat Bimo. Anindya yang merasa sangat terpukul dan dibodohi itu, merasa sangat sakit hati sekali. Kenapa orang-orang pada menutupi semua fakta mengerikan ini. Putri kandungnya menikahi putrinya.
Kenapa dosa ini terjadi. Kenapa suaminya itu malah menikahi putrinya. Tak ada kah wanita lain yang bisa dijadikan madunya. Kenapa mesti putri sendiri. Anindya sangat syok mendapati kenyataan ini.
"Zah--ra di mana Bim? putriku di mana sekarang?" Anindya bicara dengan tersengal-sengal, karena menahan Isak tangis. Air mata bercucuran dengan derasnya, hingga membuat wajah wanita itu tenggelam.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu putriku, hanya dia milikku di dunia ini. Kalau dia tak mau mengakuiku karena dia juga istri dari suamiku. Tak apa-apa, aku hanya ingin bertemu dengannya. Meminta maaf padanya, mungkin aku ini bukan ibu yang baik, sehingga ini terjadi padaku.! Hua.... Hua.... Hua...!" Anindya tak bisa menahan kesedihan yang dirasakannya lagi. Dia tidak mempedulikan orang lain lagi saat ini. Dia sudah seperti ank kecil, yang merengek minta sesuatu pada orang tuanya dan tidak dikabulkan.
Dokter Alvian mengajak kedua perawat, pergi dari tempat itu. Bukan ranah mereka mendengar urusan pribadi pasien. Hingga tinggallah Anindya dan Bimo di ruangan itu.
Bimo sangat kasihan melihat nyonya besarnya itu. Kesedihan mendalam menyelimuti wajah pucatnya Anin.
"Apa-apaan ini Bimo? kenapa Bang Ezra menikahi putriku sendiri? apa maunya pria itu?" ujar Anin dengan derai air mata. Sungguh kejadian ini, membuatnya sangat terpukul.
"Nyonya Anin, jangan menangis lagi ya? ingat, nyonya baru operasi." Bimo kini duduk di kursi dekat bed nya Anin terbaring.
"Aku gak berguna Bim, akan lebih baik aku mati saja." Anin memukul kuat perutnya yang baru saja dioperasi. Wanita itu merintih kesakitan. Rasanya sangat sakit, disaat luka jahitan kena tekanan. Tapi, sakit yang ditimbulkannya pukulan ke lukanya, tidak sebanding dengan sakit hatinya saat ini.
Bimo menahan tangan nya Anin. Tentu saja sikap Anindya membuat Bimo terkejut, dia menahan kuat kedua tangan wanita yang lagi tidak jernih pikirannya itu.
"Lepas.. Lepas kan Bimo, biarkan aku mati saja. Untuk apa aku hidup, kalau aku tak ada gunanya di dunia ini. Putriku menikah dengan suamiku dan aku tak tahu? ini kebodohan dan dosa besar Bimo." Teriak Anin, berontak agar Bimo melepaskan tangannya.
Saat ini Anin merasa jadi ibu yang gagal, dia lebih baik mati saja. Agar sang putri bisa bahagia dengan suaminya itu. Rasanya sangat aneh dan menyakitkan, disaat mengetahui putri sendiri menikah dengan ayah tirinya. Apa-apaan ini?
"Setidaknya aku gak setres memikirkan dosa ini semua." Ujar Anin dengan derai air mata.
"Nyonya, apa yang terjadi gak seperti yang nyonya bayangkan. Bos menikah dengan Zahra itu tanpa direncanakan. Dan Bos tidak tahu, kalau Zahra putrinya nyonya. Kalau tahu, mana mungkin bos menikahi anak tirinya sendiri. Bos tahu syariat nyonya. Tak ada dosa yang terjadi dihubungan ini." Bimo bicara tegas, tapi menatap sendu Anin. Pria itu bisa merasakan kegundahan dan kecewa yang dialami wanita dihadapannya.
Perlahan Bimo melepas kedua tangan Anin, karena dia melihat wanita itu sudah sedikit tenang. Anin terdiam, mendengar ucapan Bimo, air mata masih mengucur deras.
"Kenapa Abang Ezra menikahiku, kalau hanya untuk dipermainkan seperti ini. Kamu tahu Bimo, aku malu kepada putriku sendiri. Pasti semalam mereka menertawakanku. Mereka berdua bersandiwara di hadapanku. Mereka seolah tidak saling kenal saat bicara di hadapanku. Eehhmmm... Dari dulu sampai sekarang hidupku selalu menderita. Disaat hendak mencapai kebahagiaan. Kenyataan pahit ini membuatku tak ingin lagi melanjutkan hidup Bimo." Anin bicara dengan sedihnya. Air matanya seolah tak pernah mengering. Sedih rasanya, mengetahui dirinya tak dicintai dan diharapkan.
Dia tidak membenci putrinya itu, karena putrinya itu ternyata satu suami dengannya. Kalau memang putrinya itu bahagia dengan menjadi istri dari suaminya. Dia ikhlas, tapi ada hal yang mengganjal di hatinya. Dia ikhlas, tapi tidak terima dengan kenyataan ini semua, kenapa harus putrinya yang jadi madunya.
"Nyonya, Zahra juga sikapnya seperti nyonya disaat mengetahui semuanya. Dia bahkan lebih terpukul. Dia sangat merindukanmu nyonya. Setelah dia tahu nyonya adalah istri tuan. Dia ngotot ingin bertemu dengan nyonya. Memaksa kami menyembunyikan semua ini. Dia ingin nyonya dan Bos bersatu. Katanya dia ingin melihat ibunya bahagia. Dan setelah bertemu dengan Nyonya Zahra menghilang."
__ADS_1
"Apa? putriku menghilang? tidak Bimo, tidak. Aku tak inginkan pernikahan ini, jika harus ditukar dengan putriku. Hanya Zahra hartaku satu-satunya. Suamiku belum tentu menyayangiku dengan tulus. Tolong temukan Zahra Bim. Aku akan pergi dari kehidupan Abang Ezra. Karena aku yakin dia juga tidak mencintaiku."
Hiks....Hiks.. Hiks....
Menangis sambil memegangi perutnya yang terasa kram. Sungguh kenyataan pahit ini sangat mengguncang wanita itu. Mana mungkin dia bersaing dengan putrinya sendiri.
Anin yang merasa lemah itu, akhirnya memilih berbaring. Bekas jahitan yang sempat di pukulnya sangat sakit sekali. Kalau dengan penyakit ini dia pergi dari dunia ini. Dia ikhlas, mungkin lebih baik dia mati saja. Karena, dia belum punya jiwa yang besar, menerima semua cobaan dalam hidupnya. Dan cobaan ini adalah puncaknya.
Sedari kecil dia sudah hidup susah. Dia selalu ikut dengan ibunya, bekerja sebagai ART. Walau begitu dia masih tetap bisa bersekolah, karena dia memang punya cita-cita tinggi. Setelah tamat SMA, dia dipaksa menikah dengan pria yang tak disukainya. Yaitu ayahnya Zahra. Menikah dengan ayahnya Zahra nyatanya tak membuat hidupnya bahagia juga. Karena, ternyata pria itu juga tak mencintainya. Walau begitu, kehadiran Zahra di tengah-tengah keluarga kecilnya. Membuat keluarga itu nampak rukun dan harmonis, walau dengan keadaan ekonomi yang sulit. Sampai suaminya itu meninggal dan menyisakan banyak hutang yang harus dibayarnya.
Anin yang kini terbaring itu meratapi nasibnya. Kenapa harus putrinya?
"Bimo, aku harus pergi ke mana?" ucapnya lirih, menarik ulur cairan yang keluar dari hidung nya.
"Maksud nyonya apa?" tanya Bimo bingung.
Anin merasa tak nyaman lagi, jika harus tinggal di rumah Ezra. Rasanya sangat aneh, satu atap dengan suami putrinya sendiri.
"Nyonya jangan dipikirkan dulu semuanya ya?"
"Apakah Zahra sudah ditemukan Bim?" Bagaimana pun sakitnya hatinya Anin, saat ini. Dia sangat mengkhawatirkan putrinya itu.
"Sudah Nyonya, menjelang subuh dia baru ditemukan." Jawab Bimo pelan. Pria itu pun menekan bel, meminta bantuan pada perawat untuk memeriksa keadaan istri bos nya itu.
Anin terdiam, tak ada lagi Isak tangis. Tapi, air mata mengucur deras tanpa henti.
Dua perawat wanita akhirnya masuk ke ruangan itu.
"Sus, tolong periksa luka nyonya besar." Ujar Bimo pada kedua perawat itu.
__ADS_1
"Astaga, koq jadi seperti ini Bu?" tanya perawat bingung. Koq lukanya jadi mengeluarkan darah. Kedua perawat itu pun akhirnya bisa menarik napas legah. Syukur lah tak ada yang serius.
TBC