
Mak.... Umak....!
Ezra terbangun, karena mendengar suara igauan sang istri yang menyayat hati. Istrinya itu bahkan menangis dan terus saja memanggil mamanya. Ezra sangat terkejut melihat ekspresi wajah sedih sang istri. Yang kini sangat dekat ke wajahnya. Bahkan istrinya itu tengah memeluk dirinya.
"Halwa.... Wa.. Halwa.....!" pria itu menggoyang pelan dan lembut tubuh sang istri, agar terbangun dari mimpi buruknya. Tak juga mendapat respon dari sang istri. Ezra menjauhkan lengan Zahra yang memeluknya. Berusaha terus untuk membangunkan sang isteri, agar keluar dari mimpi buruk itu.
Umak..... Mak .... mak....!
Zahra sepertinya begitu ketakutan dalam mimpinya. Dia bahkan menangis dengan sedihnya.
"Halwa....!" Ezra yang begitu mengkhawatirkan sang istri. Terpaksa menggoncang kuat tubuh istrinya itu. Zahra pun terbangun. Kedua bersitatap dengan penuh kebingungan.
"Iihhhh.... lepas.... " Ezra yang begitu mengkhawatirkan sang istri, dengan cepat merangkul istrinya itu. Tentu saja kelakuan Ezra membuat Zahra panik. Dia tak mau dekat-dekat dengan suami mesumnya itu. Dan kini malah main peluk segala.
"Lepas...!" Zahra berontak sekuat tenaga. Rengkuhan Ezra pun akhirnya lepas. Wanita itu pun langsung memalingkan mukanya. Zahra belum tenang, mimpinya sangat buruk.
"Dipeluk dengan sadar marah. Tapi, saat tidur, meluk aku erat banget "
Haaaahhh....
Zahra kembali memutar lehernya jengah, menatap sang suami dengan tidak percayanya. Masak dia meluk pak tua saat tidur.
"Bapak jangan ngarang, aku gak mungkin meluk bapak!" ketus Zahra, memegangi dadanya yang masih bergemuruh karena mimpi buruk itu. Ditambah pernyataan Ezra yang membuatnya terkejut.
__ADS_1
"Jangan panggil aku bapak, aku ini bukan bapakmu. Kapan aku nikah sama ibumu, haaaahh?" Keduanya saling tatap tajam. Sesekali istrinya itu perlu diberi peringatan, agar tahu batasan. "Dan jangan pernah lagi, ku dengar kamu memanggil aku dengan sebutan pak tua. Benci boleh, kesal boleh. Tapi, gak perlu mengeluarkan kata-kata yang buat orang kesal mendengarnya." Ezra menghela napas, setelah bicara tegas lada sang istri, dia jadi merasa kasihan melihat istrinya yang kini terlihat menyedihkan itu. Ekspresi wajah sang istri, benar-benar terlihat sedih.
"Adek mimpi apa? kenapa sampai menangis ?" Ezra merapikan rambut Zahra yang menutupi sebagian wajahnya. Tapi dengan cepat Zahra menepis tangan itu.
"Kamu gak perlu tahu, mana mungkin kamu mau membantuku!" Zahra benar-benar temperamen. Cara bicaranya juga sudah aku dan kamu. Sikap istrinya ini tak bisa dibiarkan.
"Saya ini suamimu. Tempat untukmu mencurahkan isi hatimu. Ini bahu lebar, siap sebagai sandaran. Saya akan mendengarkan semua uneg-uneg di hatimu. Kita cari solusinya." Ezra tersenyum tipis pada Zahra. Berusaha mencairkan suasana
"Solusinya ceraikan aku! beri aku tempat tinggal dan sedikit modal untuk buka usaha dengan nenek. Kamu dan anakmu si Rara sudah buat hidupku hancur. Ok, ok ku akui, tadinya aku ingin balas dendam padamu pak tua, dan anakmu yang gila itu. Makanya aku mau menikah dengan bapak. Tapi, ternyata keputusan yang ku ambil itu salah. Aku tak punya jiwa kriminal, aku gak bisa membalas dendam dan sakit hati ini pada keluargamu, karena aku gak mau mengotori hatiku. Dan aku gak mau jadi istri simpanan pak!" memelas dengan pipih yang sudah basah di hadapan sang suami. Tentu saja ucapan istrinya itu membuat Ezra tertegun. Sebegitu hancur nya istrinya itu, akibat dari perbuatan Rara.
"Untuk saat ini, saya gak bisa melepaskanmu Wa. Aku akan bantu kamu, aku tahu kamu anak pintar dan baik. Kamu pasti punya cita-cita yang tinggi. Aku akan bantu kamu jadi orang yang sukses. Yang akan membuat ibumu bangga padamu nantinya." Kalimat yang keluar dari mulut sang suami, terdengar begitu tulus. Zahra pun terdiam mendengarnya. Hatinya sedikit tersentuh. Matanya melirik tajam, tangan Esra yang memegang kedua bahunya. Ezra pun dengan cepat menjauhkan tangannya dai bahu sang istri.
Ezra tak mungkin melepaskan Zahra. Entah kenapa dia ingin sekali melindungi istrinya itu. Dia yakin, bisa membahagiakan istri kecilnya itu. Melepaskan Zahra, untuk saat ini bukan solusi yang tepat.
"EGOIS....!" Zahra beranjak dari atas ranjang dengan penuh kekesalan.
"Apakah dia tertekan?" Ezra bermonolog sambil berfikir keras. "Ada ya wanita sepertinya. Cewek-cewek pada berebut jadi pendampingku. Bahkan jadi istri ke 20 pun ada yang rela."
Huutttfff.....
Ezra kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu. Memperhatikan jam yang bertengger di dinding kamarnya. Ternyata sudah pukul 04. 45 Wib. Waktu shubuh telah tiba.
Ezra kembali menarik napas panjang berulang kali. Dia harus tenang dan tak boleh terpancing dengan sikap istrinya yang kerjanya marah-marah terus. Sepertinya memberikan ruang dan waktu pada istrinya untuk berfikir adalah solusi yang tepat.
__ADS_1
Ezra pun akhirnya memilih keluar dari kamar itu. Dia akan mandi di ruang kerja saja.
Sementara Zahra di dalam kamar mandi. Duduk dengan terpuruk di pojokan ruangan itu. Dia teringat mimpinya yang sangat mengerikan. Dimimpi itu, sang ibu mengalami kecelakaan. Dan dia berlari menghampiri sang ibu yang bersimbah darah.
Memanggil - manggil sang ibu, guna membangunkan sang ibu yang terkapar di tengah jalan. Sementara orang-orang di tempat kejadian juga nampak, mengangkat tubuh seorang pria, yang Zahra seperti mengenal pria yang wajahnya berlumuran darah itu. Dalam mimpi itu. Pria itu dikatakan suami ibunya.
"Apakah ibu sudah menikah, dan gak peduli lagi padaku dan nenek? di mimpi itu, sepertinya ibu sudah jadi orang kaya. Apakah ibu sudah melupakanku?" Zahra menangis sejadi-jadinya, mengingat mimpi buruk itu. Dan membayangkan kemungkinan dari dugaannya.
Kalau benar ibunya sudah menikah dengan pria kaya. Dan ibunya itu sudah melupakannnya. Itu rasanya sangat menyakitkan sekali.
Puas menangis di kamar mandi. Menumpahkan segala rasa sesak di dada Wanita itu pun akhirnya membersihkan dirinya, berwudhu. Karena dia akan melakukan sholat shubuh. Tak butuh waktu lama, hanya 10 menit. Zahra sudah selesai mandi. Keluar dari kamar mandi itu, dengan perasaan tidak tenang. Entah kenapa rasanya tidak nyaman satu ruangan bersama Ezra. Selain dia merasa bersalah pada pria itu, karena sikapnya yang arogan. Dia memang masih benci suaminya itu. Makanya dia merasa susah bersikap manis. Karena Zahra tipe wanita yang tak bisa manis di bibir. Dia masih polos dan tak pandai bersandiwara.
"Ke mana si pak tua? ucapnya bingung, memperhatikan setiap sudut ruangan kamar itu, mencari sosok pria tampan sang sukai tak diinginkan.
"Apa ini?" Zahra meraih secarik kertas yang tergeletak di atas tumpukan mukena dan baju sekolahnya.
"Maafkan suamimu ini, jika dengan kehadiranku dalam hidupmu, membuatmu menderita. Izinkan aku menebus segala kesalahan yang dilakukan Rara padamu. Balas surat ini, tuliskan keinginanmu, hari ini. Dan aku akan memenuhinya. Tapi, jangan pernah untuk meminta aku menceraikanmu. 😍🙂😘"
Zahra menggelengkan kepalanya. Dia heran dia sikap pak tua, yang seperti anak SMA yang suka, kirim-kirim kan surat saat belajar berlangsung.
Senyum tipis pun akhirnya tercipta di wajah kesalnya Zahra. Akhirnya dia merasa lucu dengan isi surat dan emoticon yang ada di akhir tulisan surat tanpa amplop itu.
"Kenapa jadi lucu ya?" Zahra meletakkan surat nya Ezra di atas meja rias. Lebih baik dia sholat dulu, dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Dia akan membuat perhitungan lagi dengan siswi yang membullynya. Apabila pihak sekolah tidak bisa menegakkan keadilan.
__ADS_1
TBC
Like, coment positif dan vote. Di akhir pekan Kita da give away