AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Kepo


__ADS_3

"Jaga baik-baik Rara. Kamu masih dalam pantauanku!" tegas Ezra, menarik tangan sang istri, agar mengikutinya keluar dari kamar itu.


Zahra yang mengkhawatirkan Rara, sangat berat rasanya meninggalkan kamar itu. Ingin rasanya ia membantu Rara berpacking.


Baru juga Ezra dan Zahra masuk ke kamarnya. Suara pintu ditutup terdengar kuat dari kamarnya Rara. Saat itu pintu kamarnya Zahra belum tertutup.


Zahra yang penasaran, langsung keluar kamarnya, berjalan cepat menuju kamar Rara. Ia mengendap di balik dinding, sambil mengintip Bimo dan Rara yang keluar dari kamarnya dan berjalan ke lift.


"Ya ampun .. Itu si Ibot kenapa ya? ia bahkan membiarkan Rara menentang tas nya sendiri. Kalau aku jadi Rara, sudah ku lemparkan tas itu ke punggungnya dengan kuat. Hingga ia jatuh terjerembab " Ujar Zahra dengan kesalnya sendiri. Tangannya bergerak ingin sekali menjambak Bimo. Mencakar-cakar wajahnya Bimo yang menyeramkan itu.


"Gak bersyukur itu si Bimo dapat daun muda. Ia gak berkaca kali ya, sudah umur 36 tahun, gak laku-laku. Emak gua aja gak level sama dia. Ini dapat gadis belia. Kalau aku jadi Rara, gak bakalan aku mau sama dia. Sudah mulutnya pedes, sok cool lagi."


Huuwekkk..


Zahra memuntahkan angin dari mulut nya.


Ezra yang memperhatikan sang istri yang bicara sendiri itu, merasa Zahra sangat lucu. Ia pun menghampiri istrinya yang masih mengomel di balik lorong dinding menuju kamar nya Rara.


Ya kamar Rara dan ayahnya berada di lantai dua. Dan jaraknya tak jauh dari kamarnya.


"Eemmm... Sudah deh halwa.. Ayo tidur.!" Ezra merangkul sang istri agar masuk ke kamar. Saat masuk ke kamar. Zahra kembali berjalan cepat menuju jendela. Ia menyibak tirai mewah itu. Ia masih penasaran dan ingin melihat kepergian Rara.


"Ya ampun... kenapa Rara duduk di kursi barisan kedua. Kenapa gak duduk di depan saja." Ucapnya dengan kesal. Ezra yang penasaran akhirnya ikut menoleh ke parkiran.


"By," Zahra memegang lengan sang suami. Dan keduanya kembali menatap ke bawah.


"Sana cegah Rara, ikut dengan Bimo. Rara gak cocok dengan si ibot By. Sudah tua galak lagi " Kini Zahra mendorong tubuh sang suami, agar turun ke bawah dan melarang Rara ikut dengan Bimo.

__ADS_1


Tentu saja, Ezra bergeming di tempat. Mana mungkin dia melarang Rara ikut dengan Bimo. Ia kan ikut jadi provokator, sehingga Bimo sukses menikahi Rara.


"Kan bagus, Bimo jadi supirnya Rara." Jawab Ezra malas. Kenapa Zahra jadi heboh seperti ini. Mending tidur.


"Kenapa mereka belum jalan-jalan By. Apa di dalam mobil mereka lagi berantem." Ujar Zahra lagi dengan ekspresi wajah tak tenang. Pasalnya sudah lebih dari 5 menit mereka masuk ke dalam mobil. Dan mobil itu masih diam di tempat. Hanya deru mesin mobil yang nyala.


"Itu, itu sudah jalan. Yuk bobok sayang!" Ezra menarik lengan Zahra dengan lembut.


"Tunggu By, lihat mobilnya berhenti lagi." Zahra menepis tangan Ezra yang ingin merangkul nya. Ia sedang tak ingin disentuh. Ia sedang fokus memperhatikan mobil Bimo.


Ezra kembali menoleh ke bawah dengan malasnya. Ia sudah kantuk. Zahra dari tadi, heboh terus gara-gara Bimo.


"Itu kan mobilnya sudah jalan." Dengus Ezra kesal.


"Iya barusan jalan By..!" Menatap jengah sang suami, yang dari tadi gak mengerti kepanikan nya terkait keadaan Rara.


"Gak usah digendong By. Aku bisa jalan sendiri."


"Kalau gak digendong, sampai besok pagi, kamu akan terus nongkrong di jendela ini " Kini Zahra sudah dibaringkan Ezra di atas ranjang empuk mereka.


Wanita itu berbaring dengan serius menatap langit-langit kamar. Sedang kan Ezra tidur miring ke arah Zahra sambil sagu tangannya bertumpu di dagunya Menatap gemes Zahra.


"Si Bimo itu kenapa ya By?" Raut wajah kesalnya Zahra terlihat begitu gemesin buat Ezra, yang serius memperhatikan sang istri yang mengomentari Bimo. "Aku jadi kasihan kepada Rara." Ucapnya masih dengan ekspresi kesalnya. Tangannya yang ada di tas perutnya saling terpaut dan matanya menatap langit-langit kamar mereka.


"Si Bimo lagi kaget. Biarin saja, Hubby yakin sama dia, ia itu sayang banget dengan Rara. Dia pasti jagain Rara " Ujar Ezra, menurunkan tangan nya yang berpangku insang menatap sang istri dari tadi.


"Kalau sayang, kenapa kasar begitu. Orang yang benar-benar sayang, tak mungkin tega, menyakiti hati orang yang dia sayang." Kini Zahra menoleh pada Ezra yang dari tadi menatapnya terus.

__ADS_1


"Selagi ia tak main tangan, Hubby tak akan ikut campur. Tenang, Hubby sudah pantau dia. Sudah, kita tidur saja. Sudah pukul 23.45 Wib." Ezra menarik Zahra dalam pelukannya. Menciumi gemes setiap wajah sang istri. Zahra dibuatnya seperti anak kecil saja.


"Ya ampun.... Kenapa kamu gemesin banget sih Sayang." Mengulangi menci umi seluruh wajahnya Zahra. "Kenapa mulus, kenyal dan wangi begini. Kek ci um anak baby 2 tahun." Ezra tak henti-hentinya mengoceh sembari mendaratkan banyak kecupan di wajah cantiknya Zahra.


Zahra hanya bisa tersenyum kecil, atas sikap lebay nya Ezra. Sungguh suaminya itu gak pernah bosan menci um nya terus. Puas menciumi wajah sang istri. Kini wajahnya itu turun menciumi perutnya Zahra.


"Sudah dong By, kantuk ni." Zahra merasa terganggu asyik diciu mi terus. Ia bahkan mengangkat wajahnya Ezra, agar menjauh dari perutnya.


"Kita bobokkk!" kini Zahra memeluk erat Ezra. Kakinya menimpa kuat tubuh sang suami. Tentu saja Ezra seneng dikekep oleh Zahra. Mana wajahnya terbenam asyik di gundukan kembar, yang kini semakin padat dan besar.


Ezra yang games, menggosok-gosokkan Wajahnya di gundukan kembar kenyal itu. Teni saja Zahra merasa geli nikmat.


"Sudah akhh.. By. Kita tidur..!" Ujarnya menahan kepala Ezra, agar diam.


"Cium dulu dong..!" Ezra menyodorkan kening nya.


Dengan tertawa kecil, Zahra pun mendaratkan satu kecu pan di kening nya Ezra dengan sempurna. Lama dan penuh penghayatan. Tentu saja Ezra tersipu malu dibuatnya. Biasanya juga ia yang cium kening Zahra.


"Ini bayi gedeku, mukanya sudah tua, keriput kek kakek-kakek. Tapi, kelakuan kek anak 5 tahun, sukanya ndusel-ndusel leher.


Zahra kembali berontak, disaat Ezra mulai menge cup in lehernya. Kalau Ezra sudah berkelakuan seperti itu, artinya akan ada adegan mantap-mantap, yang akan membuat planet bahagia untuk mereka, disaat keduanya sudah mencapai kenikmatan itu.


TBC


Cerita Bimo dan Rara akan dibahas di buku baru. Novel baru di bulan 6.


Kasih saran untuk judul kisah Bimo dan Rara dong readers🤭🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2