AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Laris manis


__ADS_3

"Zahra..,?!!" Bimo pun tersadar, ternyata dari tadi dia sudah kehilangan jejak wanita itu. Karena, asyik terpancing emosi meladeni Ferdy.


Bimo sudah lelah mencari Zahra di sekitar sekolah. Tapi, dia tak kunjung menemukan gadis yang lagi putus asa itu. Sudah lebih dua jam Bimo mencari Zahra. Bahkan dia sudah menghubungi ke rumah. Menanyakan apakah Zahra sudah sampai di rumah. Ternyata gadis itu belum juga sampai di rumah.


Bimo yang tak ingin sang nenek khawatir. Mengatakan pada kepala pelayan, agar jangan menyampaikan kabar tentang Zahra yang menghilang.


"Ya Allah... di mana kamu Zahra?" Bimo sudah sangat panik. Sempat gadis itu tidak diketemukan, bisa kena marah dia sama si Bos.


"Apa bocah tengil itu menculiknya?" Bimo kembali bermonolog, pusing sendiri heboh mencari Zahra di sekitar sekolah itu.


Bimo pun tak mau mengulur waktu lagi. Dia pun menghubungi Pak Rizal. Meminta nomor ponsel bocah tengil yang bersama Zahra tadi.


"Ohh Nak Ferdy." ucap pak Rizal dari sambungan telepon. Saat Bimo menanyakan nama anak cowok yang mengaku sebagai kekasihnya Zahra.


"Iya Pak, aku minta nomor hape anak itu " Ujar Bimo, kini pria itu sedang bersandar di badan mobil nya dengan frustasinya.


"Baik pak, aku kirim kontaknya sekarang." Ujar pak Rizal ramah, pak Rizal tadinya sudah ketar ketir disaat Bimo menghubungi nya. Dia mengira, Bimo akan menekannya lagi, terkait kasusnya Zahra.


"Iya pak, saya tunggu sekarang." Bimo pun mematikan ponselnya. Menarik napas panjang, untuk menenangkan dirinya yang kalut itu.


Baru juga dua menit, ponselnya pun berbunyi. Itu pesan dari Pak Rizal.


Bimo dengan perasaan tidak tenang itu pun akhirnya menghubungi Ferdy. Tapi, sudah panggilan kesepuluh, Ferdy tak kunjung mengangkat teleponnya.


"Sialan ni bocah, aku yakin dia yang menculik Zahra. Nekat juga itu anak tengil." Ujarnya kesal, menendang udara penuh emosi.


Bimo yang masih kesal itu, kembali menghubungi pak Rizal. Dia akan meminta alamat si bocah tengil Ferdy.

__ADS_1


"Ya pak Bimo." Lagi-lagi Pak Rizal merasa ketakutan disaat Bimo kembali menghubunginya. Saat ini pak Rizal merasa bersalah pada diri sendiri. Karena, telah berprasangka buruk pada Zahra. Pak Rizal beranggapan Zahra siswa yang nakal, makanya pindah ke sekolah mereka, karena diberhentikan. Tentu saja Pak Rizal menilai Zahra siswi yang tidak baik. Karena, baru juga sehari sekolah sudah buat kasus.


"Kirimkan aku alamat anak yang bernama Ferdy."


"Oh iya pak." Pak Rizal sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, patuh dan pasrah pada perintah Bimo. Dia takut sekali Bimo akan menyetop bantuan ke sekolah itu.


"What....? ini kan alamatnya Pak Tanjung. Horang terkaya di kota M ini." Bimo berdecak kagum. Suara decakannya bahkan terdengar sangat kuat.


"Aahhh... terserah deh, moohh lah aku mencari si Zahra. Kalau bocah tengil itu yang menculiknya aku ridho deh. Toh si Zahra akan lebih bahagia jadi mantu pak tanjung nanti. Dibandingkan jadi istri kedua si Bos." Bimo sudah mulai korslet. Dia yang nanya sendiri dan dia juga yang jawab sendiri.


"Zahra.... Zahra... sungguh sangat berwarna hidup loe. Koq pria kaya pada gila pada mu. Dari berbagai tingkat usia pula itu, dari anak ingusan, sampai tua-tua keladi." Bimo tak henti-hentinya bicara sendiri dan tersenyum tipis. Merasa tenang dan yakin, kalau saat ini Zahra sudah ditempat yang aman.


Pria itu pun memacu mobilnya. Dia akan ke rumahnya si Bos. Dia akan bertemu dengan istri sahnya si Bos. Karena, tadi siang istri si Bos memintanya datang ke rumah. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan.


***


Bimopun mengelus dasni pelan, merasa takut disaat melihat, dilayar nama kontak yang memanggil.


Nek Ifah.


"Nek Ifah, pasti mau nanyain Zahra." Ucapnya sendiri, sembari berjalan ke dalam rumah megahnya Ezra, dan mengangkat telepon dari sang nenek.


"Ya Nek, ada apa Nek?" Bimo berbicara seolah tidak terjadi sesuatu hal buruk pada Zahra. Dia tidak mau nenek khawatir.


"Oohh... iya Nek, Zahra sedang bersama tuan. Lagi Holiday mereka Nek. Nginap di Hotel, honey moon nek.. Iya, iya Nek."


Puk....

__ADS_1


Tepukan di punggungnya Bimo, membuatnya terlonjak kaget. Saking kagetnya handphone yang ada di tangannya sampai hendak terjatuh. Tapi, syukur dia bisa juga menangkapnya. Bimo memang pandai bela diri.


"Eehh.. . Eehh... Nyonya." kedua bola matanya Bimo membeliak, tidak menyangka istrinya si bOs ada di belakangnya. Dia jadi takut sekali sekarang. Apa nyonya Anin mendengar ucapannya, Yang mengatakan si Bos lagi honey moon, holiday? kalau iya, maka kiamat akan segera terjadi di kingdomnya Ezra Assegaf.


"Ok, baik saya mengerti." Bimo menutup panggilan telepon dari nek Ifah, secara sepihak. Dan langsung mematikan ponselnya. Dia tidak mau nek Ifah kembali menghubunginya. Bisa terbongkar nanti, kalau si bos punya istri lagi.


"Koq takut gitu Bimo? emang bicara sama siapa?" Anin, begitu penasaran dengan teman bicara nya Bimo di telepon. Karena dia tadi sempat mendengar kata Nek.


"Ga--k gak Nyonya. Itu tadi sedang bicara dengan pengacara, terkait non Rara." Bimo BBM pandai sekali cari alasan.


"Oohh... Jadi kangen sama Rara. Kabar Rara sekarang gimana ya?" tanya Anin sedih, dia memang kasihan pada anak tirinya itu. Karena Rara ternyata punya ibu kandung yang gila.


"Ya masih seperti itu lah Nyonya. Masih seperti orang setres. Sama kek ibunya." Bimo terlalu lancar bicara. Itu efek dari hampir terbongkarnya rahasia si Bos, yang menikah lagi, tanpa persetujuan istri sah Jadi dia banyak bicara, untuk menutupi ketakutannya.


"Iya Bim." Anin terlihat sedih. Dia jadi teringat insiden tadi malam. Dia bahkan masih bisa merasakan sakitnya saat rambut indah dan panjangnya di Jambak kuat oleh Rani.


"Nyonya harus hati-hati." Bimo memperingati.


"Hati-hati kenapa Bim?" Anin semakin penasaran, sepertinya bahaya akan segera datang melanda.


"Mantan istri bos itu, orangnya nekat nyonya. Sekarang dia sudah tahu, bahwa bos nikah lagi. Bisa-bisa dia datang kesini dengan tiba-tiba. Mencari keributan kepada Nyonya. Makanya nyonya harus hati-hati." Kini keduanya sedang duduk di kursi teras rumah. Sebentar lagi akan dapat waktu magrib. Karena tarhim dari Mesjid susah terdengar saling bersahutan.


"Ada hal apa Nyonya minta bantuan pada saya, tanpa harus diketahui oleh si Bos?" tanya Bimo, memperhatikan lekat wajah Anindya yang nampak bingung sekaligus sedih itu


"Itu Bim, saya ingin kamu mencari informasi keluarga saya di kampung." Ujar Anin sedih. Mer*mas-re*#mas tangannya, karena wanita itu merasa sedang tidak baik-baik saja saat ini. Dia merasa malu pada Bimo, karena meminta bantuan, terkait keluarga nya di kampung.


TBC

__ADS_1


__ADS_2