
Ferdy akhirnya mengantarkan Zahra pulang ke rumahnya. Mereka mengenderai mobil, dan motor bututnya Zahra ditinggal di parkiran Hotel. Begitu banyak pertanyaan yang berputar di otaknya Zahra saat ini, mengenai Ferdy. Tapi, dia lagi tidak ingin membahas itu semua, karena Ferdy yang terlihat tidak terbuka, ditambah kondisi jiwanya yang masih syok dengan semua yang terjadi padanya. Dia akan menanyakan semua yang mengganjal di hatinya, pada Ferdy di lain waktu. Karena, waktu untuk mereka masih banyak, apalagi si pengganggu sudah out dari sekolah, yaitu Rara.
“Kenapa melirik-lirik aku terus?” tanya Ferdy tersenyum pada Zahra yang nampak bingung dan tidak tenang itu. Zahra yang masih bingung itu, berusaha bersikap ramah dan tenang dengan membalas senyum manisnya Ferdy.
“ Heran saja fer, kamu dengan gampangnya dibolehin bawa mobil perusahaan, hanya untuk antar aku pulang. Emang kamu dibolehin atasanmu meninggalkan pekerjaanmu, kamu kan tadi bilang lagi masuk sif malam.” Zahra
yang merasa tidak enak hati dan takut itu, melirik-lirik Ferdy saat bicara. Bagaimanapun, berduaan dengan pria di larut malam begini, tidak baik.
“Kalau kita bekerja dengan baik. Pimpinan sudah percaya. Disaat kita minta tolong, pasti dibantu.” Jawab Ferdy dengan pandangan fokus ke badan jalan yang sangat sunyi itu. Bahkan kini mereka sedang melewati hutan
yang terkenal angker.
“Iya sih.” Jawab Zahra pendek. Dia yang ketakutan akhirnya membaca-baca doa dalam hati. Mulai dari ayat kursi, Al-ikhlas, Annas, semua suroh pendek yang sudah dihapalnya lebih dari tiga puluh suroh. Dia Tidak berani menatap badan jalan. Dia menundukkan kepalanya dan menutup kedua matanya. Karena dia tidak mau melihat penampakan di jalan yang terkenal angker yang sedang mereka lintasi saat ini.
Baru juga membaca satu suroh. Ferdy sudah membunyikan klakson mobil.
Tin
Tin
Tin
Suara klakson yang dibunyikan Ferdy membuat Zahra terlonjak kaget. Itu artinya para penunggu hutan itu sudah pada jahil,mengganggu para pengendara. Tak jarang, banyak terjadi kecelakaan di tempat itu.
“Fer, Fer… Jangan berhenti. Kita lanjut Fer..!” Ucap Zahra, karena melihat gelagat Ferdy yang ingin menepikan kenderaannya.
“Apa..? Lanjut..?’ ferdy yang belum paham, menoleh ke arah Zahra yang terlihat ketakutan. Walau Zahra wanita yang taat beribadah, entah kenapa dia sangat takut yang namanya makhluk halus.
“Iya lanjut Fer..”
“Tapi, itu ada wanita yang ngesot dijalan, sepertinya mau menyebrang.” Ferdy mengklakson lagi, agar wanita yang dilihatnya itu menepi. Saat bicara Ferdy melirik Zahra yang terlihat samar, karena lampu mobil di dalam mati.
“Tabrak aja Fer, ayo baca ayat kursi atau suroh al-ikhlas..!” ucap zahra panik penuh penekanan
__ADS_1
Ferdy pun melakukan apa yang dikatakan oleh Zahra, dia membaca ayat kursi dalam hati, dan disaat pandangannya kembali fokus ke badan
jalan. Wanita yang berambut panjang dengan wajah yang tidak jelas yang dilihatnya tadi sudah raib. Ferdy yang terheran, celingak-celinguk menyoroti badan jalan ke
kiri dan ke kanan. Dia ingin mengetahui ke mana perginya wanita yang ngesot tadi
“Menghilang dia Ra.” Jawabnya dengan herannya.
“Ohh Syukurlah.” Jawab Zahra lengah, akhirnya berani membuka kedua bola matanya dan menoleh ke depan.
“Apa yang tadi itu hantu? Kunti? Atau…”
“Iya, itu syetan.”
“Apa…?” Ferdy yang kaget langsung tancap gas.
Bulu kuduknya seketika meremang, dia juga merasa hembusan angin di ceruk lehernya.
Wiihh.... Ferdy benar-benar ketakutan.
Sesampainya di depan rumah Zahra, Ferdy ngos-ngosan. Dia merasa perjalanan mereka malam ini sangat menegangkan. Seumur-umur. Baru kali ini dia melihat makhluk halus.
Huuffttt…
Ferdy kembali menghela napas kasar, dan memegangi dadanya yang berdebar-debar, setelah mematikan mesin mobilnya. Begitu juga dengan zahra yang masih ketakutan. Sungguh malam ini dia apes sekali
Tok
Tok
Tok
“Hantu… hantu..!’ teriak ferdy, disaat melihat ke arah pintu mobil yang diketuk, sebelah Zahra. Tentu saja Zahra ikut teriak. Karena terpengaruh dengan teriakan menakutkannya Ferdy, yang kini bahkan sudah mengangkat kedua kakinya ke atas jok, saking takutnya.
__ADS_1
“Zahra... zahra…!” suara sang nenek yang memangil-manggil namanya, akhirnya membuat keduanya berhenti berteriak minta tolong. Sedangkan sang nenek yang ada di luar mobil, dibuat panik dan takut. Karena sang cucu berteriak ketakutan di dalam mobil yang terkunci. Sang nenek tidak bisa melihat keadaan cucunya di dalam mobil itu. Yang membuat sang nenek begitu khawatir. Sang nenek berfikiran. Orang yang ada di dalam mobil, ingin mencelakai Zahra. Ataupun melecehkannya.
“Zahra, Ra… Kamu kenapa? Apa yang terjadi di dalam sayang?” suara paniknya sang nenek, akhirnya menyadarkan Zahra. Bahwa yang ditakutkan mereka bukanlah hantu, tapi sang nenek.
Nenek Zahra yang mendengar suara mobil ngebut, berhenti di depan rumah mereka.
Sehingga wanita tua yang menantikan cucunya pulang itu, langsung menyamperin mobil yang berhenti itu. Padahal sang cucu yang ada di dalam mobil itu, tidak menyadarai kehadirannya, disebabkan masih takut dan belum tenang.
“Zahra..?” suara sang nenek terdengar penuh kekhawatiran.
“Itu nenekku Fer, bukan hantu.” Ucap Zahra dan menghela napas dalam. Dia pun membuka pitu mobil.
“Iya, habis tadi penampilan nenek seperti mak lampir, yang tiba-tiba nongol di kaca mobil. Mana nenek pakai selendang putih dan mulutnya mengunyah sirih.” Jawab Ferdy, memperhatikan sang nenek yang menyambut cucunya yang turun dari mobil. Ferdy pun akhirya turun juga dari mobil itu, menghampiri
zahra dan neneknya.
“Malam Nek!” ucap Ferdy sopan menjulurkan tangannya untuk bersalim dengan sang nenek.
“Malam.” Jawab sang nenek datar, terlihat ekspresi wajah nenek kesal, dalam penerangan cahaya bulan purnama.
“ Terima kasih ya Fer, sudah anterin aku pulang.” Ucapan Zahra membuat Ferdy sedih. Itu artinya dia tidak diizinkan masuk ke rumah. Mana dia takut untuk pulang ke rumahnya malam-malam begini. Karena insiden tadi. Maklumlah ABG, masih penakut.
“Oohhh iya, sama-sama. Sebagai teman kita harus saling bantu.” Jawabnya cengengesan, menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya yang kedinginan. Dia berharap sekali ditawarkan masuk ke rumah nya Zahra. Sekalian dia ingin tahu lebih banyak mengenai wanita itu. Tapi, tanda-tanda ditawarin singgah gak ada.
“ Nak Ferdy, terima kasih ya. Kami masuk dulu.” Sang nenek merangkul cucunya, berjalan ke dalam rumah. Ferdy yang kecewa, malah mengekor di belakang. Sontak Nenek dan cucu itu menoleh ke belakang.
“ Maaf ya Nek. Aku numpang di rumah nenek ya? Sampai terbit matahari.” Ucapnya gugup, karena tatapan sang nenek terlihat tidak bersahabat.
Sang nenek, bukannya sombong. Tapi, dia sedang menjaga harga diri mereka. Akan terlihat tidak baik, apabila, mereka memasukkan seorang pria ke dalam rumah, malam-malam begini. Apalagi di rumah itu, tidak ada pria. Sang nenek sedang berjaga-jaga. Tahulah di kampung, semuanya pada diurusi tetangga.
Zahra memberi kode dengan kedipan mata, agar sang nenek, mengizinkan Ferdy masuk ke dalam rumah, menunggu sampai esok. Dengan berat hati sang nenekpun mengizinkan Ferdy masuk ke dalam rumah. Berharap, dengan masuknya ferdy malam-malam ke rumah mereka tidak minimbulkan fitnah dan masalah nantinya.
TBC
__ADS_1
Like, content, vote ya say