AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Ditantang


__ADS_3

Zahra yang sudah merasa baikan itu, memohon agar mengikuti ujian di sekolahnya saja. Dia bosan juga di rumah terus. Apalagi Ezra hari ini juga harus ke kantor. Dengan berat hati Ezra lun akhirnya menuruti keinginan sang istri.


"Jam sepuluh Hubby jemput ya!" ujar Ezra, mengecup kening sang istri. Zahra seneng sekali dapat ciuman pagi ini. Dia merasa begitu disayang.


"Hubby gak kerja emang?" tanya Zahra menatap lekat Ezra yang dari tadi gak berkedip melihatnya.


"Kerja, nanti Hubby sempetin jemput adek." Ujarnya mengagumi kecantikan sang istri yang pakai seragam putih abu-abu dan memakai hijab.


"Gak usah By, biar supir saja yang jemput. Nanti aku ke rumah umak ya pulang sekolah." Pinta Zahra memelas. Karena disaat dia mengatakan ibunya. Raut wajah Ezra langsung berubah tak tenang.


Sebenarnya Ezra hanya sebentar di kantor. Menunggu Zahra pulang sekolah saja, setelah dia menjemput Zahra dia ingin bekerja dari rumah saja. Sekalian menemani sang istri. Tapi, sepertinya dia harus lebih mengerti istrinya itu, yang ingin selalu dekat dengan ibunya.


"Boleh ya By?" pinta Zahra penuh harap.


"Iya sayang!" Zahra langsung meraih tangan sang suami, mencium punggung tangan sang suami dengan lembut. Setelah itu Zahra bersiap untuk turun. Pintu mobil sudah dibukakan oleh supir.


"Hubby jangan ikut turun!" cegah Zahra disaat melihat suaminya itu ingin turun dari mobil itu.


Dia tak mau, dengan dirinya diantar Ezra ke dalam, akan menimbulkan masalah lagi.


"Napa sayang?" tanya Ezra bingung.


Zahra pun berbisik di telinga sang suami. Ucapan istrinya itu membuat Ezra mengerti. Akhirnya pria itu hanya bisa melihat kepergian masuk ke sekolah itu. Setelah Zahra hilang dari pandangan matanya, mobil yang ditumpanginya pun melaju menuju kantor.


Selama proses ujian berlangsung. Tentu saja Zahra jadi pusat perhatian. Karena penampilan wanita itu sudah berubah. Siswi yang usil pun tak ada lagi. Karena, mereka sudah takut pada Zahra. Secara geng liberty saja habis babak belur dibuatnya.


"Ra, bisa kita bicara sebentar?" Ujar Ferdy, pria itu menghampiri Zahra ke ruang ujiannya. Ruang ujian. Zahra dan Ferdy berbeda.


Zahra yang bersiap-siap untuk pulang itu pun akhirnya menoleh ke pria yang berdiri dengan ekspresi wajah sedih di hadapannya. Dia tak perlu bicara lagi pada Ferdy. Karena tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Dia sudah jadi istri seseorang dan sudah hamil. Tak ada gunanya lagi melayani dan berbasi-basi dengan Ferdy. Walau pria itu bisa dikatakan cinta pertamanya.


"Fer, sebaiknya kita gak usah komunikasi lagi. Kamu tahu sendiri kan statusku seperti apa sekarang." Ujar Zahra, tak mau menatap mata sedihnya Ferdy.


"Eehmmm.... cepat sekali kamu melupakanku Ra!" ujar pria itu.


Zahra sudah mulai tidak tenang. Karena masih ada beberapa siswa/siswi di ruangan itu memperhatikan mereka. Seperti nya Ferdy sedang tidak jernih pikirannya. Kalau tak dituruti keinginannya kali ini. Bisa jadi panjang urusannya.


"Ayo kita bicara di luar!" pinta Ferdy, dia juga merasa kalau pandangan semua mata tertuju pada mereka. Mau tak mau Zahra mengikuti langkah pria yang pernah dicintainya itu. Ternyata Ferdy memilih tempat bicara di taman belakang sekolah. Keduanya duduk di bangku beton taman itu. Dengan posisi berhadapan. Zahra tak mau duduk di sebelah Ferdy, dia harus jaga jarak dengan pria ini.


Zahra mau bicara dengan Ferdy, karena masih ada waktu setengah jam lagi untuk ia pulang. Karena supir akan menjemputnya pukul 10 pagi. Ini masih pukul 09.30 wib, ujian telah usai.


"Kamu bahagia sekali nampaknya setelah menikah. Penampilan juga berubah." Ujar Ferdy menatap Zahra yang kini menundukkan kepalanya. Wanita itu menjaga pandangannya.


"Iya Fer, bahagia itu tergantung bagaimana kita mendefinisikannya. Bahagia itu kita yang ciptakan, bukan orang lain Fer." Ujar Zahra tersenyum tipis, menatap sesaat Ferdy yang dari tadi tetap setia menatapnya. "Hidup harus disyukuri dan ikhlas menjalaninya, agar tidak setres." Ujarnya lagi, kini Zahra tertawa kecil. Dia teringat baru-baru menikah dengan Ezra. Setresnya minta ampun.


"Aku belum bisa melupakanmu Ra." Ujar Ferdy lirih, Zahra yang tadi sudah memalingkan wajahnya, kini kembali menatap pria yang lagi galau itu


"Waktu yang akan menjawabnya Fer. Ikuti saja permainan waktu, karena dengan bergulirnya waktu, semua pasti akan basi." Ujar Zahra dengan tatapan seriusnya, memberi pengertian pada Ferdy.

__ADS_1


"Gak bisa Ra!" tegas Ferdy. Pria itu tak bisa menerima ucapan Zahra. Dia bangkit dari duduknya. Menghela napas berat dan mengusap kasar wajah nya. Ferdy terlihat tak bisa menerima kenyataan.


"Fer, sadarlah, rasa yang kamu miliki saat ini sudah tak pantas lagi untuk dipertahankan. Aku ini tak pantas untukmu Fer. Aku," Zahra akhirnya ikut emosional. Rasanya dadanya juga sesak. Dia juga belum bisa melupakan Ferdy seutuhnya. Tapi, dia tak mau larut dengan perasaan salah itu. "Aku sudah jadi milik orang lain." Ujar Zahra penuh penekanan.


"Aku tahu, tapi, kalau aku melihatmu. Aku, aku!" Ferdy malu terlihat lemah di hadapan Zahra. Dia juga kesal pada dirinya sendiri yang susah move on dari wanita itu


"Jangan lagi menadah hujan ditengah-tengah kemarau. Sebab, itu hanya akan membuang-buang waktumu saja Fer. Kita harus Lepas semua mimpi-mimpi yang pernah menjadi impian bersama kita." Zahra bangkit dari duduknya. Dia harus pergi, waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 wib, jangan-jangan supir sudah menunggunya di parkiran.


"Tunggu Ra!"


Zahra menghentikan langkahnya, tapi tak mau menoleh kebelakang.


"Baiklah, aku akan mengikuti permainan waktu. Memang benar di dunia ini tak ada yang abadi. Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi, Ra benarkah kamu bahagia hidup bersama pria yang usianya terpaut jauh denganmu. 24 tahun Ra. Dia itu pantasnya jadi ayahmu!" Ferdy masih berusaha menggoyahkan pendirian Zahra.


"Fer, kenapa kali ini, kamu gak pakai otakmu. Aku ini, sudahlah...!" Zahra tak mau berdebat panjang lagi. Kenapa Ferdy jadi susah dibilangin. Apa susahnya sih melepaskannya. Kalau dia menanggapi ucapan Ferdy, jadi mereka mau menjalani kehidupan seperti apa? dia sudah menikah dan hamil.


Zahra berlari meninggalkan tempat itu, tentu saja Ferdy tak terima ditinggalkan begitu saja. Bahasan mereka belum selesai dan Zahra main pergi seenaknya.


"Ra ... Zahra.,..!" Ferdy berlari kencang menyusul Zahra. Mereka melewati taman-taman yang ada dibelakang gedung sekolah itu.


Grapppp...


Ferdy berhasil menangkap tangan Zahra dan menarik kuat tubuh wanita itu. Sehingga kini Zahra berada dalam dekapan Ferdy. Zahra terkejut, dia berontak agar Ferdy melepaskannya.


"Fer, kamu kenapa seperti ini. Lepas..!" ketus Zahra, mulai kesal dengan sikap Ferdy.


"Fer... Sadarlah! kamu gak bisa menyimpulkan bagaimana hidupku kelak, lepas Fer..!" Disaat Zahra berontak ingin lepas, belitan tangan Ferdy semakin kuat di pinggang wanita itu.


"Kamu tak pernah mencintaiku Ra, cepat sekali kamu melupakanku." Ujar Ferdy lirih, dia sedih melihat sikap Zahra yang ketus dan kesal padanya.


"Cinta? aku ini istri orang Ferdy. Gak Mungkin lagi aku mencintaimu," ucapan Zahra terhenti disaat mendengar suara yang sangat familiar.


"Apa-apa an ini?" tegas Ezra untuk kedua kalinya. Matanya kini memerah menatap Zahra yang masih dalam rengkuhan Ferdy. Emosi pria itu tersulut. Tapi, dia gak mau terpancing dari apa yang dilihatnya. Amarah harus diredam. Dengarkan dulu penjelasan dari sang istri.


Pria itu mempercepat langkahnya menghampiri Zahra dan Ferdy. Saat ini Zahra terus saja berontak, agar Ferdy melepas belitan tangannya.


"Lepaskan istriku!" Ezra menarik kuat tangan Ferdy yang membelit pinggangnya Zahra. Tapi, tautan kedua tangan Ferdy sangat kuat membelit pinggang wanita itu. Ferdy seperti kerasukan setan saja.


"Lepas...!" Ezra kembali menarik kuat tangannya Ferdy, yang mengakibatkan Ferdy terjatuh dan Zahra menimpanya. Saat itu juga, Ezra membantu sang istri bangkit dari atas tubuhnya Ferdy


"Kamu gak kenapa-kenapa kan sayang?" Ezra terlihat panik dan sangat mengkhawatirkan Zahra. Dia memegangi perut istrinya itu.


"Sakit..?" tanyanya penuh kekhawatiran, masih memeriksa semua bagian tubuh sang istri.


Saat ini Ferdy yang tersulut emosinya sudah bangkit. Dia kesal sekali pada Ezra. Gara-gara pria ini dia kehilangan wanita yang sangat dicintainya.


Puukkk...

__ADS_1


Satu tinju mendarat sempurna di pipi kirinya Ezra. Dia yang lagi sibuk memeriksa keadaan Zahra, tidak menyadari lagi, kalau Ferdy yang kesetanan sudah mengepalkan tangannya di sebelahnya.


Tinju dari Ferdy sepertinya sangat kuat. Sudut bibir Ezra mengeluarkan darah. Ezra melap cairan merah yang ada di sudut bibirnya dengan jempolnya.


"Hubby..!" Zahra langsung mendekap Ezra. Dia tak mau ada pertengkaran. Zahra mendorong tubuh Ezra agar mundur. Dan matanya penuh harap, memohon pada Ezra agar mengalah saja.


"By, kita pulang!" ujar Zahra dengan berderai air mata. Dia tak sanggup melihat sudut bibir sang suami yang berdarah. Dan kepalan tangan sang suami yang siap menyerang. Apalagi dada suaminya itu bergemuruh hebat menahan emosi.


"Mau kabur kamu! hari ini harus tuntas. Aku tak terima kamu merebut Zahra dariku!" teriak Ferdy, mempercepat langkahnya ingin menyerang Ezra kembali.


Ferdy belum merasa puas melampiaskan kekesalannya pada Ezra. Apalagi saat di taman rumah sakit dia babak belur dibuat Ezra.


"Fer.. Ferdy... sudah....!" Zahra merentangkan kedua tangannya. Menghadang agar tidak terjadi perkelahian.


Zahra tahu Ferdy jago bela diri, tapi Ezra juga tak kalah jagonya ilmu bela diri, apalagi kungfu suaminya sangat hebat. Saat ini wanita itu tak mau ada yang terluka.


Ezra berusaha meredam emosinya. Dia tak mau terpancing. Kalau dia dan bocah ini berkelahi di tempat ini. Bisa-bisa dia jadi bahan tontonan orang dan masalah akan semakin panjang. Status Zahra sebagai siswi yang sudah menikah juga pasti akan terbongkar.


Siswi SMA belum boleh menikah.


Ezra memundurkan langkahnya, mengikuti langkah Zahra yang terus mundur menjauh dari Ferdy yang kesetanan.


"Pengecut!


Hahhaha


"Yakin kamu Ra, bahagia bersama pria pengecut itu. Lihat saja, dia mau kabur, takut aku hajar." teriak Ferdy seperti orang kesetanan, memukul mukul kuat dadanya seperti kingkong.


"Dasar anak sinting..!" Hardik Ezra dengan ekspresi wajah merendahkannya. Dia merasa Ferdy bukanlah saingannya. Sempat tangannya beraksi, maka dia tak akan berhenti, kalau lawannya gak mati.


"By, ayo By!" Zahra menarik kuat tangan Ezra. Mau tak mau pria itu mengikuti langkah istrinya itu dengan menahan amarah yang berkobar-kobar.


"Sialann...!" Ferdy yang kesal berlari dengan kencang, menendang sekuat tenaga punggung Ezra dari belakang.


Bruggkk..


Tangan Zahra terlepas dari genggaman Ezra, disaat pria itu terjatuh.


Ezra yang tersungkur itu tak bisa menahan diri lagi. Rahang kokoh nya terlihat mengeras. Matanya melotot tajam. Gigi bergelutuk


Kedua tangan mengepal kuat. Pria itu langsung berdiri, dengan kedua tangan siap beraksi. Dan menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, yang mengeluarkan suara seperti retakan kayu.


"Ayo, ayo maju orang tua. Ku patahkan tulang keroposmu itu…!" hardik Ferdy tertawa devil. Membuat ancang-ancang dengan gerakan-gerakan jingkatnya. Kali ini dia yakin bisa mengalahkan Ezra.


TBC.


Like, coment positif vote. Raih pulsa 20 ribu

__ADS_1


__ADS_2