
Anin sudah selesai ditangani pihak medis. Bimo juga sudah memberitahunya, bahwa pembatalan pernikahan sudah didaftarkan tadi pagi. Dengan alasan, menikahi mertua dan pernikahan dengan wali yang tidak sah. Air mata Anindya tak henti-hentinya mengucur deras saat mendengarkan penjelasan dari Bimo.
Dia merasa jadi wanita yang sangat sial dan tak dibutuhkan. Kenapa hidup sekejam ini? Tak mungkin dia bersaing dengan anaknya sendiri. Untuk apa? toh wanita itu selama ini bekerja keras untuk kebahagiaan putrinya. Kalau memang dengan mengalah membuat semuanya baik dan putrinya bahagia. Dia akan melakukannya. Walau ada rasa sedih dan sakit, perih masih bercokol di hatinya. Itu biasa, karena dia adalah manusia. Bukan malaikat, dengan seiring berjalannya waktu, tentu rasa sakit itu perlahan memudar.
Bimo juga sudah menceritakan penyebab Ezra dan Zahra menikah. Yang dimulai dari pertikaian antara Rara dan Zahra. Sehingga berlanjut ke penjebakan di hotel. Tentu saja Anin semakin sedih mendengar ceritanya Bimo. Tenyata putrinya itu, sedang menghadapi masalah berat dan dia tak bisa membantu putrinya itu. Karena dia memang sibuk kerja jadi koki di rumahnya Ezra.
Fakta pun terkuak disaat Ezra dan Anin pulang kampung, untuk bertemu keluarganya. Anin tak henti-hentinya menangis mendengar penjelasan Bimo yang detail itu. Tentu saja dia akan setuju dengan pembatalan pernikahan itu. Karena dia hanya istri di atas kertas. Tak perlu Bimo menjelaskan lebih detail lagi. Dia sudah yakin, Ezra sudah menyentuh putrinya itu. Jelas pria itu akan memilih putrinya. Secars putrinya lebih muda.
Amin hanya bisa menerima semua yang terjadi saat ini tak ada gunanya lagi mencari siapa yang salah dan benar. Keadaan lah yang membuat semuanya jadi runyam seperti saat ini. Mungkin sudah begini jalan hidup mereka.
Anindya juga merasa sangat bersalah. Harusnya dia tak buru-buru mau menerima ajakan menikah Ezra, walau dia desak pria itu saat itu. Barusnya dia meminta waktu berfikir seminggu atau dua minggu. Setidaknya berdiskusi dengan keluarganya di kampung. Dan bila penting membuat syarat harus menikah di rumahnya yang ada di kampung. Seandainya dia melakukan itu saaat Ezra melamarnya. Ini semua tak akan terjadi.
Anin merasa sangat malu pada Bimo sat ini. Nasibnya malang benar. Suami sendiri jadi suami dari putrinya. Wanita itu kecolongan banyak. Wanita yang lagi kacau itu akhirnya memilih untuk berpura-pura tidur itu. Dia tak ingin lagi mendengar cerita dari Bimo. Untuk apa lagi dia mendengar itu semua. Toh dia harus berpisah dari Ezra.
Wanita yang purai tidur itu kini sedang memikirkan apa yang akan dilakukannya. Ke mana dia pergi setelah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Haruskah dia balik ke kampung? karena dia tak akan sanggup tinggal serumah dengan Anak dan mantan suaminya nanti.
Sepertinya dia akan mengontrak rumah saja. Akan menggunakan uang gaji terakhirnya sebelum jadi nyonya besar, untuk modal berjualan sarapan. Dia tak mungkin meminta nafkah Iddah pada Ezra. Karena dia tak perlu menjalani Iddah, dia beluk disentuh pria itu.
Bimo tahu, wanita yang berbaring di hadapannya pura-pura tidur saat ini. Karena kedua bola mata wanita itu terlihat bergerak-gerak. Bimo tersenyum kecil, merasa lucu dengan sikap Anin. Dia pun akhirnya memilih keluar dari ruangan itu. Membiarkan Anin untuk menenangkan diri. Tentu saja, Bimo meminta perawat menjaga di dalam kamar itu.
Bimo mencari tempat yang sepi di lorong rumah sakit itu. Dia akan menghubungi Bosnya
Melaporkan apa yang terjadi saat ini. Sebenarnya Bimo merasa bersyukur ada orang yang ikut campur dan memberi tahu Anin tentang semua ini. Karena, Zahra dan Ezra, merasa tak sanggup menceritakan pada Anindya.
"Aduuhh si bos, kenapa ponselnya gak aktif - aktif. Apa dia sedang mencetak anak lagi. Gak capek apa? kemarin lebih dari seminggu mencetak anak dan hapenya dimatikan? dasar si bos puber kedua, ketagihan dia setelah tahu rasanya membobol perawan." Ucapnya kesal, kerajaannya berlipat ganda akhir -akhir ini. Dan kebanyakan mengurus tentang masalah pribadi sang bos. Syukur ada Dika asisten yang handal dalam pekerjaan. Sehingga Bimo, sekarang beralih fungsi jadi Dokter cinta dan tempat curhat.
"Ya sudahlah, nanti kalau sudah puas. Pasti ponselnya diaktifkan lagi." Ucapnya, dia akan mendatangi Rani, ibunya Rara. Karena, dia baru saja menerima pesan. Kalau nomor itu adalah nomor itu adalah milik seorang wanita. Bimo yakin, itu adalah Rani.
Empat hari yang lalu Bimo dan Rani bertemu di tempat rehabilitasinya Rara. Saat itu, Rani menumpahkan semua kekesalannya pada mantan suaminya. Karena, tidak peduli dengan putrinya Rara. Bahkan Ezra sudah lebih dari seminggu tak mengunjungi Putrinya Rara. Itu yang membuat Rani dongkol.
Sebelum pria itu meninggalkan rumah sakit m Dia meminta dua pengawal berjaga di depan ruang rawatnya Anin. Bimo harus lebih waspada. Dia tak mau ada lagi kejadian yang lebih fatal. Karena, usahanya Rani untuk menghancurkan Ezra tak berhasil. Karena Anin, wanita yang Soleha dan sabar. Hasutan Rani dengan mengirim foto Ezra dan Zahra tidak berhasil.
Sebelum pria itu melaksanakan tugas pentingnya. Dia mengirim pesan pada Ezra. Semoga bos nya itu segera mengaktifkan ponselnya.
***
Di sebuah kamar mewah yang sejuk, sepasang suami istri baru saja olah raga pagi menjelang siang di atas ranjang. Ezra yang sangat merindukan istrinya itu, mengeluarkan semua jurus kamar sut era nya, agar Zahra Ter angsang dan mau diajak bercinta. Zahra yang mengetahui Ezra adalah ayah tirinya, tentu merasa aneh dan enggan untuk melakukan itu. Ada rasa tak nyaman dan merasa bersalah pada ibunya.
__ADS_1
Ezra pria berpengalaman, membuat Zahra jadi bergairah bukanlah perkara sulit buatnya. Bahkan mereka melakukannya empat ronde. Hingga kini dapat waktu Dzuhur, sehingga permainan pun break. Mereka perlu ISOMA (Istirahat sholat makan)
"Katanya mens, mana darahnya sayang? kalau adek itu mens tentu di sini sudah ada bercak darah. Coba lihat gak ada kan?" Ezra menunjukkan miliknya yang masih tegang dan cairan milik keduanya masih menempel di batang milik suaminya itu. Tentu saja Zahra bergidik geli dan takut melihat punya suaminya itu. Jujur, Zahra belum terbiasa melihat batang keras tak bertulang yang membuatnya fly itu. Dia kadang masih merasa aneh dan risih, jika melihat langsung milik suaminya itu. Apalagi kalau suaminya itu, memintanya memainkannya. Dia pasti merinding geli, terus merasa aneh, jijai, tapi penasaran dan rasanya enak.
Aakhh... Entahlah, hal baru ini sungguh membuat Zahra ketagihan.
"Adek itu hamil sayang?" Pria yang polos itu menyibak selimut yang menutupi tubuh sang istri dan langsung mencium perutnya Zahra. Tentu saja kelakuan sang suami, membuat Zahra kesal. Dia bersusah payah menarik selimut untuk menutupi tubuh polos nya, setelah mereka selesai bermain. Dan sekarang malah di lempar.
"Iihh Hubby sudah dong, geli tahu!" Ezra mengecup perut sang istri tanpa ada yang terlewat kan, bahkan pria itu menj ilati pusatnya Zahra. Yang membuat Zahra terpaksa menarik kuat kepala sang suami. Ingin menjambak rambutnya Ezra, tak bisa karena pria itu tak pernah memanjang rambut. Potong rambut nya selalu cepak.
"Kalau bener adek hamil, kenapa kita malah lakukan itu? kan berbahaya?" Ujar Zahra sedikit bingung dan ketakutan.
"Adek itu rahimnya kuat. Ininya saja mencengkeram kuat. Auuww..!" Ezra yang gemes, menempelkan tangannya ke bagian inti istrinya itu. Zahra terkejut dengan kelakuan sang suami. Dia yang kebablasan menimpuk kuat kepala Ezra dengan bantal.
"Ya Allah, ini namanya KDRT sayang!" Ezra mendesis, pura-pura kesakitan, memegang kepalanya.
"Aku tu gak suka digituin. Emangnya itu mainan?" Zahra menangis dengan cengengnya. Jujur, dia belum terbiasa dengan hubungan suami istri ini. Jadi, dia suka kesal, dengan tingkah suaminya yang suka nyeleneh tentang miliknya. Dia merasa diolok-olok.
"Ya ampun, koq nangis sih sayang? tadi menjerit keenakan, lah koq sekarang jadi nangis?" Ezra mencoba meraih Zahra dalam pelukannya. Tapi, Zahra menolak, karena suaminya itu kembali mengolok-oloknya. Emang benar, dipermainan trip kedua, Zahra sudah percaya diri. Bahkan dia menuntun Ezra menyentuh bagian yang disukainya, tentu saja mulutnya Zahra tak henti mengoceh, mengekspresikan nikmatnya surga dunia yang diberikan sang suami. Apalagi Ezra mainnya slow tapi membekas dalam. Maklumlah pak tua. Sudah master.
"Iya maaf sayang, lain kali gak gitu lagi. Semoga bisa!" mencium kepala sang istri gemes.
"Iihh..!" Zahra kesal mencubit perut sixpack kerasnya Ezra. Bahkan Zahra kesusahan untuk mendapatkan otot untuk dicubit.
"Di cubit lagi, adek gak kasihan lihat Hubby. Lihat ini sayang, ini sayang!" Ezra membalik badannya menunjukkan punggung nya yang memerah bekas cakaran Zahra. Disaat wanita itu ingin pelepasan habislah Ezra kena cakar istrinya itu.
Zahra terkejut melihat punggung suaminya itu. Dia memerhatikan kukunya yang sudah mulai panjang. "Maaf!" ujar lembut.
"Maaf saja gak cukup." Ezra pura-pura merajuk. "Cepat cium disetiap bekas cakaran!" titah Ezra sok cool.
Kening Zahra mengerut mendengar ucapan suaminya yang serius itu. Dia gak mau melakukan itu, bisa-bisa mereka gak keluar kamar sampai besok.
Dia sudah ingin pulang, bertemu sang ibu. Menjelaskan semuanya. Dia sudah tidak tenang sebenarnya. Tapi, dia terpancing dan terpengaruh juga dengan bujuk rayunya Ezra.
Ezra mengemis padanya agar mereka melakukan itu, karena Ezra beralasan kalau mereka tidak melakukannya. Maka dia tidak akan bisa berfikir jernih. Karena kepala atas dan bawahnya sudah sama-sama panas dari kemarin. Kepala atas panas karena memikirkan masalah, kepala bawah panas, karena kangen masuk sarangnya.
Tadinya Zahra selalu menolak, karena Ezra belum memutuskan hubungan dengan ibunya
__ADS_1
Tapi, dia terpancing juga, dengan sentuhan suaminya itu. Dan kalau sudah mulai, keduanya lupa waktu dan daratan.
"Aku mau pulang, aku gak mau lagi. Capek, ini selang.--kanganku sudah kram. Gak mau!" ketus Zahra.
"Pandai nya istriku ini ngeles, dia ngangkang hanya sekali, bilang nya sakit di selang --kangan." Ezra pun akhirnya tak mau memaksa sang istri untuk mencium punggung yang sudah merah-merah karena kena cakaran itu. Dia tau istrinya itu pasti lelah. Apalagi dia yakin, Zahra pasti hamil. Mana mereka tadi melakukan empat gaya lagi.
"Aku mau pulang!" rengek nya Manja, yang membuat Ezra heran sekaligus senang. Istrinya itu, kenapa jadi manja begini. Ezra semakin cinta saja pada Isti kecilnya itu.
Zahra sudah sangat ingin pulang. Dia ingin minta maaf sama ibunya. Siap menerima hukuman dari sang ibu. Dia akan menjelaskan semuanya, semoga ibunya itu bisa mengerti. Dan jika ibunya tak ingin pisah dari Ezra. Dia akan mengalah, dan ikhlas meniggalkan Ezra. Walaupun dia sedang hamil.
"Baiklah istriku yang manja, kita mandi dulu, terus makan dan pulang." Tubuh rampingnya Zahra sudah melayang di udara. Pria itu sudah menggendongnya ke kamar mandi.
Aduhhh.... Ezra yang maniak kepada Zahra itu, malah menyempatkan sekali ronde lagi. Walau rasa permainan kali ini tak seenak tadi, dia tetap senang, karena Zahra juga mau.
Habis mandi dan makan romantis suap-suapan. Pria itu pun akhirnya mengaktifkan ponsel nya. Tentu saja sudah banyak laporan panggilan. Mulai dari Anin, Niko dan Dika.
Saat itu juga sebuah pesan masuk dari Bimo. Dia pun membukanya.
Bos, nyonya besar sudah tahu semuanya. Dan nyonya besar merestui hubungan bos dan Non Zahra.
"Yes., Yes..... Makasih ya Allah.... Tak kusangka semuanya cepat selesai." Ezra dengan cepat menggendong Zahra. Pria yang lagi bahagia itu, berputar-putar sambil menggendong Zahra. Yang membuat Zahra heran dengan kelakuan sang suami yang seperti anak TK, yang suka musing.
"Ya Allah Hubby, stop. Stopp... Aku pusing nih!" keluh Zahra memegangi kepalanya yang memang terasa pusing.
"Iya, iya sayang. Istriku, maaf!" Ezra mendudukkan sang istri di atas ranjang. Sungguh dia benar-benar pusing. Bahkan kini dia sudah berkeringat dingin.
"Awas By, Awas.... Zahra ingin muntah, perutnya terasa diaduk-aduk." Dia berlari ke arah kamar mandi. Menutup mulutnya dengan kedua tangan nya. Mencoba menahan muntahnya, agar tidak keluar di kamar itu.
Hhuueekkkk..
Wanita itu akhirnya mengeluarkan semua makanan yang baru saja disantapnya ke dalam wastafel itu. Ezra jadi merasa bersalah dan panik. Tak seharusnya dia memutar -mutarkan sang istri.
TBC
Like, comen vote, hadiah.
Kalau banyak vote dan hadiah esok. Kita akan grazy up say🙂ðŸ¤ðŸ˜˜
__ADS_1