
"Selesai makan gak boleh langsung tidur. Makanan dan cairan lambung dapat naik kembali ke kerongkongan. Kamu gak mau kena GERD kan?" Ezra menghampiri Zahra yang sudah sembunyi di balik selimut. Zahra yang takut kepada suaminya itu, cepat-cepat naik ke atas ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, setelah kenyang.
"Ayo gosok gigi dulu, nanti kalau kita ciuman, gak bau jigong."
Brugghhkk...
Zahra mendorong kuat tubuh suaminya itu. Saat Ezra menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Serangan mendadak itu membuat Ezra terduduk dengan bodohnya di lantai. Bokongnya terasa sakit, karena Zahra mendorongnya cukup kuat.
"Sudah punya tenaga rupanya. Baiklah, kita mulai saja." Ezra bangkit cepat dari duduknya. Dan langsung melorotkan celananya.
"Jangan... Jangan.... Saya gak sengaja." Zahra turun dari ranjang, menjauh dari Ezra kesisi sebelahnya tempat tidur. Berdiri di sisi ranjang itu dengan takutnya.
"Oohhh gak sengaja berbuat kasar pada suami sendiri." Ezra menampilkan wajah sangarnya.
Zahra mengangguk dengan tubuh yang bergetar. Wanita itu merasa terancam.
"Untuk kali ini dimaafkan. Sana kamu gosok gigi." Ezra menarik lagi celana piyamanya yang sempat dilorotkannya itu.
Zahra terbirit-birit lari ke kamar mandi. Sedangkan Ezra memegangi perutnya yang terasa kram, karena menahan tawa. Dia merasa lucu dengan tingkah polos dan konyol sang istri.
Zahra menggosok giginya dengan penuh rasa dongkol. Sepertinya Ezra tak akan melepaskannya. Dia merutuki keputusannya, yang mau menikah dengan Ezra. Karena ada niat untuk balas dendam. Tapi, semakin kesini, dia merasa tak sanggup melakukan kejahatan itu.
"Cepett.....Halwa..... Saya hitung sampai sepuluh. Kalau kamu gak keluar dari kamar mandi. Aku akan memaksamu melayaniku." Ezra berteriak keras. Pria itu sudah duduk dengan santainya di atas ranjang, bersandar di headbord tempat tidur.
__ADS_1
Ezra yakin, saat mereka di kamar hotel. Dia tidak menodai Zahra. Kalau betul dia sudah menodai Zahra. Tak mungkin istri kecilnya itu, selalu minta cerai dan tak mau diajak berhubungan badan.
Memikirkan kemungkinan itu, membuat Ezra sedikit legah. Setidaknya dia tidak berbuat zina.
"Ayo naik, kita harus bicara dari hati ke hati." Menepuk pelan ranjang di sebelahnya.
Zahra yang merasa dirinya terancam itu, melirik Ezra. Mawas diri, dan memastikan Ezra tidak akan merenggut keperawanannya.
Melihat ekspresi sang suami yang tenang dan menyunggingkan senyum manis di bibirnya yang tipis dan terlihat menggoda itu, dia pun akhirnya berani naik ke atas ranjang. Duduk dengan kakunya di sebelah Ezra, yang menatapnya dengan lekat.
"Aku sudah dengar semuanya dari Bimo. Wajar sekali kebencianmu itu padaku dan Rara. Jikalau aku di posisimu. Aku juga akan bersikap yang sama, seperti sikapmu saat ini." Ezra bicara dengan lembut. Tapi, kalimat yang keluar dari mulut sang suami, malah membuat dadanya terasa sesak bahkan kedua matanya kini sudah berkaca-kaca. Semua kejadian yang terjadi antara dirinya dengan Ezra dan Rara pun kembali melintas di benaknya.
"Malam itu, aku dijebak." Kini Zahra menoleh kepada sang suami, yang terlihat sangat jujur saat bicara itu. "Sialnya aku yang kena imbas, dari perbuatan putriku sendiri." Zahra menampilkan ekspresi wajah mulai tak percayanya, bingung dengan ucapan Ezra. Ezra mulai panik, melihat tatapan ketidakpercayaan istrinya itu, dia takut sekali Zahra menganggapnya mengarang cerita.
"Aku dan Rara tidak bekerja sama untuk menghancurkanmu. Aku hanya korban dari kelakuan buruk putriku sendiri. Ya, ini pasti teguran dari Allah buatku, karena aku gagal dalam mendidik putriku sendiri." Zahra mulai simpatik kepada Ezra yang bicara dengan tulus itu. Mengakui kesalahannya sebagai orang tua yang gagal. Sepertinya suaminya itu juga merasa tertekan dengan kelakuan sang anak.
"Kalau aku dan Rara ingin membuat hidupmu hancur, untuk apa aku menikahimu. Ya bisa saja, aku tak peduli dengan semua masalah itu. Tapi, aku mempertanggung jawabkan semuanya Wa."
Tadinya Zahra, sudah mulai simpatik dengan suaminya itu Tapi, disaat sang suami memanggil dengan Wa. Dia jadi merengut Dia tak suka dipanggil dengan sebutan itu.
"Sama saja, menikahiku juga menimbulkan masalah. Dengan pernikahan kita, istri bapak tercinta itu, pasti sakit hati. Lagian, aku gak suka tuh sama bapak!"
"Yakin kamu gak suka samaku Halwa? bukannya saat pandangan pertama. Matamu ini tak berkedip melihatku!" Ezra tertawa tipis. Mengusap wajah Zahra dengan kelima jarinya. Zahra mendengus kesal dengan kelakuan sang suami, yang memperlakukannya seperti anak kecil itu.
__ADS_1
Sekilas kejadian saat pertama kali bertemu dengan Ezra, melintas di pikirannya. Saat mobil Ezra, menyerempet motor bututnya Zahra. Ya, dia sempat terpesona pada Ezra saat itu.
"Pesonaku ini kuat sayang. Mulai dari gadis, janda bahkan istri orang berharap ku nikahi. Lah... kamu saja yang sok jual mahal, minta cerai segala."
"Aku gak mau jadi istri simpanan. Aku gak gila harta. Aku belum mau nikah. Aku masih mau kuliah, kerja, kumpulin duit banyak. Bahagiakan ibu dan nenek dengan uangku sendiri. Bukannya jadi istri simpanan. Ceraikan aku napah? terus itu tambang tetap jadi milikku. Lagian Pak tua kan punya istri."
Ezra hanya manggut-manggut mendengar ocehan sang istri yang bertubi-tubi itu. Kalimat yang diucapkan sang istri, harusnya terdengar memilukan. Tapi, cara bicara Zahra yang lucu, membuat Ezra jadi pingin tertawa.
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu, kalau tak ada alasan yang kuat untuk hal itu." Tegas Ezra, yang membuat Zahra terhenyak
"Aku gak mau nanti istri pak tua melabrak aku ya?! bisa ku patahkan nanti tulang-tulangnya apabila Istri bapak itu menyalahkanku. Aku tak mau dikatakan pelakor!" Zahra menarik napas panjang, saat mengatakan semua yang mengganjal di hatinya itu.
"Tidak akan, kamu harus yakin pada suamimu ini. Suamimu ini bukan orang jahat, seperti pemikiranmu. Kalau di hatimu tak ada lagi dendam. Aku akan membicarakan pernikahan kita padanya. Aku yakin, Dyah tak akan keberatan." Zahra merasa aneh dengan pemikiran pak tua di hadapannya. Apa susahnya melepasnya.
"Gila.... yakin banget sih, istrinya itu gak akan marah. Mana ada wanita yang mau suaminya punya WIL." Zahra tersenyum sinis pada Ezra yang terlihat percaya diri itu.
"Itu urusan saya. Kamu tak perlu ikut campur di dalamnya." Ezra menatap tegas Zahra. Dia yakin, istrinya Anin, tidak akan keberatan jika dia punya istri dua. Toh dia akan bersikap adil.
"Gak ikut campur? mana mungkin saya gak diikut campurkan pak. Pernikahan kita ini salah pak. Bapak menikahiku, tanpa persetujuan istri bapak. Ini masalah, aku gak mau kena masalah lagi. Apa susahnya sih menceraikan aku. Ku jatuhkan kamu talak tiga Halwatuzahra! ngomong gitu aja sih, apa susahnya!"
Kedua bola mata Ezra membeliak mendengar ucapan sang istri yang beruntun itu. Sampai kapan pun dia tidak akan menceraikan Zahra. Dia merasa beruntung bisa menikah dengan Zahra. Zahra itu pinter, cantik, punya karakter yang tangguh. Dia butuh orang seperti itu, untuk kemajuan usahanya.
"Bapak itu, yang cinta mati sama saya. Bukan saya yang jatuh cinta sama bapak." Zahra tak mau berdebat lagi. Dia pun membaringkan tubuhnya dan dengan cepat menutupinya dengan selimut.
__ADS_1
TBC