
"Hubby kita kenapa kesini?" ujar Zahra heran memperhatikan lekat tempat praktek obgyn yang ada di hadapannya.
"Kita akan periksa kesehatanmu sayang. Hubby yakin, di sini sudah ada anak kita."
"Apa..?" sahut Zahra cepat, memegang tangan sang suami yang mengelus perut datarnya. Dia belum siap hamil. Tapi, setiap main, gak pernah minta Ezra pakai pengaman.
Zahra memang pintar dalam pelajaran. Tapi, soal beginian dia tak mengerti. Karena dia memang masih polos.
"Kita sudah menikah sudah sebulan loh sayang. Dan adek belum pernah datang bulan. Beberkan?" selidik Ezra, memperhatikan raut wajah bingungnya Zahra.
Zahra mengangguk pelan. Jujur Zahra belum siap untuk hamil. Dia merasa dirinya belum pantas jadi ibu.
"A--ku, aku takut By." Ujar Zahra, menahan tangan sang suami yang hendak keluar dari dalam mobil itu.
Ezra membelai wajah sang istri lembut. Dan kemudian merangkum jemari sang istri yang dingin itu. Ya, Zahra memang gak siap untuk hamil. Pria itu menatap lekat sang istri. Memberi keyakinan dan keberanian pada istrinya itu.
"Hubby tahu kegelisahanmu sayang. Makanya kita periksakan sayang. Kita harus antisipasi dari awal. Kalau benar kamu hamil, keadaan anak kita di dalam rahimmu perlu diketahui. Jangan khawatir Hubby akan ada bersama mu terus." Ezra tersenyum penuh kebahagiaan. Kalau benar Zahra hamil, ini adalah puncak kebahagiaan itu. Dia sangat menginginkan anak. Karena, anaknya Rara tak bisa diharapkan lagi.
"Ayo kita turun. Nanti di rumah, Hubby akan masak apa yang kamu mau. Semua yang kamu inginkan akan Hubby penuhi."
"Bener?" ujar Zahra dengan mata melotot
Jangan sampai suaminya itu hanya kampanye padanya.
"Iya sayang, istriku!" mengecup cepat kening Zahra. Yang membuat wanita itu jadi tersipu malu.
Sesampainya di ruang tunggu, seorang perawat terlihat sangat antusias menyambut Ezra, yang menggandeng mesra Zahra yang terlihat takut dan tak nyaman. Praktek yang didatangi Ezra ini adalah milik sahabat karibnya. Perawat nya saja kenal betul pada Ezra.
"Pak Ezra,!" ujar sang perawat antusias. Dia tentu saja menyambut pria itu. Karena, Ezra yang merekomendasikan wanita itu kerja di tempat itu.
"Waaahh..... Bakal antri panjang ini!" ujar Ezra melihat banyaknya ibu-ibu yang duduk di ruang tunggu itu bersama pasangannya.
Perawat itu hanya tersenyum menanggapi ucapan Ezra. "Ini ibu Anin?" tanya perawat itu dengan sumringah. Menjulurkan tangannya ke arah Zahra. Menyalim tangan Zahra dan menempelkannya ke dahinya.
__ADS_1
Sontak kelakuan perawat itu, membuat suasana hatinya semakin buruk. Emang dia ibu-ibu. Apa dia setua itu, sehingga perawat yang menyalinnya harus menempelkan tangannya ke dahinya.
Zahra berdecak kesal, bisa dilihat dia jauh lebih mudah dari perawat di hadapannya.
"Ibu Anin semakin muda ya pak!" ujar perawat ramah, mengagumi wajah Zahra yang lagi kusut karena BeTe. Perawat itu tahu, kalau Ezra menikah lagi dengan wanita yang bernama Anindya. Perawat itu kenal betul dengan Ezra. Karena, perawat ini pernah kerja di rumahnya Ezra. Dia juga baru kerja di tempat ini. Sebelumnya masih jadi perawat di rumahnya Ezra.
"Kamu ini Vi. Ayo daftarkan kami!" Ujar Ezra ramah, melirik sang istri yang masih terlihat BeTe.
"Iya pak, habis pasien di dalam giliran orang bapak. Aduhhh..... Aku senang sekali pak. Akhirnya..!"
"Iya Vi!" ujar Ezra dengan tersenyum tipis. Dia harus menyudahi pembicaraan itu.
"Iya pak, Bu Anin tunggu sebentar!" perawat pergi ke meja kerjanya. Membuat berkas kasus mereka, tentu saja perawat itu mengisi data Zahra dengan nama Nyonya Ezra. Saat itu juga perawat itu tak henti-hentinya melirik Zahra. Dia sedikit bingung dengan Zahra. Kenapa sekarang terlihat lebih muda, daripada yang dilihatnya saat ijab kabul.
"Apa aku setua itu, manggil ibu, ibu lagi!" ketus Zahra, melepas tangannya Ezra yang membelit lengannya. Suasana hati Zahra semakin buruk, mendengar dia dipanggil ibu- ibu.
Ezra tertawa tipis mendengar ocehan kekesalan sang istri. "Eemmm... Ya yang datang ke sini, pasti jadi ibu-ibu sayang. Makanya adek itu bicara seperti itu tadi. Jangan. dimasukkan ke hati ya sayang." Mere mas kuat tangan Zahra, saking gemesnya pada istrinya yang lagi BT itu.
"Iya Tetap saja, mulutnya itu gak becus. Gak bisa pada dua itu bilang adek. Sok kemudaan, dia itu wajahnya yang boros. Dia yang terlihat seperti ibu-ibu." Ujar Zahra masih kesal. Sungguh Ezra dibuat semakin gemes.
"Iihhh By, apaan sih?" Zahra menarik kuat tangannya. Sehingga lepas.
"Masak cium istri sendiri gak boleh." Keluh Ezra kini merangkul sang istri dengan melingkarkan tangannya di punggungnya Zahra.
Ezra yakin seratus persen kalau Zahra sedang hamil. Terlihat dari suasana hati sang istri yang gampang berubah.
Zahra hanya bisa menggeleng merasa tak percaya dengan kelakuan lebay pak tua.
"Ayo Pak, Bu!" ujar perawat ramah dan sopan kepada Ezra dan Zahra.
"Aku bukan ibumu!" sahut Zahra cepat. Yang membuat perawat itu bengong. Sesaat perawat itu pun berfikir. Apa aku salah bicara?
"Waaahhh pak Ezra dan...." Dokter berjenis kelamin wanita itu heran melihat istrinya Ezra. Kenapa terlihat lebih muda?
__ADS_1
"Halwatuzahra Dok, usia 18 tahun. Saya masih muda dan bukan ibu-ibu." Ucap Zahra tegas, dengan raut wajah dibuat ramah seramah-ramahnya.
"Loh, iya kah? pak Ezra?" Ujar Dokter terhenyak mendengar ucapan Zahra.
Zahra yang moody an itu, tak mau lagi mendengar dia dipanggil ibu-ibu. Bisa setres dia memikirkan itu.
"Dok, cepat diperiksa istri saya. Nanti saja kita bicara ya!" ujar Ezra tegas. Dia sudah tidak sabar mengetahui apakah istrinya itu hamil atau tidak.
"Oohh iya pak! ayo siapkan semuanya." Ujar Dokter pada perawatnya.
Zahra dibantu oleh Ezra untuk berbaring di bed. Saat ini Zahra merasa malu. Apakah dia diminta menyingkap gamis yang dikenakannya.
"Maaf ya Dek, gamis bagian bawahnya kita naikin ke atas ya!" ujar perawat ramah
Seketika suasana hati Zahra berubah jadi dingin dan sejuk. Ada juga yang memanggilnya adek di ruangan itu.
Zahra yang tadi malu dan enggan kini jadi percaya diri.
Ezra yang duduk di sisi bed, tepat dekat kaki sang istri. Terus saja memijat lembut kaki putih mulusnya Zahra. Sambil tersenyum penuh harap menatap layar monitor.
"Eemmmm Adek tanggal berapa terakhir datang bulannya?" tanya Dokter ramah, dokter pun kini sudah memanggil Zahra dengan sebutan adek.
Zahra terlihat berpikir, dia rada-rada lupa tanggal pastinya. Tapi, biasanya dia halangan di akhir-akhir bulan. Misal tanggal 28 atau 29. Kalau maju juga paling dua hari dan kalau mudur bisa 4-5 hari.
"Aduhh lupa pastinya dok. Biasanya di akhir bulan " Jawab Zahra apa adanya.
Dokter itu tersenyum ramah. "Iya, nanti juga kita bisa tahu koq." ujar Dokter dengan tersenyum tipis
TBC.
Like, coment positif, beri hadiah dukungan berupa vote yang ada tiap minggunya say. Beserta hadiah bunga, kopi, hati, pisau, kursi pijat dan piala juga boleh banget say😀
Dukung novel ini sebanyak-banyaknya. Karena diakhir pekan kita akan give away pulsa 20 ribu untuk tiga orang tertinggi pemberi hadiah atau dukungan. Dengan ketentuan yang masuk daftar list minimal 3000 dukungan ya sayðŸ¤ðŸ˜œðŸ˜˜ðŸ˜€
__ADS_1
Terima kasih