
Ujian nasional yang dilaksanakan di rumah yang diawasi oleh Bu Dewi sungguh menyebalkan buat Zahra. Setelah selesai ujian, Zahra dicecar oleh banyaknya pertanyaan dari Bu Dewi. Di mana inti semua pertanyaan itu adalah menjurus ke dugaan bahwa Zahra adalah gadis nakal. Memang Bu Dewi bertanya dengan sopan, tapi tetap saja Zahra dibuat tak nyaman.
"Kenapa sih harus Bu Dewi yang mengawasi aku saat ujian?" keluhnya pada Ezra. Kini mereka sedang melakukan panggilan video.
"Emang kenapa sayang?" Ezra heran juga melihat sang istri yang terlihat benci pada Bu Dewi.
"Gak apa-apa, gak suka saja. By, besok bisa diatur gak? yang ngawas ujian jangan ibu-ibu. Bapak-bapak saja, ibu-ibu suka kepo. Buyar sudah konsentrasi ku dibuatnya." Di layar ponsel Zahra terlihat masih kesal.
"Hubby setuju saja diganti kalau kamu gak mau, tapi jangan guru cowok ya sayang. Guru yang wanita saja yang sudah berumur." Tegas Ezra, pria itu mana mau Zahra diawasi oleh guru pria. Bisa cemburu dia, gak konsentrasi nanti kerja, karena kepikiran istrinya itu.
"Emang kenapa kalau cowok?" tanya Zahra sok polos, padahal dia tahu suaminya itu cemburuan.
"Hubby bisa cemburu, jika dia menatapmu nanti " Ezra memang orangnya jujur apa adanya. "Eeemmmm.... Apa sebaiknya adek pakai cadar saja ya?" Ezra terlihat sangat antusias saat mengatakan itu. Dia berharap Zahra setuju dengan kemauannya itu.
"Iihh... Hubby, aku belum siap kalau seperti itu." Tolak Zahra cepat. Dia belum dapat hidayah untuk memakai niqab itu. Apalagi dia merasa ilmu agamanya masih sedikit.
"Gak siap? berarti ada kemungkinan siapkan sayang?" Ezra masih antusias dengan keinginannya yang spontan itu. Entah kenapa muncul keinginan seperti itu secara tiba-tiba.
"I, iya By." Ujar Zahra dengan ragu. Keinginan suaminya itu sangat mulia. Dia saat ini sedang berusaha jadi istri Soleha, yang tidak mau membantah keinginan suami. Apalagi yang diinginkan suaminya itu mendatangkan kebaikan.
Seorang muslimah memang diwajibkan untuk menutup auratnya agar terlindung dari pandangan mata dan godaan lelaki lain yang bukan mahramnya. Dengan bercadar dan mengenakan pakaian syar`i bisa menjaga kehormatan seorang wanita muslimah.
Wanita yang menutup wajahnya dengan cadar akan melindungi dirinya dari godaan para lelaki yang biasanya mudah tergoda / terfitnah dengan paras cantik seorang wanita. Jika mengenakan cadar, tidak akan ada lelaki yang berani mengganggunya, merayunya atau mendekatinya untuk melakukan kejahatan seperti pelecehan.
Anjuran suaminya itu memang sangat bagus. Tapi, dia masih perlu belajar lebih banyak tentang agama. Dia tak mau terburu-buru mengiyakan permintaan Ezra. Tapi, nantinya gak Istiqomah.
__ADS_1
"Alhamdulillah Hubby senang sekali dengarnya sayang. Eeuummm Euummmm.!" Ezra yang bahagia itu berkali-kali mencium layar ponselnya. Pria itu sudah gila, karena bahagia nya. Dia akhirnya dapat istri yang penurut, yang selalu buat hatinya senang dan bahagia, walau istrinya itu suka merajuk dan sikapnya masih seperti anak-anak.
"Eeemmmm..!" Gumam Zahra.
Ezra semakin gemes dengan sikap sok cool istrinya itu. Kalau gak ingat ada meeting pukul dua siang. Dia akan pulang ke rumah saat ini.
"By.... Sudah ya, ibu sepertinya datang." Tentu saja Ezra dibuat terdiam. Mengingat Anin, masih membuatnya merasa tak enak hati.
"Iya sayang. Assalamualaikum...!"
"Walaikum salam .!" Sahut Zahra dengan senyum manisnya dan dengan cepat mematikan panggilan video itu. Menyimpan ponselnya di atas meja dan berlari menyambut sang ibu.
"Bagaimana kabarmu boru?" ujar Anin penuh kasih sayang. Mereka masih berpelukan.
"Tadi malam saat di rumah sakit, ibu ingin bicara denganmu. Tapi, kalian keburu diusir sama si Ferdy." Ujar Anin, menatap lekat Zahra yang terlihat kurang tertarik membahas masalah nya dengan Ferdy.
"Iya Mak, entahlah Ferdy banyak berubah." Zahra menghela napas, rasanya sesak sekali mengingat kejadian kemarin di sekolah. Coba Ferdy gak sok jago, mungkin kejadian memalukan itu tak akan terjadi.
"Sayang... Kamu harus bisa jaga har vs zga diri kamu ya, ingat, kamu sudah menikah." Tegas Anin pada Zahra, meriah jemari sang putri dan mengusapnya lembut.
"Iya Mak." Kedua sudut bibirnya Zahra melengkung, menciptakan senyum yang sangat manis. Zahra merasa sangat beruntung punya ibu sebaik dan sebijak Anin. "Kenapa semalam umak ada di rumah sakit?" tanya Zahra dengan penasarannya. Dia ingin kepastian dari dugaannya. Terkait Sang ibu yang ada hubungan dengan Dokter Alvian.
"Eemmm.... Umak dapat kabar itu, makanya ibu berkunjung ke sana. Gak mungkin umak diam saja, gak menjenguk korban dari ulah putri umam sendiri." Jawab Anin tersenyum kecut.
"Iihhh... Umak, apaan sih? Zahra gak salah, Ferdy saja yang sensitif." Zahra cemberut tak mau disalahkan.
__ADS_1
"Eemmn.... Iya sayang, makanya lain kali, kamu harus lebih waspada ya." Ujar Anin, Zahra mengangguk. Acara curhat-curhatan antara ibu dan anak itu pun berlanjut hingga dapat waktu makan siang. Anin menceritakan pada Zahra, bahwa ayahnya Ferdy mengajaknya menikah.
***
Ezra yang dapat kabar dari Bimo, bahwa Rara terus saja menanyakan keberadaannya akhirnya memutuskan untuk makan siang di rumah lama mereka, yaitu tempat Rara tinggal. Kuping Bimo panas sudah setiap kali mendengar ocehan Rara yang menanyakan ayahnya dengan Isak tangis. Rara merasa sangat ayah telah melupakannya.
Saat sampai di rumah besar itu, kedatangan Ezra disambut hangat oleh Rara. Rara memeluk Ezra dengan penuh kasih sayang. Sungguh dia sangat merindukan ayahnya itu.
"Kenapa ayah jarang di rumah?" tanya Rara, setelah keduanya selesai makan siang. "Apa ayah punya rumah baru lagi?" tanyanya lagi, karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari sang ayah.
"Eemmm ayah sibuk Rara." Jawab Ezra dengan tersenyum tipis.
"Aku bisa terima gak diperbolehkan memakai hape. Tapi, kalau aku di sini kesepian terus seperti ini. Aku bisa jenuh ayah." Rara tidak diperbolehkan lagi menggunakan ponsel dalam waktu satu bulan kedepan. "Aku gak ada teman ngobrol ayah. Sama ibu pun aku tak boleh komunikasi." Keluhnya, yang membuat Ezra menatap tajam ladanya.
"Ayah sayang samamu RaRa. Ayah tak ingin hidupmu hancur. Ini terakhir kali ayah berbaik hati. Kalau kamu masih ingin bersama ibumu. Ayah tak melarangnya. Tapi, jangan pernah injak kakimu di rumah ini lagi dan kamu akan di blacklist dari daftar kartu keluarga." Tegas Ezra dengan sorot mata mendoktrin.
"Ayah... Kenapa seperti itu?" keluh Rara berdecak kesal.
"Ya karena itu yang terbaik. Kamu harus putus komunikasi dengan ibumu, karena dia memberi pengaruh buruk."
"Kenapa ayah tak rujuk dengan ibu. Ibu bilang, dia akan berubah jadi istri yang baik, jika ayah memberikan ibu satu kali lagi kesempatan." Melas Rara dengan menautkan kedua tangannya.
Ezra jengah mendengar permintaan Rara. Pria itu langsung bangkit dari duduknya dengan kesalnya.
TBC
__ADS_1