
Pagi-pagi sekali Zahra sudah heboh menyiapkan semua keperluan untuk menyambut sang nenek dari tanah suci. Ia sungguh sangat bersemangat, karena ia sudah sangat merindukan neneknya itu. Zahra bahkan ikut memasak daging ayam untuk upa-upa sang nenek. Ya sudah kebiasaan di keluarga Zahra orang yang berhaji, kalau pulang disambut dan diupa-upa.
"Enak gak By?" Ezra yang takut istrinya lelah di dapur karena memaksa harus memasak sendiri gulai daging ayam untuk upa - upa sang nenek, akhirnya memutuskan ikut juga memasak di dapur. Walau tetap ada koki yang membantu mereka. Habis, Ezra begitu mengkhawatirkan Zahra.
"Enak, enak banget sayang." Ezra mengacung dua jempol tangan nya dan kemudian mencium gemes pipinya Zahra.
"Iihh... Hubby, malu tahu." Ujarnya tersipu malu. Ya memang Zahra gak terbiasa memamerkan kemesraan di hadapan orang lain. Walau di depan pembantu sekalipun.
Koki yang gak tahan melihat kemesraan majikannya. Akhirnya membuang muka. Majikan nya yang mesra, mereka yang jadi malu melihat nya.
"Malu? kenapa harus malu. Kan dicium suami sendiri." Ujar Ezra, memperhatikan Zahra yang mulai menata ayam gulai itu piring besar. Di mana di atas piring itu, sudah ada tumpukan nasi yang dibentuk. Tanpa memusingkan tatapan para pembantu.
"Iya, tapi kan dilihatin orang." Zahra kini menatap tajam Ezra. Ia memberi kode, agar tangan sang suami lebih terarah, karena sekarang mereka sedang berada di dapur. Bukan di kasur, jadi gak usah membahas ciuman itu lagi.
"Iya deh, nanti di kamar saja, setelah selesai mengurus ayam." Jawab Ezra mengedipkan sebelah matanya. Dan mengulum bibirnya.
Zahra menggeleng kan kepalanya kuat, suaminya itu kalau gak menci umnya 1 jam sekali dalam sehari, gila kali ya? kalau di rumah asyik itu saja kerjaannya.
"Zahra...!"
Anin baru saja sampai di rumahnya Ezra. Ia langsung masuk ke dapur. Karena ia tahu, pasti banyak kerjaan di dapur. Eehh... Gak tahunya putri dan menantunya itu sedang di dapur itu. Bahkan Anin, cukup terkejut mendapati Ezra di dapur.
"Umak... Lama sekali sih datangnya." Keluh Zahra, melambaikan tangannya, agar sang ibu cepat menghampirinya, membantunya menyiapkan upa - upa itu.
Ezra yang merasa tak dibutuhkan lagi di tempat itu, akhirnya meninggalkan dapur. Ia juga mana mungkin betah disitu. Tadi ia kan seneng godain Zahra. Kalau sekarang mana mungkin dia godain Zahra di depan ibu mertua sendiri.
Ezra akhirnya memilih masuk ke ruang kerja. Ya hari ini Ezra tak ke kantor. Ia akan bekerja dari rumah saja.
__ADS_1
Saat sampai di ruang kerjanya. Dika sang asisten melakukan panggilan. Ia melaporkan telah mendapatkan pengganti Bimo. Sekaligus melaporkan tentang kasus Pak Subroto, ayahnya Dokter Alvian yang sudah terjerat hukum.
"Bos, gimana kalau keluarganya Dokter Alvian, tahu kalau kita membongkar kasus itu?" Tanya Dika dalam panggilan suara. "Kan sekarang, dokter Alvian sudah bagian dari keluarga kita bos?" Dika terdengar gamang, ia tak mau nanti Anin jadi korban lagi. Ya Dika respect juga pada Anin. Karena Anin memang baik.
"Kita tak melakukan kesalahan. Kenapa harus takut Bimo. Mereka saja yang ceroboh. Sudah, aku tak mau dengar pertanyaan seperti itu lagi. Cepat siapkan urusanmu. Nanti makan siang di rumah saja. Sekalian kamu tambahi ole - ole Nek Ifah yang dari tanah suci. Beli banyak buah kurma, sajadah, hijab, daster Arab, ingat daster Arab bukan daster baik turun."
"Maksudnya apaa bos? daster baik turun?" Dika gak tahu jenis pakaian apa yang dibelikannya. Ia hanya memesan baju yang lagi viral dan cocok dipakai wanita muslimah.
"Sudah, susah gak usah bahas itu lagi. Cepat selesai kan tugasmu." Ezra pun memutuskan panggilan itu, padahal kan yang menelpon Dika.
***
Kini rombongan keluarga Ezra tengah bertolak ke tempat penjemputan Nek Ifah. Tentu saja acara penjemputan itu tak biasa. Zahra melakukan penjemputan Nek Ifah, seperti yang dilakukan di kampung mereka. Jadi, kalau ada dalam satu keluarga yang naik haji. Maka saat pulangnya akan dijemput ramai-ramai oleh keluarga dan saudara.
Karena saudaranya Nek Ifah dan Anin banyak di kampung dan tak sempat datang meramaikan menjemput nek Ifah dari berhaji. Maka, rombongan yang menjemput Nek Ifah adalah dari keluarga seluruh ART mereka, yang rumahnya disekitar kota Medan itu. Jadilah dua puluh mobil yang akan jadi pengiring kepulangan Nek Ifah ke rumah. Tentu saja Ezra memerlukan bantuan pihak berwajib dalam hal ini.
Tadinya Ezra cukup keberatan dengan keinginan istrinya ini. Tapi, Zahra mengatakan ini kemauan dari dalam. Dari hatinya, dari anak yang di kandungnya juga. Sekaligus, Zahra ingin lebih banyak bersedekah. Makanya banyak saudara dari keluarga ART mereka diundang.
Huuufftt
"Jangan banyak protes, pastikan semuanya kondusif." Jawab Ezra, kini mereka tengah menunggu Nek Ifah keluar dari gedung tempat jemaah haji berkumpul.
"Iya Bos."
"Ayo ke sana, seperti nya sudah keluar jemaah hajinya." Ezra berjalan cepat menghampiri Zahra dan Anin yang menunggu Nek Ifah di pintu keluar. Tentu saja Dika sudah siapkan Bodyguard empat orang untuk mengamankan Zahra, Nek Ifah dan Anin dari kerumunan yang berdesakan.
Tadinya sih Ezra ingin terus nempel pada istrinya. Tapi, apa daya Zahra malah ingin nempel terus pada Anin. Ezra kan masih merasa enggan pada Anin. Makanya ia menjaga jarak dari Zahra, saat menunggu Nek Ifah.
__ADS_1
"Nenek..... Nenek...!" Dari kejauhan Zahra sudah melihat sang nenek. Karena jemaah haji yang keluar dari gedung itu harus antri. Ya Zahra harus sabar, hingga sang nenek sampai menuju pintu keluar.
"Zahra... cucuku...!" Nek Ifah melambaikan tangannya. Ia sudah melihat keberadaan Zahra. Tapi, masih ada jemaah lain di depannya. Harus antri.
"Nenek....!" Mereka pun berpelukan dengan erat. Zahra bahkan kini menitikkan air mata. Ia terharu, akhirnya ia bisa memeluk Neneknya itu. Ia sangat merindukan Nek Ifah. Teman curhat nya itu.
"Kenapa menangis? jangan menangis, nanti nenek jadi ikutan menangis." Melirik Anin yang dari tadi sudah tak sabar untuk memeluknya. Tapi, karena Zahra masih heboh sendiri. Jadilah Anin, memberikan kebebasan sang pada sang putri, untuk meluapkan kerinduan nya oadda Nek Ifah. Karena, Anin tahu, ikatan batin Zahra dan Nek Ifah itu kuat.
"Bou..!" Kini Anin akhir nya dapat giliran memeluk Nek Ifah.
"Anin parumaenku..!" Nek Ifah memeluk erat menantunya itu sudah lebih dari setahun mereka tak bertemu.
"Bou sehatkan?" Anin menatap sendu Nek Ifah. Matanya kini berkaca-kaca.
"Sehat, seperti yang kamu lihat." Jawab Nek Ifah dengan senyum penuh syukur. Akhirnya ia bisa berkumpul dengan keluarga nya.
"Nek, apa kabar? sudah berapa kali naik unta nek?" ujar Ezra menyalim Nek Ifah, ia pun memeluk Nek Ifah.
"Hanya sekali, itu pun berfoto doang." Jawab Nek Ifah tertawa kecil. Nek ifah takut naik unta.
Hehehe
Ezra ikutan tertawa kecil, padahal gak ada yang lucu.
Mereka pun akhirnya meninggal kan tempat itu. Tentu saja dengan arak-arakan mobil yang banyak. Bahkan sirine dibunyikan.
"Ya ampun.... Kenapa seperti ini?" tanya Nek Ifah bingung. Penyambutan nya sungguh luar biasa.
__ADS_1
TBC
Vote dong☺️😜