AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Rada aneh


__ADS_3

"Silahkan, itu hak anda!" tegas Ezra, pria yang lagi kesal itu bicara dengan tetap membelakangi Pak Subroto Kakeknya Ferdy.


"Brengsek..!" umpat Pak Subroto kepada Ezra yang kini melangkah dengan percaya dirinya meninggalkan tempat itu.


Saat ini Ezra merasa tak perlu banyak bacot. Dia merasa tak bersalah, yang cari gara-gara terlebih dahulu adakah Ferdy. Kalau dibawa ke jalur hukum dan disorot media. Toh keluarga besar Dokter Alvian yang akan malu


Dan Ezra juga akan melaporkan penculikan yang dilakukan kakek tua itu pada Zahra setelah pulang sekolah tempo hari.


Dokter Alvian yang mendengar umpatan sang ayah, memilih keluar dari inapnya Ferdy. Dia harus tegas kali ini. Jangan ikut campur lagi urusan rumah tangganya.


"Ayah, kita perlu bicara!" Tegas Ferdy memberi kode dengan lirikan matanya agar sang ayah mengikuti langkahnya. Ferdy memilih bicara di sebuah lorong yang jarang dilewati orang.


"Ayah tak habis pikir, kamu diam saja dengan kejadian yang menimpa putramu!" Ketus Pak Subroto dengan tak percayanya.


Huufftt..


Alvian menghela napas dalam. Dia tak bisa berbuat banyak. Ferdy jua salah, ditambah Alvian sedang PDKT pada Anin. Tak mungkin dia mau memperpanjang masalah ini.


"Ferdy yang salah ayah, dari rekaman video yang sempat tersebar, anak itu memang yang memulai." Ujar Alvian datar.


"Iya, tapi yang dihajarnya anak sekolah. Ferdy masih dalam perlindungan hukum." Pungkas Pak Subroto. "Entah karma apa yang ada di keluarga kita. Anak dan Ayahnya sama-sama gila, mengejar ibu dan putrinya. Alvian..... Kenapa kamu masih ingin mengulangi kesalahan yang dulu."


Alvian menepis tangan sang Ayah yang mencengkram bahunya.


"Ayah, kali ini jangan ikut campur lagi dengan privasiku. Aku sudah mengikuti semua maunya ayah dulu dan ayah lihat bagaimana akhirnya." Tegas Alvian menatap tajam sang ayah. "Masalah ini jangan ayah ikut campuri. Aku tidak akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Dan satu lagi, jangan ayah urusi lagi tentang privasiku."

__ADS_1


"Anin, kamu masih mau dekatin dia? Alvian, jangan ngaco kamu. Celine, masih ingin rujuk denganmu!" Pak Subroto kembali memegang lengan sang anak agar sadar. Anaknya itu selalu terhipnotis apabila berjumpa dengan Anindya.


Alvian melepaskan rangkuhan tangan sang ayah dari lengannya. Tak ada gunanya berdebat dengan orang yang tak mau mengerti. Itu sama saja buang waktu dan buat kesal. Alvian pun akhirnya meninggalkan sang ayah di tempat itu.


Saat menikah dengan Celine, ibunya Ferdy. Tentu saja Alvian tak merasa bahagia. Walau dia selalu berusaha untuk membuka hati pada wanita itu, tapi nyatanya sampai detik ini tak bisa dilakukannya. Celine yang memaksakan cinta dan perasaan pada kenyataannya membuatnya menderita. Wanita itu tak merasa bahagia. Karena Alvian cuma pura-pura bersikap manis padanya. Sehingga hubungan mereka sangat tidak nyaman.


Ketulusan Muncul dari Sebuah Kejujuran


Cinta yang tulus itu berasal dari perasaan yang jujur. Kalau selama ini cuma pura-pura dan memaksakan diri, ketulusan dalam mencintai sulit untuk tercipta. Pada akhirnya Celine capek sendiri dan merasa terbebani setiap kali ingin berjuang mempertahankan hubungannya. Terbawa suasana hati yang buruk, wanita itu tanpa pikir panjang menggugat cerai Alvian dan sekarang wanita itu menyesali keputusannya dan ingin kembali. Tentu saja Alvian tidak ingin bersatu lagi dengan Celine ibunya Ferdy.


Alvian yang lagi kacau perasaan nya itu bergegas masuk ke ruang rawat inap nya Ferdy. Saat itu juga dia dibuat terkejut, karena tak mendapati Anin di ruangan itu. Padahal tadi saat dia mengejar Pak Subroto. Anin masih di ruangan itu.


Pria yang tak tenang itu pun menghubungi ponselnya Anin dan dia merasa legah, karena pada panggilan pertama ponselnya langsung diangkat wanita itu. Dia sempat beranggapan bahwa Anin akan menjauhinya.


Ini hari ketiga ujian nasional berlangsung. Ezra meminta pihak sekolah memfasilitasi Zahra untuk ujian di rumah saja. Karena, jikalau istrinya itu mengikuti ujian di sekolah bisa-bisa akan menimbulkan masalah lagi.


"Aku jadi takut untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi?" Ujar Zahra lemah, memandangi sang suami yang sedang berpakaian. Zahra sebenarnya ingin membantu Ezra berpakaian. Tapi, suaminya itu menolak, dengan alasan dia bukan anak kecil. Kalau memang ingin dibantu berpakaian seperti anak kecil. Ya sudah sekalian saja dibantu memakai CD. Ucapan Suaminya itu membuat Zahra bergidik geli dan ngeri.


Aakkhhh....


Bisa-bisa kalau seperti itu ceritanya acara berpakaian bisa memakan waktu lama. Karena pasti ada acara raba meraba.


"Menyiapkan pakaian sudah cukup buatku sayang, tak perlu dibantu memakaikannya. Suamimu ini bukan pria manja yang pakai baju dan dasi gak bisa." Ujar Ezra kini berlutut di hadapan sang istri yang duduk di tepi ranjang. Pria itu menatap syahdu Zahra, yang membuat Zahra tersipu malu.


"Nanti ujiannya harus fokus ya!" kini Ezra mencium gemes perut datarnya Zahra. Mulutnya terdengar melafazkan lantunan ayat suci. Zahra dibuat tenang mendengar suara sang suami yang merdu.

__ADS_1


"Ibu hamil gak boleh capek. Dan harus banyak makan!"


"Soal banyak makan, gak usah diajari. Dari dulu, aku sudah banyak makan!" sahut Zahra tersenyum tipis. Dia memang kuat makan, walau lauknya ikan asin bakar.


"Makan yang seimbang maksud Hubby sayang!" pungkas Ezra lagi mempertegas ucapannya.


Zahra mengangguk dengan wajah penuh kebahagiaan. Dia merasa terharu punya suami perhatian.


"Iya Hubby," Zahra merangkum wajah sang suami dan mengecup kening suaminya itu. Tentu saja kelakuan Zahra membuatnya kesemsem. Biasanya dia yang mencium kening Zahra. Tapi, kali ini koq terbalik.


"Ini belum dek!" Ezra menunjuk bibirnya. Zahra dibuat gemes dengan sikap Ezra yang manja itu. Wanita itu menci um ekspres sang suami, karena merasa grogi. Koq semakin hari dia jadi semakin suka dengan suaminya itu.


"Eemmm... Ini baru namanya istri yang Solehah. Istri yang menyenangkan hati suaminya. Istri yang jika dipandang membuat sejuk hati." Goda Ezra mentoel dagu sang istri.


"Kapan berangkatnya ini By, dari tadi godain adek terus!" Ujar Zahra bangkit dari duduknya. Dia harus mengakhiri percakapan ini. Bisa-bisa suaminya itu gak jadi kerja, asyik saling menggoda.


"Ini mau berangkat. Hubby nanti makan siang di rumah. Mau makan bareng adek."


Ezra merangkul sang istri. Dan satu tangannya menenteng tas kerjanya. Mereka berdua keluar dari kamar menuju ruang makan.


Zahra makan dengan lahap kali ini. Dia yang teratur minim obat anti mual dan vitamin tak merasa terganggu lagi dengan namanya morning sick. Tentu saja Ezra dibuat senang melihat sang istri tak ada masalah saat makan. Hanya saja, tingkah istrinya itu rada aneh saat ini. Seperti, Zahra yang mencium kening sang suami.


TBC.


Like coment vote say

__ADS_1


__ADS_2