
Seminggu pun telah berlalu.
Ezra semakin sibuk bekerja di kantor bahkan sering pulang larut malam. Itu diakibatkan karena, Ezra belum mendapatkan pegawai baru pengganti Bimo yang pas. Ezra baru merasakan kehilangan yang hebat atas Bimo. Ya, karena Bimo sosok pria yang penuh dengan tanggung jawab dan sangat loyal pada atasan dalam hal pekerjaan.
Sibuknya Ezra membuat kebersamaannya dengan sang istri terbatas. Ini yang membuat Zahra jadi sering uring-uringan di rumah. Bosan gak ada kegiatan. Bahkan mereka dalam dua hari terakhir ini tak pernah makan siang dan malam bareng. Kadang Ezra pulang ke rumah sudah pukul 10 malam.
"By, aku ikut kerja sama Hubby ya?" rengek Zahra manja, membantu sang suami memakaikan dasi dan menyisir rambut suaminya itu.
Cup
Satu kecupan singkat mendarat di bibir manisnya Zahra.
Zahra memukul lembut dada sang suami. Entahlah ia sudah seperti orang aneh, kalau Ezra memperlakukannya manja.
Ezra semakin sayang saja pada Zahra. karena istrinya itu sudah lebih perhatian padanya. Termasuk apa yang akan dikenakan pria itu setiap hari saat mau pergi kerja. Bahkan Zahra yang sekarang sering minta dipeluk saat tidurm Biasanya juga ia akan berontak saat didekap erat Ezra. Alasannya ngap, ngap... pengap.
"Hari ini Hubby sibuk banget sayang, banyak pertemuan di luar. Kalau kamu ikut ke kantor. Nanti kamu juga pasti BETE di sana." Kini Ezra merangkul sang istri. Mereka akan ke luar dari kamar itu.
"Semuanya sibuk, Umak juga sibuk. Mau menghubungi Rara, agar ada teman ngobrol
Hubby pun melarangnya." Dengus Zahra, menahan sang suami, agar tak keluar dari kamar. Ia memeluk kuat Ezra. Entah kenapa ia jadi ingin terus bersama Ezra. Mungkin karena sering ditinggal selama seminggu ini. Jadi, ia jadi merasa kehilangan.
"Kamu jangan ganggu mereka sayang. Kita tunggu mereka yang kasih kabar ke kita. Bimo itu lagi sensitif. Kita gak boleh cari gara-gara. Biarkan mereka mondok di perkebunan." Ujar Ezra tersenyum manis. Sedangkan Zahra dibuat bingung dengan ucapan sang istri.
Koq mondok di perkebunan?
"Kalau begitu aku ikut Hubby, aku gak mau di rumah ini terus." Rengek Zahra, mukanya kini masam sudah.
"Emmm... Ya sudah, tapi nanti kalau Hubby ke luar ada pertemuan, sabarkan menunggu Hubby di ruang kerja kan?" Ezra menatap serius sang istri.
Zahra mengangguk senang. "Iya, nanti kalau aku Bosan, kan bisa telponan sama Nenek." Jawabnya dengan semangat. Kembali memberikan kecupan di pipinya Ezra.
Kecupan Zahra pagi ini adalah mood booster buatnya. Ezra senyam senyum tak jelas. Ia pun kini mengecupi perut datarnya Zahra.
"Anak ayah memang hebat, emaknya gak dibuat muntah-muntah, malah semangat dan makin hot." Ujar Ezra mengelus perutnya Zahra. Ya, Zahra makin genit sama Ezra. Ia kini yang suka minta mantap-mantap, setelah sang suami pulang kerja. Tentu saja, Ezra siap tempur memberikan kenikmatan pada sang istri, walau ia capek kerja seharian. Karena Ezra, tipe pria yang semakin capek, maka gairahnya semakin membara.
__ADS_1
"Astaga By, anak koq diajak bicara seperti itu sih. Diajaknya bicara yang bener. Jangan curhat sama anak." Zahra merengut, mengangkat wajahnya Ezra yang dari tadi mengecupi perutnya gemes.
"Hehhehe .. Habis, Hubby gak sabar menunggu dia lahir. Nanti ia akan jadi teman curhat terbaik Hubby." Ujarnya Lembut, kembali memeluk sang istri dan mencium kening Zahra dengan penuh penghayatan.
***
Sesampainya di kantor, bener saja Ezra sudah sibuk menandatangani banyak dokumen di atas mejanya. Zahra tak tinggal diam. Ia kini membuat sendiri minuman untuk suaminya itu
Walau sebenarnya ada petugas khusus untuk itu.
"Terima kasih sayang." Ujar Ezra tersenyum manis kembali fokus bekerja.
"Minum dong By, itu capuccino kesukaan Hubby." Tawar Zahra dengan senyuman manisnya. Senyuman sang istri membuat Ezra semakin semangat.
"Iya deh." Ezra menyesap capuccino itu. "Mantap...!" Pria itu mengacungkan dua jempol pada sang istri. Ia memuji minuman buatan istrinya itu.
"By, aku ke ruang kerjanya Bimo ya?"
"Ngapain sayang?" tanya Ezra penasaran. Menoleh ke arah sang istri sekilas dan kembali fokus ke dokumen.
Kening Ezra merengut mendengar ucapan sang istri. "Bukti apa?" tanya Ezra bingung.
"Bukti bahwa ia sebenarnya ada perasaan pada Rara." Jelas Zahra.
"Masih kepo dengan mereka ya? gak akan ada bukti apapun yang akan kamu temukan di sana sayang?" tegas Ezra, yang fokus dengan dokumen di hadapannya.
"Pingin saja lihat ruang kerjanya Bimo." Zahra melongos kesal, karena Ezra seperti tak mengizinkannya pergi ke ruang kerjanya Bimo.
"Ya sudah, sana. Jangan lama-lama di sana ya." Menatap sang istri dengan tatapan penuh cinta. Yang membuat Zahra tersipu malu keluar dari ruang kerja sang suami.
Saat Zahra ingin masuk ke ruang kerjanya Bimo. Ia melihat seorang wanita cantik dengan pakaian terbilang cukup sexy, menghampiri meja sekretarisnya Ezra.
Zahra melihat wanita cantik dengan rambut lurus rebonding itu sedang beradu argument dengan sekretaris nya Ezra. Zahra yang penasaran akhirnya menghampiri keduanya.
Merasakan keberadaan Zahra di tempat itu, wanita cantik nan sexy bahenol itu pun menoleh ke arah Zahra. Memperhatikan penampilan Zahra dari bawah sampai atas. Merasa tak ada keperluan dengan Zahra. Wanita cantik itu kembali bicara dengan sekretaris nya Ezra.
__ADS_1
"Aku sudah buat janji dengan Mas Ezra. Izinkan aku masuk ke ruangannya. Aku hanya ingin memberikan ini!" Wanita itu mulai kesal, karena sekretarisnya Ezra tak mengizinkan wanita itu masuk ke ruangan nya Ezra.
"Bos sedang tidak ada di ruangan nya mbak. Sebaik nya Mbak pulang saja." Jelas sekretaris nya Ezra yang bernama Imel. Ia semakin repot karena Bimo berhenti kerja. Biasanya hal-hal seperti ini. Bimo yang menghandlenya.
"Jangan bohong kamu, aku lihat ada mobilnya di basment."
"Mobilnya bos banyak. Iya, ada mobilnya di sana. Tapi, bos sudah keluar dengan mobil lainnya." Jelas Imel lagi. Ia kesal juga, kenapa wanita ini lolos masuk ke lantai tempat ruangan Ezra bekerja. Apa karena gak ada Bimo, yang memperingatkan security atau bagian receptionis di loby.
Zahra hanya mendengar perdebatan kedua wanita itu. Dimana sekretaris nya Ezra, terlihat ketakutan menatap Zahra. Tentu ia takut, semua karyawan kantor kan sudah tahu kalau Ezra sudah menikah dan istrinya sedang berdiri di hadapannya.
Wanita cantik sexy itu terlihat menatap ke arah ruangan Bimo, yang memang berada sebelum ruangan Ezra. Merasa tak ada tanda-tanda keberadaan Bimo. Wanita itupun melangkah cepat menuju ruangan Ezra dengan percaya dirinya.
"Mau ke mana?" Zahra menghadang wanita itu dengan merentangkan kedua tangannya.
Wanita itu menatap malas Zahra. "Siapa sih loe? dari tadi lihatin gua Mulu. Fans..?" Menatap sepele Zahra dari ujung kaki hingga kepala. Ya gaya Zahra kali ini sedikit modis. Ia mengenakan rok tutu dipadu dengan kemeja kekinian dan hijab pashmina menutupi dada.
"Anak magang belagu..!" Wanita itu melangkahkan kakinya menuju ruangan Ezra, dengan mengibaskan rambut panjang lurusnya. Saat itu juga wanita itu merasakan tubuhnya berhenti di tempat. Ia tak menyadari bahwa, Zahra sudah menahan dres yang dikenakan wanita itu dari belakang.
Ia pun menoleh ke belakang. "Hei, kenapa kamu menarik dres mahalku?" wanita cantik itu berontak kuat, agar Zahra melepaskan tangan nya dari bajunya.
"Keluar.... Keluar kamu....!" Zahra menarik kuat dres yang dikenakan wanita itu, dimana kini Zahra mencengkeram dres dibagian belakang leher wanita itu.
"Magang... Enak saja bilang aku pegawai magang. Asal kamu tahu, aku pemilik perusahaan ini." Zahra terus menarik kuat dews wanita itu, hingga wanita itu kini merasakan lehernya dicekik oleh dresnya yang naik ke bagian leher, karena Zahra menariknya kuat.
Bahkan wanita itu kesusahan berjalan dengan sepatu heels nya. Karena ia sudah diseret mundur oleh Zahra, agar menjauh dari ruangan Ezra.
"Tolong.... Tolong....!" Wanita itu memegang bagian leher Dresnya, agar tidak mencekik lehernya. Zahra terus saja menyeret wanita itu keluar.
"Tolong..!" teriak wanita itu kuat
Zahra yang kesal, akhirnya menghempaskan tubuh wanita itu dengan kuat. Sehingga tubuh wanita itu terjatuh ke lantai dengan kaki terbuka dan nampak lah dalaman wanita itu, saat ini wanita itu sudah berada di lorong ruangan kerja bagian karyawan. Sudah keluar dari area ruang kerjanya Para direktur.
Tentu saja semua mata, tertuju pada wanita yang dihempaskan Zahra itu. Ia malu sangat malu. Ia bangkit dengan cepat. Melihat Ezra menghampiri mereka. Wanita itu pun berlari mendekati Ezra. Tentu saja Ezra menghindar, saat wanita itu ingin memegang lengannya.
"Sayang... Hempaskan wanita ini!" menunjuk ke arah Zahra yang dadanya sudah naik turun, karena emosi.
__ADS_1
TBC