AKU MADU IBUKU

AKU MADU IBUKU
Anak Dajjal


__ADS_3

"Fer... Ferdy...!" Zahra berlari sambil memanggil nama pria yang disukainya itu.


"Ferdy.,.!" Zahra berteriak keras, berharap Ferdy mendengar teriakannya. Dia harus mengencangkan suaranya dua kali lipat, Karena, dia sedang menerobos kerumunan orang. Menjelang sore mall itu sangat ramai. Mana suara musik dan operator sangat banyak yang saling sahut.


"Fer... Ferdy....!"


Zahra akhirnya bisa menerobos kerumunan orang dan keluar dari pintu mall itu. Tapi sayang dia sudah kehilangan jejaknya Ferdy.


"Fer, kamu koq di kota ini? kenapa kamu gak jadi datang ke rumahku?" ucap Zahra pelan yang hanya bisa didengar oleh dirinya saja.


Zahra aksi sedih, karena dia kehilangan jejak Ferdy. Mungkin selamanya dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan pria itu.


Saat kedua matanya masih mencari keberadaan Ferdy. Nek Ifah dan Bimo pun menghampirinya.


"Ra, kita pulang ya. Nenek katanya mau demam." Ujar Bimo, memperhatikan Zahra yang terlihat sedih itu.


Bimo sudah tahu tentang Ferdy dari sang nenek. Mengetahui fakta itu, Bimo jadi merasa was was. Jangan sempat Bosnya tahu, kalau istri kecilnya ini, punya kekasih. Bimo takut, Bosnya itu nantinya akan marah.


***


Anindya membaca serius hasil diagnosa Dokter akan penyakitnya. Ternyata dia kena magh Bukan hanya naik asam lambung.


Dokter menyarankan dia untuk menjalani pola hidup sehat. Jangan telat makan, dan hindari setres.


Wajar Anindya kena Magh. Karena dia sering telat bahkan lupa untuk makan, karena kesibukannya dulu. Dia gak tahu, efeknya sekarang baru terasa.


Kata Dokter sih, maghnya bisa sembuh. Anindya pun sedikit legah mendengar penjelasan Dokter itu.


"Ma... Mama ...!"


Anindya bergegas menghampiri Rara. Ini kedua kalinya Anindya ke ruang rawatnya Rara. Dan baru kali ini dia datang, Rara dalam keadaan sadar.


"Iya sayang, kamu sudah terbangun. Mana yang sakit? kamu mau minum? mau makan?" Anindya begitu mengkhawatirkan anak tirinya itu. Saat ini, Anindya sudah menganggap Rara sebagai anak sendiri. Tak ada bedanya dengan Anak kandungnya Zahra.

__ADS_1


Anindya juga kasihan pada Rara. Kepala pelayan dan beberapa ART menceritakan semua tentang Rara. Yang berubah jadi jahat dan tak bisa dinasehati, setelah kedua orang tuanya bercerai. Rara adalah korban dari keegoisan orang tua.


"Ka..mu, kamu siapa? ka..mu, pergi kamu!" Rara terkejut melihat keberadaan Anindya yang ada di kamarnya. "Ka... mu.... Zah...!" Rara mengira Anindya adalah Zahra. Karena Anindya memang mirip dengan putrinya Zahra. Tapi, dia langsung terdiam. Mana mungkin wanita yang ada di hadapannya Adalah Zahra.epl


"Pergi .. Pergi kamu....!" teriak Rara, Anindya jadi sedih mendapatkan perlakuan tak inginkan dari anak tirinya itu.


Wanita itu pun mundur teratur dengan perasaan yang hancur. Menjadi ibu sambung itu tidaklah mudah. Apalagi sang anak tiri, tidak menyukainya.


"Ma.. Mama....!" Rara yang sudah merasa punya tenaga melepas jarum infusnya. Dia bangkit dari ranjangnya. Dia harus pergi dari tempat ini. Karena, dia akan dimarahi sang ayah. Dia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Dia yakin kali ini, ayahnya tak akan memaafkannya.


"Ra, Rara sayang, kamu tenang ya!" walau merasa sedih karena tak diinginkan. Anindya harus bisa berbesar hati. Dia pun dengan cepat menekan tombol memanggil perawat. Dan kemudian menahan Rara yang berontak ingin keluar dari kamar itu. Memeluk Rara dengan kuat, karena Rara terus saja berontak.


"Ra Ra sayang, kamu tenang ya?"


"Gak, gak, aku mau pergi ke tempat Mama


Kata Mama kemarin, dia akan menjemputku. Membawaku bersamanya." Rara terus saja berontak dalam rengkuhan Anindya.


Pintu terbuka dan dua orang perawat masuk ke dalam kamar. Kedua perawat itu dengan cepat mengambil alih Rara dari Anindya. Memberi pengertian dan sugesti agar Rara mau kembali berbaring di ranjangnya.


"Adek mau keluar dari rumah sakit ini?" tanya perawat yang berjenis kelamin wanita.


"Iya, iya " ucap Rara dengan berurai air mata.


"Kamu akan keluar hari ini. Asal adek bisa kerja sama yang baik. Sebentar lagi Dokter akan visit. Kalau adek terlihat baik-baik saja. Pasti sore ini akan ke luar dari rumah sakit. Tapi, jika adek berontak gak jelas seperti ini. Adek bisa dioper ke rumah sakit jiwa. Mau?" menatap tajam Rara yang emosional itu. Rara pun menggeleng dengan cepat.


"Ya sudah adek berbaring." Rara pun menuruti permintaan suster itu. Tapi, matanya gak pernah lepas dari Anindya yang ada di sisi bed nya.


"Aku gak mau diinfus lagi " rengek Rara dengan wajah sedihnya.


"Baiklah, kita periksa dulu kesehatan adek ya?" suster pun mulai memeriksa tekanan darah dan denyut nadi Rara. "Ok, tidak perlu lagi diinfus." Perawat itu pun membersihkan bekas tangan Rara yang diinfus.


"Beneran Sus, saya sudah bisa pulang?" Rara kembali memastikan ucapan sang perawat yang mengatakan dia sudah boleh pulang.

__ADS_1


"Iya, tapi kita tunggu dokter ya dek " ucap suster ramah. Rara pun mengangguk.


"Kami permisi dulu ya Bu." Ucap perawat pada Anindya.


"Iya Sus, terima kasih banyak." Anindya sedikit menundukkan kepalanya. Anindya memang wanita yang begitu santun.


"Kamu siapa?" Rara menatap tak suka kepada Anindya.


Anindya tersenyum, membalas tatapan Rara.


"Ditanyain malah senyam-senyum. Kamu orang gila ya? ngapain kamu di sini. Kamu siapa sih?" ketus Rara dengan kesalnya. Rara memang benar-benar sudah hancur karakternya. Karena didikan sang ibu yang tak baik.


Seketika senyum tulusnya Anin, memudar. Ucapan pedasnya Rara, membuatnya terkejut. Hatinya juga sakit dikatain orang gila. Tapi, rasa sakit hati itu cepat ditepis Anin. Dia harus bisa memahami karakter Rara yang memang sudah salah didik itu.


"Saya ini i..!" Anin kesusahan menelan ludahnya. Sesaat dia berpikir, mengenalkan dirinya sebagai ibu sambung. Sepertinya bukan waktu yang tepat. Akan lebih baik jika Ezra saja yang mengenalkannya nanti.


"Saya ditugaskan untuk menjaga Non Rara " Anin masih bersikap manis dan ramah.


"Kamu babu? kalau kamu babu, kenapa bajumu bagus sekali, sepatumu juga, cincinmu juga. Dan kamu berhijab." Rara mempreteli Anin, dari atas sampai bawah.


Ya, Ezra sudah membelikan banyak baju mewah pada Anin. Tentu saja urusan itu semua diberikannya pada Asisten 1, yaitu Dika.


Anin semakin gugup, karena terpojok dibuat Rara. Ya beginilah resiko jadi ibu sambung, kebanyakan anak tiri gak akan menyukainya. Belum tahu aja Rara siapa dia, sikapnya sudah seperti itu.


Anin bergidik ngeri, dia baru tahu. Kalau putri suaminya itu, sudah putus rem, bocor halus. Istilah di kampungnya Anin. Bocor halus, susah ditambalnya. Karena gak nemu mana yang bocornya. Benar-benar Rara gak ada akhlak dan etika.


Anak Dajjal ini mah. Ya Allah, sanggupkah aku meluruskan anak yang tersesat ini ? gumam Anin dalam hati, melirik Rara dengan perasaan takut.


TBC.


Like, coment positif dan vote say


Jam 11 malam, batas pemberian hadiah ke novel ini ya say. 3 pemenang akan mendapatkan pulsa 10 RB. 🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2